Konsep Mati Menurut Hindu

Kala ikang pati ngarania wihjurun mapasah lawan panca maha bhuta juga tekang Atma ri sarira ikang aganal juga hilang ikang Atma langgeng tan molah apan ibek ikang raat kabeh dening Atman
(Dikutip dari Lontar Wre-haspati Tattwa)

Artinya: Pada waktu mati namanya, hanya berarti berpisahnya Panca Maha Bhuta dengan Atman yang ada pada badannya. Hanya badan kasarnya yang lenyap, sedangkan Atmanya tetap tak berubah, sebab alam ini penuh disusupi Atman.

Setiap orang yang lahir pasti akhirnya meninggalkan dunia ini. Hal itu disebut mati atau meninggal. Dalam Bhagawad Gita XIII.8 dinyatakan ada enam hal yang wajib kita renungkan setiap saat. Janma dan Mrtyu yaitu lahir dan mati. Jara dan Wiyadhi artinya tua dan sakit. Duhkha dan Dosa artinya pernah sedih dan pernah salah berdosa. Demikian juga Canakya Niti IV. 1 menyatakan nasib manusia sudah ditetapkan saat masih dalam kandungan termasuk Nidahana atau kapan manusia itu mati. Lima hal itu ditetapkan oleh Tuhan berdasarkan karma-karma pada penjelmaan sebelumnya. Karena siapapun yang lahir ke dunia ini pasti akan mati. Karena itu tidak perlu berani mati atau takut mati, karena mati itu bukan urusan kita. Mati itu urusan Tuhan yang menentukan.

Pertanyaan selanjutnya bagaimana konsep mati menurut ajaran Hindu. Mati menurut ajaran Hindu ada dua konsep yaitu berdasarkan Tattwa dan berdasarkan Upacara Yadnya. Mati menurut Tattwa seperti dinyatakan dalam pustaka Wrehaspati Tattwa yang dikutip di atas. Kalau sudah lepas Sang Hyang Atma dari badan sariranya yang dibangun oleh Panca Maha Bhuta itu sudah meninggal secara Tattwa. Jangan hal itu dianggap tidur saja. Tidur dan mati itu kan tidak sama. Jangan sampai orang miskin dianggap kaya. Orang sakit dianggap sehat. Anggapan seperti itu tentunya berbahaya. Seperti rumah yang sudah selesai secara fisik, sudah lengkap segala-galanya. Tetapi kalau belum diupacarai seperti di-pelaspas dengan upacara yadnya keagamaan Hindu, belumlah rumah itu selesai namanya menurut tradisi Hindu di Bali.

Demikian juga orang yang meninggal, meskipun secara tattwa sudah meninggal, namun kalau belum diupacarai yang disebut Atiwa-tiwa belum tuntas meninggalnya. Meninggal secara Tattwa pegangan kita sebagai umat Hindu adalah Wrehaspati Tattwa tersebut. Sedangkan kalau meninggal secara upacara yadnya pegangan umat Hindu semestinya Lontar Pretekaning Wong Pejah. Kalau meninggal secara Tattwa belum nyaluk sebel. Tetapi kalau sudah meninggal secara upacara menurut Lontar Pretekaning Wong Pejah saat itulah umat baru nyaluk sebel atau cuntaka.

Hukum negara juga mengatur orang meninggal saat otak dan batang otak sudah tidak berfungsi, secara hukum itu sudah meninggal. Tetapi dalam ilmu kedokteran ada yang disebut mati sel, di mana seluruh sel sudah tidak berfungsi. Mati sel itu membutuhkan waktu yang lebih panjang: Ini artinya ajaran Hindu menentukan adanya konsep mati menurut Hindu yaitu: mati menurut tattwa dan mati menurut upacara yandya.

