Kerja Sebagai Yajna

I) Konsep kerja bagi masyarakat moderen yang sibuk bekerja menarik untuk dibicarakan. Pengetahuan ini akan dapat memberi arah yang benar terhadap kerja yang kita laksanakan. Filsafat kena (karma yoga) memberikan landasan berpijak bagaimana semestinya kerja itu dilaksanakan agar sesuai dengan tujuan hidup tertinggi menurut shastra-shastra Hindu.

Kerja merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap insan Hindu. Siapa pun tidak bisa lepas dari kerja. Karena kerja tidak hanya mencakup aspek fisik tetapi juga mental. Kalau ada insan Hindu tidak mau bekerja, ia sesungguhnya telah menelantarkan, menyia-nyiakan dirinya sendiri, sebab Tuhan sendiri tidak pernah berhenti bekerja, Ia selalu dan selalu bekerja. Bhagavadgita (Gita) 3.10 menyatakan bahwa pada awalnya, setelah menciptakan umat manusia dengan yajna, Tuhan Pencipta bersabda, „Dengan yajna ini kamu akan menyebar. Biarlah ini menjadi sapi perah keinginan-keinginanmu".

Tuhan menciptakan manusia dengan hukum yajna sebagai sarana untuk kemakmuran dan evolusi spiritualnya yang lebih tinggi. Tuhan saja tak pernah berhenti bekerja, bagaimana dengan kita? Alangkah nistanya kalau ada orang yang malas, menghindar dari tugas-tugas, tidak mau bekerja. Atau bekerja tidak sepenuhnya. Korupsi dalam kerja tentu sangat bertentangan dengan spirit kerja menurut Gita.

Gita 3: 5 dan 8 menyatakan bahwa tidak sekejap pun sesorang dapat diam tanpa kerja. Tidak juga hidupmu di dunia fisik ini bebas dari kerja. Singkatnya, kita tak bisa lepas dari kerja. Karena kerja itu tidak hanya berarti kerja sebagai profesi tetapi aktivitas dalam segala aspek hidup kita. Tetapi ada orang yang mencoba menarik segala indriya-indriyanya dari objek-objek duniawi, tetapi pikiranya tetap melekat pada objek-objek indriyanya. Orang semacam ini disebut hipokrit. Kerja di sini yang lebih penting adalah activitas dan sikap pikiran.

Kapasitas mampu melaksanakan yajna merupakan hadiah yang luar biasa bagi umat manusia. Kelahiran di luar manusia tidak mempunyai kesempatan untuk meninkatkan kesadarannya. Kitab Sarasamuccaya pun menyatakan hal serupa bahwa menjelma lahir sebagai manusia sungguh mulia. Oleh karena itu jangan sekali-kali disia-siakan untuk meningkatkan kesadaran kemanusiaan kita. Sejelek-jelek hidup menjadi manusia masih jauh lebih baik dari pada hidup lahir sebagai binatang. Melalui yajna ini manusia dengan buddhi-nya dapat meningkatkan kejatidiriannya ke tahap yag lebih tinggi. Betapa pendakian spiritual dapat dilaksanakan melalui yajna.

Orang yang memberi, bersedekah tanpa pikiran mendapatkan balasan tak kan pernah menginginkan sesuatu. Ikhlas menyucikan hati dan pikiran. Dunia akan selalu memberinya. Tetapi orang yang selalu meminta tidak akan mendapatkannya. Dia selalu dibelunggu oleh nafsunya untuk selalu mencari dan mencari tanpa ada titik akhir pencarian kenikmatan duniawi. Kenikmatan duniawi semakin dicari semakin tak ada batasnya. Begitu kita menginginkan kita sudah kehilangan kesempatan. Apa yang kita persembahkan dengan cinta kasih, ikhlas dalam spirit yajna, kita akan meraihnya.

