Kerangka-Kerangka Pemikiran Hindu [2]

(Sebelumnya)

Dan "Penerimaan terhadap Weda adalah sebuah pelaksanaan pengakuan bahwa pengalaman spiritual adalah sebuah cahaya yang besar dalam persoalan-persoalan ini daripada penalaran intelektual......... Sistem-sistem karakter filosofis adalah tidak banyak berkompromi dengan penerimaan Weda. "Pilihan-pilihan itu bahwa serat-serat Weda adalah memang sungguh liberal. Hal itu tidak menginginkan suatu pernyataan iman maupun pernyataan keyakinan terhadap Dewa ini atau itu.

Tradisi Weda mewujudkan pokok-pokok keberagaman sejauh sejumlah tradisi keluarga (sakhas) dianggap sebagai perintah yang setara, dan juga mengenal suatu keanekaragaman dari tradisi-tradisi lokal yang sah. bahkan para nastika mengembangkan keberagaman jiwa dalam kekolotan; hal itu dihadapi dengan pokok-pokok pandangan alternatif dan prosesnya banyak pertanyaan-pertanyaan harus tetap tarbuka, pertanyaan-pertanyaan yang menerima rebuah kemajemukan dalam jawaban-jawaban.

Tradisi intelektual Hindu telah sepakat dalam beragam cara-cara dengan situasi pluralistis ini. Beberapa orang telah menerima itu sebagai suatu persoalan fakta dan secara sederhana mengikuti pola-pola mereka sendiri tanpa melihat ke kanan atau ke kiri. Yang lainnya telah mengambil sebuah pendirian bertahan dan mepertentangkan dengan tujuan untuk mempertahankan kebenaran yang kerapkali mutlak, akhirnya, siddhanta pada kelompok pemikiran mereka sendiri. Bahkan yang lainnya telah membuat sebuah kajian ilmiah tentang semua itu, memperhatikan semacam yang melengkapi pandangan-pandangan. Di antara penulis-penulis klasik tersebut Vacaspati Misra pantas disebut. Ia menulis komentar-komentar ilmiah lebih banyak mengenai darsana, menelusuri, sebagaimana mestinya, kedalam jiwa dari masing-masing dan menjelaskan ajaran-ajaran mereka. Diantara penulis-penulis modern, S. Radhakrishnan yang tersirat dalam pikiran saya. Pemikiran universalnya mampu melihat hal-hal yang pokok dari kesatuan pemikiran Hindu di balik keberagaman sitem-sistem.

Filsafat Hindu atau Theologi Hindu?

Baik filsafat maupun theologi, apapun istilahnyanya yang digunakan saat ini, adalah terjemahan-terjemahan yang memadai bagi istilah India darsana. Darsama memuat psokologis dan fisika, penjelasan tentang teks-teks Weda dan pemikiran tentang bahasa, latihan-latihan psiko-psikis seperti meditasi, dan banyak lagi. Mereka menampilkan tipe pendekatan intelektual yang lain kepada dunia, alternatif-alternatif yang tidak hanya memberikan jawaban-jawaban melainkan bagi sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan oleh tradisi barat. Kita hanya memulai secara perlahan untuk menghargai dan memahami mereka. Alasan untuk kesepakatan dengan mereka dalam buku ini adalah bahwa tanpa perkecualian mereka mengenali, raison d'etre-nya sebagai pemalsu kepada suatu tujuan hakikat eksistensial ("religius") dan mereka mewakili renungan ajaran Hindu yang bertumpuk seiring zaman.

Sebuah ciri yang biasa pada seluruh darsana adalah bahwa kadang-kadang dasar ajaran-ajaran mereka diringkas menjadi sutra-sutra, "benang-benang pemandu", yang membantu untuk menyatakan secara tepat isi dari sistem-sistem dalam sebuah terminology teknis. Dan juga disediakan sebagai naskah-naskah bagi para siswa untuk diingat. Petunjuknya akan terdiri dari lebih banyak mengomentari tentang inti dari sutra-sutra dan memperluas makna dari istilah-istilah yang digunakan di dalamnya, menunjukkan perbedaan-perbedaan antara cara seseorang dengan yang lainnya dan menunjukkan bukti-bukti bagi kebenaran sutra.

