Kunti Yadnya

Kunti yadnya, tergolong cerita lakon carangan 'kawi dalang' Wayang Gragrag Bali. Butir-butir isinya, sarat dengan ajaran : tatwa - susila - acara yang dipahami, dihayati serta diamalkan oleh masyarakat Bali pemeluk agama Hindu Dharma.

Pembentukan Kepanitiaan

Adegan dimulai dengan pertemuan di lingkungan keluarga Pandawa, yang dihadiri oleh: Bagawan Domia, Sri Kreshna, Pandawa Lima, Ponakawan Tuwalen Merdah. Dewi Kunti mengutarakan rencana beliau, untuk melaksanakan : Ngerorasin, Mukur/Nyekah/Nyekar, Maligia, 'Pitra yadnya terakhir' bagi jiwa raja Pandu, yarg wafat bersama Dewi Madri di Sata Srengga, peristirahatan kerajaan.

Sri Kreshna, menyebut upaya ini dengan 'Kunti Yadnya', mengusulkan agar dikembangkan dengan 'nyurud' mepandes/memdtong gigi, bagi lingkungan keturunan raja Pandu. Sri Kreshna juga mengulas tentang 'tri premaneng karya', pembentukan kepanitiaan.

Dewi Kunti menyambut hangat usulan Kreshna mengusulkan, pembentukan kepanitiaan karya :

1. Bagawan Domia, selaku yajamana, pemberi dewasa, dan pemuput puncak upacara karya 'Kunti Yadnya'
2. Dewi Kunti, selaku 'nini wedia', pemimpin pelaksana pembuatan sesaji banten. Bisnis, nilai tukar kebutuhan, pengelolaan, jadwal kerja lahir tercipta bersamaan dengan pelaksanaan tugas oleh Kunti.
3. Sri Kreshna, atas usul Pandawa Lima, disepakati menjadi , Yogiswara, penjaga keamanan, kelancaran, ketertiban, pelaksanaan karya 'Kunti Yadnya' ini. Seluruh bidang kegiatan berlangsung berdasar: Styam-Siwam-Sundaram.

Pembagian tugas-tugas dijabarkan dengan baik dan benar, sesuai kemampuan masing-masing anggota kerabat. Bima misalnya mendapat tugas mencari/daging suci'. Arjuna mengelola sarana seni pertunjukan. Memanfaatkan ilmu mengajar Utari, menari di Wirata. Dalang Sija asal Bona kelod, Blahbatuh. Dalang Sija dengan rinci dapat menyebut nama-nama jenis sesaji banten, sampai dengan bahan serta wujud sate Gayah, yang diciptakan. Seseorang pencipta, penata sate Gayah, rencana konsep dalam pikirannya jelas. Dikomunikasikan dengan baik dan benar dengan para pendamping kerja. Dikerjakan sungguh-sungguh benar, dengan jujur hati ikhlas suci murni, membentuk suatu wujud yang indah.

Ketika hasil pekerjaan terwujud, sang pencipta sate Gayah, melaksanakan ritual sesaji. sate Gayah yang berhasil bagus berkarisma, tentu mendapat pujian masyarakat penikmat. Dalam cukup lama tidak mengeluarkan bau busuk. Sate Gayah kurang berhasil, tidak menguggah rasa keindahan, dan relatif cepat berbau busuk. Kesepakatan rapat tuntas, kegiatan akan mulai, gender angkat-angkat. Latihan para wanita menari, untuk upacara, gender' rebong'.

Pada penghujung akhir Rebong, gebrak cempala kekayon penyajit

Tari Penasar Delem dan Sangut Diiringi gender Bapang Delem. Delem dan Sangut mengungkap rasa adbuta/takjub, akan keberhasilan Pandawa Lima, selalu: Pandawa lolos dari bencana kebakaran Guwa Gala-Gala. Pandawa berhasil memperistri Draupadi. Arjuna berhasil dalam sayembara Subadra. Sukses di gunung Indrakaila, kesemuanya itu jelas memperkuat kedudukan para Pandawa. Sangut, sangat memuncak rasa adbhuta/takjubnya..

Temu Siswa Guru

Niat Suyodana, Mengundng Guru Drona, bertemu dengan para Korawa Sreratus, dihadiri oleh Sengkuni. Guru Drona dalam pertemuan itu mengingatkan Korawa Seratus para murid beliau bahwa : Korawa, adalah keturunan Kuru juga Pandawa Lima adalah sama-sama keturunan Kuru. Pandawa yang siap melaksanakan 'yadnya'. Selaku sesama bangsa Kuru, wajib saling menolong itu dharma. Duryodhana, menyela Guru Drona, dengan cloteh yang panjang dan lebar : "Ada brahmana tua kere, diusulkan menjadi guru. Kemiskinan brahmana tua itu, kini bertambah. Namun, ketika ditanyakan tentang bantal untuk tidur, ia siram dengan air. Ditanya tentang upaya mencedera. Brahmana tua itu memberikan tutur jalan untuk berbuat dharma. Aneh!"

Guru Drona, dipersilahkan menjawab celoteh Suyodana. Drona menjelaskan tentang arti dang hyang. Dangdang, pemanas air. Wedang air panas. Dang Hyang, artinya orang yang dihormati, yang mampu memanas-manaskan hati para murid beliau, agar mata para siswa terbelalak, jelas dapat melihat segala permasalahan yang ada. Kalau kesungguhan hati Korawa Seratus, seperti itu. Korawa seratus wajib memohon kepada Dewi Durga, Tegas Guru Drona.

