Krisis Keanekaragaman

Dewasa ini dunia yang kita tempati sedang mengalami berbagai macam krisis. Ada krisis energi, krisis air, krisis sumber daya hayati, serta berbagai macam krisis lingkungan yang berawal dari ulah manusia. Kehidupan sosial manusia juga dilanda oleh situasi tersebut. Terdapat krisis kepribadian, krisis kepercayaan dan panutan, krisis kepemimpinan, serta sederet krisis yang lain, yang sebenarnya bermula dari krisis moral manusia. Dengan demikian manusialah yang menjadi penyebab beraneka warna krisis tersebut, dan manusia pula yang wajib untuk menikmatinya.

Di antara sekian banyak krisis yang diciptakan oleh manusia, salah satunya adalah krisis keanekaragaman. Krisis keanekaragaman ditandai dengan hilangnya ciri-ciri khas, bahkan pemunahan spesi atau penampilan sebagai akibat dari upaya penyeragaman. Sedangkan penyeragaman dilakukan dengan tujuan efisiensi dan modis. Contoh yang paling jelas untuk hal itu adalah kehidupan di kota-kota besar, misalnya Jakarta. Jakarta mungkin akan kehilangan cirinya dan tidak berbeda lagi dengan Tokyo ataupun New Yok, karena pola pembangunan kota dan arsitektur bangunan yang serupa. Arsitektur serupa telah menggantikan arsitektur tradisional yang beragam. Demikian pula makanan tradisional yang beragam kini mulai digusur oleh makanan modern didominasi oleh beberapa jenis, misalnya pizza, hot dog, sandwich, dan humburger. Keanakeragaman kini dianggap sebagai pemborosan dan primitif, sementara keseragaman adalah efisien dan modern. Lalu, apakah kriris keanekaragaman itu sudah menjamah kehidupan umat Hindu, termasuk dalam kegiatan keagamaannya?

Sebelum kita membahas krisis keanekaragaman dalam kehidupan umat, terlebih dulu sebaiknya kita mengenali konsep-konsep Hindu yang ada kaitannya dengan permasalahan tersebut. Dalam lontar Sutasoma kita menemukan frase "Bhineka Tunggal Ika" yang kemudian dijadikan sasanti bangsa Indonesia. Untaian kata-kata itu mengandung makna keanekaragaman, bukan penyeragaman.

Landasan keanekaragaman juga kita dapatkan dalam ajaran filosofis Tri Hita Karana. Ajaran filosofis ini mengajak kita untuk menjaga keserasian, keselarasan, dan keseimbangan dengan sesama, lingkungan dan kepada Sang Pencipta.

Dalam menjaga hubungan dengan sesama, kita menyadari bahwa kita dilahirkan dalam perbedaan dengan orang lain. Dan justru dalam perbedaan itulah kita memiliki makna. Manusia praktis akan tanpa makna jika dalam segala hal semuanya sama. Karena hidup dalam perbedaan itulah, dia jadi saling membutuhkan satu dengan lainnya. Dalam hal ini kembali perlu direnungkan konsepsi universal "Tat Twam Asi".

Dalam menjaga hubungan dengan lingkungan, manusia mesti selalu menyadari bahwa kita tidak dapat hidup tanpa alam, sebaliknya alam justru akan menjadi tetap lestari tanpa ulah dan campur tangan manusia. Dalam hal itu tepatlah perumpamaan yang dikembangkan oleh masyarakat Hindu, yaitu "Kadi Manik ring cepupu" (bagaikan janin di dalam rahim). Dalam hal ini, manusia diibaratkan janin, sedangkan lingkungannya adalah rahim. Atas dasar itu, manusia mesti selalu berusaha menjaga kelestarian lingkungan, karena setiap spesies yang ada memiliki fungsi dan manfaat dalam sistem kesemestaan. Tidak mungkin Tuhan menciptakan makhluk tanpa makna.

Dalam menjaga hubungan dengan Sang Pencipta, manusia mesti menyadari bahwa dirinya berasal dari DIA dan kelak harus bersatu kembali kepada-Nya. Atas dasar itu, upaya yang perlu dicari dan dilaksanakan adalah cara-cara yang dapat mendekatkan diri kita dengan DIA sehingga kelak dapat bersatu kembali. Dalam hal ini, sraddha dan bhakti adalah jawabannya. Apakah jalan yang dapat kita tempuh untuk kembali kepada-Nya hanya satu, ataukah ada berbagai macam jalan? Untuk ini, dalam Bhagawadgita disebutkan:

"Jalan manapun ditempuh manusia kearah-Ku
semuanya Ku-terima dari mana-mana semua
Jmereka menuju jalan-Ku, oh Parta"
(Bhg. IV. 11)

"Apapun bentuk kepercayaan yang
ingin dipeluk oleh penganut agama,
Aku perlakukan kepercayaan mereka sama,
supaya tetap teguh dan sejahtera"
(Bhg. VII. 21)

Atas dasar kedua sloka tersebut dapat diketahui, bahwa dalam agama tidak perlu membawa keseragaman (uniformitas), tetapi yang penting adalah kesatuan. Kesatuan itu bisa tercapai dalam keanekaragaman. Dan akan sangat fatal, jika memaksanakan keseragaman dalam pertentangan. Jadi, keseragaman tidak selalu berarti kesatuan, dan keanekaragaman tidak selalu bermakna pertentangan.

