Kisah Bhatara Indra dan Raksasa Bala

Suatu ketika seorang raksasa perkasa hadir dari tapa yang dilakukan Dewi Diti. Raksasa ini sangat hebat dan begitu sakti, dank arena kekuatannya luar biasa raksasa ini diberinama Bala. Bala memiliki pasukan asura yang sangat banyak dan mereka sangat patuh pada apa yang diperintahkan oleh tuannya.

Merasa memiliki kekuatan luar biasa dan kemampuan hebat,  Bala mulai melakukan terror kepada pada pertapa dan Brahmana yang tekun dalam Veda. Dengan perintah dari Bala, pasukan raksasa membakar pertapaan-pertapaan di hutan yang dihuni oleh para Brahmacari dan Brahmacarini. Mereka juga tidak segan-segan menjarah harta benda kekayaan penduduk yang bermukim di tepian lembah dan sungai, serta menjarah ternak mereka untuk berfoya-foya.

Para Rsi yang tengah melakukan tapa diseret dan dibunuh. Anak-anak gadis disepanjang desa kemudian dirampas dan dilarikan oleh pasukan Bala. Tidak ada satu orang pun yang berani melawan kejahatan yang dilakukan raja asura ini. Sebab, Bala terkenal sangat sadis dan tidak memiliki rasa belas kasihan.

Setelah alam Bhur dikuasainya dengan cara kekerasan, maka hampir seluruh raja dan pemuka desa menjadi korban kejahatannya. Dia tertawa seperti penguasa dunia dan seolah tiada lagi orang yang mampu menundukkannya. Pertapa dan Muni yang masih selamat dari amukan Bala kemudian lari mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Tidak ada perlindungan sama sekali yang mampu diharapkan dari serangan pasukan raksasa itu. Para pertapa kemudian mulai melakukan upacara secara sembunyi-sembunyi untuk berdoa memohon kepada para dewata, agar diberikan jalan keluar dari masalah besar ini.

Ketika itu terjadi, Dewi Diti menemui putranya diistananya dan berkata. “Bala, sekarang ibu sudah sangat merasa lega dengan semua yang kau raih. Kau mengharumkan nama kaum asura dengan gagah berani. Kelak, namamu akan abadi dalam panji kebesaran kaum raksasa.”

Bala menghormat kepada ibunya dan berkata: “tidak perlu kau ragukan lagi. Secepatnya seluruh mahluk akan menjadi bawahanku, dan tidak satu pun dari mereka yang akan mengumandangkan kita Veda lagi. Akulah yang akan menjadi raja diraja segala alam. Hahahahaha!”.

“Tetapi anakku, kau jangan merasa senang dulu, sebab ini hanya alam tingkat pertama. Ada tujuh alam yang dihuni oleh mahluk berbeda yang masing-masing dari mereka memiliki banyak kesaktian dan kekuatan dari hasil tapa yang mereka lakukan.”

Mendengar kata-kata ini, Bala menjadi sangat kesal. Dia berpikir bahwa dirinya adalah satu-satunya mahluk yang merajai segalanya. Dia hanya menguasai dan mampu menebar terror di alam Bhur. Sedangkan ada enam loka lagi yang belum dia sambangi. Dengan beringas dia berkata pada ibunya: “Baiklah, sekarang juga aku akan menyerang alam yang lainnya, menundukkan mereka dan menjadikan mereka budak. Jika perlu, maka aku akan membunuh mereka!”

Segera pasukan raksasa yang lengkap dengan senjata bergerak menuju alam Svah Loka. Mereka dibekali kekuatan perkasa oleh Bala, dan hasilnya mereka mampu menyeberangi dimensi alam dengan sangat mudah.

Pertapa yang tengah melakukan puja terus menerus berdoa memohon perlindungan. Disanalah, Dewi Aditi kemudian menemui putranya dan berkata: “Anakku, Bala sudah sangat keterlaluan. Dia menindas para Brahmana dan menjarah harta penduduk. Dia sudah banyak membunuh para pertapa di hutan, dan dunia menjadi tempat yang sangat menakutkan untuk dihuni. Tidak ada satupun mahluk di dunia yang berani menghadapinya. Sekarang dengan kemampuan saktinya dia menggempur kediaman Svah Loka. Para Rsi yang mencapai penerangan karena pahala mereka menjadi berguncang karena tindakan ini.”

