Klaim Sepotong Surga

Seorang pemuda Hindu bertanya kepada temannya yang seorang Muslim, "Jika Anda berbuat sesuai dengan ajaran Al Qur'an, lalu mendapat 'upah' dari Allah berupa tempat yang 'super istimewa' bernama 'surga', apakah mungkin Anda akan berjumpa dengan saya di sana?" Karena kurang mengerti dengan maksud pertanyaan itu, teman emuda itu balik bertanya, "Maksud Anda? Begini...., jika saya juga berbuat sesuai dengan ajaran Weda, apakah mungkin nanti saya akan berada satu tempat dengan Anda di Surga itu? Teman si Pemuda itu kemudian menjawab, "Tidak mungkin! Hanya orang-orang Muslim yang akan berada satu tempat dengan saya. Hanya mereka yang menyembah Allah yang bisa masuk surga! Jika ingin masuk surga Anda mesti masuk Islam terlebih dahulu!" Bibir pemuda itu mendadak bergetar, lidahnya kelu.

Setelah mengatur nafas, pemuda itu dengan niat baik dan tulus kemudian mengutip sebuah ayat, "Bisa saja Allah menjadikan seluruh umat manusia hanya memeluk satu agama saja, namun ternyata Dia tidak menakdirkan demikian (Q.S.10:99)". Mengapa Allah berfirman seperti itu? Teman pemuda itu menjawab, "Ya, memang demikian adanya. Allah memang memperlihatkan banyak jalan tetapi hanya satu yang benar. Allah hanya menunjukkan, "Ini lho jalan yang benar (Islam) dan itu yang salah!" Aku berikan kebebasan pada kalian apakah akan memilih jalan yang benar, atau yang salah." Terakhir, teman pemuda itu memberi penegasan bahwa klaim tentang "hanya satu jalan yang benar" itu adalah aqidah yang tidak bisa ditawar-tawar!

Duh Gusti...., walaupun sudah punya back ground knowledge tentang konsep surga dan moksa versi Hindu yang nota bene jauh berbeda dengan konsep surga menurut pandangan Islam, tetapi mendengar jawaban seperti itu, tak urung si Pemuda dibuat bungkam, tak tahu harus berkata apa. Diskusi itu kemudian "terpaksa" ditutup untuk menghindari mengalirnya semangat atau energi negatif;

Pemuda iseng itu adalah saya, dan teman Muslim itu adalah seorang penceramah yang kini sedang mengikuti Program Pasca Sarjana di salah satu Universitas di Malang. Ilustrasi itu merupakan salah satu catatan penting saya dalam upaya untuk menjawab sebuah pertanyaan kronis, "Jika memang agama adalah untuk menyelamatkan umat manusia dunia dan akhirat, mengapa begitu banyak darah yang harus ditumpahkan demi membela agama?", Itu sangat aneh!.

Dari jawaban tegas teman saya tentang surga dalam islustrasi itu, saya kemudian menarik tiga implikasi. Pertama, teman saya memandang bahwa hanya agamanya saja yang benar, yang lain salah dan sesat. Kedua, hanya Allah yang benar-benar Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan nama-nama lain yang disebut-sebut sebagai Tuhan oleh pemeluk agama lain sebenarnya bukan Tuhan. Dengan demikian, hanya yang menyembah Allah (baca: Aullah atau Aulloh) yang benar-benar menyembah Tuhan. Menyembah selain itu berarti kafir, kufur dan musrik. Ketiga, secara psikologis tentu saja teman saya akan memandang rendah orang-orang di luar Islam, sehingga ketika melihat orang di luar agamanya sedang melakukan persembahyangan misalnya, maka dengan mudah benaknya akan dipenuhi pertanyaan-pertanyaan, "ah si Kafir, ah si Kuruf, ah si Musrik, ah si Penyembah Berhala dan sebagainya", walaupun itu mungkin tidak direalisasikan dalam bentuk ucapan. Jika sudah demikian, tentu slogan luhur "torang samua basudara" yang didengung-dengunkan hanya sebatas slogan saja, tidak bisa menjadi spirit bagi perdamaian dunia.

