'Kesamaan dalam Perbedaan' dan 'Perbedaan dalam Kesamaan'

Kendala utama di dalam Membandingkan

Kita tahu kalau membandingkan dan menilai merupakan dua kegiatan yang berbeda. Untuk bisa menilai lebih dari satu hal, kita diharuskan untuk melakukan pembandingan terlebih dahulu. Walaupun demikian, kita bisa hanya membandingkan saja, tanpa harus diikuti dengan menilai. Kita pun tahu kalau kita hanya bisa membandingkan .sesuatu yang sejenis, karena di dalamnya mungkin ditemukan kesamaan dan perbedaan. Kita tidak bisa membandingkan antara buah mangga dengan sepatu.

Di dalam membandingkan, baik subjektivitas maupun objektivitas belum menemukan relevansinya. Walaupun bersifat relatif, hasil pembandingan belum mengandung sifat subjektif ataupun objektif. Hanya ketika berlangsungnya proses penilaianlah baru masuk dualitas itu. Dalam praktek, walaupun tidak disebutkan secara eksplisit demikian, membandingkan umumnya dilakukan dengan maksud untuk menilai; atau, kendati tadinya tidak dimaksudkan demikian, kegiatan membandingkan acapkali cenderung terpeleset ke dalam bentuk-bentuk penilaian. Inilah persoalan kita di dalam membandingkan. Apa sesungguhnya kita sodorkan sebagai hasil dari membandingkan adalah fakta-fakta, yang berupa sekumpulan data dan informasi. Data dan informasi tidak mengandung subjektivitas, kadang objektivitasnya tinggi.

Kecuali kendala tadi, kendala utama lain dalam satu 'semangat pembandingan' tertentu saja. Kalau tidak terjebak dalam semangat 'untuk menemukan kesamaan', kita terjebak dalam semangat 'untuk menemukan perbedaan'. Bersemangat untuk menemukan kesamaannya, menyebabkan kita mengabaikan begitu saja perbedaannya dimana perbedaan itu boleh jadi bersifat amat hakiki. Demikian pula sebaliknya; kita boleh jadi sangat bersemangat menemukan perbedaannya dengan mengabaikan begitu saja kesamaan-kesamaan yang bersifat hakiki. Kecenderungan-kecenderungan inilah yang perlu diwaspadai di dalam setiap aktivitas membandingkan.

Oleh karenanya, suatu pembandingan yang arif yang hasilnya bisa memberi pandangan dan penyikapan yang arif membutuhkan 'kemampuan khusus'; kemampuan yang memungkinkan kita melihat dan menemukan 'kesamaan di dalam perbedaan' sekaligus juga 'perbedaan di dalam kesamaan'. Tanpanya, pembandingan serinci apapun yang kita lakukan, tak akan benar-benar mencerminkan dan memungkinkan penyikapan yang arif. Di dalam Penilaian yang hanya berdasarkan selera atau guna memperoleh pembenaran atas apa yang terlanjur dipilih, terlanjur dianut, maka kemampuan ini bukan merupakan kebutuhan penting.

Terlepas dari semua itu, khusus bagi kalangan intelektual vang menarik dan menyenangkan untuk dilakukan.

Membandingkan Hindu dengan Buddha

Berkata : "Hindu - Buddha, apa bedanya?" dengan bertanya : "Apa bedanya Hindu dengan Buddha?, secara sepintas tampaknya punya substansi sama; yakni sama-sama menyoal perbedaan. Namun bila itu kita cermati dari penyampaian verbal, mereka punya perbedaan yang sangat substansial.

Kalau ungkapan pertama lebih merupakan 'pernyataan', maka yang berikutnya merupakan 'pertanyaan' yang butuh jawaban yang jelas, bahkan rinci. Kalau yang pertama dipicu oleh asumsi awal bahwasanya tidak ada perbedaan mendasar antara Hindu dengan Budha serta merupakan penegasan atas asumsi awal itu, maka yang berikutnya lebih dipicu oleh desakan rasa ingintahu. Dalam rangka mencoba memenuhi desakan rasa ingin tahu ini, dan sebesar mungkin mengerahkan semangat untuk 'menemukan 'kesamaan di dalam yang berbeda' sekaligus juga 'perbedaan di dalam yang sama' berikut ini kita coba melakukan pembandingan.

