Kurikulum Pasraman Sebuah Jawaban

Sebagai sebuah negara yang penduduknya terdiri atas berbagai suku bangsa, etnisitas, dan agama, Indonesia seharusnya mampu mengembangkan sikap pluralisme, yakni sikap yang mengakui dan menghargai keadaan yang plural secara etis. Untuk mengembangkan sikap semacam itu, satu-satunya jalan yang dapat ditempuh oleh negara adalah membangun sistem pendidikan yang di dalamnya dimungkinkan berlangsungnya pendidikan pluralisme. Hal ini penting sebab pendidikan sampai saat ini masih diyakini mampu mengarahkan dan mengembangkan kesadaran dan pemahaman peserta didik akan nilai-nilai universal yang ada dalam agama-agama, sehingga pada diri peserta didik tercipta sikap keberagamaan dengan keyakinan pada agama sendiri, tetapi juga memiliki keterbukaan untuk mempelajari dan mendiskusikan agama lain sebatas untuk menumbuhkan sikap toleransi.

Namun, dalam dua dekade terkahir ini di Indonesia terjadi serentetan kerusuhan-kerusuhan yang bernuansa SARA, seperti yang terjadi di Purwakarta (awal November 1995 dan April 1997); di Rengasdengklok (Januari 1997); di Temanggung dan Jepara (April 1997); Pontianak (April 1997); Banjarmasin (Mei 1997) Sampang dan Bangkalan (Mei 1997); Medan (April 1996); dan lain-lain (Ma'arif, 2005:4). Adanya kerusuhan-kerusuhan semacam itu, membuktikan bahwa secara kolektif bangsa ini belum mau belajar tentang bagai-mana hidup bersama dengan rukun dalam ikatan Bangsa dan Negara Indonesia.

Hal ini salah satunya disebabkan oleh agen-agen sosialisasi seperti keluarga dan lembaga pendidikan tidak berhasil menanamkan sikap toleransi-inklusif dan tidak mampu membimbing anak-anak untuk belajar hidup bersama dalam masyarakat pluralis. Atau dengan bahasa lain agen-agen sosialisasi, seperti keluarga dan institusi pendidikan, masih terjebak pada penerapan ajaran agama yang bersifat eksklusif-dogmatis, sehingga hal demikian sangat dimungkinkan melahirkan generasi muda yang pundamen-talis dan memiliki sikap panatisme berlebihan terhadap ajaran agama yang dianutnya. Kondisi ini patut diwaspadai sebab bukan tidak mungkin sistem penerusan nilai-nilai agama seperti itu, dapat menumbuhkan sikap-sikap radikalisme di kalangan generasi muda terhadap ajaran agama lain.

Padahal keragaman sosial, budaya, ekonomi, aspirasi politik, ras dan agama merupakan suatu relaitas masyarakat dan Bangsa Indonesia yang tidak terbantahkan. Realitas tersebut, dalam kaitannya dengan pengembangan sistem pendidikan menurut S. Hamid Hassan (2000:511) cukup berposisi sebagai objek periferal dalam proses pengembangan kurikulum nasional. Posisi ini baik secara teoritik maupun pratik tidak menguntungkan, sebab ia sering diabaikan oleh para otoritas pengembang kurikulum. Namun, demikian keragaman sosial, budaya, ekonomi, dan aspirasi politik sebagaimna disebut pada uraian sebelumnya yang seharusnya menjadi faktor yang diperhitungkan dalam penentuan filsafat, teori, visi, pengembangan dokumen, sosialisasi dan pelaksanaan kurikulum, tampak-nya belum terlaksana di negeri ini. Akibatnya, wajar jika terjadi kegagalan dalam pelaksanaan pendidikan, termasuk pendidikan agama. Hal ini patut diwaspadai dapat melahirkan generasi yang pundamental, yang pada akhir-nya dapat mengarah pada sikap-sikap radikalisme di kalangan generasi muda Indonesia.

