Kunti Tokoh Ibu Negarawan

Tokoh-tokoh pewayangan menurut nilai simbolis-filosofis yang sangat kaya dan luas penafsirannya. Lebih-lebih terhadap tokoh yang berstatus lelaki. Hal ini dapat dibenarkan karena kaum lelaki di dalam budaya Hindu jauh lebih mendapatkan kehormatan daripada kaum wanita. Namun tidak berarti kaum wanita tidak perlu diperhitungkan, dibicarakan baik di dalam dunia politik maupun dunia keagamaan.

Watak dan sifat beberapa tokoh wanita dalam pewayangan Mahabharata yang diciptakan para pujangga dahulu ternyata tidak hanya membawa nilai-nilai luhur yang abadi dan dalam konteks manusia dan masyarakatnya. Tetapi nilai-nilai itu pun berlaku universal yang biasa dilihat dari berbagai aspek. Ada lima wanita yang sangat dimuliakan oleh masyarakat India sebagai tempat lahirnya Mahabharata yaitu: Kunti satu diantaranya.

Kunti Sebagai Tokoh Politik

Tokoh politik dari kaum wanita pada jaman Mahabharata, tepatnya lima puluh abad yang lalu belum begitu lumrah. Padahal kalau kita hayati, peranan Dewi Kunti pada saat itu sudah bisa dikategorikan tokoh politik yang sangat rumit dengan memiliki nilai-nilai kepahlawanan. Ciri aliran politik yang dianut oleh Kunti masih dikendalikan oleh ajaran moralitas sederhana. "Aku akan mengatakan sebagaimana adanya. "Namun sayang moralitas sederhana yang dimiliki Dewi Kunti tidak bisa mengalahkan kelicikan Dewi Gandari dan Sakuni. Hal ini dapat dipahami, ketika Dewi Kunti menuntut isi perjanjian yang pernah ia tanda tangani sebagai wakil dari Panca Pandawa. Seharusnya tanpa melalui penagihan janji Drestarasta harus sadar bahwa pewaris utama dari kerajaan Astina adalan Yudistira. Atas kekecewaan itu," Dewi Kunti akhirnya mengajukan gugatan kepada Prabu Matwapati (Wirata), dengan prabu Kresna. Diajukan gugatan melalui kedua Prabu ini, karena adanya beliau adalah termasuk saksi dalam perjanjian tersebut. Saksi-saksi yang lain yaitu: Resi Bisma, Prabu Drupada (Raja Pancala), Resi Drona, Prabu Salya (raja Mandaraka), Bagawan Wyasa.

Karena perundingan secara damai mengalami jalan buntu maka Dewi Kunti menyerukan kepada putra-putra agar Astina disebut secara perang. Pedan-pesan ini disampaikan Dewi Kunti melalui Sri Kresna, adapun isi pesan secara lengkap adalah sebagai berikut: Seperti apa yang sering dituturkan oleh para dalang.

Misi yang dijalankan oleh Sri Kresna untuk mencari "perdamaian" telah gagal. Duryadana menolak usulan Sri Kresna untuk membagi kerajaan menjadi dua, dan memberi sebagian kepada Pandawa. Dan "kemarahan" Sri Kresna telah reda setelah mendengar puji-puji pandita, para Resi, tak terkecuali Resi Bisma, Begawan Drona, dan yang lain. Memang sempat "ber-tri-wikrama", menunjukkan diri beliau bermata tiga, dan Brahmarsi, para dewa raksasa, yaksa, sura, daitya, danawa, pisoca, manusia sakti, semua berkumpul menjadi badan beliau. Semua itu menyebabkan takutnya orang yang melihatnya.

Sri Kresna pun balik ke Wirata, tempat para Pandawa dalam penyamaran. Namun sebelumnya Beliau sempat mengunjungi Dewi Kunti untuk menyampaikan kegagalan misinya. Mengetahui semua itu, Dewi Kunti bersabda dengan tenang dan ramah, "Wahai Sri Kresna, tolonglah ibu, sampaikan pesanku kepada saudaramu sang Pendawa, namun hanya pharma sang kesatria yang ditujukan, dalam mempertaruhkan jiwa, tentu sorga yang diterima oleh orang yang menemui kematian di tengah medan pertempuran.