Menggunakan kacamata yang umumnya juga digunakan oleh kaum orientalis dan kalangan intelektual Hindu dan Buddha, kita dengan mudah melihat dua kesamaan, dua perbedaan dan satu kemiripan filsafati yang esensial, antara Hinduisme dan Buddhisme. Dua kesamaannya adalah pandangan mereka terhadap Karmaphala dan Samsara. Kemiripan terlihat pada konsep Moksha dengan Nirvana atau Nibhana (bhs. Bali). Ketiganya tidak begitu mengundang kajian khusus. Perbedaan yang seringkah dipersoalkan, yang bahkan sampai-sampai telah 'disetujui untuk tidak disepakati' adalah seputar doktrin theologis Atman dan Brahman-nya Hinduisme.

Pertama-tama marilah kita lihat: mengapa konsep Moksha dengan Nirvana dikatakan mirip dan bukannya sama?

Baik Moksha maupun Nirvana merupakan sommum bonum dari keduanya. Kalau Moksha dimaknai hanya sebatas kebebasan dari keharusan tumimba-lahir berjasad apapun dan di alam kehidupan manapun, atau kebebasan dari 'lingkaran setan' Samsara, maka Moksha sama dengan Nirvana. Namun bila Moksha dimaknai juga sebagai kebebasan absolut dengan terjadinya penunggalan dengan Sang Maha Pencipta, maka mereka menjadi mirip, tidak persis sama. Hingga bata-batas eksplisit tertentu, kita memang tidak menemukan kalau Buddha Avatara menyebut-nyebut Sang Maha Pencipta. Bahkan, Beliau tak berkenan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengarah kesana, karena itu hanya akan mengundang berbagai bentuk perdebatan spekulatif yang tiada berkesudahan, yang besar kemungkinannya malah menjebak kita dalam pertentangan sampai bentuk-bentuk pengkhayalan dan pentakhyulan. Padahal, sommum bonum dari keduanya adalah Moksha dan Nirvana.

Terhadap yang satu inilah kita sering menemukan kisah-kisah analogis pun mithologis yang substansinya kurang lebih berbunyi : "Kalau sudah sampai 'disana', tak ada lagi perbedaan. Perbedaan hanya tampak nyata saat pendakian". Satu ksiah mithologis-yang juga kental kandungan historisnya -yang sangat populer di Nusantara adalah kisah "Bubuksah dan Gagak Aking".

Tathagata-Adhibuddha-Sunyata

Akan tetapi, apakah Sang Buddha benar-benar sama sekali tidak menyebut 'yang sejenis' Brahman? Ternyata tidak. Kalau kita pernah sekedar membaca salah satu saja dari sekian banyak kitab-kitab yang menyusun Sutra Pitaka, maka kita akan membaca ungkapan-pembuka begini : "Dari apa yang saya dengar .... " dimana yang mengatakan itu adalah Yang Mulia Ananda salah seorang siswa utama Budha Sakyamuni yang dikenal sebagai mempunyai ingatan adikodrati itu, dimana semua kitab-kitab Sutra Pitaka ditulis berdasarkan penuturannya.

Sekarang coba kita cermati lagi ungkapan pembuka itu, "Dari apa yang saya dengar ..." Apa yang saya dengar disini, adalah wahyu, yang adalah sabda suci-Nya, yang dalam Hindu disebut Sruti bukan?

Kalau kita beranjak lebih jauh lagi, ternyata akan kita temukan tak sedikit Sutra Pitaka yang diawali dengan ungkapan-pembuka kurang lebih begini : "Dari apa yang saya dengar ... Sang Buddha berkata bahwasanya Hyang Tathagata bersabda .... " Sang Budha ternyata mengulang lagi apa sabda dari apa yang Beliau sebut sebagai Hyang Tathagata. Sebutan ini sangat banyak kita temukan di dalam Sutra-Sutra dan juga di dalam Dhammapada. Siapakah atau apakah gerangan Hyang Tathagata yang disebut-sebut oleh Sang Buddha ini ? Tentu ini menimbulkan pertanyaan seperti itu di benak kita bukan?

Dalam Kamus Buddha Dharma susunan Pandit Jinaratana Kaharuddin, menerjemahkan Thatagata sebagai Yang Maha Sempurna, dan menerjemahkan Tathata sebagai kenyataan, kesamaan, atau menunjukkan sifat dasar dari apa saja yang sungguh-sungguh sudah ditentukan. Dalam Seeker's Glossary of Buddhism yang disusun oleh Sutra Translation Committee United of States and Canada, Tathagata dijelaskan sebagai "Thus-Come One", atau sebagai yang telah merelasisasikan apa yang disebut sebagai 'tidak datang darimanapun-Tathata itu, atau sebagai yang manunggal dengan Yang Absolut sehingga 'tidak datang darimanapun, pun pergi kemanapun'.

