Keyakinan dan Pengetahuan Reinkarnasi

Para intelektual muda Hindu yang tinggal di luar Bali terlebih lagi di belahan dunia barat memang patut kita akui keuletannya. Mereka tidak mudah percaya tentang sesuatu dengan begitu saja, bahwa mereka memang lebih tekun dan mempelajari tentang prinsip-prinsip. Reinkarnasi secara lebih mendalam, mereka terus mencari hal-hal yang mendukung keyakinannya, tentang kepercayaan atau keyakinan tentang adanya Reinkarnasi atau Punarbhawa, tentang penjelmaan-penjelmaan di masa yang lalu, sekarang dan yang akan datang.

Diantara sumber-sumber sastra atau kesusastraan yang tersedia, jelas bahwa Veda dalam bahasa Sansekerta adalah sumber dari segala ilmu pengetahuan suci, sastra yang paling tua di dunia, yang memberikan penjelasan paling panjang-lebar, lengkap dan logis mengenai pengetahuan Reinkarnasi. Pengetahuan tentang Reinkarnasi tetap hidup dan selalu menarik perhatian orang di seluruh dunia, sampai sekarang sudah lebih dari lima ribu tahun bila dihitung dari sejak disabda-kannya oleh Sri Krishna kepada Arjuna di Jothisar, India Utara. Keterangan paling mendasar tentang Reinkarnasi tercantum dalam Bhagawadgita, semua umat Hindu di seluruh dunia meyakini bahwa Bhagawadgita disabdakan oleh Sri Kreshna, kepribadian (Awathara) Tuhan Yang Maha Esa, kepada Arjuna, kawan, penyembah dan sekaligus juga adalah murid (bhakta) Sri Krishna di Pinggiran medan perang Kuruksetra Medan perang adalah tempat yang paling tepat untuk berdiskusi tentang Reinkarnasi, sebab dalam pertempuranlah orang dapat langsung menghadap berbagai pertanyaan yang menentukan nasib tentang kehidupan, kematian dan keadaan Sang Roh sesudah mati, demikian pula bila kita hendak berdiskusi tentang isi Bhagawadgita, hendaknya kita mengunjungi dulu Jothisar, tempat suci yang bersejarah sebagai tempat di mana Sri Krishna memberikan wejangan-wejangan suci, memberikan ajaran-ajaran kebenaran sejati kepada Arjuna.

Ketika Sri Krishna melihat kondisi Arjuna yang lesu, sedih dengan busur panah yang hampir terjatuh, Arjuna tidak mau berperang, lalu Sri Krishna bersabda tentang kekekalan Sang Roh, beliau memberitahukan kepada Arjuna, "Tidak pernah ada suafu waktu ketika Aku, engkau, maupun semua raja-raja ini berhenti ada, dan pada masa yang akan datang tidak satupun di antara kita yang akan lenyap" Selanjutnya dalam kitab Bhagawadgita tersurat "Tahulah bahwa itu (Atman) yang berada dimana-mana di seluruh badan (sarwa bhutesu stitah) tidak dapat dimusnahkan". Dalam tulisan ini kita membicarakan sesuatu yang begitu halus (sukma), sehingga adanya Sang Roh tidak segera dapat dibenarkan oleh pikiran dan indria-indria kita yang kemampuannya sangat terbatas. Karena itu tidak semua orang dapat percaya tentang adanya SangRoh. bn Krishna pertama kali memberitahukan tentang hal itu kepada Arjuna.

Kemudian sebagian orang, yang menguraikan, yang membaca tentang sabda-sabda beliau sebagai sesuatu yang mengherankan,  sedangkan sebagian orang lagi, walaupun mereka sudah mendengar atau  membaca tentang Sang Roh, tidak dapat mengerti sama sekali tentang Dia ada juga yang percaya begitu saja, tetapi sebagian lagi mengakui adanya Sang Roh bukan semata-mata hanya kepercayaan saja.

Supaya kita dapat menerima pengetahuan tentang Sang Roh dengan sejumlah keyakinan rasionil, bukan secara buta hanya dengan suatu dogma, maka Bhagawadgita menarik perhatian bagi indria-indria dan logika kita, sehingga dapat menerima dan meyakini kebenaran adanya Reinkarnasi atau kelahiran kembali. Bagaimana kita bisa percaya Reinkarnasi kalau kita belum mengetahui perbedaan antara diri (Badan) dengan sang diri sejati (Sang Roh). Bhagawadgita sangat membantu kita untuk dapat melihat bagaimana sifat Sang Roh dengan mengikuti sebuah analogi "Seperti matahari yang menerangi seluruh alam semesta, begitu pula Sang Roh atau Jiwa, yang ada pada semua mahkluk hidup, yang menerangi seluruh tubuhnya dengan kesadaran". Kesadaran adalah bukti nyata tentang adanya Sang Roh (Jiwa) di dalam tubuh. Kalau ada banyak awan di langit, barangkali matahari tidak akan kelihatan, tetapi kita semua meyakini, bahwa matahari itu masih tetap ada di langit karena adanya pancaran sinar terang.