Sejak banyaknya sutra-sutra yang adalah (hampir) tidak dapat dipahami tanpa sebuah uraian dari penjelasan kerapkali uraian itu (bhasya) telah menjadi penjelasan terperinci yang terpenting dalam sebuah sistem. Bhasya-bhasya ini dalam perubahannya telah menjadi obyek dari bagian dari uraian-uraian (vrttis dan tikas) dan keterangang-keterangan yang lebih jauh (tippanis), yang membentuk bahan yang seorang ahli dalam cabang pelajaran yang khusus itu harus mempelajarinya. Cendekiawan-cendekiawan Hindu telah menemukan lebih banyak nama-nama yang khas bagi cabang-cabang uraian dan penjelasan lebih jauh yang mereka punyai. Sutra-sutra yang kita miliki saat ini adalah tidak selalu merupakan hasil karya dari para penulis yang kita anggap berasal dari mereka. Akan tetapi mereka dapat dipercaya karena mengandung intisari dari ajaran pada sistem-sistem tersebut dan memberikan istilah teknis bagi masing-masing ajaran tersebut.

Dan di sini kita menghadapi keanehan yang lainnya. Kosakata dasarnya dibagi sebenarnya oleh keenam darsana. Tetapi makna yang diberikan kepada masing-masing istilah dan nilai tempat yang sesuai dengan mereka adalah sangat berbeda. Situasi telah mengacu pada pentingnya mengkhususkan pada sebuah darsana yang khusus lebih daripada mempelajari ajaran Hindu secara umum, sepeti seorang filsuf atau seorang teolog. Setiap darsana memiliki sebuah istilah tekinis yang tinggi, kerapkali istiah baru diciptakan atau makna yang sangat mengkhusus diberikan untuk istilah-istilah yang digunakan meskipun sebuah istilah yang seseorang tidak memperolehnya dengan mempelajari sastra Sansekerta dan membaca kesusastraan Sansekerta.

Cendekiawan-cendekiawan tradisional India yang ahli dalam bidang darsana menunujukkan keahlian mereka dalam gelar akademik mereka, dan mereka tidak akan menganggap diri mereka sendiri mampu untuk memberi petunjuk di bidang-bidang yang lain. membaca sebuah teks dari sebuah yang spesifik dalam banyak cara seperti mempelajari sebuah bahasa baru: lazimnya suara-suara dari kata-kata yang mungkin ada, maknanya harus dipelajari dari semula dan harus tidak dibingungkan dengan yang ada pada sistem-sitem lain.

Wakil-wakil dari "filsafat India" di Inggris seringkali membatasi diri mereka sendiri untuk menjelaskan elemen-elemen itu dari darsana-darsana Hindu yang memiliki sebuah persamaan dalam filsafat barat kontemporer dan meninggalkan sisanya. Ini tidak hanya memberikan suatu kesan yang condong pada pemikiran Hindu, hal itu sering mencegah siswa dari pelajaran-pelajaran yang paling bernilai untuk dipelajari dari semacam sebuah kajian, yang benar-benar asli dan memberikan sumbangan yang khusus bagi pemikiran manusia yang diberikan oleh India. Ketika batasan-batasan terhadap ruang dan pertimbangan-pertimbangan terhadap hal yang mudah dicapai tidak memperbolehkan banyak perincian teknis tentang darsana-darsana Hindu pada bab-bab berikutnya, penjelasan tersebut mencoba untuk menyampaikan gagasan bahwa darsana-darsana Hindu menawarkan tidak hanya persamaan-persamaan dengan pemikiran Barat namun memuat elelmen-elemen baru untuk yang tidak memiliki persamaan-persamaan. Terjemahan-terjemahan tentang banyak teks-teks utama begitu pula kajian-kajian khusus tersedia bagi penelitian yang lebih terperinci.

Perhitungan dan perpaduan dari darsana-darsana mengikuti bagan tradisional yang telah diterima paling tidak selama seribu tahun yang lampau. Dalam karya-karya seperti Sarvadar-sanasamgraha milik Madhava, banyak darsana-darsana lain disebutkan yang tidak menemukan tempatnya diantara keenam yang dijelaskan di sini. Begitu pula penandaan dari darsana-darsana klasik tidak harus selalu tetap yang sama dalam sejarah India. Jadi Nyaya menggunakan pada waktu sebelumnya untuk menandai sistem yang hari ini disebut Mimamsa, yoga digunakan sebagai sebuah nama bagi Vaisesika, Anviksiki menandai Nyaya kita, dan lain-lain. Keterangan seperti ini mungkin tidak tampak pada arti yang sangat besar bagi seorang pembaca yang mencari keterangan yang mendasar tentang sistem-sistem Hindu, tetapi itu akan menjadi kepentingan bagi mereka yang mencari keterangan dari sumber-sumber dan menginginkan untuk belajar lebih jauh tentang sejarah dari tiap-tiap darsana.

