Kunang-Kunang ‘Menandingi’ Rembulan

Sebuah apologi seringkali dihadirkan pencerita di dalam cerita. Pada umumnya, apologi yang dikatakan adalah mengenai ketidakmampuan. Ketidakmampuan untuk memahami hakikat, ketidak-mampuan untuk mengatakan dan menyatakan perasaan dengan kata-kata yang tepat. Ada kalanya apologi itu dipandang sebagai sebuah kesadaran kolektif dari pencerita-pencerita dalam sastra, baik itu tradisi maupun modern.

Ada semacam pandangan bahwa permintaan maaf untuk sebuah karya yang telah lahir adalah keharusan. Pernyataan-pernyataan apologi semacam itu, mengakibatkan pencerita terkesan santun. Semisal pernyataan bahwa pencerita adalah kunang-kunang, tepatnya ‘kunang-kunang yang hendak menandingi rembulan’.

Tradisi, membaca ungkapan tersebut sebagai apologi atas ketidakmampuan pencerita. Pencerita menyatakan dirinya penuh dengan berbagai kekurangan, dan pembaca yang budiman dipersilahkan untuk memberikan tanggapan serta perbaikan atas karya itu. Tradisi literasi yang mengkehendaki adanya kritik ini seperti bayu (energi) yang menstimulus kreativitas.

Palguna (1991) meluangkan waktu untuk memikirkan serta menuliskan hasil olah pikirnya mengenai ungkapan apologi terutama ketika membicarakan perihal kepengarangan Kamalanatha. Kamalanatha menyatakan bahwa dirinya sedang meniru-niru Sang Kawiswara. Meniru-niru artinya mengidentifikasikan diri dengan yang ditiru.

Kamalanatha tidak menyatakan pernyataan bernada apologis dengan konvensi melankolis, tapi lebih bernada non-kompromis yakni ‘aku bukan seorang kawi’. Kamalanatha seolah tidak mengakui bahwa dirinya seorang kawi. Tidak mengakui, bukan berarti ia benar-benar tidak atau bukan kawi. Tapi, ia kawi yang tidak ingin mengaku-ngaku.

Kunang-kunang adalah personifikasi pencerita, sedangkan rembulan bisa ditafsirkan sebagai personifikasi yang menjadi panutannya. Pencerita yang santun lebih memilih mengatakan dirinya adalah kunang-kunang, sedangkan kepada yang dipujanya, ia memilih rembulan. Kunang-kunang gelisah membawa cahayanya yang berkedip-kedip, sedangkan rembulan berjalan dari timur ke barat dengan tenang membawa cahaya cemerlang.

Kunang-kunang sinarnya redup, sedang rembulan bersinar cemerlang lebih lagi pada bulan purnama kartika saat langit terang benderang tanpa awan. Membenturkan kunang-kunang dengan rembulan adalah ungkapan yang indah bagi rembulan yang dimenangkan.

Sedangkan bagi kunang-kunang, ia tetap menjadi pembawa cahaya yang dikalahkan. Yang memenangkan dan yang mengalahkan adalah tradisi literer atas nama kesantunan. Tapi tampaknya tidak benar pula jika berkesimpulan bahwa rembulan menang, kunang-kunang kalah. Sebab bagi yang benar-benar memiliki cahaya, dikotomi kalah-menang menjadi tidak penting lagi.

Kunang-kunang juga dipersonifikasikan sebagai sahabat. Seorang anak manusia pencari bayangan (bhs Bali: lawat) yang menamai dirinya Tatukung dalam Lawat-lawat Suung (1995) menyatakan ‘.... kunang-kunang timpal lawas, peteng dedet ane dalem malasang pasubayan i raga... (Kunang-kunang, hlm. 57)’.

Dikatakan bahwa kunang-kunang telah menjadi sahabatnya sejak lama (timpal lawas). Kedua sahabat ini dipisahkan malam gelap gulita (peteng dedet). Ironis. Dua sahabat lama, telah berjarak, dipisahkan kegelapan. Kegelapan apa yang dimaksudkan oleh Tatukung?

Kegelapan sebagai suasana, itu artinya situasi tanpa cahaya. Karena tanpa cahaya, segala wujud tidak kelihatan. Jika pun ada yang terlihat, pastilah samar-samar. Keadaan samar-samar itu, juga disebut dengan maya. Maya artinya tidak nyata. Maya juga menjadi tempat tinggal manusia, maya itu Bumi.

