Kepahlawanan Guru dalam Pandangan Hindu

Dalam konteks sosial kemasyarakatan, guru punya posisi sangat strategis. Oleh karenanya sosok guru senantiasa mendapat perhatian berbagai kalangan. Dari pemerintah, ahli pendidikan, LSM, juga dari tokoh agama untuk menghargai peran guru dalam konteks pembangunan suber daya manusia, guru sering dipandang sebagai orang yang perlu ditiru dan digugu. Saking strategisnya peran guru dalam kehidupan masyarakat, sampai-sampai guru diberi julukan "pahlawan tanpa tanda jasa". Lalu bagaimana posisi guru dalam pandangan masyarakat Hindu? Dalam konsep Hindu yang dimaksud guru bukanlah terbatas pada pengertian guru Pengajar di sekoah. Akan tetapi mencakup empat jenis guru yang disebut Catur Guru, yakni (1) guru rupaka, yakni orang tua yang telah melahirkan dan mendidik kita di lingkungan keluarga; (2) guru pengajian, adalah para guru yang telah berjasa mendidik anak-anak kita di bangku sekolah, sehingga bisa tumbuh-kembang menjadi anak yang baik, berbudi pakerti luhur, dan mampu hidup mandiri; (3) guru wisesa, yakni pemerintah yang telah memberikan jaminan dan memfasilitasi setiap warga negara untuk dapat hidup, tumbuh, dan berkembang, sesuai dengan tempo perkembanganya masing-masing; (4) guru swadiaya, yakni Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) yang telah menciptakan alam semesta ini dengan segala isinya untuk kesejahteraan  umat manusia dan mahluk lainnya di muka bumi ini.

Secara teks ideal ke empat jenis guru ini dalam konsep Hindu harus dihormati, dihargai, dan diposisikan layaknya seorang pahlawan. Sebab tanpa guru ini, manusia tidak akan bisa tum-buhkembang secara wajar, dan mungkin juga manusia tidak akan ada di muka bumi ini. Akan tetapi pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknolog! dengan turunannya era globalisasi dewasa mi, membuat masyarakat seakan mengabaikan peran dan posisi guru sebagaimana diidealkan masyarakat tempo dulu.

Dengan meminjam gagasan Wisnoe-wardhana (1997:2) bahwa adiluhung adalah nilai klasik tradisional, yang di masa lalu sangat didambakan sebagai barometer ketinggian nilai, kini malah diabaikan, karena dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Hal ini sejalan dengan terminologi Rich (1999:276) yang menyatakan bahwa pengabaian, pe-marjinalan, dan pelenyapan hal-hal yang berbau tardisioal (atau apa yang disebut dengan detradisionalisasi), tidak dapat dilepaskan dari reflekasivitas sebagai ciri dinamis dari berkembangnya era modernisasi. Asumsi dasar dari paham modernisme ini adalah melakukan transformasi kutural guna mewujudkan nilai-nilai efisiensi, pragmatis, efektif, dan rasional (dalam mengambil keputusan) yang terbebas dari tradisi, adat, dan ikatan komunalisme.

Berangkat dari gagasan Wisnoewardhana dan Rich di atas, dan jika dikaitkan dengan kondisi masyarakat Hindu di Bali saat ini, tampaknya sebagian besar masyarakat  Bali telah terjerat oleh perkembangan paham modernisme dan kapitalisme tersebut. Oleh karenanya tidak mengherankan jika banyak pengetahuan dan nilai-nilai tradisional masyarakat Hindu di Bali, terserang oleh reflekisvitas lalu digantikan dengan sesuatu yang lebih praktis agar kenikmatan hidup mereka meningkat secara optimal. Akibatnya, masyarakat Bali kehilangan modal kultural dan modal sosialnya yang sangat berharga (Atmadja, 2010:33). Misalnya, sikap kepahlawanan seorang guru yang zaman dulu sangat dihormati, dan dihargai oleh masyarakat, terutama peserta didiknya, kini seakan telah sirna ditelan zaman.

