Kicaka Birahi Pada Draupadi

Begitulah berbulan-bulan berlalu bagi para Pandawa, hidup dengan menyamar di ibukota Wirata. Bulan-bulan penuh kerja keras bagi Draupadi yang biasa hidup mewah, terpaksa bekerja untuk orang lain. Namun ia melakukan pekerjaan sebaik-baiknya, untuk menyenangkan hati Ratu Sudesna dan wanita-wanita lain di dalam istana itu.

Pada hari-hari terakhirnya di istana itu, terjadilah suatu peristiwa: ia menarik perhatian Kicaka, saudara laki-laki Ratu dan panglima pasukan Wirata. Nafsu birahinya bangkit dan ia pergi menghadap Ratu Sudesna. “Siapakah gadis yang baru itu? Kecantikannya memabukkan diriku, seperti harumnya anggur yang masih segar. Ia terlalu cantik untuk menjadi pelayanmu; biarlah aku yang menjadi tuan baginya.” Lantas Kicaka menemui Draupadi.

“Siapakah engkau, wahai wanita cantik. Wajahnya indah seperti bulan purnama, suaramu merdu seperti burung Kokla, dan matamu seindah bunga padma. Payudaramu bulat penuh begitu indah memerlukan untaian kembang dari emas, tiada celah bagi buluh di sela-selanya. Saat melihatmu berjalan birahi asmara bangkit di dadaku; pinggangmu sangat ramping, saat payudaramu bergerak membuat engkau merunduk. Payudaramu mirip dengan kuntum-kuntum bunga padma menyalakan nafsu birahiku. Pinggulmu bagaikan tepian sungai; demi dirimu aku rela menceraikan semua istri-istriku, menghiasimu dengan karangan bunga, jubah dan permata, mencintaimu seperti mendung penuh hujan yang menyirami bumi dengan curahan airnya.

“Hamba sudah bersuami,” jawab Draupadi. “Tidak sepatutnya Tuanku jatuh cinta pada seorang perempuan dari wangsa yang rendah, seorang dayang perias rambut.” Namun nafsu birahinya telah mencapai ubun-ubun, membutakannya terhadap kejinya sebuah perzinahan. “Pandanglah aku," kata Kicaka.

“Aku memiliki apa saja yang sangat dirindukan (wanita) — muda, wajah tampan, kaya. Terimalah aku dan nikmati kerajaan ini bersamaku.” “Hamba memiliki lima orang gandarwa sebagai suami yang melindungi diriku. Tuanku sudah hilang ingatan; Tuanku tidak sadar akan bencana yang akan menimpa Tuanku,” jawab Draupadi.

Kicaka buru-buru menemui Ratu Sudesna dan berkata, “Aku jatuh cinta padanya. Carikan jalan untuk bisa mengirim dirinya kepadaku.” Merasa kasihan kepada saudaranya, Ratu Sudesna berkata, “Pada waktu ada pesta aku akan memerintahkan dia untuk pergi ke kamarmu dengan alasan supaya mengambilkan makanan dan anggur untuk ku. Ia akan sendirian; cobalah barangkali engkau bisa membujuknya untuk mengubah pikirannya.”

Namun ketika diinstruksikan oleh Ratu Sudeshna, Draupadi menjawab, “Wahai Ibunda Ratu, engkau sebelumnya telah menerima persyaratanku untuk bekerja di sini. Kichaka bernafsu kepadaku. Aku tidak bisa pergi ke tempatnya. Kirimlah pelayan yang lain.”

“Ia tidak akan mempermalukan dirimu. Ia tahu bahwa aku telah mengirim dirimu. Pergilah,” kata Ratu Sudeshna, sambil menyerahkan bejana emas kepada Draupadi untuk menampung anggur. Dalam hati ia berdoa “Semoga kebenaran atas kesetiaanku kepada suami-suamiku akan melindungi diriku, Draupadi kemudian menuju tempat tinggalnya Kichaka. Draupadi berdoa dalam hati kepada Betara Surya, Dewa Matahari, Dewa Surya kemudian mengirimkan Rakshasa yang tidak kelihatan untuk melindungi Draupadi.

Kichaka bangkit ketika melihat Draupadi memasuki ruangannya seperti seekor rusa yang ketakutan. “Malam ini aku sungguh beruntung,” kata Kichaka, “karena engkau telah datang. Aku memiliki gelang-gelang, anting-anting semua dari emas, juga permata-permata rubi serta kulit rusa untuk dirimu. Dan khusus untuk dirimu aku telah menyiapkan tempat tidur yang indah. Duduklah di sini bersamaku; mari kita minum bersama anggur madu bunga ini.”

“Hamba dikirim oleh Ibunda Ratu untuk mengambil anggur,” kata Draupadi. “Urusan di luar itu akan dikerjakan oleh orang lain.” Kichaka menangkap dan memegang tangan kanan Draupadi. “Hamba tidak pernah menghianati suami-suamiku,” kata Draupadi.

Kichaka memegang kain bagian atas Draupadi ketika Draupadi berupaya untuk melarikan diri. Bergetar karena rasa marah, Draupadi mendorong tubuh Kichaka. Kichaka terjatuh. Masih dalam kondisi terguncang, ia berlari menuju kediaman Yudhishthira. Namun Kichaka mengejar Draupadi, dan menangkap rambut Draupadi, dan melemparkan tubuh Draupadi sehingga jatuh ke tanah, serta menendang Draupadi dihadapan Yudhishthira.

