Kepemimpinan dan Kepemimpinan Hindu [2]

(Sebelumnya)

Sementara itu, ajaran Parikesit yang tertuang dalam Atharvaveda juga menyebutkan tentang nyanyian pujian terhadap raja menyatakan bahwa pertanian dan perkebunan hendaknya berada dalam kondisi subur, perdamaian dan kebahagaiaan memiliki kedudukan yang penting didalam suatu kerajaan, dan vang namanya kelangkaan hendaknya tidak terjadi dalam kerajaan.

Pemimpin yang baik menurut Hindu adalah pemimpin yang mampu memberikan tauladan, selalu mengusahakan kesejahteraan rakyat (sukanikangrat), dan menghindari kesenangan pribadi (agawe sukaning awak). Hal ini ditegaskan dalam Arthasastra, bahwa kebahagiaan kepala Negara terletak pada kebahagiaan rakyatnya, apapun yang menyebabkan dirinya senang hendaknya tidak beranggapan bahwa itu yang baik, tetapi apapun yang membuat rakyat bahagia itulah yang terbaik bagi seorang raja.

Dalam menjalankan kepemimpinannya seorang pemimpin wajib menjalankan konsep-konsep kepemimpinan Hindu yang telah dituangkan dalam kitab suci. Berbagai kitab yang berisi tentang konsep-konsep kepemimpinan seperti: Nitisastra, Arthasastra, Manawadharmasastra, Kakawin Ramayana, dan sebagainya memberikan petunjuk-petunjuk tentang cara mengelola Negara dengan baik dan berorientasi pada tercapainya kesejahteraan rakyat.

Terkait dengan tulisan ini maka ada dua konsep kepemimpinan Hindu yang akan dibahas, yaitu Catur Upaya Sandhi dan Asta Brata. Catur Upaya Sandhi, yaitu Sama, Bedha, Dana dan Danda. Sama bermakna bahwa seorang raja harus menjamin setiap warga negaranya mendapatkan hak yang sama dalam hukum, hak yang sama untuk hidup dan beraktivitas sesuai dengan swadharmanya, termasuk juga hak-hak istimewa yang mungkin didapatkan karena kecakapannya. Bedha, bermakna bahwa seorang raja harus bisa membedakan kawan dan lawan, teman dan musuh, untuk mengetahui hal-hal yang dapat membahayakan kedaulatan bangsa dan negara. Dana, bermakna bahwa seorang raja harus mampu mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, memberikan penghargaan kepada yang berjasa, memberikan sedekah bagi rakyat miskin, membantu negara lain yang menderita kesusahan akibat bencana, dan sebagainya. Danda, bermakna bahwa seorang raja adalah penegak hukum yang memiliki ketegasan dalam memberikan hukuman (punishment) kepada orang yang bersalah tanpa kecuali. Untuk menjalankan keempat hal ini tentu seorang pemimpin harus memiliki karakter kuat sehingga mampu melaksanakan tugas tanpa adanya pertimbangan-pertimbangan emosional yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dharma.

Di samping itu dalam Hindu dikenal juga sebuah konsep yang disebut Astabrata. Astabrata sebagai delapan sifat mulia para dewa dalam pandangan Hindu dianggap sebagai komponen yang memadai untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kedelapan komponen kepemimpinan menurut astabrata sebagaimana dijelaskan dalam Kakawin Ramayana dan kitab Manaiua Dharniasastra adalah sebagai berikut:

1. Indra Brata, yakni Hyang Indra dianggap mengadakan hujan di dunia caranya dengan memberi atau menurunkan hujan kepada bumi sama rata, tidak boleh pilih kasih. Artinya, seorang pemimpin harus mampu memberi kesenangan, mengayomi, dan memberi kesejahteraan pada bawahan atau orang-orang yang dipimpin.

2. Yama Brata, yakni Bhatara Yama dianggap menjadi dewanya atma neraka, mengatur, dan menghukum orang yang berbuat curang dan memuji orang suci, jujur, dan setia. Artinya, seorang pemimpin harus mampu berlaku adil dan tegas, menghukum atau memberi sanksi kepada yang salah dan memberi penghargaan pada yang berprestasi.

