Kita Hidup Bukan untuk Kehidupan Ini

Di antara mahluk ciptaan Tuhan di dunia ini, manusialah yang paling utama. Mengapa demikian? yaitu oleh karena manusia dianugrahi pasilitas yang paling lengkap di antara ciptaan Tuhan yang lainnya, yaitu dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Manusia, dibekali dengan tiga kemampuan yang disebut dengan Tri Pramana yaitu Bayu (kemampuan untuk hidup), Sabda (kemampuan untuk bersuara), dan Idep (kemampuan untuk berpikir).
2. Binatang, dibekali dengan dua kemampuan yang disebut dengan Dwi Pramana yaitu Bayu dan Sabda.
3. Tumbuh-tumbuhan, dibekali dengan satu kemampuan yang disebut dengan Eka Pramana yaitu Bayu.

Jadi jelaslah bahwa manusia memiliki kelebihan yaitu kemampuan untuk berpikir (idep), di sinilah letak keutamaannya. Dengan Idep yang dimiliki hendaknya manusia mampu memanfaatkannya untuk hal-hal kebaikan (subha karma) bukan sebaliknya. Dalam hal inilah manusia dituntut untuk mampu berwiweka (memilih baik dan buruk), dengan wiweka manusia akan senantiasa berada pada rel dharma, serta akan mampu memahami apa sebenarnya hakekat dari hidup ini. Jika dicermati, direnungi dan dihayati hakekat dari hidup ini adalah kita hidup bukan untuk kehidupan yang semu ini (maya), melainkan kita hidup untuk terbebas dari kehidupan ini (moksa), dengan jalan berbuat kebaikan dengan landasan dharma.

Tentang keutamaan dan hakekat dari hidup manusia secara rinci telah disebutkan dalam Sarasamuccaya sloka 4, sebagai berikut : "Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama; sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsor^ (lahir dan mati berulang-ulang) dengus jalan berbuat baik; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia".

Untuk itu lakukanlah perbuatan baik (subha karma), dengan senantiasa berlandaskan dharma. Sebab ada kalanya perbuatan itu disebut baik namun tidak dilandasi oleh dharma. Dan begitu juga dalam melakukannya, hendaknya dilakukan dalam setiap kesempatan yang dimiliki, karena hidup kita di dunia ini adalah sangat singkat sekali, bahkan Bhagawan Wararuci menyebutkan hidup manusia tak ubahnya dengan gerlapan kilat dan amat sukar pula untuk diperoleh (tan pahi lawan kedapning kilat, durlabha towi). Jadi janganlah menunda-nunda untuk melakukan penunaian Dharma Sebab "Yang disebut dharma, adalan merupakan alat bagi orang dagang untuk mengarungi lautan. Lagi pula meski di semak-semak, di hutan, di jurang, di tempat-tempat yang berbahaya, di segala tempat yang dapat menimbulkan kesusahan, baik di dalam peperangan sekalipun, tidak akan timbul bahaya menimpa orang yang senantiasa melaksanakan dharma, karena perbuatan baiknya itulah yang melindungi" (Sarasamuccaya, 14.22), jadi betapa kompleks sekali faedah dari pelaksanaan dharma itu, tidak hanya semata-mata demi tercapainya kebahagiaan akhirat (moksartham) namun juga demi terciptanya kedamaian, kebahagiaan di dunia (jagadhita).

Hati-Hati Dengan Pikiran

Pikiran adalah anugrah Tuhan yang paling berharga karena dengan pikiranlah manusia dikatakan sebagai makhluk yang berbudaya, dan pikiran pula yang mengantarkan manusia meraih predikat sebagai makhluk yang paling sempurna di kolong langit ini. Sebuah keberuntungan memang Jika kita mampu mengendalikan pikiran tersebut sebab disebutkan: "....... jika ada orang yang dapat mengendalikan pikiran pasti orang itu memperoleh kebahagiaan baik sekarang maupun di dunia yang lain" (Sasamuccaya 81).

Pikiran sangat liar adanya, dapat dikatakan bagaikan kuda binal yang suka lari ke sana ke mari, sulit untuk dikendalikan. Bahkan jika tidak dapat mengendalikannya, kita akan diperdaya olehnya. Bhagawan Wararuci melalui
Sarasamuccaya 86, memberikan sebuah contoh yang sangat menarik kepada kita yaitu dikisahkan: " ... ada sang biku yang melakukan pariwradhaka-bhuta, yaitu mengembara mencari kesempurnaan hidup hidup; ada lagi si kamuka, besar nafsu doyan kepada wanita; ada pula serigala, ketiganya itu melihatseorangwanita cantik; ketiganya berbeda tanggapannya, "mayat" kata sang biku peminta-minta berkeliling, karena insaf akan hakekat sesuatu tidak kekal; berkata si pencinta wanita. "sungguh menggairahkan wanita ini"; maka si serigala berkata: "sungguh daging lezat, jika dimakan"; disebabkan oleh bingung atau kacaunya pikiran, maka menimbulkan adanya tanggapan perbedaan terhadap sesuatu barang yang berbeda-beda pula"'.

Demikianlah pikiran itu, dia akan memberikan "warna" pada kepribadian seseorang, maka dari itu berhati-hatilah, dan kendalikan pikiran tersebut. (Penulis adalah guru YPS PT. lnco Sorowako).

Source: I Gede Sudarsana l Warta Hindu Dharma NO. 419 Januari 2002