Kepercayaan dan Perbuatan

Kata semboyan bagi semua makhluk, terutama dalam kamus peradaban manusia baik, bukanlah "Aku"melainkan "Engkau". Siapa yang akan memperdulikan apakah ada sorga ataupun neraka, siapa yang akan memperdulikan apakah dalam badan ini ada jiwa ataukah tidak ada jiwa, siapakah yang akan memperdulikan kalau disana ada keadaan kekal atau tidak kekal? Ini dunia kita, dunia saudara dan dunia kami, yang penuh dengan serba derita. Terjunlah kedalam dunia ini seperti Sang Buddha telah berbuat, dan berdayalah untuk mcngurangi penderitaan-penderitaan ini, atau mati didalam usaha tersebut. Lupakan diri sendiri ini pelajaran utama yang harus dihafalkan, tidak perduli seorang ber-Tuhan atau tidak ber-Tuhan, tidak perduli seorang beragama ataupun tidak beragama, saudara islam-kah atau kristen-kah, tetapi ajaran satu yang jelas dan nyata uniuk semua ini adalah; penghancuran si egoisme yang kecil demi untuk membangunkan batin sejati (the destruction of the little self and the building up of the real self).

Apakah ajaran ini dapat di praktekkan dalam masyarakat modern? Kebenaran tidak pernah memberi hormat kepada masyarakat manapun, apakah itu modrn ataukah itu masyarakat tua. Tetapi masyarakatlah yang harus menyatakan hormat kepada kebenaran, atau musnahlah masyarakat itu (yang tidak mau memberi hormat dan tempat kepada KEBENARAN). Masyarakat harus tersusun di atas batu-batu kebenarar; tetapi kebenaran (truth) tidak perlu menyusuaikan diri kepada masyarakat, Andaikata suatu kebenaran sejati ini yang tidak mengutamakan diri tidak dapat dipraktekan di dalam masyarakat, manusia-manusia itu ada lebih baik meninggalkan masyarakat dan masuk hidup didalam hutan. Masyarakat itu adalah masyarakat yang terbesar dan termulia dimana kebenaran-kebenaran tertinggi dapat dipraktekkan. Itulah pendapat kami, dan jikalau masyarakat itu belum dapat menerima kebenaran-kebenaran tertinggi (highest truth), berusahalah saudara memperkenankan itu kedalam masyarakat, dan lebih lekas saudara kerjakan ada lebih baik. Berdirilah wahai pria dan wanita diatas semangat ini, secara gagah berani dan penuh kepercayaan menegakkan kebenaran, memperaktekan kebenaran secara gagah perkasa!

Semenjak kecil manusia telah diajarkan bahwa mereka adalah lemah dan berdosa. Ajarkanlah bahwa mereka adalah anak-anak yang baik dan mulia dari keturunan nan kekal agung, tidak pernah mati sekalipun terhadap mereka yang berwujud paling pernah mati sekalipun terhadap mereka yang berwujud paling lemah. Bimbinglah supaya pikiran pikiran yaiig kuat, positif berguna memasuki kedalaman otak-otak mereka sedari masih kecil. Buka juga kepala saudara terhadap pikiran-pikiran demikian, dan jangan memberikan pikiran-pikiran itu menjadi lemah dan lumpuh. Camkamlah kepada pikiran saudara: "Kami adalah Beliau, kami adalah Beliau". Biarlah kata-kata ini menyanyi terus siang dan malam didalam pikiran anda dengan irama-irama yang indah, dan jika kelak titik kematian itu tiba, nyatakanlah kedalam pikiran: "aku adalah Beliau". Ini suatu ajaran Kebenaran; seantero kekuatan dunia ini ada ditangan anda. Keluarkan segala pikiran-pikiran tahayul yang pernah melemahkan dan menutupi pikiran anda. Biarlah kita menjadi orang-orang pemberani. Yakinlah pada kebenaran ini, dan praktekkan kebenaran ini. Arah tujuan terakhir itu boleh jadi suram dan masih jauh, tetapi bangunlah, sadar, dan jangan berhenti, maju saudara, sebelum arali tujuan itu dicapai dengan sempurna.

Saudara tidak dapat menyetujui semua pendapat-pendapat, inilah memang fakta dan kami maklum. Kami tidak menentang sesuatu golongan tertentu. Kami gembira bahwa golongan-golongan itu ada sekian banyaknya dan semoga mereka memperbanyak jumlahnya. Mengapa demikian? jawabanya sederhana saja: oleh karena jikalau saudara dan kami dan saudara-saudara lainnya yang ada disini semuanya hanya berpikiran satu pendapat yang persis sama, maka disitu akan tidak ada pikiran-pikiran (persoalan-persoalan) lainya yang perlu kita pikirkan. Telah kita ketahui bahwa dua atau lebih daya dibutuhkan untuk menimbulkan benturan supaya dapat menyebabkan pergerakan (motion). Adalah benturan dari pikiran yang berbeda, perbedaan-perbedaan dari pendapat pikiran, yang membangunkan adanya pikiran.

