Kesucian Gunung

I

Bumi ini diciptakan sebagai suatu karya seni oleh Tuhan Yang Maha Esa. Manusia menikmati segala keindahan duniawi ini menurut olah rasa yang dimiliki olehnya masing-masing. Seni itu memang relative dan tidak semua orang dapat menikmati keindahan dunia ini dengan baik. Ada kalanya seseorang menganggap dunia ini tak lebih dari sekedar "Neraka" yang menyiksa hidupnya.

Gunung yang terlihat menjulang tinggi besar terbentuk dari berbagai bebatuan dari yang besar sampai yang kecil berbentuk butiran pasir yang halus menyatu membentuk kekuatan yang kokoh tak tertandingi.

Kitab Ramayana (Ramayana Tulsidas) diceritrakan dalam membuat jembatan Situ Bandha, Hanuman mengerahkan segala prajuritnya, dengan segala kemampuannya semua bekerja bahu-membahu untuk mewujudkan rasa baktinya masing-masing. Sang Hanoman mencabut Gunung yang tinggi dan besar kemudian dipindahkan untuk menimbun lautan. Pasukan kera mengangkut bebatuan yang besar kemudian ditumpuk sebagai pondasi jembatan situ banda. Hanoman adalah sosok perkasa meskipun berperawakan kecil, namun mampu dengan mudah mencabut gunung yang tinggi-besar. Lain halnya dengan tikus dengan sosok yang kecil dan lemah yang ikut bergabung dengan pasukan kera.

Ada yang patut ditiru dari pasukan Tikus yang ikut bergabung membantu pekerjaan dengan caranya sendiri. Tikus ikut terjun ke laut dan berguling-guling dipasir sehingga badannya dipenuhi pasir, kemudian berlari ke tempat timbunan batu untuk mengibaskan badannya sehingga pasir menjadi penguat timbunan batu yang ditumpuk oleh pasukan kera. Demikian berulang-ulang yang dilakukan oleh para tikus yang kecil yang sanggup untuk ikut andil dalam sebuah pekerjaan yang besar. Sedikit demi sedikit pasir dikumpulkan setelah lama menjadi bukit (gunung).

Rupanya pasukan tikus menyadari keadaan diri yang sangat kecil dan lemah dibandingkan dengan Hanuman dengan pasukan keranya, tetapi dengan rasa bakti yang amat mendalam mereka telah berbuat maksimal sesuai dengan kemampuannya.

Jika tikus kecil saja dapat ikut menyelesaikan pekerjaan besar, sebagai umat Hindu marilah berbuat sesuatu meskipun kecil, namun bermakna bagi orang banyak, terpenting adalah perbuatan (aktion) sebagai bentuk pengamalan bakti marga. Sekecil apapun perbuatan, asal berguna bagi orang lain menjadikan hidup ini berguna. Hidup menjadi berguna apabila tidak ada yang mempergunakan.

Mewujudkan sesuatu yang dipikirkan memang sangat sulit dirasakan, bagaimana memulainya?, dari mana memulainya?, dan kapan memulainya? Penulis sering memikirkan sebiji buah beringin yang kecil, kemudian tumbuh menjadi pohon beringin yang besar dan kokoh. Keadaan yang demikian tidak terjadi sekaligus. Proses menjadi besar memerlukan waktu, semuanya mulai dari yang kecil, kemudian menjadi besar. Tegasnya jika tidak ada yang kecil mana ada yang besar. Semua berawal dari yang kecil kemudian menjadi besar. Ada idiom mengungkapkan "Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit". Maksudnya adalah memulainya dari yang kecil, jika tekun akan menjadi besar dan memiliki keperkasaan jika dilandasi dengan Satyam, Siwam, Sundaram, Satyam adalah kejujuran, Siwam maksudnya adalah berketuhanan, dan Sundaram adalah keindahan.

Keperkasaan lain yang disandingkan dengan gunung adalah Sang Bima dari Pandawa lima (Panca pandawa). Lahir berturut-turut : Yudhistira yang bijaksana sebagai simbol Pandita, Bima yang memiliki tubuh tinggi besar dan kuat disandingkan dengan gunung (giri), Arjuna sebagai sosok yang selalu menang (jaya), Nakula sebagai sosok yang berperawakan ganteng/bagus (nanga), dan Sahadewa adalah sosok pandai akan segala ilmu (aji).