Ini artinya menurut penerapan ajaran Hindu di Bali menentukan meninggal berdasarkan tattwa dan upacara yadnya itulah yang disebut meninggal yang sudah tuntas. Selanjutnya bagaimana proses upacara yadnya untuk menentukan orang meninggal berdasarkan upacara yadnya yang dinyatakan oleh Lontar Pretekaning Wong Pejah. Lontar ini menguraikan tentang tata cara merawat jenazah bagi umat Hindu di Bali. Secara umum jenazah itu dimandikan dengan air bersih atau disebut toya anyar. Selanjutnya dimandikan dengan air bunga yang disebut toya kumkuman. Dirawat dengan bebelonyoh putih kuning kuning, makeramas, makerik kuku, setiap buku atau persendiannya diletakan kwangen, seluruhnya dua puluh dua kwangen.

Intinya jenazah itu dirawat layaknya orang masih hidup. Selanjutnya disembahyangkan dengan memercikkan Tirtha Pangelukatan, Tirtha Pabersihan, Tirtha Kawitan atau Tirtha Batara Hyang Guru dari Kamulan Taksu dan Tirtha Kahyangan Tiga. Kalau akan dipendem atau dikubur atau belum ditentukan hari pengabenan dipercikan Tirtha Pengentas Tanem. Ini semuanya merupakan simbol permakluman tentang kematian Sang Seda. Puncaknya melangsungkan upacara mapepegat lambang perpisahan dengan seluruh keluarga umumnya yang satu Sanggah Merajan. Kemudian barulah jenazah digulung dengan kain kapan dan disemayamkan di Bale Gede. Di Bale Gede umumnya ada Arca Garuda simbol Dewa yang dapat menuntun orang yang meninggal itu memperoleh tuntunan pembebasan dari dosa-dosa selama hidupnya.

Acara selanjutnya layon dikubur (di-pendem) di Setra atau diaben. Kalau di-pendem atau dikubur di Setra dibekali Tirtha Pangentas Tanem. Dengan Tirtha Pangentas Tanem itu bagaikan kartu pelajar untuk belajar pada Ida Batara Sedahan Setra yang distanakan di Pura Praja Pati di Hulun Setra. Kalau sudah dengan Tirtha Pangentas Tanem, kapan saja bisa diaben. Tetapi kalau tidak menggunakan Tirtha Pangentas Tanem harus diaben sebelum setahun. Kalau tidak, roh yang bernama Preta itu bisa menjadi Butha Diadiu yang dapat mengganggu ketenangan umat di desa.

Demikian menurut keyakinan umat Hindu di Bali berdasarkan petunjuk Lontar Yama Tattwa. Menurut Lontar Gayatri saat orang meninggal roh atau atmannya disebut Preta. Setelah diaben rohnya meningkat menjadi Pitra. Setelah Upacara Atma Wedana sesuai dengan kemampuan Sang Jayamana atau yang punya dan membiayai Yadnya. Atma Wedana itu ada lima jenisnya. Salah satu bisa diambil misalnya ada yang paling kecil sampai yang paling utama seperti upacaranya disebut nganggseng, nyekah, mamukur, maligia atau ngaluwer. Upacara Yadnya Atma Wedana itu meningkatkan status Pitara mejadi Dewa Pitara. Terus dilangsungkan upacara nyegara gunung dengan tujuan maajar-ajar untuk mendapatkan tuntunan ajah-ajah dari Ida Batara di Besakih dan di Gua Lawah simbul Ida Batara di Gunung dan di Segara barulah Sang Dewa Pitara distanakan di Kamulan Taksu.

Tata cara menstanakan Dewa Pitara di Kamulan Taksu dijelaskan sangat rinci di Lontar Purwa Bhumi Kamulan dan beberapa Lontar lainnya. Adanya Upacara Yadnya saat manusia lahir, hidup dan mati menurut Lontar Dharma Kauripan itulah ciri perbedaan manusia dengan makhluk lainnya seperti tumbuh-tumbuhan dan hewan.

Source: I Ketut Wiana l Koran Bali Post, Minggu Pon, 2 September 2015