Pesan Dewi Kunti kepada putra-putranya tersebut sungguh menarik, pesan seorang ibu kepada putra-putranya menjelang pertempuran yang besar yang tak terhindarkan, pesan yang disampaikannya dengan penuh ketenangan. "Konsep yang telah ditekankan oleh Dewi Kunti tersebut disebut "Sura-dharma". Hendaknya dalam bertempur melalui konsep Sura dharma, itu berarti ia ingin beryadnya (berkorban). Bukan berdasarkan kelicikan, kekejaman.

Dewi Kunti berani memutuskan, dengan memerintahkan pesan seperti tersebut kepada putra-putranya, karena ia yakin bahwa kemampuan yang dimiliki oleh kelima anaknya tidak akan tertandingi oleh pihak Kurawa. Kelima putranya itu memiliki kemampuan kesatrian yang berbeda-beda, tetapi keluhuran budi sama. Yaitu dengan prinsip budi luhur dengan bertakwa dengan percaya kepada Tuhan. Pola berpikiran seperti itu sudah dirancang oleh Dewi Kunti sebelum para Pandawa lahir. Hal ini tentu dapat dibuktikan dari cara ia memanggil para dewa yang memang memiliki bakat yang berbeda-beda. Dewi Kunti mengucapkan doa-doa aji pemanggilan bukan untuk kepentingan pribadi; Melainkan untuk kepentingan negara dan dunia.

Demikian penderitaan yang dialami Dewi Kunti jauh lebih berat daripada yang dapat ditahan oleh manusia biasa, namun ia tidak minta keringanan melainkan, Dewi Kunti berdoa agar dia dapat menderita lebih banyak lagi, sebab dia menganggap bahwa penderitaannya akan meningkatkan bakti-Nya kepada Tuhan yang akhirnya menganugerahkan pembebasan kepadanya. Bahkan selama hidupnya, ia selalu minta kepada Tuhan agar selalu diberikan "kegilaan", tetapi "Kegilaan" untukmu.

Sri Kresna yang hamba cintai! Anda telah melindungi kami terhadap kue yang berisi racun, terhadap kebakaran yang besar, terhadap raksasa-raksasa, terhadap sidang yang kejam, terhadap penderitaan sebelum masa pengasingan di hutan, dan terhadap perang tempat panglima-panglima besar bertempur.... saya ingin agar segala bencana tersebut terjadi berulang kali, supaya kami dapat melihat anda berulangkali, sebab melihat Anda berarti kami tidak akan melihat kelahiran dan kematian yang terjadi berulangkali (Bhag. 1.8.24-25). Pesan-pesan tersebut perlu disimak. Lebih-lebih terhadap kaum yang mengagungkan materi duniawi. Biasanya di saat-saat orang yang kemewahan, sering lupa kepada Tuhan sebagai sumber kebenaran yang sejati.

Kata-kata Dewi Kunti pancaran sederhana yang penuh Cahaya dari hati nurani seorang politik wanita yang menjadi penyembah yang suci dan mulia mengungkapkan perasaan rohani yang paling dalam dari hati sanubari serta tembusan intelek yang paling dalam di bidang filsafat dengan teologi. Kata-kata Dewi Kunti adalah pujian yang dijiwai oleh cinta bhakti yang suci serta bijaksana yang dalam.

O Penguasa Madhu, seperti halnya Sungai Gangga mengalir ke laut untuk selama-lamanya tanpa alasan, perkenankanlah hati hamba senantiasa tertarik kepada anda tanpa dialihkan kepada siapa pun yang lain (Bhag. 1. 8. 42).

Kata-kata Dewi Kunti tersebut, telah dibaca, diungkapkan dan dinyanyikan, resi-resi dan filsof-filsof selama beribu-ribu tahun, bahkan selama-lamanya.

