Kiratarjuna

Lakon ini disanggit menggunakan materi : Arjuna Wiwaha dan lakon seni pertunjukan Katha kali, dari negara bagian Kerala, India Barat Daya. Lakon cerita sederhana, bermanfaat bagi seorang calon dalang dalam membina keterampilan, kemahiran melaksanakan 'sabet' yaitu, terampil mahir, menggerakkan wayang berlaga, dengan menggunakan tokoh wayang sangat terbatas jumlahnya.

Seusai melaksanakan: nginang, pemungkah-salon kayon-laga nidra pengerahinan-penyahcap parwa-sewenduk samita. Adegan mulai di Siwa Loka, tatkala Dewa Siwa dan Parwati Dewi, melaksanakan inisiatif beliau. Merubah wujud menjadi seorang pemburu dengan nama Kirata, didampingi istri bernama Kirarti. Kirarti, ke Indra Kila, akan memberikan Arjuna pengalaman berlaga,. Sekaligus akan melakukan penyelamatan atas diri Arjuna dari serangan Momo Simurka, tokoh utusan dari kerajaan Emantaka. Momo Simurka berubah wujud menjadi seekor babi hutan maha besar, rmaksud mencedrai Arjuna lagi bertapa di guwa gunung Indra Kila Arjuna bertapa di guwa gunung Indra Kila, memuja Siwa. Dalam tradisi Bali, lakon ini dikenal dengan: Arjuna tapa. Agak berjauhan letaknya, dua ponakan Tuwalen dan Merdah, menyaksikan dan mengomentari tentang apa yang terjadi terhadap Arjuna.

Rasa Sringgara/cinta kasih cenderung birahi, wajib diciptakan dalang. Tujuh orang widyadari cantik jelita, diutus Indra menggoda Arjuna. Para widyadari, dengan gender gendhing 'Rebong', menari erotik menggoda Arjuna yang sedang khusuk tekun melaksanakan: tapa-brata-yoga-semadi didalam sebuah gua di kaki gunung Indrakila. Ada widyadari merebahkan diri dihadapkan Arjuna dengan kain tersingkap sampai pangkal paha. Ada yng tiduran di paha Arjuna. Ada yang menaburkan bunga segar dan wewangian harum. Ponakan Tuwalen dan Merdah tergoda rasa kasmaran mereka; memberikan komentar terhadap ulah para widyadari, terhadap Arjuna, namun Arjuna tetap teguh memuja mengumandangkan 'japa mantra': "Om nama Siwa ya!"

Para widyadari beranjak cabut meninggalkan tempat. Gebrak cempala kekayon penyalit, diiringi gender batel, nyelinap menjadi gendhing Bapang Dalem. Tari gembira ponakawan Delem dan Sangut. Keduanya dengan lantang mengungkap kegiatan mereka sedang dalam perjalanan menyertai maha patih Ki Momo Simurka, diutus oleh raja Nirwataka, untuk mencederai Arjuna yang sedang bertapa di sebuah guwa di gunung Indra Kila. Tidak menemukan tempat yang tepat.

Momo Simurka merubah wujud menjadi seekor babi hutan maha besar. Seperti sebuah alat besar buldoser, babi hutan itu merobohkan dinding-dinding guwa. Gender batel, taluan cempala. Sang Arjuna terkesiab menyelamatkan diri hampir ditimpa reruntuhan dinding guwa. Saat itu juga Kirata dan Kirati hadir diruang itu, ngintai. Arjuna membidikkan anak panahnya ke arah babi, Kirata, melakukan hal yang sama. Dua anak panah Arjuna dan anak panah Kirata, di udara menjadi satu, mematikan babi hutan maha besar pada satu lubang luka.

Arjuna tergopoh mengambil anak panahnya. Dihadang oleh Kirata dengan ejekan :"Bila anda perlu anak panah, akan kuberikan dengan cuma-cuma!" "Tidak etis mengambil anak panah milik pemburu dekil seperti aku, tatkala aku berhasil membunuh buruanku" kata Kirata. Arjuna naik pitam, menghujani Kirata dengan anak panahnya bertubi-tubi. Empat ponakan : Delem-Sangut, Tuwalen-Merdah, mencipta suasana galau. Setiap vokal dialog, gender sepi kembali tebal saat gerak laga.

Melihat kejadian itu, datang Kirati menyelamatkan Kirata. Arjuna dipastu oleh Kirati, agar anak panah Arjuna habis! Arjuna tiba-tiba saja hampa kantong anak panahnya, Dengan kedua tangannya Arjuna mengangkat busur memukul kepala Kirata. Cempala nirtir gender lumut, sinar swaredup ditutupi kelopak debong; vokal dalang datar mantap mengomentari adegan 'kepala Kirata dipukul dengan busur oleh Arjuna'.