Begitu pula, mungkin kita tidak dapat melihat Sang Roh secara langsung, tetapi kita dapat menarik kesimpulan bahwa Sang Roh betul-betul ada karena adanya kesadaran, kalau kesadaran tidak ada, maka badan hanya merupakan sebatang kecil unsur-unsur yang sudah mati. Hanya adanya kesadaran saja yang menyebabkan batang unsur-unsur alam yang mati ini dapat menarik nafas, berbicara mencintai, mencurahkan kasih dan merasa takut. Pada hakekatnya, badan adalah wadah kendaraan Sang Roh hanya melalui badanlah Sang Roh dapat memenuhi keinginan-keinginan duniawi. Dalam Bhagawadgita dijelaskan pula, bahwa mahkluk hidup di dalam badan seolah-olah duduk di atas mesin yang terbuat dari tenaga material. Secara  palsu  (samar)  Sang Roh mempersamakan dirinya dengan badan dan membawa aneka paham hidupnya dari satu badan ke badan lain bagaikan udara yang membawa bau-bauan. Seperti halnya sebuah mobil (kendaraan) tidak dapat bergerak tanpa adanya sang pengemudi.

Bilamana seseorang menjadi semakin tua, perbedaan antara diri yang sadar dan badan jasmani menjadi semakin jelas. Selama kehidupan seseorang dapat melihat, bahwa badannya senantiasa berubah dan terus berubah. Badan itu nyata adanya namun tidak tahan lama dan waktu juga membuktikan, bahwa masa kanak-kanak adalah masa lahiriah yang bersifat sementara. Badan terwujud pada saat tertentu, ia tumbuh menjadi matang menghasilkan atau melahirkan suatu keturunan (anak-anak) dan berangsur-angsur merosot pula dan mengalami kematian. Karena itu, badan jasmani tidak sejati (tidak kekal), sebab sesudah beberapa waktu badan jasmani itu akan lenyap atau musnah, sebagaimana dijelaskan dalam Bhagawadgita.  Walaupun badan jasmani mengalami banyak perubahan namun kesadaran, tanda adanya Sang Roh di dalam badan tetap tidak akan berubah, dengan perkataan lain bahwa "hal-hal yang sejati tidak akan pernah lenyap". Sangat logis kiranya kita dapat menarik suatu kesimpulan, bahwa kesadaran mempunyai sifat kekekalan inti yang memungkinkan kesadaran hidup sesudah terleburnya dadan. Krishna memberitahukan kepada Arjuna "tidak ada kelahiran maupun kemauan bagi Sang Roh, ia tidak mati, walaupun badan jasmani ini terbunuh". Timbul pertanyaan "kalau tidak mati ketika badan ini terbunuh, maka apa yang terjadi terhadap Sang Roh?". Jawaban yang tertulis dalam Bhagawadgita adalah bahwa Sang Roh masuk ke dalam badan yang lain, inilah Reinkarnasi.

"Wahai Arjuna baik engkau maupun Aku memiliki banyak kelahiran sebelumnya, hanya Aku yang tahu sedangkan engkau tidak. Kelahiran pasti diikuti oleh kematian dan kematian sudah pasti diikuti oleh kelahiran kembali. Seperti seseorang telah melepaskan baju yang telah usang dan mengenakan baju yang baru, demikianlah penghuni badan, membuang badan yang usang dan memasuki badan yang baru" sabda Sri Krishna.

Beberapa orang mungkin sulit memahami kepercayaan ini, tetapi hal ini adalah merupakan fenomena yang wajar. Kitab Bhagawadgita menguraikan contoh-contoh yang logis untuk membantu pengertian kita yaitu : "Seperti halnya Sang Roh di dalam badan terus berjalan dari masa kanak-kanak sampai masa remaja lalu mencapai umur tua, begitu pula sang roh masuk ke dalam badan yang lain pada saat meninggal. Orang yang telah insaf akan dirinya tentu tidak menjadi bingung karena perubahan seperti itu".

Dengan perkataan lain, pada masa kehidupan kita ini pun, manusia sebenarnya sudah mengalami Reinkarnasi. Para ahli biologi memberitahukan kepada kita, bahwa sel-sel yang ada di dalam tubuh senantiasa mati dan digantikancdengan sel-sel yang baru. Kita umat manusia semua mempunyai jumlah badan-badan "lain" di dalam hidup mi juga. Badan orang yang sudah dewasa sama sekali berbeda dengan badan yang dimiliki oleh dirinya pada masa kanak-kanak, namun kepribadian di dalam badan itu tetap sama walaupun badan mengalami perubahan. Orang cenderung selalu memelihara badan seperti memelihara kesehatan badan, kecantikan wajah, kemulusan kulit, sehingga Sang Roh betah berada di dalam badan, bila saja badan rusak misalnya sakit, terluka parah, terkaget maka Sang Roh akan meninggalkan badan. Demikianlah Sang Roh terperangkap atau melekat di dalam peredaran kelahiran dan kematian yang dari masa ke masa tidak akan berakhir sampai mencapai moksa (bersatu dengan Brahman).