Dalam hukum-hukum fisika pun hal ini berlaku. Sekuntum bunga mawar merah menyerap seluruh warna tetapi hanya memancarkan warna merah saja. Pengorbanan tertinggi adalah diri kita (self) persembahan apa yang dianggap berharga demi pelayanan kepada Tuhan dan umat manusia. Apabila kita bisa memandang sesama sebagai percikan Yang Suci karena Tuhan ada bersemayam pada setiap insan dan setiap benda maka pelayanan itu sendiri menjadi bentuk tertinggi pemujaan terhadap Tuhan juga.

Yajna pada tahapan yang lebih rendah merupakan sesuatu bentuk memberi dan menerima. Peradaban dipelihara oleh spirit memberi dan menerima ini dalam bingkai yajna. Seseorang yang tidak mau memberi tetapi hanya ingin selalu menerima akan merusak tatanan masyarakat. Ia sesungguhnya pemeras dan pencuri. Ia merongrong hukum yajna dan secara moral mengalami kemunduran. Hak dan kewajiban berjalan bersama-sama dan menuntut yang pertama tanpa melaksanakan yang kedua adalah tindakan korupsi yang bisa merusak semuanya. Ritual yajna, misalnya bhuta yajna adalah simbol hukum besar ini. Baik yajna ritual dan yajna dalam makna sosial terdiri atas pelaksanaan kewajiban-kewajiban sesuai bidang kita. Jelas, kerja ada di dalamnya. Seseorang yang menghindar dari kerja adalah juga adalah menghindar dari yajna, jadi melanggar hukum yang diciptakan oleh Sang Pencipta, yaitu berupa hukum etika non ekploitasi. Jika kita mengorbankan jati diri kita (self) maka kita mendapatkan jati diri kita (self) pula. Setiap tindakan yang dilakukan dalam spirit penyerahan diri dan pelayanan menetralisir keinginan-keinginan duniawi (vasana), membawa kita semakin dekat dengan Parama Atama (Yang Absolut).

Gita 3, 29-26 menyatakan bahwa ada sedikit manusia yang telah mampu meningkatkan diri atas keinginan-keinginan pribadi. Mereka mungkin telah mampu menarik seluruh indriya-indriyanya, menarik diri dari kegitan-kegitan masyarakat sekelilingnya, hidup mandiri tanpa bergantung pada yang lain. Bahkan ia harus bekerja tanpa kemelekatan atau keinginan terhadap hasil, ia bisa meraih ketinggian spiritual. Kerja tanpa pamrih tanpa menginginkan hasil merupakan aspek yang lebih tinggi dari hukum yajna. Raja Janaka dan banyak rsi agung lainnya tetap sibuk melayani umat manusia dan mencapai kesempurnaan melalui kerja tanpa pamrih.

II) Dalam bahasa Sansekerta "karma" berasal dari akar kata kri berarti kerja (action) yang mencakup tidak hanya fisik tetapi juga mental. Secara teknis kerja juga berarti efek dari pada kerja. Secara metafisik, kerja kadang-kadang berarti efek kerja dimana perbuatan-perbuatan masa lalu sebagai penyebabnya. Tetapi dalam Karma Yoga (filsafat kerja), karma berarti kerja.

III) Tujuan kemanusiaan kita adalah pengetahuan yaitu pengetahuan spiritual yang dapat menyebrangkan diri kita dari samudra samsara menuju kebahagiaan, abadi (ananda). Kesenangan duniawi bukanlah tujuan tertinggi, tetapi pengetahuan. Orang boleh saja mengejar kenikmatan duniawi tetapi ia akan memberikan kenikmatan sementara, terbatas, bukan permanen. Sesuatu yang bukan permanen tidak akan memberikan sesuatu yang permanen. Sesuatu yang terbatas tidak akan mapu mencapai yang tak terbatas. Kebahagiaan duniawi dinikmati mempunyai keterbatasan, pada akhirnya akan habis. Mengapa kita mencari yang terbatas? Adalah sangat keliru berangggapan bahwa kebahagiaan duniawi sebagai tujuan hidup tertinggi. Ia tidak dapat menyebrangkan kita melewati samudra samsara ini. Segala kesedihan, kemalangan, penderitaan yang kita alami di dunia ini akibat kebodohan kita memandang bahwa kenikmatan duniawi adalah segala-galanya.

