Kerangka-Kerangka Pemikiran Hindu

Segenap kebudayaan, sebagaimana bahasa-bahasa yang dihubungkan dengan mereka mengungkap, telah melakukan percobaan-percobaan untuk mengubah pengalaman-pengalaman hidup mereka menjadi pemikiran-pemikiran dan menjadi gambar-gambar dunia simbolis yang masuk akal. Kebudayaan India pun telah melakukannya lebih dari pada terlebih dari yang lainnya. Menciptakan kata-kata, menterjemahkan kenyataan menjadi konsep-konsep dan menguraikan sistem-sistem penjelasan atas dasar asas-asas universal adalah beberapa hal dari keistimewaan peradaban India yang paling menonjol. Benar-benar tulisan yang banyak sekali dimilkinya, yang mungkin hanya sebuah serpihan dari apa yang pernah ada, adalah pembuktian yang mengesankan untuk hal ini.

Di dalam kesusastraan religius India yang begitu besar, sekelompok kata-kata dan ide-ide muncul: kata-kata dan ide-ide membentuk akal, kesadaran, pemikiran, cit, caitanyam, caitta. Agama-agama India telah tersadar atas kesadaran sejak waktu yang sangat awal, tidak hanya sejauh pembelajaran "kesadaran belaka" tentang Vijnanavada buddhism atau pembelajaran "kesadaran mutlak sendiri" tentang Advaita Vedanta. Namun kesadaran atas akal itu seperti kenyataan yang tak dapat diperkecil lagi, sebuah kenyataan yang berbeda dari alam dan masyarakat, adalah sebuah faktor yang sangat penting dalam sejarah Hindu sebagai suatu keseluruhan.

Mempertimbangkan kenyataan fisik atas tanah suci penganut Hindu sebagai suatu pendukung bagi ajaran Hindu akan menjadi cukup mudah diterima. Bagaimanapun juga, kehidupan umat Hindu dalam wilayah yang disucikan ini. untuk melihat, dalam tatanan-tatanan masyarakat spesifik yang diciptakan oleh ajaran Hindu, sebuah dukungan yang bertingkat-tingkat akan secara sepadan muncul dengan cukup masuk akal. Seluruh umat Hindu, dalam cara-cara yang sangat penting, dipengaruhi oleh varnasramadharma. Hal tersebut mungkin memerlukan beberapa perdebatan, bagaimanapun juga, untuk membuktikan bahwa satdarsana adalah dukungan-dukungan struktural pada ajaran Hidu tentang persamaan kepentingan.

Hinduisme : Sebuah Tradisi Pengetahuan

Tradisi Hindu telah senantiasa menunjukkan rasa hormat yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Itu diletakkan pada sebuah kitab, Weda, yang diingat dan dipelajari, dikelilingi oleh buku-buku lainnya, yang disusun untuk melindunginya, menjelaskannya dan menerapkannya. Tidak hanya harus seorang Brahmin, menurut hukum tradisi Hindu, yang mengabdikan bagian pertama hidupnya untuk belajar, svadhaya, belajar pada diri sendiri, adalah sebuah tugas yang permanen, yang dikenakan bagi hidup. Meskipun perintah untuk mengabdikan bagian pertama dari hal seseorang untuk belajar mungkin tidak selalu ditaati secara literal oleh semua Brahmin, belajar sebagai suatu kebiasaan yang jelas memberikan ciri bagi mereka seluruhnya dan membentuk keseluruhan kelas itu.

Belajar, menurut Manu, diperintahkan oleh Sang pencipta itu sendiri "untuk melindungi jagat raya" dan itu juga adalah sarana yang paling efektif untuk mengatasi hasrat-hasrat hawa nafsu dan mendapatkan pengendalian diri. Manu mengutip sebuah syair kuno, "Pengetahuan suci dicapai seorang Brahmin dan dikatakan baginya: 'Aku adalah kekayaan-Nya, jagalah aku, bawalah aku tidak pada seseorang pencemooh, maka jagalah aku akan menjadi sangat kuat.

Pengetahuan yang diperoleh seorang Brahmin adalah satu-satunya tuntutan terhadap keutamaan: "Seorang manusia tidak dianggap mulia karena rambutnya yang putih; dia, yang meskipun muda, telah mempelajari Weda, para dewa menganggapnya menjadi mulia." Pelajaran Weda, menurut Manu, telah ditetapkan sebagai bentuk tapa yang tertinggi (kecermatan, pengendalian diri) bagi seorang Brahmin.

Secara bersamaan, peranan guru selalu menjadi penting. "Mereka memanggil gurunya 'bapak' karena ia memberikan Weda itu: karena tak seorangpun dapat melaksanakan sebuah upacara suci sebelum pentasbihan dengan kalungan rumput Munja."