Dewi Gangga yang tersembunyi dalam rambut gimbal pemburu dekil Kirata (Siwa) mengambil busur milik Arjuna, dengan tenaga gaib. Gebrak cempala kayon penyakit : Arjuna hamppa anak panah, kehilangan busur, mengepal-ngepalkan tangan, memadati kedua lengan dan membanting jasad Kirata. Kirata menggeliat bergulat lawan Arjuna. Saling tinju, saling tendang, saling seret, saling banting, dalam jangka waktu sangat lama.

Tehnik pencarian tangan dalang. Dengan menggunakan wayang terbatas, juga tehnik permainan cempala kaki tangan, selaras dengan gender, vokal dalang, dapat berlatih maksimal dengan lakon Kiratarjuna, yang sederhana. Dengan lakon Karnarjuna dalam Bharata Yuda, di Tegal Kuru Kshetra, flesh back adegan lain-lain berperang, menciptakan kejadian galau dalam Brata yuda. Tokoh-tokoh wayang sangat banyak digunakan, menciptakan kejadian adegan semarak pertunujukan wayang, tentu suasana lebih ramai.

Dalam keadaan letih dan lesu, Arjuna dilempar ke angkasa oleh Kirata, sangat tinggi sekali. Arjuna sadar tatkala melayang tinggi di udara. Saat terjatuh, Arjuna tidak sadar akan diri. Sangat perlahan tapi pasti, Arjuna mulai siuman; akhirnya terkesima akan keadaan dirinya, letih lesu tidak berdaya, namun semangatnya untuk berlaga pupus menjadi sirna. Ia takjub. Di atas tanah tempat Arjuna jatuh, Kirata menciptakan kasur cukup tebal tumpukan bunga warna-warni, segar wangi.

Kirata berdiri berpegangan menyandarkan kepalanya pada sebatang pohon, dekat kasur bunga segar wangi, tempat Arjuna terjatuh itu. Cempaka nirtir lembut, gender lirih. Arjuna perlahan membuka mata serta duduk hati-hati rapi sekali. Kedua tangannya kedapatan menggenggam bunga segar wangi dari kasur tempat Arjuna terjatuh. Tidak sengaja bujoga segar wangi disatukan Arjuna punya tangan kiri. Dengan tangan kanan, Arjuna menabur-nabur bunga silih Wiwaha, Om Sembah, Wirama Merdukomala:

Om sembah ninganata tinghalana detriloka sarana
Wahyadyatmika sembah inghulunijengta tan hana waneh
Sanglwir agni sakeng tahen kadi minyak sakeng dadhi kita
Sang saksat metu yan hana wang arhuter tutur pinahayu

Arjuna memuja Siwa dengan khusuk, menabur-nabur bunga segar wangi. Setiap bunga vang ditebar Arjuna sambil memuja, melayang-layang menghias kepala pemburu dekil Kirata. Arjuna dan para ponakan vang hadir terkesima membersihkan kelopak mata mereka, menatap mirakel vang terjadi.

Arjuna kini melihat Kirata didampingi oleh Kirati. Satu sloka doa yang, dikumandangkan oleh Arjuna diiringi gender lembut

Vagartaf pratisampraktau
Vagartaf pratipatayei
Jagatap pitarau vande
Panuti Parameszoarau

(Sumber : karya  kalidasa  pada Pendahuluan Kumara Sambhawa)

Kirata kini, berwujud Siwa, memberikan anugrah pasupathastra. Kirati bersalin wujud Parwati, mengembalikan kembali anak panah milik Arjuna. Gangga Dewi, mengembalikan busur milik Arjuna dengan nama Gandewa. Wayang Arjuna, terancap di tengah debong palemahan, anak panah dan Gandewa, anugrah para Dewa Dewi menghias Arjuna/Dhananjaya. Tancep Kayon. Gender gendhing tabuh gari/bugar. Samapta puput.

Demikian, cerita lakon sederhana, bermanfaat bagi calon dalang membina kembangkan keterampilan 'sabet', gerak jemari tangannya. Menggunakan jumlah wayang terbatas, menyajikan beda-beda cara berperang ditangan dalang, justru untuk keterampilan kemahiran 'sabet'.

Oleh: Nyoman Diya
Source: Warta Hindu Dharma NO. 522 Juni 2010