Kemerdekaan Yadnya

Singgih yan tekaning yuganta kali, tan hana lwihe sangkeng mahadhana
Tan waktan guna sura pandita widagdha sami mengayap ing sang dhaneswara
Sakwehning rinasya sang wiku pada hilang, kula ratu hina kasyasih
Putradwe pitaninda ring bapa, si sudra banija wara wirya pandita

Sesungguhnya, bila jaman kali yuga datang hanya kekayaan atau materi yang dihargai
Tidak perlu dikatakan lagi, bahwa orang baik, orang-orang pandai, akan mengabdi pada orang yang kaya
Semua pelajaran yang rahasia, gaib di lupakan orang, keluarga-keluarga yang baik dan raja menjadi hina papa
Anak-anak sudah berani menipu dan mengumpat orang tua, orang hina dina akan menjadi saudagar mendapat kemuliaan dan kepandaian

Spiritualitas jangan sampai rapuh tergerus arus modernisasi dengan lifestyle yang praktis dan ekonomis bahkan sampai terjadi pendewaan atas materi (hedonism), gegap gempita kecanggihan teknologi telah membuat on time menikmati indahnya menu handphone, televisi, yang jauh jadi mendekat dan yang dekat terlihat jauh. Kini seolah dunia tiada batas lahi tinggak klik semua bisa di akses dengan cepat. Apakah kita harus menolaknya? Alangkah indahnya berenang di lautan tradisi dan modernisasi.

Modernisasi upakara Hindu yang cepat saji telah menjadi transaksional dengan uang sekarang menjadikan kita mudah, kalau sudah punya uang apapaun bisa di beli. Bahkan upakara harus memutar cakra yadnya untuk mensejahterahkan para petani, peternak dan yang lainnya, namun disisi lain ada yang hilang bahwa apa yang kita persembahkan idealnya apa yang kita miliki dengan fondasi ketulusikhlasan (lascarya) dan cinta kasih (prema) mulai terkikis oleh pola konsumenarisme. Untuk bisa bersenang di bara lautan modernitas tentunya dengan mempersiapkan perahu kemerdekaan beryadnya dengan dayung dharma.

Masihkah ada benih egoism jor-joran, pamer dalam beryadnya sedangkan nyanyian agung Tuhan Bhagavadgita telah menyebutkan Aphalakanksibhir yajno, vidhirdrste ta ijyate, yastavyam ece ti manah, samadhaya sa sattvikah “yadnya yang dihaturkan sesuai dengan sastranya, oleh mereka yang tidak mengaharap buahnya dan tegus kepercayaannya, bahwa memang sudah kewajibannya untuk beryadnya adalah satwika”. Proses penyadaran kembali kemerdekaan beryadnya mulai dari dalam diri pundi-pundi ketulusikhlasan taman hati harus mampu mencukur rumput keangkuhan dan kesombongan dalam beryadnya. Bening lagu Ebiet “kita mesti berbenah dan benar-benar bersih suci lahir dan bathin, singkan debu yang masih melekat” ini artinya bahwa refleksi ke dalam diri menjadi penentu kualitas beryadnya.

Ruang kemerdekaan beryadnya dalam forma kanista, madya, dan utama telah memberikan gerak harmoni bagi umat Hindu untuk beryadnya sesuai dengan kemampuannya, namun disisi lain orkestra briuk sapanggul dalam setiap upacara keagamaan telah menjadi catatan serius Badan Pusat Statistik bahwa beban ritual yang dilakukan oleh umat Hindu khsusunya Bali sangat banyak. Trend Import buah dari negeri asing menjadi status sosial bahkan kebanggaaan telah mampu membeli miliki negara maju memberikan merk bahwa kita umat Hindu yang maju. Tentunya kita tidak ingin menjadi umat Hindu yang lupa apalagi terjebak oleh dunia yang sifatnya maya ini menggoda, kita asyik dalam gelombang material yang memberi nikamat sesaat kemudian menghilang, muncul lagi yang lain.

Dunia materi inilah yang menyebabkan jiwa lupa pada jati dirinya yang sejati. Jiwa menyamankan dirinya dengan material tidak akan pernah merdeka. Dalam Wrhaspatitattwa 34 dengan jelas menguraikan bahwa manusia dibelenggu oleh raga atu indrianya dinyatakan sebagai orang yang aturu (tidur) dan menusia yang senantiasa aturu itulah disebut papa. “Atyanta kalasyasih ning atma, sajna Bhatara, ndya teka luputa ring papa, matangnyan lepase sangkeng papa neraka”: betapa menderitanya atma, ya Tuhanku, kapankah mereka lepas dari penderitaan, bagaimanakah caranya agar mereka dapat lepas dari penderitaan? Lalu bagaimana cara mengatasi papa tersebut: yan matutur ikang atma rijatinya, irika yan alilang (kesadaran akan Sang Diri) itulah kata kunci ajaran untuk memahami Siwa.

Kemerdekaan beryadnya bukan hanya urusan ritual semata, agama Hindu hendaknya mampu hidup dalam berbagai dimensi kehidupan, artinya pengalaman dan penghayatan ajaran agama menjadi spirit dalam berbagai aktivitas kehidupan umat Hindu baik itu pegawai, petani, nelayan, pegawai swasta dan yang lainnya sehingga tata cara beragama sangatlah berbeda-beda. Yadnya bagi mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan adalah dengan memberikan pengetahuannya. Begi pegawai, kerja adalah yadnya, bagi petani berkebun adalah yadnya. Sejatinya dalam setiap pikiran, perkataan dan perbuatan kita adalah yadnya. Namun ketita itu semua di selimuti Abhisamdhaya tu phalam, dambhartam api cai va yat, liyate bharata srestha, tam yajnam viddhi rajas am (akan tetapi apa yang dihaturkan dengan penghargaan akan buahnya atau hanya memamerkan ketahuilah, Oh Arjuna bahwa yadnya itu adalah rajasika, bernafsu).

Spirit kemerdekaan beryadnya adalah mengibarkan bendera kemerdekaan diri terlebih dahulu. Tentunya untuk memerdekaan dia harus memahami potensi gangguan dan hambatan yaitu musuh dalam diri. Musuh apa yang patut dijinakkan dalam diri agar mampu menancapkan panji-panji kemerdekaan, Kakawin Ramayana menyebutkan “ragadi musuh maparo ri hati yang tongwannya tan madoh ring awak” bahwa musuh yang terdekat ada dalam diri. Menjadi nota bena untuk nyuluhin angga sebagai mana Nitisastra menyuratkan “norana satru menglwihane geleng hana ri hati” bahwa musuh yang paling kuat dan dekat adalah musuh dalam diri yaitu di hati. Musuh yang terus menyelimuti diri itu dalam ajaran agama Hindu disebut sad ripu: moha (bingung), mada (mabuk), lobha (rakus, tamak), kama (nafsu), krodha (marah), matsarya (marah). Kemerdekaan beryadnya itu kini hanya awakta rumuhun warah dening hayu bahwa untuk rahayu, merdeka hanya dirilah yang atut dipelajari.

Oleh: I Nyoman Dayuh
Source: Majalah Wartam, Edisi 30, Agustus 2017