Dewi Kunti Kesan Berpoliandri

Dari uraian terdahulu, seolah-olah Dewi Kunti tidak ada kekurangannya sebagai manusia. Padahal kalau di lihat dari sudut pandangan masyarakat modern, perbuatan Dewi Kunti untuk melahirkan seorang anak yang bernama Karna tanpa melalui pernikahan yang sah tidak dibenarkan. Tetapi apabila memandang perbuatannya dari segi kebiasaan sosial di jaman itu, perbuatan itu sama sekali tidak salah. Pada jaman itu, melahirkan anak tanpa ayah tidak dipandang buruk. Pengakuan ini disebabkan struktur sosial di jaman itu belum mantap, masyarakat masih mengembangkan dirinya. Demikian pula sistem patrilineal belum terwujud. Anak-anak memperkenalkan dirinya dengan menyebutkan ibunya. Tidak perduli siapapun ayah mereka sebenarnya. Sistem ini diterima oleh masyarakatnya, bukan merupakan suatu hal yang kurang baik.

Anak-anak pada jaman itu dikenal sebagai "niyoga putra", "Sekarang, sistem ayah orang lain itu mungkin dipandang tidak baik. Sementara sistem sosial berubah, juga mentalitas dari orang-orangnya pun ikut berubah. Seperti suami yang sah Kunti ialah Pandu, tetapi Pandawa itu bukan putra-putra Pandu. Ini menandakan bahwa sistem matrilineal juga terdapat di sana. Sebuah contoh panggilan Arjuna ialah Kaotenaya, yang berarti "putra dari Kunti" dari orang yang dikenal melalui nama ibunya. Seperti apa yang dipaparkan dalam deskripsi cerita ini. Ibu dari Karna ialah Kunti, tetapi ayahnya bernama Suda (Dewa Surya).

Orang tidak akan menyalahkan Kunti. Karna diterima oleh masyarakat sebagai niyoga putra. Sistem niyoga putra ini terhapus dari tanah India secara total kira-kira dua ratus tahun lampau. Tetapi pengorbanannya kecintaannya kepada Tuhan rasa tanggung jawabnya yang sangat besar yang selalu membawa harum nama Kunti. Kebiasaan-kebiasaan itu sudah ia jalankan sejak kecil. Ia senang sekali dengan hal-hal hukum (dharma) dan melakukan sumpah-sumpah yang mulia. Kepribadian inilah yang selalu mengantarkan atau menata tingkahlakunya dengan berdoa atau berhubungan dengan para dewa, maka dikatakan melakukan poliandri spiritual yaitu mempunyai dua suami yaitu Pandu dan Dewa Surya.

Memang banyak orang berpendapat, bahwa perkawinan dengan Dewa Surya tidak secara fisik, juga tidak secara hukum. Tetapi dalam kenyataan dalam perkawinan spiritual itu lahir seorang anak yang bernama Karna. Kalau benar Dewi Kunti berpoliandri, jelas menurut norma-norma kemanusiaan dan etik sekarang, tidak dapat dibenarkan. Lebih-lebih di Indonesia yang prinsip perkawinannya monogami. Emansipasi yang dicita-citakan dan sebagian telah tercapai wanita sekarang tidak mengenal pembenaran wanita bersuami dua.

Pudjo Subroto dalam tinjauannya terhadap Dewi Kunti, lebih menukik pada kedalaman pemahaman yang baik saja. Kehamilan akibat berhubungan dengan dewa-dewa bukan berarti hamil wadag, tetapi hamil simbolik. Maksudnya, hamil diartikan (ditafsirkan) sebagai hubungan yang mengakibatkan bersatunya jagad agung dan jagad alit, makrokosmos dengan mikrokosmos (tubuh). Kunti berhubungan dengan dewa-dewa tidak dimaksud sebagai hubungan seks, sebagai penyembahan menuju lapangan keadilan dan kebenaran, lapangan ilmu akhlak, sehingga jauh dari persoalan seks atau kelamin, jauh dari hypersex atau keinginan melampiaskan nafsu sexual.

 

Source: I Made Purna l Warta Hindu Dharma NO. 417 Nopember 2001