Kesehatan Mental Dari Perspektif Sosial Budaya

(Sebelumnya)

Dari sudut pandang metafisika maupun epistimologi keagamaan, terjadinya krisis mental (spiritual) bisa disimpulkan sebagai akibat dari kehendak manusia untuk memutuskan begitu saja hubungan dengan Tuhan, bahwa hidup tanpa hubungan diri dengan "Sumber Diri" jelas berakibat negatif pada keharmonisan hidup manusia, baik secara psikologis maupun spiritual. Karena yang menjadikan hidup bahagia, harmoni, dan selalu berkecenderungan berbuat baik dan benar adalah dengan menjalin keharmonisan diri dengan "Sumber Diri" yang sebenarnya menjadi "Sumber Dasar Kehidupan". "Penyakit Mental bisa terjadi karena kehidupan manusia begitu jauh dari realitas surgawi, atau karena manusia - dalam rumusan sophia perennis- "hidup di pinggir lingkaran eksistensi".

Dalam sumber lain dinyatakan bahwa Jiwa dan Iswara berada di dalam semua makhluk yang menyebabkan semua makhluk hidup. Tetapi karena berada dalam tubuh, ia menjadi aividya dan menjadi pusat keakuan, ia menimbulkan perasaan hati, dan ia hidup memerlukan pertumbuhan. Dalam pertumbuhan ia mencari kebahagiaan. Dalam kehidupan sehari-hari bila kegiatan dilakukan dengan tergesa-gesa atau keburu nafsu, kadang-kadang mengakibatkan kehancuran.

Demikian juga jika marah atau putus asa akan mengakibatkan ketidakselarasan. Sabar dan tahan uji adalah perasaan hati yang normal pada manusia. Bila kecerdasan itu benar caranya mengemudikan perasaan, maka hal itu disebutkan kebajikan. Orang yang melakukan kebajikan adalah orang yang budiman, pengasih, dan pencinta sesama makhluk. Perasaan hatinya berkembang, dikuasai rasa cinta yang mendalam, dan akhirnya ia mencapai jiwanmukti, yaitu ketenangan dan kebebasan rohani yang tertinggi semasih di dunia.

Manusia lahir membawa karma wasananya sendiri. Karma wasana itu meliputi sisa - sisa perbuatan yang baik (subha karma) dan sisa-sisa perbuatan yang tidak baik (asubha karma). Perimbangan perbuatan baik dan tidak baik oleh umat Hindu diyakini memberi garis nasib pada hidup setiap orang.

Dalam sastra Hindu, yaitu ajaran Rsi Patanjali, citta atau alam pikiran dibangun atas tiga komponen: manah, buddhi, dan ahamkara. Manah adalah bagian dari alam pikiran yang mempunyai kemampuan merekam kesan-kesan dunia luar yang diterimanya melalui indria. Kesan-kesan itu dibeda-bedakan, dianalisa oleh buddhi. Atas kecakapan buddhi, orang dapat mengadakan reaksi terhadap kesan-kesan itu. Ahamkara adalah rasa aku, rasa ego yang mengklaim semua kesan-kesan itu sebagai miliknya.

Disamping itu karakter manusia juga dianugrahi oleh tiga sifat dasar yang dimiliki manusia, yaitu satwam, rajas, dan tamas, yang disebut dengan Tri Guna. Triguna itu berada dalam pikiran yang terdiri dari dua medan, yaitu medan atas sadar dan medan bawah sadar. Apabila pikiran atas sadar menerima informasi atau rangsang dari kerja indra, informasi tersebut akan diteruskan ke pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar ini mempunvai kemampuan untuk menimbang-nimbang (wiweka).

Segala masukan dari atas sadar akan dicocokkan dengan 'arsip' dibawah sadar yang ada hubungannya dengan kejadian yang sama. Jika tanggapan dari pikiran bawah sadar ini negatif kepada pikiran atas sadar, dan selanjutnya pikiran atas sadar tanpa dapat dikontrol mengadakan reaksi emosional berupa marah, benci, takut, iri, kikir, dengki, sedih, dan sejenisnya. Sebaliknya jika reaksinya positif, maka pikiran atas sadar akan bereaksi berwujud kenikmatan, kebahagiaan, kesenangan, dan kegembiraan. Jadi tindakan emosi itu tidak lain dari kekuatan dari dalam yang muncul dari bawah sadar yang sangat berpengaruh dan menentukan.