Sang guru disetarakan dengan Dewa, bahkan ditempatkan di atas Dewa, karena ia tidak hanya dapat menyampaikan pengetahuan suci tersebut melainkan ia juga dapat memohon pengampunan atas nama pengikut-pengikutnya dalam perkara kesalahan-kesalahan mereka. Raja, menurut Kautilya, mempunyai tugas untuk melihat bahwa tidak ada siswa di kerajaannya yang mungkin kekurangan kebutuhan pokoknya.

Keutamaan para Brahmin, yang fungsi alamiahnya adalah belajar dan mengajar, adalah sebuah petunjuk lebih jauh pada tempat pusat belajar yang digunakan dalam masyarakat sesuai ajaran Weda. Pusat-pusat agama Hindu yang sesungguhnya selalu menjadi pusat-pusat belajar, menjadi mereka asrama-asrama India klasik atau pathasala-pathasala pada waktu berikutnya, perpustakaan-perpustakaan pribadi dari masing-masing sarjana atau semacam pusat-pusat perguruan tinggi yang besar bagi golongan-golongan yang utama.

Pada perluasan dimana ide-ide brahmin membentuk penampilan agama Hindu, dan mereka melakukannya demikian dengan ke efektifan, ilmu pengetahuan, dan penelitian yang hebat yang menduduki sebuah tempat di dalamnya. Jika banyak pengetahuan brahmana terbentuk dalam penghapalan-penghapalan naskah-naskah suci dan memperoleh keahlian-keahlian untuk melaksanakan ritual-ritual, renungan, dan pengujian secara kritis terhadap isi dari tradisi adalah juga mudah terlihat sejak waktu yang sangat awal. Upanisad memuat sejumlah perdebatan-perdebatan antara pendeta-pendeta terpelajar dan menunjukan bahwa beberapa garis pemikiran telah mengkristal menjadi kelompok-kelompok yang berhu-bungan dengan nama-nama yamg terkemuka.

Kemunculan budisme dan jainisme dan sekumpulan besar pergerakan-pergerakan lainnya di dalam hinduisme, yang mengkritisi beberapa aspek dari hal tersebut menunjukkan bahwa pada abad kelima sebelum masehi sistem-sistem pemikiran yang lengkap telah terbentuk, ditantang oleh sisitem-simtem yang berlawanan, dan bahwa itu dipertimbangkan menjadi penting untuk memperoleh ide yang jelas dan tetap memperkuat intelektual dalam kehidupan praktis. Pertentanga-pertentangan menakutkan yang terjadi antara wakil-wakil dari kelompok-kelompok pemikiran yang berbeda-beda - peretentangan-pertentangan pendapat yang tidak terbatas pada buku-buku dan pengasingan akademik tetapi diangkat di muka umum dengan peran serta sejumlah sejumlah besar masyarakat-adalah suatu fakta lebih jauh yang membenarkan kepentingan yang diberikan untuk memikirkan dan membangun sistem.

Pengembangan sistem-sistem Hindu seutuhnya pada awal abad pertengahan India tidak meninggalkan kesangsian bahwa mereka menganggap itu pada puncak kepentingan untuk memiliki gagasan-gagasan yang tepat pada kunci konsep-konsep religi - kebahagiaan yang indah dari seseorang tergantung pada hal itu sesuai dengan penjabaran Sankara.

Sebaliknya bagi barat, dimana pembicaran-pembicaraan filsafat dan teologis, dengan sangat sedikit pengecualian adalah sebuah perhatian bagi filsuf-filsuf profesional dan ahli-ahli teologi semata, India perdebatan ini menarik perhatian seluruh lapisan masyarakat. Meskipun tidak semua oran di India sanggup memperdebatkan pokok-pokok yang lebih memadai tentang pedebat-perdebatan dalam sastra, bahkan hari ini banyak orang yang mengetahui tentang perdebatan antara pengikut-pengikut Sankara dan Ramanuja dan dapat memperbincangkan pokok-pokok dimana Agama Buddha berbeda dengan Agama Hindu, atau dapat menurun argumen-argumen yang mendukung atau menentang saguna dan nirguna Brahman dan seterusnya. Banyak dari bhajan-bhajan yang populer, syair-syair religius yang dinyanyikan saat upacara-upacara populer, memuat sejumlah dari semacam pemikiran filsafat tinggi yang menakjubkan.

Penetrasi intelektual pada kenyataan, pencerahan, pengetahuan, dan wawasan adalah benar-benar pusat dalam agama Hindu. Sistem-sistem klasik tersebut adalah bagian dari kerangka agama Hindu sebanyak hal lainnya. Seperti pada persoalan pada pendukung lainnya, ada sebuah kenyataan yang berhubungan dengan itu.

Darsana dalam ajaran agama Hindu telah menyediakan wawasan yang sebenarnya, telah menolong orang-orang untuk memperoleh pengetahuan sesungguhnya, dan telah ditemukan penuntun-penuntun yang dapat dipercaya dalam pencarian kebenaran. Itu adalah hal yang disadarkan oleh bagian dari kebenaran, bahwa. kemerdekaan diperoleh, dan bahwa pengalaman transenden yang telah mencegah Hindu menjadi sebuah ideologi bagi sebuah kerangka kekuatan, sebuah pelarian dari para pemimpi, atau sebuah pandangan romantis tentang alam semesta.

