Keutamaan Tingkah Laku

vedo'khilo dharmamulam
smrti sile ca tadvidam
acaras caiva sadhunam
atmanas tustir eva ca
(Manava Dharma Sastra 2.6)

Keseluruhan Catur Veda merupakan sumber utama dari hukum suci Dharma, selanjutnya barulah kitab-kitab Smrti, sila, acara, dan akhirnya adalah kepuasan sang iiri sejati.

Kitab suci Manava Dharma Sastra dipandang sebagai kitab terpenting dalam kumpulan kitab Dharma Sastra, atau Smrti Sastra yang memuat perihal aturan-peraturan untuk hidup di dunia ini dengan baik dan di jalan yang indah serta tidak melawan kesucian. Selain akhila-veda, keseluruhan kitab Sruti, yaitu Catur Veda, yang dalam 10 Mandala dari Rg Veda saja berisikan 10.589 mantra, Yajur Veda berisikan 1975 mantra, Sama Veda berisikan 1875 mantra, dan Atharva Veda berisikan 5.977 mantra. Ditambah lagi dengan kitab-kitab Smrti dan lain-lain, sesungguhnya Sanatana Dharma sangat kaya "mutiara dan berlian" yang mampu membuat hidup orang menjadi cerah cemerlang, baik secara duniawi maupun spiritual. Akan tetapi, penekanan tulisan ini tidak pada kemegahan sumber melainkan pada hal yang sangat penting, yaitu Acara.

Acara berarti tingkah laku yang baik dan benar, agung, mulia, tidak menyakiti hati orang, suci, memberikan kebahagiaan pada pelakunya. Tingkah laku orang-orang suci dinamakan sadacara, berasal dari kata sat (kebenaran) dan acara (tingkah laku). Apapun tingkah laku yang dilakukan oleh orang-orang suci dan bijaksana, tingkah laku itu menjadi acara. Sebab, orang suci bijaksana tidak mungkin akan bertingkah laku yang bertentangan dengan ajaran-ajaran kitab suci: 'Acara-laksano dharmau, Santac caritra-laksanau, Sad-hunai ca yathavattam, Etad acara-laksanam" Dharma dan acara tidak dapat dipisah-pisahkan. Ia berjalan bergandengan bagaikan anak kembar, sehingga biasanya orang mengalami kesulitan untuk membedakannya.

Terdapat satu istilah lagi yang mengandung pengertian sama dengan acara, yaitu kata sila. Sama-sama berarti tingkah-laku yang baik, terpuji, sopan, santun, mulia. Akan tetapi, kitab Sarasamuccaya memberikan sedikit perbedaan antara keduanya: "kuneng phala sang hyang ajin kinawruhan, haywaning sila mwang acara, sila ngaraning swabhawa, acara ngaraning prawrtti kawarah ring aji" guna sastra suci itu untuk diketahui dan diamalkan dalam sila dan acara, sila adalah pekerti pembawaan diri, acara artinya tingkah laku sesuai dengan ajaran agama.

Dalam hidup ini kita sering tertangkap oleh kebanggaan palsu, tanpa kita sadari. Kita mencoba berbuat sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang kita harapkan dan khayalkan akan dapat memuaskan diri kita, akan mampu memberikan kesenangan dan kenikmatan dunia yang langgeng.

Sering pula perbuatan tersebut bukan merupakan cetusan hati nurani, sebaliknya ia hanya merupakan sebuah kepura-puraan. Hanya sebuah alat untuk mencapai suatu keinginan pribadi dan/atau kelompok. Jika dicari sumber pokoknya, sesungguhnya setiap orang di dunia ini menginginkan "nama", pujian, kehormatan, kesenangan, dan lain-lain lewat harta. Oleh karena harta sepintas kelihatan dapat memberikan segala tujuan tersebut, seperti kehormatan, pujian dan lain-lain, maka orang beranggapan: tanpa uang orang tidak akan dilihat orang.

Anggapan tersebut mungkin ada benarnya, khususnya ia akan benar di lingkungan orang-orang dalam tingkat pemikiran/kesadaran seperti itu. Akan tetapi, tidak akan berlaku di dalam lingkungan orang yang memiliki pemikiran atau kesadaran di luar itu.