Sebagai bukti, di era yang serba pragmatis, serba bebas, dan serba boleh saat ini, banyak nilai-nilai kesopanan, nilai-nilai etika, dan nilai-nilai budi pakerti yang seharusnya dipegang teguh oleh para siswa, mulai dilanggar diabaikan, dan bahkan tak diacuhkan. Misalnya, di era modern sekarang ini banyak siswa yang menganggap bahwa gurunya itu bukan siapa-siapa, guru tidak perlu dihormati, dan balikan tidak perlu dikenal. Dengan kondisi demikian tidak mengherankan jika zaman sekarang ini, banyak siswa, yang tidak mengenal gurunya, demikian juga banyak mahasiswa yang tidak mengenal siapa dosennya.

Tanpa bermaksud gila agar dihormati, karena penulis adalah seorang dosen, akan tetapi fenomena ini menarik untuk dikaji secara akademik, mengingat tanggung jawab moral atas sikap dan perilaku yang dianut oleh para siswa atau mahasiswa adalah bagian dari tangggung jawab guru dan dosen. Selain itu, fenomena ini juga penting dikaji secara akademik, untuk memperoleh kejelasan secara ilmiah apakah benar antara sains dengan etika moral dan etika agama harus berbenturan secara diametral? Fenomena benturan antara etika dengan sains, sebenarnya telah muncul sejak pertengahan abad ke-16, yang ditandai dengan keberanian seorang Copernicus tampil ke depan untuk menentang dogma-dogma agama, dengan penemuannya di tahun 1543 bahwa "alam semesta ini berpusat pada matahari". Kemudian penemuan ini dikuatkan oleh Gallileo Gallilei kurang lebih 390 tahun lampau, yang mengatakan bahwa "bumi inilah yang mengelilingi matari, bukan matahari yang mengelilingi bumi" sebagaimana diyakni oleh para ilmuan pada zamannya. Meskipun demi kepongahannya itu, Gallileo Gallilei harus rela menerima hukumana mati yang dijatuhkan pihak Gereja.

Untuk memahami lebih lanjut bagaimana pandangan Hindu terhadap kepahlawanan guru, maka dapat dilacak melalui pandangan Hindu terhadap keberadaan sains dan etika moral, yang selama ini oleh banyak ilmuan Barat sering dipertentangkan. Akan tetapi menjelang akhir abad ke-19, tepatnya di bulan September 1893 dalam sidang Raya, Parlemen agama-agama sedunia di Chicago (AS) Swami Vivekananda, seorang Sanyasin Hindu, telah menyatakan kepada dunia, bahwa penemuan sains oleh umat manusia, seperti hukum grafitasi, tata surya, listrik, astronomi, dan lain-lain, sebenarnya telah ada sebelum ditemukan manusia, dan akan tetap ada meskipun dilupakan oleh manusia itu sendiri. Dengan demikian sains yang ditemukan oleh manusia dan agama yang dianut oleh manusia itu pula tidak perlu dipertentangkan (S. Pendit 1996:61—62).

Jadi, yang ingin penulis tegaskan dalam konteks kajian ini adalah, bagaimana pun majunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sikap moral, dan rasa hormat umat Hindu kepada sosok guru tidak boleh diabaikan. Karena antara sikap moral, rasa hormat, dan etika keagamaan dengan ilmu pengetahuan (sains) merupakan dua entitas yang saling mengisi satu sama lain, oleh karena itu keberadaannya tidak perlu dipertentangkan, karena keduanya saling membutuhkan dan saling mengisi. Atau dengan bahasa lain, rasa hormat dan bhakti kepada guru, apakah guru rupaka, guru pengajian, guru wisesa, maupun guru Swadiaya, harus tetap dipegang, betatapun majunya peradaban umat manusia dewasa ini. Sebab keberadaan sains dan etika moral menurut pandangan Hindu telah diatur oleh hukum alam, yang dalam konsep Hmdu disebut hukum: karma, dharma, inkarnasi, dan moksa yang tidak pernah bisa dimanipulasi oleh kepintaran manusia itu sendiri.

Source: Prof. Ketut Suda l Wartam Edisi 6/Agustus 2015