Untuk menanggulangi kondisi ini, maka kurikulum pasraman merupakan sebuah jawaban. Sebab kurikulum pendidikan pasraman dalam konteks kekinian, memadukan kurikulum nasional dengan kurikulum pasraman. Seperti kurikulum yang diterapkan pada SMP Pasraman Gurukula Bangli. Model pembelajaran yang diterapkan pada lembaga pendidikan ini, mengkombinasikan antara kurikulum pendidikan nasional dengan kurikulum pendidikan pasraman. Artinya, di lembaga pendidikan ini diberlakukan dua jenis kurikulum, yakni pada pagi hari dari jam 08.00-jam 13.00 anak-anak diberikan pelajaran sebagaimana layaknya pendidikan di sekolah-sekolah formal pada umumnya. Selanjutnya, dari jam 15.00-17.00 anak-anak dididik dengan penerapan kurikulum pasraman dengan mata ajarnya meliputi, Pengantar Veda, Itihasa/Purana, Bahasa Sanskerta, Etika Hindu, Nyastra, Dharma Gita, Pertanian, Yoga/Meditasi, Seni Bu-daya, Canting Bagavad Gita, dan tidak ketinggalan pula anak-anak diberi pengetahuan tentang teknologi informatika (TI).

Teknik belajarnya diatur sedemikian rupa, tanpa merampas kebebasan anak-anak untuk melakukan proses sosialisasi dan internalisasi di lingkungan belajar dan bermain. Kemudian pada malam harinya sampai jam 21.00 anak-anak diberi berbagai pencerahan sesuai kurikulum pasraman, dan setelah pukul 21.00 mereka boleh istirahat untuk tidur. Sistem pendidkan dengan kurikulum pasraman mewajibkan anak didiknya untuk tinggal di asrama selama mengikuti pendidikan, dengan harapan perkembangan karakter dan keperibadian mereka terus dapat diawasi dan dipantau oleh guru-guru di pasraman tersebut.

Dengan sistem pendidikan pasraman semacam itu, anak-anak juga dilatih untuk bangun jam 05.00 setiap hari. Setelah mereka bangun lalu mencuci muka untuk segera melakukan kegiatan yoga/meditasi. Setelah selesai yoga, anak-anak mandi pagi kemudian sarapan lalu trasandia (sembahyang pagi) baru berkemas untuk mengikuti pendidikan formal di ruang kelas sebagaimana layaknya sekolah-sekolah formal lainnya. Dengan model kurikulum seperti itu, sangat diyakini pada diri anak akan tumbuh dan berkembang keperibadian yang baik sesuai dengan tuntunan nilai-nilai agama yang dianutnya.

Dengan model kurikulum yang dikombinasikan seperti ini, penulis berkeyakinan bahwa out put yang dihasilkan akan dapat dijauhkan dari sikap-sikap radikalisme-pundamentalisme. Sebab menurut John Sealy dalam bukunya Religious Education: Philosophical Perspektiive" (1986) bahwa pendidikan agama memiliki fungsi neo confessional, yakni di samping berfungsi untuk meningkatkan keberagamaan peserta didik dengan keyakinan agama sendiri, juga berfungsi memberikan kemungkinan keterbukaan untuk mempelajari dan mempermasalahkan agama lain sebatas untuk menumbuhkan sikap toleransi.

Hal senada dikatakan pula oleh Alex R. Rodger (dalam Ma'arif, 2005:2) bahwa pendidikan agama merupakan bagian integral dari pendidikan pada umumnya. Akan tetapi jika pendidikan pada umumnya hanya ditujukan untuk memperluas horizon pengertian dari peserta didik, pendidikan agama selain ditujukan untuk membantu perkembangan pengertian yang dibutuhkan oleh orang-orang yang berbeda iman, sekaligus juga untuk memperkuat ortodoksi keimanan bagi mereka.

Oleh: I Ketut Suda
Source: Wartam Edisi 19, September 2016