Kalau boleh jujur sebagian besar waktu dan energi kita manfaatkan untuk kenikmatan duniawi ini, menganggap bahwa benda-benda perolehan itu bisa memberikan kebahagiaan tertinggi. Kita sering menganggap tubuh ini adalah Aku. Aku sesungguhnya bukan tubuh fisik ini, tetapi Atman yang identik dengan Brahman, Yang Absolut, Tertinggi, dari mana semua yang ada ini berasal, dipelihara dan kemana mereka semua pada saatnya nanti kembali. Setelah seseorang merenungkan secara mendalam ditemukan bahwa bukannya kenikmatan duniawi yang mengantarkan kita ke tingkat pencapaian kehbahagiaan abadi tetapi pengetahuan (vidya). Artinya pengetahuan itulah yang mengantarkan sesorang mencapai moksha (pembebasan) menurut kitab-kitab upanishad. Kegelapan (avidya) hanya dapat disingkirkan melalui pengetahuan rohani (vidya).

Sebenarnya Atma yang ada pada diri kita selalu bebas, tetapi karena kekuatan maya maka ia terbelenggu mengkuti hukum karma (sebab-akibat). Dengan menyingkirkan atau menggosok debu yang menempel di kaca, maka muka kita segera nampak terpantulkan di kaca. Ke arah itulah upaya kita tujukan secara sadar, konsisiten, dan berlanjut. Anggaplah perjalanan hidup ini sebuah evolusi dari manusia yang bertabiat keraksasaan ke kedewataan, dari kegelapan menujua terang.

Senang dan susah berakumulasi mewarnai kepribadiann kita. Mereka membentuk impresi yang membentuk karakter kita. Padahal sesungguhnya kepribadian kita bukanlah seperti itu. Pada dasarnya setiap insan memiliki sifat-sifat kedewataan (devine). Tetapi kenapa hal itu tidak muncul? Karena kita diliputi oleh senang-susah inilah yang terang tertutupi oleh yang gelap, sehingga kecerdasan yang terang tidak menampakkan sinarnya. Jadi, karma dengan segala akibatnya membentuk kepribadian kita.

IV) Setiap orang bekerja sesuai dengan profesinya. Kalau diteliti lebih lanjut, ternyata sebagian besar orang bekerja belum memenuhi prinsip-prinsip kerja seperti dijelaskan dalam Bhagawadgita. Menurut Gita kerja adalah juga jalan pembebasan, yaitu sebuah jalan ibadah yang kalau dilaksanakan secara murni akan mengantarkan sesorang kepada pembebasan (moksha). Kelihatannya mudah, karena setiap orang bisa bekerja. Tetapi sesungguhnya sulit kalau tidak ada kesadaran bahwa apa yang kita laksanakan sebagai kerja adalah sesuatu yang juga disebut yoga (penyatuan). Dengan demikian Gita memperkenalkan sebuah konsep yang dapat diikuti oleh orang kebanyakan, orang yang aktif dan dinamais. Tidak perlu mengisolasi diri, pergi ke tempat-tempat sepi, ke hutan, ke gua-gua, dalam rangka pendakaian dan pembebasan spiritual. Bagi masyarakat moderen, pekerja, jalan ini kiranya cocok diikuti.

Menurut Gita 2.47-48 bahwa kita hanya punya hak untuk melaksanakan kewajiban kita tetapi tidak punya hak untuk menentukan hasilnya. Janganlah pernah mengangggap bahwa kita sebagai penyebab terjadinya hasil atau buah dari pelaksanaan kewajiban, dan janganlah terikat oleh hasil-hasil itu. Laksanakan kewajiban secara penuh perhatian, singkirkan seluruh kemelekatan (attachment) terhadap keberhasilan dan kegagalan. Sikap seperti ini disebut yoga.