Pikiran adalah alat yang memberi kuasa untuk perpindahan-perpindahan tersebut dengan melesatnya Sang Roh ke dalam badan-badan yang baru. Dalam Bhagawadgita di jelaskan, "Keadaan hidup manapun yang diingat pada saat ia meninggalkan badannya, pasti keadaan itulah yang akan dicapainya (dalam penjelmaannya yang akan datang)." Segala-sesuatu yang telah kita pikirkan dan lakukan selama hidup kita membuat kesan di dalam pikiran dan jumlah kesan-kesan tersebut mempengaruhi pikiran kita yang terakhir pada saat sang maut menjemput. Menurut sifat pikiran, alam material akan menghadiahkan badan yang cocok untuk itu, berarti pula bahwa badan yang kita miliki sekarang ini adalah perwujudan dari kesadaran kita pada saat mengalami kematian yang dulu sebelum kita lahir kesekian kalinya ini.

Ada beberapa pandangan tentang jalan reinkarnasi diantaranya ada keyakinan bahwa jalannya Reinkarnasi tidak selalu ke atas atau makin baik, tidak mesti bahwa manusia akan lahir kembali sebagai manusia pada penjelmaan yang akan datang, berarti derajatnya bisa turun atau makin memburuk ke mahluk yang lebih rendah dari manusia. Keyakinan yang lain adalah  bahwa kehidupan yang sekarang ini adalah sudah merupakan perbaikan dari kehidupannya terdahulu, itu berarti bahwa kelahiran di masa sekarang ini adalah sudah pasti lebih tinggi atau bih baik dari pada kelahirannya terdahulu, jika seseorang masih berbuat suatu kejahatan pada kehidupan sekarang ini, maka pada kehidupan sebelumnya ia adalah manusia yang lebih jahat dari kehidupan yang sekarang ini.

Kehidupan kita di dunia material disebabkan oleh reaksi-reaksi karma yang berlipat ganda dari penjelmaan kini dan juga penjelmaan-penjelmaan yang lama, manusia sebagai mahluk yang paling sempurna, merupakan satu-satunya jalan keluar, melalui badan manusialah Sang Roh yang terikat dapat menjadi bebas (moksa). Hanya manusia sajalah yang dapat memecahkan segala masalah hidup (kelahiran, usia tua, penyakit dan kematian) serta memutus peredaran Reinkarnasi yang tiada habisnya. Dalam Sarasamuccaya Bhagawan Waysampayana memberikan petuah kepada Raja Jayamejaya "pergunakanlah dengan sebaik-baiknya kesempatan menjelma menjadi menusia, kesempatan yang sungguh sulit diperoleh, yang merupakan tangga untuk pergi ke Sorga, segala sesuatu yang menyebabkan agar tidak jatuh lagi, itulah hendaknya dilakukan", begitu ditulis Bhagawan Wararuci dalam kitab, yang merupakan sari-sari sastra suci dari kitab Asta Dasa Parwa karya Bhagawan Wiyasa.

Bila Sang Roh yang sudah selalu sibuk dengan kegiatan untuk memenuhi kenikmatan indria-indria, maka dengan mudah ia menciptakan karma-karma yang cukup di dalam hidup ini untuk dilahirkan kembali, sehingga ia kembali terikat dalam peredaran kelahiran dan kematian selama beribu-ribu penjelmaan dan mungkin tidak semua penjelmaan itu adalah penjelmaan sebagai manusia.

Sri Krishna bersabda "Orang bodoh (awidya) tidak akan mengerti bagaimana mahluk hidup meninggalkan badannya dan juga tidak dapat mengerti jenis badan mana yang akan dinikmatinya di bawah pesona sifat-sifat alam. Tetapi orang yang telah terlatih dalam pengetahuan (waskita) akan dapat melihat segala hal ini. Seorang Yogi yang sedang berusaha dan telah mantap dalam keinsafan diri dapat melihat segala hal dengan jelas, bagi mereka yang belum mantap dengan keinsafan diri tidak akan dapat melihat apa yang sedang terjadi, walaupun barangkali mereka berusaha untuk itu".

Kesimpulan, kita sudah sangat beruntung dapat memperoleh badan manusia, sebaiknya terus berusaha dengan serius untuk keinsafan diri, mempercayai adanya Reinkarnasi dan berusaha mengerti prinsip-prinsip Reinkarnasi untuk Toisa menjadi bebas (moksa) dari kelahiran dan kematian yang telah dialami berulang kali. Ikuti sabda Sri Krishna dalam Bhagawadgita : "Maccittah madgataprana, bodhayantah parampara, kathayantas' ca mam nityam, tusyanti ca ramanti ca". Memikirkan tentang Aku (Tuhan), seluruh kegiatan tercurah kepada-Ku, mengajar-belajar kebijaksanaan satu dengan yang lain tentang Aku, berbicara tentang Aku terus menerus, mereka merasa puas dan bahagia.

Source: R. Ariawan l Warta Hindu Dharma NO. 460 Mei 2005