Pada saat itu Rakshasa yang ditunjuk untuk melindungi Draupadi oleh Dewa Surya muncul dan melemparkan tubuh Kichaka; Kichaka terjatuh dengan keras dan tidak sadarkan diri. Bhima dan Yudhishthira keduanya menyaksikan kejadian ini. Bhima merapatkan giginya menahan kemarahan; kerutan penuh keringat muncul di dahinya; panas memancar dari kedua mata Bhima. Bhima bangkit, namun Yudhishthira kawatir akan terbuka penyamaran mereka, Yudhishthira menahan Bhima agar mundur kembali.

“Pergilah Bhima, pergi memasak,” kata Yudhishthira,“ dan tebanglah sebatang kayu untuk kayu bakar. Pergi!” Draupadi berpaling kepada Raja Virata. “Ia telah menghina harga diriku, wahai Baginda Raja, aku adalah seorang istri yang setia bersuamikan lima gandharwa, telah dihina di ruangan sidang istanamu sendiri! Apakah tidak ada dharma (kebenaran) di Istana ini? Kenapa tidak seorangpun memprotes tindakan kurangajar Kichaka?

“Aku bahkan tidak tahu apa penyebab terjadinya perkelahian ini,” kata Raja Virata. “Bagaimana mungkin aku bisa memutuskan siapa yang bersalah?” Keringat tampak membasahi dahi Yudhishthira. “Pergilah kamu ke istana Ibunda Ratu,” kata Yudhishthira kepada Draupadi. “Tampaknya para gandarwa suami-suamimu itu tidak menganggap penghinaan ini cukup besar bagi mereka untuk turun tangan. Pergilah! Ini bukan tempat untuk menunjukkan kepada istana betapa baiknya tindakanmu. Ada waktu bagi segala sesuatunya. Tidakkah engkau lihat bahwa engkau mengganggu permainan dadu?”

“Hamba dapat melihat itu,” jawab Draupadi yang sedang marah. “Suami hamba yang tertua juga tidak ingin permainan dadunya diganggu.” Lalu ia lari dengan rambut kusut ke kamar Sudesna. “Ada apa?” tanya Sri Ratu. “Siapa yang mengganggumu? Mengapa engkau menangis?”

“Kicaka menghina hamba.” “Orang gila! Kalau engkau menghendaki, aku bisa perintahkan orang agar ia dibunuh,” kata Sudesna. “Ia memang harus mati,” kata Draupadi. “Kalau hamba tidak salah ia akan mati hari ini.”

Ia pergi ke kamarnya, membersihkan dirinya sendiri, dan, selagi mencuci pakaiannya, ia merenung, “Apa yang harus kuperbuat? Apa yang harus kulakukan?” Lantas ia terpikir akan Bima. Dia tinggalkan ranjangnya malam itu dan pergi ke kamar Bima, tempat ia tidur telelap, mendengkur seperti seekor singa.

Seperti seekor burung jenjang mendekati pasangannya, bagaikan seekor lembu berumur tiga tahun mendatangi seekor banteng, ia mendatangi Bima. Ia memeluk Bima, bagaikan binatang menjalar membelit sebatang pohon sala, bagaikan gajah membelitkan belalai ke tubuh pasangannya, dan berkata lembut dan manis kepadanya, bagaikan gandarwa sedang menguji suara dawai wina.

“Kenapa engkau tidur, Bhima, seperti orang mati? Lihatlah kepadaku, lihatlah istrimu yang telah dipermalukan ini.” Bhima bangkit dan berkata, "Ceritakanlah segalanya kepadaku.”

“Apa yang harus kuberitahukan lagi kepadamu, engkau telah tahu semuanya? Kata Draupadi.” Setiap wanita yang mengawini Yudhishthira akan mengalami banyak penderitaan. Setiap hari Kicaka memintaku untuk menjadi istrinya. Lalu apa yang Yudhishthira lakukan? Ia bermain dadu.

“Dan lihatlah dirimu Bhima. Aku sungguh merasa malu padamu. Seorang tukang masak! Engkau memasak! Juru masak Wirata! Tukang masak yang dipanggil sebagai Vallaba begitulah sebutan mereka kepadamu. Ketika sang ratu dan juga dayang-dayang istana memaksamu untuk berkelahi dengan harimau dan sejumlah kerbau demi untuk kesenangan mereka, aku hampir mati ketakutan. Dan ketika mereka melihat diriku pingsan, mereka mengerubungi diriku, dan sang Ratu berkata,” Oh jadi dia mencintai sang juru masak. Ia menunjukkan perasaannya kepadanya. Mereka saling mencintai. Bukankah mereka datang ke istana ini bersama-sama.

“Lihatlah Arjuna! Menata rambutnya seperti seorang wanita dan mengajarkan tari-tarian kepada putri-putri istana. Seorang ksatria hebat tapi menggunakan anting-anting! Aku sungguh malu. Oh Bhima, aku bisa-bisa mati karena malu. Air matanya meleleh di pipinya, ia menoleh ke arah Bhima berulang kali, “Kejahatan besar apa yang pernah aku lakukan di masa lalu Bhima, sehingga karma wasanaku membawaku pada nasib buruk seperti ini sekarang.”

Bhima mengangkat tangan lembut Draupadi ke wajahnya dan menghela nafas.

Dari Mahabharata of Vyasa by P. Lai
Diterjemahkan oleh Gede Ngurah Ambara
Source: Media Hindu, Edisi 170, April 2018