Jika implikasi-implikasi itu kita bandingkan dengan ajaran Hindu, maka implikasi pertama akan langsung melecehkan Sabda Tuhan Krsna, "Jalan manapun yang ditempuh manusia ke arah-Ku, semuanya Aku terima. Dari manapun mereka menuju jalan-Ku oh Parta (Bhg. IV.ll). Apapun bentuk kepercayaan yang ingin dipeluk oleh penganut agama, Aku perlakukan mereka sama, supaya tetap teguh dan sejahtera (Bhg. VII : 21)". Selanjutnya, implikasi kedua akan "mengejek" kalimat kunci untuk memahami ke-Esaan Tuhan, "Tuhan itu satu, tetapi orang-orang bijaksana kemudian menyebut-Nya dengan banyak nama". Lebih lanjut, implikasi ketiga akan menista semangat "Tat Twam Asi/ Wasudhaiwa Kutumbakam".

Implikasi-implikasi itulah rupanya yang menjadi "biang kerok" konflik agama selama ini. Para pemeluk suatu agama mengklaim bahwa agamanya yang paling sempurna, kemudian bertemu dengan pemeluk agama lain yang juga menyatakan bahwa agamanyalah yang paling benar, maka terjadilah gesekan-gesekan, saling curiga, dan saling fitnah. Apa yang kemudian dihasilkan? Tak lebih dari bibit-bibit permusuhan! Bibit-bibit ini kemudian terakumulasi dan meledak menjadi perang terbuka. Tak perlu ke luar negeri untuk melihat contohnya. Lihat saja perang agama di Ambon dan Poso! Ratusan bahkan mungkin ribuan anak-anak menjadi yatim karena ayahnya gugur dalam membela agama. Aneh, selalu saja ada upaya untuk menyembunyikan atau memperhalus "pengkhianatan ajaran Tuhan" itu dengan mengatakan bahwa itu bukan konflik agama, itu hanya salah paham biasa yang kemudian meluas.

Di era informasi ini, siapa lagi yang bisa dibohongi? Berbagai bentuk organisasi yang bertujuan membela agama kemudian dibentuk. Sebagai contoh, untuk berjihad memerangi kaum kafir yang zolim di Ambon dan Poso, maka dibentuklah FPI (Front Pembela Islam) dan Barisan Laskar Jihad, sedangkan untuk membela Muslim secara hukum, dibentuklah TPM (Tim Pembela Muslim). TPM inilah yang kemudian membela para pelaku berbagai teror Bom di Indonesia. Lucu, mereka mengatasnamakan agama, tetapi kok malah membela teroris?

Yang tak habis pikir juga, agama kok dibela? Apakah agama itu seperti "makhluk lemah" yang selalu dizoliml (dianiaya)? Kalau benar demikian, siapa yang menganiaya? Di Indonesia misalnya, bukankah dari segi kuantitas dait power agama Islam adalah mayoritas? Ah, pemikiran yang rumit dan penuh misteri!

Selama implikasi-implikasi seperti itu menjadi pola pikir para pemeluk suatu agama dan kemudian sengaja dipupuk sehingga tumbuh subur, mal tujuan agama yang semua untuk menyelamatkan umat manusia di dunia dan akhirat, akan terkhianati. Yang akan terjadi kemudian adalah "kecelakaan" umat manusia dunia dan akhirat. Darah akan terus ditumpahkan demi membela agama. Para pembela dengan penuh nafsu mengusung panji-panji agama dan meneriakkan "Tuhan Maha Besar! Tuhan Maha Besar! Tuhan Maha Besar! Teriakan-teriakan itu digunakan sebagai pembenaran setiap ayunan tombak, sabetan klewang, atau dentuman bomnya. Sungguh mengerikan!

Source: Page Paradev I Warta Hindu Dharma NO. 451 Agustus 2004