Kitab suci Veda, sangat menekankan bahwa Acara adalah asal mula dari kehormatan dan pujian. Orang otomatis akan dipuji atau dihormati jika orang menekankan acara dalam hidupnya sehari-hari, jika ia berusaha menjauhi hidup dalam kepura-puraan.

Ada perbedaan yang sangat jelas antara dihormati karena harta dan dihormati karena tingkah laku yang baik. Respek atau hormat yang didapatkan karena tingkah laku yang terpuji adalah hormat yang sejati, yang keluar dari hati nurani terdalam, hormat yang tidak bikinan. Oleh karena itu, hormat tersebut memberikan berkah dan perlindungan kepada yang bersangkutan. Sedangkan dihormati karena rupa dan harta bersifat sangat sementara, terbatas, dan menyenangkan perasaan yang pasti disusul oleh keakuan palsu.

Lebih lanjut, orang-orang yang sudah terbiasa menerima pujian dan hormat karena rupa, kedudukan dan harta, biasanya mereka sulit menerima pujian dan hormat yang tulus dari orang yang beracara baik. Dia akan merasa mendapatkan perhormatan sejati oleh "puji-pujian" dan "hormat-hormatan". Sebaliknya, sering pula terjadi bahwa ia akan merasa dirinya terhina jika orang memuji atau menghormatinya secara tulus. Demikianlah, viveka atau kecerdasan orang menjadi hilang oleh hormat dan pujian palsu. Patut orang berhati-hati dalam hal ini, baik menerima maupun memberikan pujian dan hormat palsu.

Oleh karena acara dapat memberikan nama baik kepada para pelakunya maka orang hendaknya menempatkan acara paling depan, sebagaimana disebutkan: Agamanam hi sarvenam, Acarah srestha ucyate, Acara-prabhavo dharmo, Dharmad ayur vivardhate (Ajaran agama, dalam segala hal, menempatkan acara sebagai sesuatu yang paling baik, srestha. Acara-lah merupakan sebab munculnya dharma, dan dharma menyebabkan orang berumur panjang).

Apa pun yang kita lakukan di dunia ini semua sangat ditentukan oleh tingkah laku yang kita lakukan. Orang-orang secara wajar lebih melihat tingkah laku dari pada ilmu, harta, kedudukan, dan lain-lain yang dimiliki orang. Oleh karena itulah ditekankan bahwa tidak ada kewajiban lebih tinggi lagi daripada bertingkah laku yang mulia. Ia adalah dasar utama dari bangunan apa pun yang seseorang mau dirikan. Khususnya, jika orang hendak membangun bangunan rohani, dasar ini perlu sekali dimiliki. Pemilikan dasar acara ini sangat ditentukan oleh benih dan pergaulan. Benih yang dibawa sejak kelahiran yang merupakan pahala dari kegiatan saleh yang dilakukan dalam penjelmaan-penjelmaan terdahulu. Lain dari pada itu, pergaulan juga sangat menentukan pembentukan acara. Berhati-hati dalam mengatur pergaulan adalah jalan yang sangat bijaksana.

Sehubungan dengan hal ini, pertama-tama yang ditanyakan oleh Maharesi Valmiki kepada Maharesi Narada pada waktu hendak memulai menyusun kitab Ramayana adalah mengenai "TOKOH" yang bertingkah laku sangat mulia dan suci yang dapat dipakai sebagai contoh dalam menulis Ramayana. "Caritrena ca ko yuktah sarva bhutesu ko hitah?"

Maharesi Narada segera menyebut nama Sri Ramacandra yang terkenal memiliki segala jenis sifat-sifat agung, yang langsung disebutkan oleh beliau satu per satu dari sifat-sifat maha agung yang dimiliki oleh Sri Rama.

Demikian, orang yang bertingkah laku agung dan mulia dikasihi oleh dunia bahkan dipuji-puji oleh para Dewa, dan selalu dihormati oleh dunia. Mereka yang bertingkah laku baik dan mulia hendaknya diketahui sebagai orang yang berhati bersih dan suci. Tidak ada tipu menipu di dalam hati orang seperti itu. Orang-orang yang berhati sucilah yang dapat menjadi pahlawan sejati bagi diri, keluarga, dan tentu saja bagi bangsanya.

Oleh: Darmayasa
Source: Koran Bali Post, Minggi Umanis 5 Juni 2016