Mirip dengan penjelasan Pandit Jinaratana Kaharuddin, dalam Buddhist Distionary-Manual of Buddhist Terms and Doctrines, Ven. Nyanatiloka Thera menjelaskan Tathagata sebagai "The Perfect One", dan Tathata sebagai "Suchness". Di dalamnya, Nyanatiloka Thera juga memberi penjelasan lebih jauh bahwa, terhadap pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan orang sehubungan dengan apakah Tathagata masih tetap eksis setelah kematian, ataukah tidak, dikatakan bahwa, di dalam pengertian yang tertinggi, Tathagata tidak bisa diungkap seumur hidup pun setelah kematian, yang tak ditemukan di dalam pun di luar fenomena-fenomena ragawi dan mental ini.

Lain lagi dengan yang ditemui di dalam pustaka-pustaka Mahayana 'di Tibet dan di Nusantara; pustaka Sanghyang Kamahayanikan misalnya, menyebut-Nya dengan sebutan Sanghyang Adhibuddha. Oleh karenanyalah, sesuai Peraturan Pemerintah RI Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil, bagi mereka yang menganut agama Buddha, kata 'demi Allah" diganti dengan 'demi Sanghyang Adhi Budda'.

Disamping Tathagata dan Adhibuddha, Buddhisme juga mengenal istilah Sunyata yang seringkah juga disalah mengerti sebagai kekosongan-nihilistik oleh sementara orientalis dan kalangan Buddhis sendiri untuk menyatakan keberadaan dari Yang Satu Itu. Sunyata memang tak terpikirkan dan terbayangkan, karena selama masih terjadi telaah, kajian, pemikiran, analisa, dan yang sejenisnya, Sunya tak akan pernah ter-realisasikan. Kalaupun Sunyata hendak dicarikan padanannya di dalam Hinduisme, maka yang paling mendekati adalah Acintya atau Nirguna Brahman. Sementara itu, lathagata bisa diperbandingkan dengan Satya Brahman atau Paripurna Brahman atau Saguna Brahman. Kalau Tathagata bisa dipadamkan dengan Saguna Brahman, maka Sunyata bisa diperbandingkan dengan Nirguna Brahman. Sementara itu, Adhibuddha bisa diperbandingkan dengan Paramatman, atau (bahkan) Paramasiwa Sendiri.

Sang Buddha sendiri memang 'enggan' mempersoalkan, apalagi berspekulasi tentang Itu. Beliau lebih mengarahkan pada : bagaimana mengakhiri penderitaan dan menyeberangi samudra Samsara ini, yang juga berarti mencapai sommum bonum itu, sejalan ctengan ajaran "Empat Kesunyataan mulia' yang merupakan pijakan awal dari kelahiran Buddhisme itu sendiri. Nah ... sampai sejauh ini, kian tampak jelas duduk persoalannya.

Yang digunakan sebagai Doktrin Pembeda

Anatta adalah satu doktrin Buddhisme yang paling sering digunakan oleh sementara 'pihak yang berkepentingan' sebagai pembeda dengan Hinduisme. Doktrin ini dipertentang dengan bahkan digunakan untuk 'menyerang' dasar keimanan Hindu akan keberadaan Atman, dengan cara mengalihbahasakan istilah dalam bahasa Pali ini secara literal begitu saja ke dalam bahasa Sanskrit-anatman, tanpa memperhatikan konteks dan mengabaikan dalam keterkaitan apa Sang Buddha memaparkannya. Alhasil, tentu saja anatta jadi 'tampak' bersebrangan dengan dasar keimanan (sraddha) Hindu ini.

Sang Buddha sebetulnya tidak memaparkan anatta sebagai suatu doktrin mandiri, melainkan sebagai salah satu mata-rantai di dalam memaparkan Tiga Corak Umum dari segala sesuatu di semesta material ini, utamanya, lima agregat fisiko-mental manusia (panca skhanda), yang disebut Tri Laksana (Tilakkhana-bhs. Pali). Seutuhnya, mereka terdiri dari: anicca, dukkha dan anatta - impermanensi, penderitaan dan bukan-aku. Sederhananya, ia kurang lebih berbunyi : "Menyangka dan berharap yang impermanen sebagai yang permanen, dan bukan-aku sebagai aku, adalah kebodohan yang hanya mengakibatkan derita tiada henti". Paparan tentang Tri Laksana ini antara lain dapat ditemukan di dalam kitab-kitab Anguttaranikaya Sutta, Samyuttanikaya Sutta dan juga di dalam kitab Dhammapada.