Dengan segera, Bhatara Indra turun dari singasananya dan pergi menemui Bala. Ketika itu, Bala tengah sibuk mempersiapkan pasukan raksasa yang begitu besar, lautan pasukan yang belum pernah ada sebelumnya. Jika tidak segera diambil tindakan, maka akan semakin sulit untuk mengendalikan raksasa ini. Bhatara Indra kemudian turun dan menampakkan diri dihadapan Bala.

“Oh raja raksasa yang perkasa. Perbuatanmu sungguh sangat tidak patut untuk dijadikan teladan. Kelancanganmu adalah sudah membunuh Brahmana, dan itu adalah dosa yang paling berat. Aku sengaja membiarkanmu untuk menunggu apakah dirimu menyadari akan kekeliruanmu atau tidak. Ternyata kau memang tidak patut untuk dikasihani.”

Melihat sosok yang begitu bercahaya datang, bala seketika sadar bahwa yang berdiri dihadapannya adalah raja para dewata. Dengan segera dia berkata keras: “Hahahahaha! Tidak ada gunanya menceramahi aku disini! Para rsi dan pertapa itu memang layak mati. Mereka membuang-buang waktu membawa mantra Veda, dan menyuguhkan kepada kalian persembahan. Kau datang kesini karena takut padaku. Hahahahaha, berusaha sekuat tenagalah, oh Indra untuk menghentikanku, sebab kekuatanmu tidak akan berpengaruh padaku! Hahahahaha!”

“Wahai raja diantara asura. Oh putra terbaik Ibu Diti. Aku datang membawa jalan terbaik bagi semuanya keinginanmu untuk menalukkan alam bhawah adalah sebuah kekeliruan. Alam itu hanya diperuntukkan bagi meraka yang telah sadar akan arti pentingnya sebuah ilmu pengetahuan.”

Bala semakin gusar mendengar nasehat itu, dan dengan segera dia berteriak. “Hujani dewa itu dengan senjata kalian!” Pasukan raksasa yang mendapat perintah dari Bala, seketika melempari Bhatara Indra dengan senjata aneka warna. Pedang, tombak, gada, dan anak panah diarahkan kepada Bhatara Indra. Hujan senjata itu melesat cepat bagaikan hembusan angin, tetapi seluruh senjata itu luruh tidak berdaya dihadapan Bhatara Indra. Tidak satu pun senjata hebat itu mampu melukai tubuh agung Bhatara Indra. Melihat kejadian itu, Bala semakin geram dan dia menghujani Bhatara Indra dengan anak panah saktinya. Senjata itu melesat sambil mengeluarkan api yang menyala. Tetapi sekali lagi, senjata itu luluh seperti sehelai rumput yang dilemparkan pada gajah.

Bhatara Indra kemudian mengangkat tangannya dan dari sana kilatan cahaya mulai berkumpul menjadi satu. Kilatan itu dengan cepat memanjang dan membentuk sebuah pedang, lalu dihujamkanlah senjata cahaya itu kea rah Bala. Senjata itu melesat berubah menjadi halilintar dan menyambar tubuh Bala hingga hancur berkeping-keping.

Ketika halilintar Bhatara Indra menyambar Bala, ledakan hebat terjadi. Bala tewas dan terbakar hingga menjadi abu. Para brahmana dan pertapa yang menyaksikan pertempuran itu bersorak dan memuja kebesaran Bhatara Indra. Para rsi-rsi langit kemudian menaburkan bunga surgawi yang penuh harum kepada Bhatara Indra dan mulai mengidungkan kejayaan kepada Bhatara Indra.

Para pertapa yang sedang melakukan tapa mendapatkan darsana melihat bentuk paripurna cemerlang dari Bhatara Indra. Mereka seolah hidup kembali, dan rsi-rsi itu diangkat menuju Amaravati (kota suci di Indra Loka) dan menikmati buah tapa mereka selama ini.

Oleh: Gede Agus Budi Adnyana
Source: Majalah Hindu Raditya, Edisi 239, Juni 2017