Dengan melakukan hal itu, mereka akan menemukan bahwa penjelasan tersebut menawarkan di sini pemusatan pada apa yang disebut dengan "fase klasikal" pada setiap darsana. banyak dari pengembangan yang asli dan awal telah selanjutnya menjadi tidak terugkap, dan mempertentangkan pandangan-pandangan yang ditemukan pada sumber-sumber yang lebih tua harus didamaikan. Pengembangan- pengembangan lagi yang baru sering berangkat dari banyak arah-arah yang berbeda dan telah menjadi banyak terlalu berbelit-belit untuk memungkinkan sebuah ringkasan non teknis.

Perhitungan ini tidak mewakili sebuah evaluasi. Masing-masing sistem berikut menganggap dirinya sendiri yang paling tepat untuk mencapai tujuannya. Sejarah intelektual India seiring milenium yang lampau dan sebelumnya, terdiri dari perdebatan-perdebatan yang berkelanjutan antara darsana-darsana astika dan nastika seperti juga antara ketaatan dari para saddarsana, dan antara perguruan-perguruan yang bertentangan dari darsana yang sama. Bahkan naskah-naskah yang tidak bertentangan secara eksplisit dan banyak lagi! memuat acuan-acuan yang tidak terhitung dan menyerang sistem-sistem lainnya. Ketelitian dalam pengungkapan dan ketajaman pemikiran adalah kualitas yang dicita-citakan oleh seluruh pemikir-pemikir Hindu profesional.

Terjemahan-terjemahan berbahasa Inggris dari teks-teks tersebut tidak sepenuhnya pantas bagi aspek sistematika-sistematika India ini, semenjak mereka harus memenuhi dengan banyak kata-kata dan membatasi banyak istilah-istilah, untuk menyediakan sebuah teks yang dapat mencegah siswa dari pelajaran-pelajaran yang paling bernilai untuk dipelajari dari semacam sebuah kajian, yang benar-benar asli dan memberikan sumbangan yang khusus bagi pemikiran manusia yang diberikan oleh India. Ketika batasan-batasan terhadap ruang dan pertimbangan-pertimbangan terhadap hal yang mudah dicapai tidak memperbolehkan banyak perincian teknis tentang darsana-darsana Hindu pada bab-bab berikutnya, penjelasan tersebut mencoba untuk menyampaikan gagasan bahwa darsana-darsana Hindu menawarkan tidak hanya persamaan-persamaan dengan pemikiran Barat namun memuat elelmen-elemen baru untuk yang tidak memiliki persamaan-persamaan. Terjemahan-terjemahan tentang banyak teks-teks utama begitu pula kajian-kajian khusus tersedia bagi penelitian yang lebih terperinci.

Perhitungan dan perpaduan dari darsana-darsana mengikuti bagan tradisional yang telah diterima paling tidak selama seribu tahun yang lampau. Dalam karya-karya seperti Sarvadar-sanasamgraha milik Madhava, banyak darsana-darsana lain disebutkan yang tidak menemukan tempatnya diantara keenam yang dijelaskan di sini. Begitu pula penandaan dari darsana-darsana klasik tidak harus selalu tetap yang sama dalam sejarah India. Jadi Nyaya menggunakan pada waktu sebelumnya untuk menandai sistem yang hari ini disebut Mimamsa, yoga digunakan sebagai sebuah nama bagi Vaisesika, Anviksiki menandai Nyaya kita, dan lain-lain. Keterangan seperti ini mungkin tidak tampak pada arti yang sangat besar bagi seorang pembaca yang mencari keterangan yang mendasar tentang sistem-sistem Hindu, tetapi itu akan menjadi kepentingan bagi mereka yang mencari keterangan dari sumber-sumber dan menginginkan untuk belajar lebih jauh tentang sejarah dari tiap-tiap darsana.

Dengan melakukan hal itu, mereka akan menemukan bahwa penjelasan tersebut menawarkan di sini pemusatan pada apa yang disebut dengan "fase klasikal" pada setiap darsana. banyak dari pengembangan yang asli dan awal telah selanjutnya menjadi tidak terugkap, dan mempertentangkan pandangan-pandangan yang ditemukan pada sumber-sumber yang lebih tua harus didamaikan. Pengembangan- pengembangan lagi yang baru sering berangkat dari banyak arah-arah yang berbeda dan telah menjadi banyak terlalu berbelit-belit untuk memungkinkan sebuah ringkasan non teknis.

Perhitungan ini tidak mewakili sebuah evaluasi. Masing-masing sistem berikut menganggap dirinya sendiri yang paling tepat untuk mencapai tujuannya. Sejarah intelektual India seiring milenium yang lampau dan sebelumnya, terdiri dari perdebatan-perdebatan yang berkelanjutan antara darsana-darsana astika dan nastika seperti juga antara ketaatan dari para saddarsana, dan antara perguruan-perguruan yang bertentangan dari darsana yang sama. Bahkan naskah-naskah yang tidak bertentangan secara eksplisit dan banyak lagi! memuat acuan-acuan yang tidak terhitung dan menyerang sistem-sistem lainnya.