Pada dasarnya semua kita ini adalah aktor-aktor. Kita bergerak, bekerja pada setiap detik: bernafas, bekerja, berbicara, berfikir, berfantasi, dsb. semuanya kerja, tetapi tindakan-tindakan kita dimotivasi oleh hasil yang akan dicapai. Kita punya terget sebelum memulai kerja. Misalnya, kita bicara sesuatu dengan diri sendiri atau dengan orang lain karena ada motif dasar yang mendorongnya. Motif itu bisa baik bisa jelek. Krishna mengatakan janganlah kita bekerja atau bertindak karena semata-mata oleh hasilnya. Jika demikian adanya maka kita akan merasa sedih, frustrasi, menyesal, dsb. jika hasilnya tidak sesuai harapan. Harapan mengakibatkan kekecawaan. Kekecewaan mengakibatkan kesedihan. Jika kita tidak berharap pada hasil maka kita tidak akan pernah frustasi. Hal ini bukanlah kita kehilangan motivasi dalam kerja. Ketika kita berbicara hasil, buah atau hadiah maka kita menafsirkan sesuai dengan perspektif kita masing-masing; dikondisikan oleh untung dan rugi., kekuatan dan kelemahan, kemasyuran dan kerendahan, dsb. Jadi, objektif personal semestinya semakin banyak kita singkirkan dari keterlibatan personal kita ke tingkat personal ketakmelekatan (detachment).

Ketakmelekatan bukan berati apathi, tetapi berarti meletakkan kerja (karma) ke dalam perspektif benar, yang lebih luas jauh dari perolehan-perolehan yang sifatnya sempit. Laksanakan kerja untuk kerja itu sendiri dengan pikiran penuh konsentrasi, disiplin, dan tanggung jawab, maka kita akan dibebaskan dan kita menikmati kepuasan kerja yang tertinggi. Sumber kesedihan, penderitaan sesungguhnya terletak pada pfkiran. Sains dan teknologi belum mampu membedah misteri ini. Maka diperlukan ilmu nilai (science of value). Yang terbaik adalah bekerjalah atas nama Tuhan, serahkan hasilnya kepada Beliau. Hak kita hanya untuk bekerja, yaitu kerja untuk kerja, bukan kerja untuk hasil. Hasil ditentukan begitu kerja dimulai. Kita tidak dapat menghindar dari karmaphala, akibat dari perbuatan. Hasil atau akibat perbuatan atau kerja diatur oleh hukam karma yang bukan berada di bawah kendali kita.

Hukum tersebut adalah hukum kosmis yang tak seorang pun dapat membuatnya. Kita lahir, hidup mati sesuati dengan hukum ini dan menikmati hasil kerja sesuai dengan hukum ini. Hubungan kerja dan hasilnya diatur oleh hukum alam (rta). Kita hanya bisa memahaminya tetapi tidak bisa mengubahnya. Hukum ini diciptakan oleh Tuhan (Ishvara). Kerena hukum inilah kita mendapatkan hasil bukan karena kita memilih suatu pekerjaan. Hasil ditentukan oleh hukum ini, yang bukan berada di bawah kontrol kita. Semua kerja membuahkan hasil yang laten pada kerja itu sendiri. Seseorang tak dapat mengharapkan apa yang tidak terkandung dalam kerja. Kita bukan pembuat hukum tersebut yang mengatur hasil dari pada kerja tersebut. Kita juga tidak tahu semua hukum yang beroperasi membuahkan hasil, tetapi kita tahu semuanya beroperasi sesuai hukum. Kita tahu bahwa ada harmoni di dalamnya. Hasil selalu sesuai dengan kerjanya.