Dari uraian di atas, kita akan menemukan salah satu kekuatan agama kita, yaitu tidak ada istilah penyeragaman. Penyeragaman mengandung unsur pemaksaan, karena itu menentang hukum alam (azas ketidakpastian). Apapun yang menentang hukum alam, pasti akan lebih cepat hancur. Dengan perkataan lain, penyeragaman adalah salah satu usaha pemunahan, sehingga tidak cocok dengan konsepsi Hindu yang mengajarkan keselarasan, keharmonisan dan keserasian. Hindu tidak mengajarkan doktrin penaklukan dan penguasaan alam, tetapi justru penjagaan dan penyesuaian dengan alam lingkungan. Dari sinilah terlahir konsep Desa Kala Patra dan Desa Mawacara. Penampakan dan kemasan boleh berbeda tetapi intinya yang tetap sama.

Krisis keanekaragaman di kalangan umat, dewasa ini sudah mulai tampak, bahkan semakin hari semakin jelas. Orang-orang Bali yang ada dirantauan, yang berdasarkan jumlah dapat disebut sebagai minoritas, sering menampakkan (maaf) sikap arogansi minoritas. Hal ini disebabkan mereka tidak menerima konsep desa-kala-patra secara utuh. Jika berada di luar Bali, semestinya orang-orang Balilah yang mesti menyesuaikan diri dengan budaya setempat, dan bukan budaya tersebut yang harus dirombak disesuaikan dengan budaya Bali. Sikap orang Bali tersebut secara umum dikenal sebagai Bali-sentris, yang merupakan penyera-gaman budaya beragama menurut adat kebiasaan di Bali. Apakah setiap umat Hindu bersembahyang harus memakai canang? Mengapa upacara keagamaan di Jawa atau di luar Bali lainnya, sering dipuput oleh Ida Pedanda yang mesti didatangkan dari Bali? Mengapa pengurus Parisada Pusat didominasi orang-orang Bali, utamanya dari golongan satu B? Demikian juga pengurus Parisadha di daerah-daerah. Seorang umat dari Sulawesi Selatan pernah berkata., "Saya memang Hindu, tetapi saya tidak mau di-Bali-kan?

Atas dasar itu, pada saat ini sudah saatnya umat Hindu etnis Bali berintrospeksi diri (mulat sarira), sebelum dikritik langsung oleh umat Hindu luar Bali. Biarlah Hindu berkembang sebagaimana mestinya, dan jangan "dibonsaikan". Seluruh umat semestinya menganut semangat "dimana tanah berpijak, disitu dharma dijunjung".

Upaya penyeragaman sering juga memakai analogi dari agama lain. Sebagai contoh, pernah terjadi, salam panganjali Om Swastiastu dibalas dengan Swastiastu Om. Karena agama-agama lain memiliki nabi, kita memaksanakan diri agar punya juga satu orang Nabi. Dalam hal ini Rsi Wiyasa yang didaulat. Sedangkan kenyataannya, Wahyu Suci Weda diterima oleh tujuh orang Maha Rsi. Terhadap peristiwa kematian, umat Hindu sering menyeragamkan diri dengan umat lain. Mulai dari ucapan belasungkawa "Semoga diterima disisi-Nya" sampai uniformitas dalam warna pakaian pelayat, yaitu warna hitam. Warna hitam dianggap sebagai warna dukacita, sedangkan menurut philosofis Hindu, warna hitam justru bermakna kesuburan.

Ucapan belasungkawa seperti di atas sangat getol "diluruskan" oleh Bapak Nyoman S. Pendit, tetapi toh masih sering kita mendengar atau membawa lewat media massa. Kita meyakini atman berasal dari Paramatman (Brahman), karena itu kita semestinya mendoakan agar arwah orang meninggal itu bisa bersatu dengan-Nya (moksa). Hal ini juga sesuai dengan pandangan ajaran Islam, yang ada kondisi seperti itu mereka akan berucap, "inna lillaahi wa 'inna ilaihi raaji'uun". Artinya, sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kepada-Nya kita kembali.

Upaya penyeragaman dengan umat lain juga telah menggusur kebiasaan umat Hindu dalam memperingati hari kelahirannya sebagai pawetonan. Pawetonan berasal dari kata wetu, yang artinya lahir. Selanjutnya mendapat prefiks pe- dan sufiks -an menjadi pawetuan yang berarti hari kelahiran.