II

Kehidupan umat Hindu sehari-hari sangat memperhatikan tata ruang, yang di Bali dikenal dengan istilah luan-teben. Maksudnya adalah sepadan dengan hulu dan hilir, muka dan belakang, tinggi dan rendah, kepala dan kaki dan semua itu dapat dirangkum dengan istilah; kanista dan uttama, atau jika ditambahkan ditengah-tengah lagi menjadi; Kanista, Madhya, Uttama. Menempatkan sesuatu hendaklah sesuai dengan kesuciannya. Sesuatu yang dianggapnya paling suci sudah sepatutnya pada tempat yang Uttama, kemudian yang dianggap kurang suci ditempatkan pada ruang Madhya dan yang dianggap tidak suci ditempatkan pada tempat Kanista.

Secara umum arah' yang dianggap tempat suci adalah arah Kaja dan Kangin. Kaja tidak sama dengan arah utara bumi, melainkan Kaja berarti arah ke gunung (utara bagi Bali selatan dan selatan bagi kabupaten Buleleng), (kamus Bali Indonesia, 1991 : 299).

Puncak-puncak gunung dianggap tempat suci bersthananya para dewa. Kitab Brahmanda Purana menyebutkan dewa Indra tinggal di puncak gunung Silanta, sedangkan Brahma bertempat di puncak gunung Mahameru dan gunung Hemasrnga, para Rudra tinggal di puncak Gajasaila, Para Aditya tinggal di puncak gunung Sumegha, gunung Kailasa juga disebut-sebut sebagai gunung yang sangat suci, berbentuk kerucut putih sebagai tempat dewa Kuwera.

Bali yang dikenal dengan julukan pulau beribu pura memandang semua puncak gunung dan bukit diyakini sebagai sthana para dewa, di samping sumber-sumber air sebagai tempat petirthan yang juga disucikan. Danau misalnya adalah merupakan sumber air yang berada di gunung. Sebagai rasa bakti kehadapan Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa Wisnu dan Dewi Sri dibuatlah pura Ulun Danu. Semua danau di Bali memiliki pura Ulun Danu, yakni; pura Ulun Danu Batur di danau Batur Kabupaten Bangli, pura Ulun Danu Beratan di Danau Beratan Kabupaten Tabanan, pura Ulun Danu Buyan di Danau Buyan, Kabupaten Buleleng dan pura Ulun Danu Tamblingan di Danau Tamblingan, Kabupaten Buleleng.

Melakukan Tirthayatra ke pura yang berada dipuncak-puncak gunung akan mendapat vibrasi kesucian yang luar biasa. Udara sejuk dan suasana hening, suci, mengembalikan kesegaran dan kesucian pikiran setelah melakukan aktivitas rutin sehari-hari. Atas kehendak Sang Hyang Widhi Pulau Bali diciptakan oleh-Nya lengkap dengan gunung yang menempati delapan arah mata angin. Gunung Agung (gunung Tolangkir), menempati posisi di tengah-tengahnya.

Sungguh pulau Bali "dipagari" oleh Gunung/bukit suci sebagai sthana Dewata Nawa Sanga yaitu sembilan dewa-dewa yang menguasai sembilan arah mata angin dan menjaga keseimbangan dan kesucian pulau Bali.

Gunung, danau dan hutannya mendapat perhatian sangat besar oleh umat Hindu. Kesucian hutan dijaga dengan melaksanakan upacara Wanakertih, suaiu pelaksanaan upacara yadnya tergolong bhuta yadnya. Pada tatanan yang lebih tinggi dikenal upacara Tumpek Wariga atau Tumpek Bubuh, semua itu sebagai bentuk menjaga keseimbangan ekologi hutan/gunung. Kesucian danau dijaga dengan melaksanakan upacara yadnya Danu kertih.

Hindu memandang dengan bijaksana bahwa kemanunggalan alam semesta dengan makhluk hidup adalah suatu kesatuan ekosistem dan ekologi yang maha agung dan paripurna, oleh karenanya gunung dengan hutannya merupakan tempat yang harus dijaga kesuciannya sebab gunung merupakan Uttama mandala dari tri mandala. Andaikan dibandingkan dengan Tri Angga pada bhuwana alit, yaitu; kepala, badan dan kaki, maka gunung adalah kepala sebagai uttama mandala dan yang paling suci diantara tri angga/tri mandala.

Source : I Wayan Ritiaksa, M.Ag l Warta Hindu Dharma NO. 505 Januari 2009