Pada sungai yang diam disitu tidak terdapat pusaran mata-air, didalam air yang mati semuanya diam, jikalau agama-agama itu mati, akan tidak ada lagi golongan-golongan, dan disitu akan ada ketenangan dan keharmonisan yang kekal daripada keadaan gelap dalam lubang kubur. Tetapi selama manusia masih berpikir, senantiasa akan ada golongan-golongan aliran. Perbedaan-perbedaan atau variasi adalah ciri-ciri dari kehidupan, dan yang demikian harus ada. Kami harap yang demikian itu akan bertambah berlipat ganda banyaknya sehingga akhirnya akan sedemikian banyak golongan-golongan/aliran-aliran seperti juga banyaknya jumlah seluruh dunia, dan setiap orang akan mengambil cara-caranya sendiri menurut kemauan individu sesuai dengan pikiran sendiri didalam agamanya.

Hendaklah kita tidak menghukum pada pendapat-pendapat pikiran orang lam (yang bertentangan). Karena semuanya dari kita ini akan menuju kearah tujuan terakhir yang sama. Perbedaan antara yang lemah dan yang kuat ada pada suatu derajat (pengertian); perbedaan antara yang baik dan yang jahat ada pada suatu derajat (pengertian); perbedan antara sorga dan neraka ada pada suatu derajat (pengertian); perbedan antara hidup dan mati ada pada suatu derajat (pengertian); semua perbedaan-perbedan didunia ini hanyalah dalam taraf derajat pengertian; dan bukan pada jenisnya, karena KESATUAN JENIS adalah rahasianya dari suatu yang ada.

Semuanya hanyalah satu, yang sendiriNya memperlihatkan bentuk-bentuk, baik sebagai pikiran, sebagai makhluk, ataupun sebagai jiwa, maupun sebagai badan, dan perbedaan-perbedaan itu hanyalah pada derajat pembabaran (the difference is only in degree of expression). Oleh karena itu tidaklah patut kita menghina atau menghukum orang-orang lain yang belum mengembangkan derajat yang sama. Jangan menghukum kepada siapapun, jikalau saudara dapat mengulurkan tangan untuk menolong, ulurkanlah, jikalau tidak dapat, lipatlah tangan anda, berkahilah saudara itu, dan biarkan dia pergi melanjutkan perjalanannya sendiri.

Memburuk-burukkan dan menhukum-hukum pendapat orang lain bukanlah caranya untuk bekerja (didalam bidang apapun). Tidakkah pernah perkerjaan itu dilakukan dengan sempurna dengan cara demikian. Kita telah menggunakan energi (amat sia-sia) untuk menghukum-hukum orang lain. Kritikan dari hukuman (condemnation) adalah perbuatan-perbuatan yang memakai energi kita secara tidak bermanfaat, karena toh pada akhirnya kita akan mengetahui bahwa semuanya akan melihat barang yang sama, lebih cepat atau lebih lambat semuanya akan mendekati pada cita-cita yang sama, dan perbedaan-perbedaan itu paling jauh adalah perbedaan dalam menggunakan bahasa untuk menyatakan barang tang serupa.

Melalui filsafat yang tinggi-tinggi ataupun yang rendah-rendah, melalui kisah-kisah penghidupan yang paling halus atau dongeng-dongeng yang amat kasar, melalui upacara yang hikmat dan hormat atau pembacaan doa-doa yang keras dan jumawa, setiap golongan, setiap manusia, setiap bangsa, setiap agama baik disadari ataupun tidak, semunya berusaha menuju ke atas kerasah sifat-sifat Ketuhanan Yang Maha Esa. Setiap pengertian kebenaran yang dicapai oleh manusia tidak lain dari pada suatu aspek dari sifat-sifat Ketuhanan dan bukan dari aspek yang lainnya.

Umpama kita semua masing-masing membawa satu tempat air di tangan untuk diisi air dari sebuah kendi yang sama. Seorang membawa sebuah cangkir, yang lainnya membawa sebuah kendi, yang lainnya lagi sebuah panci, dan seterusnya, bahwa kita semuanya akan mengisi penuh tempat-tempat air kita. Air dari sungai yang satu ini sudah tentu akan mengambil bentuk-bentuk yang berlainan selaras dengan tempat air yang dibawa oleh masing-masing. Dia yang membawa cangkir akan mendapatkan bentuk air itu di dalam sebuah cangkir, dia yang membawa kendi airnya itu akan memperlihatkan bemtuk sebuah kendi, dan demikian seterusnya dengan yang lain-lainnya tetapi meski bagaimanapun, sang air dan tidak lain memang itu air, adalah didalam tempatnya.

Sama halnya dengan agama pikiran kita sampai juga dengan tempat air ini, dan setiap orang dari kita berusaha masing-masing untuk mencapai relisasi Ketuhanan. Tuhan adalah seperti juga itu air yang mengisi tempat-tempat air, dan setiap wujud terdapat pandangan akan Tuhan tertentu yang memperlihatkan selaras dengan bentuk air itu. Tetapi beliau adalah satu. Beliau Tuhan dalam setiap kejadian atau keadaan (He is God in every case). Inilah pengakuan yang utama dari pelajaran Ketuhanan yang dapat kita capai. (Bersambung)

Oleh: Vivekananda
Source: Warta Hindu Dharma NO. 538 Oktober 2011