Di dalam Samyuttanikaya Sutta misalnya, paparan Sang Buddha terkait terekam di dalam serangkaian tanya-jawab berikut:

Sang Buddha : "Bagaimana pendapat kalian, wahai para Bhikkhu, apakah jasad ini permanen ataukah impermanen?"
"Impermanen Yang Mulia", jawab para Bhikku.
"Apakah perasaan, persepsi, bentuk-bentuk mental dan kesadaran ini permanen ataukah impermanen?". tanya Sang Guru lebih lanjut.
"Impermanen Yang Mulia", jawab para Bhikku lagi.
Selanjutnya Sang Buddha bertanya lagi: "Bila begitu, yang impermanen itu merupakan sesuatu yang menyenangkan ataukah menyengsarakan?"; yang secara serempak dijawab : "Menyengsarakan Yang Mulia", oleh para Bhikku. "Makanya, terhadap apapun yang berwujud dan merupakan bentuk-bentuk perasaan, persepsi, bentuk-bentuk mental dan kesan kesadaran, apakah itu di masa lampau, sekarang pun mendatang, di dalam diri seseorang pun di luarnya, kasar pun halus, bernilai tinggi pun rendah, jauh pun dekat, seseorang hendaklah mengerti bahwa dalam kesejatiannya menurut kebijaksanaan sejati, 'bukanlah milikku, bukan-aku, bukan diriku".

Tampak jelas kalau anatta lebih dimaksudkan guna mengarahkan para bhikku kepada ketanpa-aku-an, ketanpa-ego-an, egolessness; lebih dimaksudkan sebagai anjuran kuat untuk membebaskan diri egoisme (ahamkara) dan rasa kepemilikan (mamakara). Mengharapkan dan menyangka sesuatu yang impermanen sebagai permanen, jelas mengundang sengsara. Apalagi kalau sesuatu itu, secara keliru, telah terlanjur kita anggap sebagai 'diriku', 'milikku', 'karyaku' dan sejenisnya.

Yang terpapar di dalam kitab Anguttaranikaya Sutta terdengar sangat menarik karena disini juga disebutkan Hyang Tathagata. Di dalam kitab ini Sang Buddha bersabda : "Apakah Hyang Tathagata mewujud, ataupun Hyang Tathagata tidak mewujud di dunia ini, di dunia ini tetap berlaku suatu syarat baku, suatu fakta abadi dan hukum tetap: bahwa semua elemen bersifat impermanen (anicca), bahwa semua elemen merupakan sasaran penderitaan (dukkha), karena segalanya tanpa suatu inti yang kekal (anatta)".

Di dalam kitab Dhammapada, doktrin Tri Laksana ini disampaikan dalam rangka penegasannya sebagai Jalan Kesucian (visuddhi-marga) dan Kebebasan. Beliau bersabda:

"Segala yang bersyarat itu tidak kekal. Bila menggunakan kebijaksanaannya orang melihat fakta ini, terbebaslah ia dari penderitaan .....  Segala yang bersyarat itu mengandung derita. Bila menggunakan kebijaksanaannya orang melihaf fakta ini,  terbebaslah ia dari penderitaan.... Segala sesuatu tanpa inti adanya. Bila menggunakan kebijaksanaannya orang melihat fakta ini, terbebaslah ia dari penderitaan. Inilah Jalan Menuju Kesucian".

Nah ... sampai disini, kian jelas buat kita kalau anatta sebetulnya, bukan saja tidak berseberangan dengan sraddha Hindu akan keberadaan Atman yang identik dengan Brahman, namun lebih menekankan akan vitalnya pengikisan ego demi kesucian batin. Dan ini, tentu saja tidak berlaku bagi umat Hindu dan Buddha saja. Ini pesan universal bagi segenap umat manusia jaman apapun mereka hidup.

Semoga ini ada manfaatnya. Semoga Cahaya Agung-Nya senantiasa menerangi setiap gerak dan langkah kita. Semoga kedamaian dan kebahagiaan menghuni kalbu semua insan.

Source: Anatta Gotama l Warta Hindu Dharma NO. 486 Juni 2007