Oleh karena itu ajaran agama mengamanatkan emosi dimana pikiran atas sadar jangan diberikan mengadakan reaksi spontan. Negatif atau positif laporan dari atas sadar itu adalah suatu fakta dari karma yang lampau yang dihubungkan dengan masukan yang baru, sehingga memberikan hasil apa adanya. Bila dalam kehidupan yang sekarang ada kejadian yang mirip atau sama dengan pengalaman kegagalan yang pernah dialami terdahulu, maka otak bawah sadar akan spontan mengeluarkan reaksi emosi negatif. Bila hal ini berlangsung berulang-ulang akan menimbulkan bibit ketidaksehatan mental. Dengan demikian bibit mental tak sehat sesungguhnya sudah ada lebih dahulu di gudang simpanan bawah sadar. Itulah sebabnya reaksi tiap orang berbeda terhadap satu kejadian yang sama akibat pengaruh pengalaman lama yang muncul dari dalam. Sifat-sifat relatif itu dapat diketahui melalui tanggapan yang diekspresikan setiap orang terhadap sebuah kajian atau terhadap sebuah stimulus yang sama.

Perobahan peradaban ikut melahirkan mental tak sehat jika manusia tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan tersebut. Lingkungan buatan yang apik dan menarik dapat merangsang kesenangan dan emosi serta pikiran. Teknologi yang diciptakan justru menjadikan manusia tak berdaya menghadapi akibat - akibat samping yang ditimbulkannya. Kecenderungan manusia untuk memiliki benda benda mewah sebagai lambang prestise jaman modern sudah melembaga. Bagi mereka yang tidak mampu memenuhi keinginan tersebut, maka manusia di dalam dirinya muncul ketegangan keteganganjiwa. Paham hedonisme juga memunculkan ketidaksehatan mental. Dalam Manu Smrti 1X170, dinyatakan "Seseorang yang tidak menjalankan dharma atau orang yang mendapatkan kekayaan dengan jalan curang dan orang yang suka menyakiti makhluk lain, tidak akan pernah berbahagia di dunia ini".

Kecenderungan akibat akselerasi evolusi ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan pula pergeseran atau perubahan pada orientasi kerja. Bekerja tidak lagi dipandang sebagai pengabdian untuk kerja itu sendiri, melainkan bekerja untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Dengan demikianterjadilah 'penyerbuan' oleh calon-calon tenaga kerja (ke tempat-tempat kerja yang bernilai 'basah', yang tidak mustahil pekerjaan yang ditekuninya tidak sesuai dengan bakat kelahirannya. Jadi secara naluriah, pilihan kerja itu dipaksakan dan tidak disenangi. Salah satu resiko yang ditimbulkan adalah terjadinya ketegangan-ketegangan jiwa.

Pebedaan nilai kehidupan antara anak muda dengan orang de wasa (orang tua), berbagai keinginan dan kebutuhan yang tidak terpenuhi juga dapat menimbulkan ganguan-gangguan kejiwaan. Norma-norma modern sering berkonflik dengan norma-norma tradisional dan konvensional. Tidak ada lagi konsensus atau persetujuan di antara anggota-anggota masyarakat mengenai tata kehidupan dan norma keadilan.

Tidak mengherankan bahwa kehidupan sosial yang semakin kompleks menimbulkan masalah-masalah sosial yang menjadi penyebab utama bagi macam-macam gangguan dan penyakit mental. Segenap tindakan orang-orang yang tidak dapat mengadakan penyesuaian diri, tidak konform dengan kebiasaan-kebiasaan dan norma-norma sosial yang ada. Mereka selalu mengalami banyak ketegangan batin dan gangguan emosional yang disebabkan oleh adanya sanksi batin hati nurani sendiri, atau ditekan oleh sanksi-sanksi sosial dengan segala tuntutan-tuntutan yang semakin bertambah. (Bersambung)

Oleh: Ni Putu Suwardani
Source: Warta Hindu Dharma NO. 539 Nopember 2011