Hukum hanyalah instrument Tuhan memberikan hasil atas kerja yang kiita lakukan. Apapun kita terima, seberapa pun kita dapatkan anggaplah itu sebagai anugrah, pemberian Tuhan. Inilah yang sebut prasada, anugrah Tuhan. Bagaimana kita bisa mengubah sikap kita agar kerja yang kita lakukan benar-benar persembahan kepada Tuhan dan kita terima hasilnya sebagai prasada (bhs. Bali: lungsuran). Jika sikap kita berhasil kita kembangkan maka kita selalu berpikiran terbuka (open mind). Selalu mencita-citakan prasada buddhi dalam setiap kerja disebut karma yoga.

Dengan pikiran tertutup kita hanya dapat memperkirakan hasil apa yang akan muncul, tetapi kita menghargai bahwa hasil akan selalu benar sesuai kerja, bahwa kita tidak akan mungkin dibohongi. Janganlah bereaksi apakah hasil sesuai harapan atau tidak, karena hasil itu adalah prasada dari Tuhan. Prasada berati bebas dari kesedihan. Begitu prasada dapat diterima, pikiran kita menikmati prasannata, kesukacitaan. Ini adalah anugrah, karena jika hal ini muncul dalam pikiran kita, rasa suka (likes) dan tak suka (dislikes) tidak mampu lagi menciptakan suatu reaksi dalam pikiran kita. Ketika kita mendapatkan hasil, yang tidak sesuai harapan sukses atau gagal rasa suka dan tak suka kita dinetralisir jika kita menerimanya sebagai prasada.

Ada lagi sikap lain yang dapat menetralisir efek-efek dari suka dan tak suka dalam kepribadian kita. Sikap ini berdasarkan atas penghargaan Tuhan tidak hanya pada saat hasil didapat tetapi bahkan saat sebelum kita dapatkan hasil tersebut. Ada dua definisi karma yoga dalam Gita. Pertama: "samatvam yoga ucyate", artinya kesamaan pikiran adalah yoga. Yang lain: "yogah karmasu kausalam" artinya pilihan benar dalam hal kerja adalah yoga. "Samtvam" mungkin hanya dalam hubungannya dengan respon seseorang terhadap hasil dari kerja.

Prasada buddhi melahirkan sikap untuk mendapatkan kesamaan pikiran terhadap berbagai hasil kerja. Krishna dalam Gita mengatakan bahwa setiap kerja dapat dianggap sebagai persembahan (yajna) karena Tuhan adalah segalanya. Sikap ini disebut Isvararpana buddhi, suatu sikap mempersembahkan kepada Tuhan atas aktivitas yang kita lakukan, sehingga pikiran tetap suci, damai, terpusatkanJidak diganggu oleh rasa suka dan tak suka. Sikap suka dan tidak suka dinetralisir. Sikap suka dan tidak suka bukan lagi sebagai motivator melaksanakan kerja, bukan lagi sebagai standar menilai hasil dan diri kita sendiri.

Oleh karena itu janganlah berhenti bekerja. Karja adalah sebuah kehormatan sebagai manusia. Hanya mengubah sikap pada diri kita masing-masing, kita akan menjadi orang yang berbeda. Kita tidak akan menjadi orang yang takut bekeja, atau bekerja setengah-setengah, melainkan kerja berdedikasi, penuh konsentrasi, dengan keyakinan bahwa kerja yang kita lakukan mampu mengantarkan kita untuk mencapai kebahagiaan abadi (ananda). Gita 3.8 menyatakan bahawa tugas kita adalah melaksanakan kerja yang lebih mulia daripada tidak bekerja.