Sangkuni Memimpin Durga Puja

Dengan dipandu arahan oleh Sekuni, Korawa Seratus, menuju tempat memuja Dewi Durga pada satu malam hari, di Setra Ganda Mayit. Durga mengirim Dua Buta, macedra 'Kunti Yadnya', Korawa tinggal diam saja. Dengan bersemangat gigih, siap memantau buah hasil perbuatan doa mereka terhadap Battari Durga, pada malam sebelumnya. Dari rumah tempat tinggal mereka masing-masing.

Pelaksanaan puncak Yadnya

Selagi Bagawan Domia siap akan mulai puja puncak yadnya, kericuhan godaan oleh Buta Kala, kiriman Durga, pada 'Kunti Yadnya' terjadi. Dalam seni pertunjukan wayang, diungkap dengan perang antara para Pandawa Lima, melawan, Buta Kala berlangsung sangat dahsyat, dan lama. Sri Kreshna, sang yogiswara penjaga ketertiban, kelancaran pelaksanaan Kunti Yadnya, mampu melihat dengan mata batinnya dan mengarahkan para Pandawa Lima. "tidak menghalau Para Buta, yang berpartisipasi hadir dalam puncak yadnya; dengan kekuatan, senjata tumpul, senjata tajam, senjata sekalipun, jangan!" "Imbangi kehadiran Buta kala, dengan mengungkap kesenian!"

Arahan Kreshna dijalankan para Pandawa, pria wanita. Mereka pada kidungnya, mereka pada menari dalam upacara. Sifat watak setiap individu mereka berbeda. Ungkap kidung, tari mereka, tersajikan bervariasi sesuai sifat watak mereka; maka nuansa nilai keindahan seni yang tersajikan berbeda adanya.

Kegiatan spontanitas para Pandawa ditiru oleh orang dari suku bangsa berbeda-beda, semakin semarak ragam keindahan ungkapan seni tercipta didunia. Arahan Sri Kreshna bagi Pandawa Lima dalam Kunti Yadnya, menjadi panutan masyarakat Hindu di Bali dalam melaksanakan puncak upacara yadnya. Gendongan, tongtongan kayu besar ditabuh, gamelan ramai, seni pertunjukan wali berlangsung dilingkungan upacara yadnya.

Upaya Sri Kreshna

Tanpa diketahui orang banyak, sukma Kreshna memburu Dewi Durga. Secara pertunjukan bayangan wayang, dalang dapat menampakkan bayangan nyata jelas, megar menjadi gede, berubah menjadi satu titik kecil mungil, dan menghilang, muncul lagi kejar mengejar, Durga Kreshna. Cempala kekayon penyakit. Durga dalam wujud Uma Dewi nyelinap menyatu pada diri Siwa. Sri Kreshna menghadap, menyatakan ada niat meruat Durga Siwa menyatakan, satu juta Kreshnapun akan tidak mampu mencedera Durga, yang telah menyatu denga Siwa. Apa lagi kini, hanya satu Kreshna. Doa Puja Kreshna :

Gurur brama gugur wisnu
Gurur dewo maheswara
Gurur saksat param brahma
Gurawe tasmani namah

Siwa memberi petunjuk kepada Kreshna, bahwa yang wajib meruwat Durga, adalah Sadewa. Bukan Kreshna, bahwa yang wajib merawat Durga, adalah Sadewa. Bukan Kreshna. Siwa nitip tongkat milik Siwa agar diserahkan bagi sadewa: 'tebus ala'-tebu salah, digunakan Sadewa sebagai senjata untuk meruwat Durga, sesuai desa-kala-patra tepat mengena. Menerima titipan Siwa dari Sri Kreshna, Sadewa melaksanakan tugas dari Sri Kreshna dan Pandawa Lima, untuk meruwat Durga. Sadewa : tebus.

Pesan Durga

Durga kepada Sadewa, menjelaskan butir-butir pesan banyak jenis dan ragamnya. Antara lain : Yang bersemayam di kayangan tiga, Pura Puseh-Pura Desa-Pura Dalem, adalah: Siwa Sakti-Uma Maheswari, dalam beda manivestasinya dan nama beliau, dipuja oleh masyarakat desa. Durga berpesan lewat Sadewa, agar para generasi penerus memahami hal ini. Banyak hal-hal lain lagi : Buah tibah, adalah bacin Durga. Tidak boleh dijadikan persembahan kehadapan para dewa, namun baik menjadi obat demam flu. Tulang Durga didunia tumbuh menjadi tebu, untuk menghancurkan abu tulang setelah jasad diperabukan. Rambut Durga, tumbuh menjadi 'bulung buni' jenis agar-agar berkembang dilaut sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Tuwalen dan Merdah, menjelaskan pesan-pesan Durga kepada Sadewa, dalam bahasa lumrah yang dipahami masyarakat penonton. Durga berterima kasih kepada Sadewa.

Dengan senjata 'tebu salah' tongkat Siwa, Sadewa meruwat Durga. bayangan wayang Durga, diciptakan membesar, menjadi satu titik kecil serta hilang. Wayang Sadewa yang berukuran relatif kecil, dalam pose mencangkupkan tangan, ditutup dengan wayang kekayon Tancap Kayon.

Penutup

Dengan mengembangkan olah tari, banyolan-banyolan, gerak perang Pandawa Lima melawan Buta Kala; mati satu tumbuh menjadi banyak. Serta tatacara penampilan pakem seni pertunjukan Wayang Parwa Gagrag Bali, lakon cerita yang tertuang dalam tulisan singkat, dapat menelan waktu dua setengah jam pementasan Wayang Parwa Gagrag Bali.

Oleh: Wayan Diya
Source: Warta Hindu Dharma NO. 519 Maret 2010