Kedekatan antara teori religius dan penerapan sosial di india seiring waktu membawanya dengan reaksi-reaksi kuatnya dalam kehidupan yang. "nyata" pada perubahan-perubahan dalam orientasi filsafat teologis. Demikianlah, penerimaan ajaran Buddha atau jainisme membaw semacam suatu kedudukan yang hilang, dengan kaibat-akibat luar biaa atas keprihatinan tersebut. Hal itu juga, tentu saja, menghilangkan seseorang dari kebahagiaan setelah mati. Dalam hubungannya dengan pelaksaan Sraddha, yang seharusnya menjamin kebahagiaan para leluhur, ini memiliki akibat-akibat yang tidak hanya mengenai seluruh garis keturunan seseorang. Ketika ajaran Hindu yang meliputi sejarahnya telah menunjukkan sebuah penemuan yang bagi pemikiran dan sisten bangunan, kebutuhan untuk tetap di dalam hubungan sosio-kultural dalam tradisi Arya menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana seseorang dapat berjalan dengan pemikiran kritis.

Tradisi Weda tidak menganggap diri sendiri sebagai hasil pemikiran manusia: hal itu menghubungkan isinya sebagai suatu wahyu yang diterima oleh pendeta-pendeta dalam meditasi dan kerasukan, itu dicapai pada pengelolaan dan penduplikatan pernyataan-pernyataan dari pemikiran ini melalui pengalaman-pengalaman ajaran yoga, yang dalam hal itu membebaskan pengajaran Weda dari kecaman dengan menyatakan aslinya apauruseya, bukan muatan manusia tetapi senantiasa ada. Demikianlah, Weda diterima menjadi dasar dari segala pemikiran dan bukan objeknya yang harus dianalisa atau diperbincangkan. Tidak ada tradisi ditemukan pada pemikiran analisis dan kritis seorang diri, suatu masyarakat memerlukan lebih dari filsafat pemikiran untuk memperkaya dan menggenapi bagi kebutuhan anggota-anggotanya.

Meliputi banyak hal dan penelitian yang mendalam sebagaimana filsafat India, hal tersebut harus menghargai batasan-batasan yang dibentuk oleh penerapan kehidupan. Bergerak melampaui batasan-batasan yang dibentuk oleh penerapan kehidupan. Bergerak melampaui batasan-batasan ini menempatkan seseorang di luar masyarakat. Para nastika, orang yang tidak menerima Weda sebagai sumber, telah melakukannya. Para astika, orang yang menginginkan untuk tinggal dalam tradsi harus tinggal di dalam bingkai pertanyaan-pertanyaan yang diperkenankan oleh Weda. Hal itu nampak dari polemik-polemik bahwa persoalan yang sulit tentang penegasan batas-batas ini telah diadakan diantara sistem-sistem astika sejak abad ke tujuh.

Kurmila Bhatta, sumber yang sangat besar dalam Mimamsa dan pembela yang kukuh dalam sanatana dharma melawan ajaran Buddha, mengganggap filsafat samkhya, yoga, Pancaratra, dan Pasupata sebagai nastika. Beberapa dari pengikut-pengikut Madhava mengelompokkan Advaita Vedanta dalam sankara sebagai pancannabuddha, ajaran Buddha yang tersembunyi, dan jika tidak ortodok. Bahkan sekarang, posisi ini diambil tidak hanya oleh pengikut caitanaya dan orang-orang barat modern yang mewartakannya melainkan juga oleh beberapa filsuf-filsuf sarjana. Sankara sendiri menyalahkan Samkhya sebagai ajaran Weda dan ajaran pradhana sebagai sesuatu yang berhubungan dengan klenik. S. Radhakrisnan, dengan sungguh jelas menempatkan dirinya bersama dengan tradisi otodok menjelaskan dasar pemikirannya bagi sikap ini demikian:

Apabila daya nalar manusia yang tanpa bantuan tidak dapat mencapai pegangan realitas apapun dengan sarana-sarana pemikiran belaka, bantuan mungkin dicari dari tulisan-tulisan terbesar dari pendeta-pendeta yang menuntuk untuk memperoleh pencapaian pegangan kepastian spiritual. Jadi usaha-usaha yang keras dibuat untuk menyesuaikan dengan alasan keyakinan apa yang menerima secara implisit. Ini bukanlah sebuah sikap irrasional, sejak filsafat adalah hanya sebuah usaha giat untuk menafsirkan keleluasaan pengalaman tentang kemanusiaan..... Apabila kita tidak dapat menentuka sesuai logika kebenaran tentang apapun, begitu banyak hal yang lebih buruk bagi logika. (Selanjutnya)

 Source: Warta Hindu Dharma NO. 530 Februari 2011