Bahkan memelihara tubuh pun tidak mungkin melalui tak bekerja. Tiap- tiap dari kita ini punya tugas pokok yaitu memisahkan keinginan-keinginan duniawi ini dari jati diri yang sejati, yaitu Atman yang pada intinya adalah Brahman. Untuk itu kita harus memisahkan keinginan ini melalui kerja yang sesuai, tepat yang dilaksanakan tanpa keinginan terhadap hasil, apakah kita bertugas sebagi tentara, guru, pengacara, dokter, manager, atlit, seniman, dsb. Jalan-jalan ini secara otomatis mengandung kewajibam-kewajiban baik kepada diri kita sendiri, keluarga, masyarakat, negara, umat manusia dan peradaban. Beberapa diantaranya bersifat regular, beberapa sifatnya insidental. Mereka semua itu bagian dari diri kita-yang sesungguhnya adalah Atma. Kita keliru menyamakan diri kita dengan tubuh. Kewajiban (svadharma) inti peradaban Hindu.

Setiap dari kita punya keajiban: suami, istri, anak, guru, tentara, dokter, filosof, ekonom, seniman, dsb. Itulah sebabnya kultur Hindu bukan didasari oleh hak (rights) tetapi kewajiban (duty). Dalam pada itu ada hukum-hukum yang harus dipenuhi. Begitu hukum pada masing-masing itu tidak dianuti lagi maka kacaulah tatanan hidup ini. Dalam suasana masyarakat yang tidak lagi mngidahkan hukum, tujuan hidup tertinggi sulit dicapai. Oleh karena itu masyarakat dijaga oleh dharma (hukum).

Jika kita ingin damai (shanti) dalam diri kita, keluarga, masyarakat kuncinya adalah bersuka cita dalam bekerja, bukan dalam menerima hasil. Anggaplah sebagai kewajiban, apapun, apakah hasil itu ada atau tidak ada. Itu bukan tugas kita.

Gita 3.9 menyatakan bahwa dunia ini diikat oleh keja yang dilaksanakan sebagai  yajna.  Oleh  karena  itu laksanakan kerja bebas dari kemele-katan. Yajna secara sederhana berarti menyerahkan interest egosentrik kepada kebaikan-kebaikan yang lebih besar, ideal yang lebih tinggi. Kerja apa saja yang dilaksanakan tanpa spirit yajna akan mengikat ego ke dalam diri kita. Oleh karena itu ia mengikatkan diri kita kepada dunia ini. Namun sayangnya, banyak di antara insan Hindu belum memahami makna simbol dari yajna ini. Melaksanakan ritual yajna semestinya dapat memperluas cakrawala kita bahwa dengan yajna diri kita disucikan. Dalam suasana suci itulah yang suci bisa diraih.

V) Isavasyopanishad 1.2 menyatakan bahwa seseorang semestinya menginginkan hidup seratus tahun melaksanakan kerja tanpa keinginan (duniawi). Tidak ada jalan lain lagi bagi kita bebas dari dosa, khilaf, salah sepanjang kita terlibat dalam hidup sebagai manusia. Kita tahu. bahwa tidak semua dari kita yang sanggup mengambil jalan jnana yoga (jalan ilmu pengetahuan). Kita semua bukanlah filosof yang selalu bergulat dengan pikiran untuk menguak tabir alam semesta ini. Jika karakter kita sebagai orang aktif, dinamis, pekerja di dunia ini, maka kontemplasi tidak bisattl memerankan peran yang dominan dalam pendakian spiritual. Orang seperti itu harus bercita-cita mengikuti karakternya sendiri hidup seratus tahun tetapi dalam jalan kesadaran diri.

