Kerja dan Perang Pada Diri Arjuna

Bekerja dan berdoa selalu menjadi hiasan dinding tempat yang sebagai altar motivasi. Disana bergaung beragam dimensi dari bekerja (working). Yakni berkerja adalah aktivitas yang dilakukan oleh pekerja. Manusia adalah mahluk yang bekerja. Kerja adalah tanda dari kemanusiaanya. Kerja memiliki dinamika dan dimensi yang inheren di dalam dirinya. Salah satunya adalah dimensi fisiologis.

Perlu ditekankan disini adalah, bahwa manusia bukanlah mesin. Cara ia bekerja pun berbeda dengan cara kerja mesin. Arjuna mengerti dan paham, namun ototnya tak bergerak, sebab perang dan berkerja sungguh berbeda. Di sana berujar kasih sayang merupakan bentuk tertinggi dari sikap sikap tanpa kekerasan. Kerja dan bekerja hendak diliputi oleh kasih sayang. Lalu bagaimana perang dianggap kerja? Kerja dan perang dalam benak Arjuna memang berbeda.

Alasan Arjuna memang benar, mesin bekerja terbaik jika hanya mengerjakan satu tugas. Tugas itu haruslah dilakukan berulang dan haruslah sesederhana mungkin. Untuk mengerjakan tugas rumit, maka mesin haruslah membagi tugas rumit tersebut ke dalam bagian-bagian yang lebih sederhana, sehingga barulah mesin itu bisa bekerja. Mesin dapat bekerja dengan baik, jika ritme pekerjaan tersebut tetap dan dengan stabilitas yang terjamin. Kebimbangan itu membuat Arjuna tak beranjak. Dia diam membatu dalam perasaan penuh dosa, padahal labirin-labirin pasukan yang dihiasi beribu panah dan berjurai mesiu sudah menganga, berpeluh, dan siap untuk menunggu aba-aba, serbu.

Saat seperti itu Krishna menghampiri dan berkata “Perang itu adalah kerja untuk mengalahkan kebatilan, engkau bekerja untuk memenuhi kekosongan perutmu, perang juga demikian untuk mengisi kekosongan kebatilan. Disini tugasmu untuk bekerja, dia menambahkan kebaikan yang semakin memudar dan hilang. Menusia bekerja  dengan cara yang berbeda. Jika hanya mengerjakan satu pekerjaan secara berulang, ia dengan mudah menjadi lelah, bosan, dan meninggalkan pekerjaan itu. Perang adalah bentuk kerja lain yang membuat dirimu tidak bosan,”.

Arjuna berkata, “Oh....! Tidakkah manusia bekerja terbaik di dalam koordinasi dengan manusia lainnya dan bukan secara individual. Tidak untuk membunuh yang lain?”

Krishna menjawab, “Ya, dalam perang ini engkau bekerja membentangkan busur panahmu dengan beragam strategi. Musuhmu beragam, engkau akan bekerja buruk di dalam ritme yang tetap. Kamu harus bekerja di dalam suasana yang dinamis bersama dengan manusia-manusia lainnya. Tidak ada ritme yang universal yang untuk setiap orang. Setiap orang memiliki ritme bekerja masing-masing. Orang bisa marah ketika ia dipaksa bekerja tidak sesuai dengan ritmenya, dan dipaksa untuk mengabdi pada ritme bekerja orang lain. Itulah pesan perang ini Arjuna.”

Krishna menambahkan, “Jika orang dipaksa untuk bekerja sesuai dengan ritme orang lain, maka ia secara otomatis akan mengalami penumpukan kotoran di otot, otak, dan aliran darah. Penumpukan kotoran itu akan melepaskan hormon strees yang mengakibatkan seluruh saraf menjadi tegang. Untuk bisa bekerja secara produktif, orang perlu untuk melepaskan diri dari semua tegangan yang ada di dalam dirinya. Atau setidaknya ia harus memiliki kontrol penuh pada perasaanya sendiri.”

“Apa yang akan terjadi bila aku bekerja sesuai dengan perintahmu?” tanya Arjuna kembali. Krishna berkata dengan senyum manis, “Arjuna! Siapa yang bekerja untuk-Ku dan menjadikan Aku sebagai tujuan utamanya, siapa saja yang berbhakti ke-pada-Ku dan tidak terikat, tidak mempunyai rasa benci terhadap mahluk apa pun juga, akan segera mencapai Aku.”

Mendengar kata-kata Krishna itu, Arjuna menatapnya dengan serius. Lalu Krishna menambahkan, “Ia yang mengetahui kelahiran dan karya-Ku yang suci, tidak akan lahir lagi sesudah mati. Ia melihat Aku dimana-mana yang kekal diantara yang tidak kekal, yang bersemayam dalam semua mahluk. Ia tetap melihat, Aku pun tetap melihat dia. Mereka yang selalu menempatkan Aku dalam hatinya dan yang selalu mengabdi kepada-Ku dengan penuh kecintaan, akan kutanggung bebannya dan Kuberi apa yang mereka butuhkan.” Kemudian Arjuna berkata, “Oh, Kesawa, diriku baru menyadari kata-katamu sangat indah dan penuh makna dalam hidup ini.”

Krishna menambahkan, “Arjuna, mereka senantiasa merasa puas dan gembira bila membicarakan tentang diri-Ku. Berkat rasa kasih-Ku kepada mereka, Aku tingkatkan kemampuan mereka untuk membeda-bedakan, dan dengan sinar pengetahuan, Ku lenyapkan kegelapan serta kebodohan yang menghalangi pandangan mereka. Karena mampu menguasai indera, mereka mencapai pengetahuan utama; karena bebas dari perbuatan jahat, mereka mencapai kebahagian tertinggi karena mampu melampaui dunia yang mengalami kematian dan kehancuran, mereka mencapai kekekalan.”

Arjuna tersenyum dan menganggukkan kepala tanda hormat dan setuju. Kemudian Arjuna bengkit dan bersiap untuk melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Krishna. Om gam ganapataye namaha.

Oleh: Luh Made Sutarmi
Source: Majalah Hindu Raditya, Edisi 239, Juni 2017