3. Surya Brata, yakni tugas berat surya adalah tiap-tiap hari memanasi atau menerangi seluruh alam karena panasnya seluruh isi dan penghuni alam ini dapat bergerak atau tumbuh dengan baik. Oleh karena terangnya mereka dapat berjalan dengan cepat tidak meraba-raba dalam kegelapan. Artinya, seorang pemimpin harus mampu memberikan penerangan dan kekuatan pada orang-orang yang dipimpin.

4. Chandra Brata, yakni tercermin dalam sifat-sifat bulan, tatkala bulan penuh (purnama) semua penghuni dunia senang olehnya. Kias rakyat bahwa alam semesta ramah-tamah dan menunjukkan muka yang tenang kepada rakyat atau pengikutnya, baik dalam keadaan senang maupun kesu-sahan. Artinya, seorang pemimpin harus dapat memberi kesejukan dan kenyamanan pada bawahan-nya.

5. Bayu Brata, yakni sifat bayu (angin) ini tersebar keseluruh pelosok penjuru dunia sampai kepada badan seluruh makhluk untuk memberi kesejateraan hidupnya dengan tak dapat dilihat orang. Artinya, seorang pemimpin harus memahami hal ikhwyal orang-orang yang dipimpin.

6. Kuwera Brata (Dana Brata), yakni Bhatara Kuwara dianggap dewa kekayaan. Pemimpin harus mengikhtiarkan kekayaan harta benda untuk kemegahan dan kemakmurannya dan seorang pemimpin harus berpenampilan simpatik dan rapi, baik dala penampilan maupun dalam bertutur kata.

7. Barurna (Waruna Brata), yakni Bhatara Baruna dianggap dewa yang bersenjatakan Naga Panca yang bertugas membasmi sekalian durjana dan musuh. Artinya, pemimpin harus memiliki penge¬tahuan atau wawasan yang luas sehingga mampu mengendalikan" bawahannya dengan kearifan dan kebijaksanaan.

8. Agni Brata, yakni konsep kepemimpinan ini ditirukan sifatnya agni (api) yang selalu menyala dan berkobar. Artinya, seorang pemimpin hendaknya mampu memotivasi dan membangkitkan semangat bawahan.
Begitu pula dalam Kakawin Ramayana yang termuat dalam Sloka 84, dan bagian terakhir dari ajaran Asta Brata, yaitu sebagai berikut:

Nahan de sang natha kemita, iringkang bhumi subhaga,
Pararthasih yagong sakalara, nikang rat wi nulatan,
Tuminghal yatna asing sawuwusikanang sasana tinut,
Tepet masih tar weruh kutima, mitaging bancana dumeh.

Artinya :
Demikian kewajiban seorang raja untuk melindungi dunia demi untuk kemakmuran dan kebahagiaan rakyat. Seorang raja harus selalu mengutamakan kepentingan-kepentingan rakyatnya dan segala penderitaan rakyat harus dipikirkan. Segala ajaran-ajaran didalam kitab-kitab suci harus diikuti dengan seksama. Dengan demikian, rakyat akan tetap mencintai raja dengan teguh, tidak mengenal kecurangan serta menjauhi penipuan, itulah akibatnya.

"Gunamanta sang Dasaratha
Wruh sira ring Weda, Bhakti Ring
Weda Tar Malupeng Pitra Puja
Masih ta Sireng Swagotra kabeh"

Sang Dasaratha adalah Pemimpin yang paripurna menurut Hindu. Sebagai pemimpin hendaknya mengetahui isi Veda sebagai sumber dari semua  pengetahuan, baik pengetahuan kehidupan (gelar urip) maupun pengetahuan rohani/spiritual (gelar paraning dumadi). Pemimpin yang baik juga tidak pernah melupakan jasa-jasa para pendahulu (tar malupeng pitra puja). Dan pada puncaknya, pemimpin yang sempurna adalah yang welas-asih kepada seluruh keluarga, rakyat, bangsa dan Negara.

Kepemimpinan Hindu senantiasa berorientasi kepada tujuan hidup sekala dan niskala, jagatditha dan moksa yaitu, terpeliharanya keseimbangan hidup lahir dan batin. Ajaran kepemimpinan Asta Brata merupakan pegangan bagi seorang pemimpin, sedangkan konsep Catur Upaya Sandhi merupakan landasan operasionalnya. Inilah yang disebut sebagai pengetahuan kehidupan (gelar urip) dan pengetahuan spiritual (gelar paraning dumadi).

Oleh: Prof. Dr. Ida Bagus Gunadha
Source: Warta Hindu Dharma NO. 526 Oktober 2010