Kerja (karma) yang didasari oleh keinginan duniawi tidak akan mengantarkan kita ke arah ini. Nafsu atau keinginan ini selalu menghalangi, merongrong, menyeret Atma yang ada pada setiap insan menjauhi tercapainya kebahagiaan tertinggi. Kerja (karma) yang didorong oleh keinginan akan menciptakan keinginan lain, mencip-takan kerja dan seterusnya melalui perolehan benda-benda meterial yang terus meningkat. Jadi kita harus belajar aktif, dinamis, kerja tanpa keinginan, yaitu keinginan untuk mendapatkan hasil. Tetapi bagaimana seseorang dapat bertindak tanpa digerakkan oleh suatu keiginan? Langkahh pertama dan terakhir adalah dengan menganggap sebuah ideal yang lebih tinggi, sesuatu yang baik yang berada di luar tubuh, pikiran dan intelek. Apabila perhatian kita berada di luar perolehan atau ieuntungan pribadi kita akan secara perlahan-lahan ia membersihkan diri kita dari keinginan duniawi ini. Ketika keinginan akhirnya disapu bersih, maka keadaan yang lebih tinggi d luar kerja dapat direalisasikan.

Gita 3.30 menyatakan bahwa mereka yang menyerahkan seluruh aktivitasnya kepada Tuhan dengan penuh pengetahuan tentang Tuhan, tanpa kemelekatan ... Inilah esensi dari ajaran Karma Yoga. "Serahkan seluruh kerja kepada Tuhan". Dedikasi total satu-satunya jalan kesuksesan.

Gita 9. 27-28 menyatakan bahwa kerja apapun yang kamu lakukan, makanan apapun yang kamu makan, apapun yang kau persembahkan dalam yajna, apapun yang kamu sedekahkan, tapa apapun yang kau lakukan, lakukanlah sebagai sebuah persembahan kepada tuhan. Dengan jalan ini kau akan dibebaskan dari seluruh reaksi perbuatan baik dan buruk dan dengan prinsip penyerahan diri kamu akan dibebaskan dan datang menemui Aku. Di sini jelas bahwa Gita tidak mengajarkan pertapaan hidup di hutan, gua-gua. Ia mengajarkan kita kerja di dunia ini karena dikatakan bahwa penyerahan diri yang benar dari kerja terdiri atas kerja yang dilaksanakn tanpa mengaharapkan hasil atau balasan. Krishna mengatakan kita hanya punya hak untuk bekerja bukan hasilnya.

Tidak juga terbelenggu oleh kerja melalui egoisme "Aku pelakunya". Kita bekerja sebagi instrument keinginan Tuhan. Jika kerja diabdikan kepada Tuhan, kerja itu tidak mengikat diri kita. Ia mengantarkan kepada tercapainya kebahagiaan tertinggi (ananda).

VI) Swami Vivekananda menyatakan bahwa seluruh kerja yang kita laksanakan, lakukanlah untuk pembebasan kita, dilakukan untuk kemuliaan kita. Tuhan memberi kita kesempatan untuk bekerja bukan untuk kepentingan Tuhan tapi untuk diri kita masing-masing. Tuhan menciptakan dunia agar dapat membantu umat manusia membantu dirinya sendiri. Ketika kita memberi makan kepada seekor anjing sesungguhnya adalah kita memuja Tuhan, karena Ia semuanya dan semuanya adalah Dia.

Gita mengajarkan kerja sebagai hukum eksistensi dan kerja yang benar sebagai hukum penyucian and kekuatan. Untuk menyucikan diri kita, untuk menemukan kekuatan yang tak terbatas yaitu kejatidirian kita, kita harus bekerja. Semakin konsen bekerja, semakin besar kekuatan penyuciannya, dan semakin kuatlah diri kita. Kekauatan Atma yang ada dalam diri kita akan mengalir melalui diri kita bak aliran sungai mengalir deras dan jernih menuju laut. Swami Vivekananda mengatakan , "Aku begitu mencitaimu semua tetapi Aku akan lebih mencitaimu jika kamu semua mati dalam kerja untuk orang lain. Aku akan senang melihat kamu melakukan hal itu." Kata-katanya ini tidak jauh dari gurunya, Ramakrishna Paramahamsa bahwa sesungguhnya melayani adalah memuja (servicing is worshipping).

Source: IBP. Suamba l Warta Hindu Dharma NO. 418 Desember 2001