Secara filosofis, pelaksanaan upacara pawetonan memiliki fungsi sebagai pembayaran utang kepada para leluhur, sebagai sarana penyucian diri, serta sebagai sarana untuk membangkitkan rasa bahagia lahir dan batin. Dalam kehidupan masyarakat Bali dikenal ada slogan, "Sing kodag demen atine, buka kaotonin". Artinya, bukan kepalang bahagia hatiku, rasanya seperti dibuatkan upacara otonan.

Peringatan hari kelahiran berdasarkan sistem otonan dilaksanakan enam bulan sekali. Sistem ini akan mendapatkan hari yang sama dengan hari ketika dia dilahirkan, baik dari wuku, saptawara, maupun pancawaranya. Keadaan ini akan lebih tepat bila dibandingkan dengan sistem ulang tahun yang hanya memperhitungkan tanggal Kalender Masehi. Dengan demikian, yang diperingati sebenarnya bukan hari kelahiran (happy birthday), tetapi tanggal kelahiran (happy birthdate). Hal ini bukan berarti penulis menentang mereka yang gandrung merayakan hari ulang tahunnya. Yang terkesan lebih modern, tetapi mengingatkan bahwa kita memiliki sistem otonan, yang secara filosofis memiliki makna yang lebih mendalam.

Upaya penyeragaman dewasa ini juga memasuki pelataran pura. Banyak bangunan pura, termasuk candi bentarnya dibuat dari pese (pasir semen) yang dijual-belikan sebagai barang cetakan. Si pembeli (pangemong pura) tinggal menyusun kembali, sehingga terkesan praktis dan efisien. Halaman pura juga sudah banyak yang dibeton, bahkan lebih elit memakai tegel (marmer). Apakah ada sesuatu yang hilang dalam perubahan tersebut?

Arsitektur tradisional juga mendapat rongrongan yang sangat kuat. Sebagai contoh, di Bali saat ini sangat sulit untuk mendapatkan rumah tradisional Bali. Rumah tradisional telah digusur oleh bentuk "kekantoran" yang tampaknya lebih modern dan lebih efisien. Tempat lesung, ketungan dan juga jineng (tempat menyimpan padi) telah lama lenyap. Untunglah masih dapat kita lihat di tempat-tempat penginapan. Hanya saja, jineng bukan lagi tempat menyimpan padi atau beras, tetapi untuk "menyimpan" turis. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah nasib angkul-angkul. Di Klungkung ada orang memiliki angkul-angkul dari batu bata, mungkin bisa juga disebut kori
barak, dan "terpaksa" dibongkar oleh gerasi penerusnya, karena pintunya tidak cukup lebar, dan tidak memungkinkan penghuninya untuk memasuk-kan kendaraan. Berakhirlah nasib kori barak itu dan diganti dengan pintu besi yang memakai roda. Lagi-lagi kita menemukan penyeragaman pintu gerbang, memakai pintu besi beroda. Adalah sesuatu yang hilang dalam hal ini?

Bila kita renungkan lebih jauh, maka akan kita temukan lebih banyak lagi upaya-upaya penyeragaman seperti di atas. Walaupun tindakan itu dianggap lebih modern, tetapi dalam kenyataan sering tampak seperti dipaksanakan, dan bahkan terkesan konyol. Bagaimanapun pula, tindakan penyeragaman akan dapat mengurangi kreativitas.

Bila permasalahan ini kita angkat menjadi masalah nasional, bukan lagi hanya masalah di kalangan umat Hindu, maka kita akan menemukan berbagai macam upaya penyeragaman dan pelenyapan keberanekaragaman. Dalam bidang ekonomi, segala usaha yang bersifat monopoli, atau lebih diperhalus menjadi "penyalur tunggal" pada dasarnya adalah tindakan penyeragaman.

Selanjutnya, setiap musim kemarau hutan-hutan di Indonesia mengalami kebakaran, baik karena terbakar atau sengaja dibakar. Sebaliknya pada musim hujan, pasti terjadi kebanjiran. Kedua peristiwa ini, kebakaran dan kebanjiran, sebenarnya sangat merugikan dari ketersediaan sumber daya hayati. Sumber daya hayati yang meliputi berbagai spesies hewan dan tumbuhan, sebenarnya merupakan pabrik kimia bahan alam, yang sangat berguna bagi kesejahteraan umat manusia. Sayang, banyak makhluk Tuhan itu telah terburu lenyap, sebelum sempat diidentifikasi oleh ilmuwan yang punya perhatian.

Setelah membaca artikel ini, pembaca akan dapat mencari tindakan atau upaya yang dapat digolongkan sebagai tindakan penyeragaman. Cobalah renungkan, apakah lebih banyak untung atau ruginya, jika ditinjau dari kepentingan rakyat banyak? Apapun penemuan Saudara, khusus dalam hal ideologi, saya memastikan penyeragaman hanya mendatangkan keuntungan. Terima kasih, semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru.

 

Source: I Wayan Suja l Warta Hindu Dharma NO. 424 Juni 2002