Ketelitian dalam pengungkapan dan ketajaman pemikiran adalah kualitas yang dicita-citakan oleh seluruh pemikir-pemikir Hindu profesional. Terjemahan-terjemahan berbahasa Inggris dari teks-teks tersebut tidak sepenuhnya pantas bagi aspek sistematika-sistematika India ini, semenjak mereka harus memenuhi dengan banyak kata-kata dan membatasi banyak istilah-istilah, untuk menyediakan sebuah teks yang dapat dimengerti karena para pembaca tidak mendalami seluk-beluk dari sebuah tradisi intelektual yang memiliki martabat dan kemasyuran pada suatu waktu ketika pemikiran Yunani sedang diejawantahkan. Hal itu bukan tanpa arti bahwa di zaman kita ilmuwan-ilmuwan barat yang ternama seperti H. Weyl. E. Schordinger, C.F. Von Weizsäcker, D. Böhm, dan banyak persamaan-persamaan yang ditemukan lainnya antara pemikiran ilmiah modern dan beberapa dari darsana-darsana dalam ajaran Hindu.

Beberapa ahli-ahli logika kontemporer barat dan filsuf linguistik keranjingan untuk menggali ke dalam keruwetan Mimatnsa dan Nyanya, Yoga. Juga, kini dipelajari secara luas dan dipraktekan di seluruh dunia. Apabila kita dapat mempelajari dari India, hal itu pastilah dari yang terdapat pada sadarsana, yang dapat mengajari kita pelajaran-pelajaran yang bernilai baik dalam cakupan-cakupan di mana kita merasa mampu maupun dalam ruang lingkup yang kita ketahui.

Inti yang terpenting dalam filsafat yang dipelajari di barat makna daripada sistematika yang bebas dan pemikiran kritis, pada perenungan yang masuk akal dan argumentasi yang terus menerus, harus digunakan dengan persyaratan-persyaratan ketika diterapkan pada "filsafat India". Sebagaimana siswa dari sejarah-sejarah pokok dari filsafat India, seperti yang dididik oleh S.N. Dasgupta, S Radhakrishna, atau M. Hiriyanna, akan segera menemukan filsafat-filsafat India suatu keseluruhan yang tidak terlepas dari teologi India; sistematika pemikiran India, meliputi sejarah, telah diikuti dengan cita-cita akan menemukan keselamatan. Keisti¬mewaan di dalam filsafat India-fisika dan logika, antropologi dan metafisika, dan lain-lain-lagipula tidak cocok dengan yang digunakan oleh gagasan-gagasan barat.

Penggunaan istilah-istilah teknis yang diciptakan oleh tradisi kebudayaan barat untuk menjelaskan pemikiran dan sistematika-sistematika dari tradisi-tradisi India adalah pada saat yang sama tak dapat dihindarkan dan menyesatkan, akan terhindarkan karena ini adalah istilah-istilah yang kita ketahui dan mengerti. Beresiko, karena mereka memiliki konotasi-konotasi yang tidak secara keseluruhan mengena. Demikian, tertulis pada Logic in the West and in India," Kuppswami Sastri menyatakan:

Mereka yang akrab dengan logika barat dan berhasrat terhadap pengkajian logika India dari sebuah sejarah da sudut pandang yang komparatif akan dapat memahami dengan baik suatu kenyataan bahwa, ketika seseorang mungkin menemukan persamaan-persamaan yang meyolok dalam sistem-sistem logika India dan barat, seseorang tidak akan tersesat oleh persamaan-persamaan semacam itu dan kehilangan pandangan terhadap perbedaan-perbedaan mendasar dalam hal jangkauan dan metode, yang diungkap oleh logika India dalam kemunculan dan pengembangannya, sebagai perbandingan terhadap logika Barat,

Keenam sistem-sistem ortodok tersebut telah dikelompokkan-dalam tiga pasang daru zaman dahulu. Alasan untuk hal ini, dalam banyak kasus-kasus, adalah sangat jelas ; mereka melengkapi satu sama lain dalam berbagai cara. Bagaimanapun juga, hal itu tidak seharusnya diabaikan bahwa masing-masing dari mereka dikembangkan sebagai sebuah sistem yang sangat independen, yang mampu mencapai tujuan-tujuan dengan metodenya sendiri.

 Source: Warta Hindu Dharma NO. 531 Maret 2011