Bumi yang maya ini disebut mayapada atau mrecyupada. Segala yang ada di bumi ini adalah samar-samar. Mirip bayangan. Segala kesedihan yang men-gakibatkan air mata menetes adalah maya. Begitupula segala kesenangan yang juga membuat air mata berlinang, adalah maya. Hidup ini tidak lebih seperti bayangan. Bayangan sangat erat hubungannya dengan wayang. Wayang, bayangan, dan juga orang yang menonton wayang menjadi metafora penting dalam sastra Jawa Kuna semisal kakawin.

Hidup yang seperti bayangan hanyalah sekelebat. Sekelebat kehidupan yang patut untuk diabdikan. Entah untuk apa. Bayangan bisa hadir hanya jika ada cahaya dan juga sesuatu yang disinari oleh cahaya. Matahari menyinari bebatuan, maka di balik bebatuan terlihat bayangannya. Rembulan menyinari pepohonan, maka bayangan pohon dapat juga dilihat.

Jika kunang-kunang bersinar di ujung ilalang pada malam gelap tilem kapitu, entah bayangan apa yang bisa dilihat? Mungkin bayangan-bayangan perjalanan Lubdaka yang pergi berburu. Mungkin juga bayangan-bayangan penceramah di berbagai diskusi yang digelar oleh berbagai institusi. Mungkin juga bayangan ten tang seseorang yang dengan suntuk membaca-baca kesusastraan, juga tubuhnya. Begitulah bayangan, ia dekat dengan pikiran.
Kunang-kunang bersinar, tidak bermaksud menandingi rembulan. Kunang-kunang bersinar, karena ia kunang-kunang. Kunang-kunang sinarnya berkedip, bukan karena ia ingin menandingi lampu kerlap-kerlip yang kini mulai marak. Lampu kerlap-kerlip yang dinikmati pada pesta-pesta.

Kunang-kunang punya caranya sendiri untuk ‘berpesta’ dengan katak, tokek, cicak, ular, padi, ilalang, embun, dan sahabat-sahabatnya yang lain. Kunang-kunang diam di ujung ilalang. Sekali lagi ia diam, tapi sinarnya berkerlip. Mirip pertapa pada cerita-cerita kuno. Yang katanya pertapa itu diam bermilyar bahasa, tapi oleh orang-orang hebat, tubuh pertapa itu dikatakannya bercahaya.

Kunang-kunang yang terbang, juga bersinar. Sinarnya juga berkerlip seperti bintang. Kunang-kunang juga tidak hendak menandingi bintang. Ketika kunang-kunang terbang, ia juga seperti api. Tapi kunang-kunang bukan beradu dengan api. Api kecil yang terbang, juga sering diceritakan dalam dongeng-dongeng masa lalu tentang seseorang yang sakti mandraguna. Tapi tentu jarang kini anak-anak mendengar dongeng demikian. Mungkin saja, kata dongeng pun telah lenyap dari kamus-kamus bahasa Indonesia. Semoga tidak.

Cahaya kunang-kunang dan cahaya rembulan, masing-masing punya bayangannya. Tergantung apa atau siapa yang disinarinya. Ekalawya, salah satu tokoh di dalam kisah klasik buku sekolah Mahabharata, membayangkan bahwa gurunya adalah Drona. Drona yang terikat tradisi, tidak menerima Ekalawya sebagai muridnya.

Maka bergurulah Ekalawya kepada bayangan guru Drona. Ekalawya membuat patung guru Drona sebagai caranya berbakti kepada guru yang tidak tahu ada muridnya yang bernama Ekalawya sebelum bertemu. Ekalawya merasa dibimbing oleh Drona hanya dengan didampingi patungnya.

Pada zaman modern, ada seseorang yang ingin menjadi murid, tapi tidak mampu membuat patung gurunya. Seseorang yang ingin menjadi murid itu, hanya membaca-baca tulisan-tulisan juga buku-buku yang menjadi karya gurunya. Akankah murid yang demikian berakhir seperti Ekalawya yang kehilangan ibu jarinya? Atau ia akan menjadi kunang-kunang?

Oleh: IGA Darma Putra
Source: Majalah Media Hidnu, Edisi 164, Oktober 2017