Kembali Kepada Hakekat Murni Manusia

Tiga hal ini benar-benar langka dan hanya dikarenakan adanya anugerah ilahi - yakni: kelahiran sebagai manusia, berhasrat kuat untuk Bebas, dan ada dalam bimbingan, pengawasan dan perlindungan seorang Guru, Manusia Sempurna. Ia yang teranugerahi sebagai manusia ini, apalagi berjasad lelaki dan punya pengetahuan suci yang diwahyukan-Nya, adalah dungu untuk tidak mengupayakan Kebebasan, dan merupakan suatu tindakan pemusnahan-diri sia-sia dengan melekat pada obyek-obyek ilusif. Adakah yang lebih dungu dibanding ia yang sudah dianugerahi sebagai manusia, bahkan sebagai lelaki U, namun mengabaikan pencapaian tujuan sejatinya dan malah tergila-gila pada objek-objek semu itu ?
~ Adi Sankara; Viveka Chudamani: 3-5 ~

Pada hakekatnya memang Murni

Perlukah kita memurnikan sesuatu yang pada hakekatnya murni? Air pada hakekatnya murni; tapi ia belum tentu dalam keadaan murni ketika keluar dari keran air di rumah kita. Udarapun pada hakekatnya murni; tapi udara yang kita hirup sehari-hari boleh jadi penuh kecemaran dan polutan. Semua pada hakekatnya murni. Namun kondisi terkininya belum tentu; malah besar kemungkinannya tidak murni lagi. Demikian pula halnya manusia, atau seekor anjing sekalipun.

Makanya, guna mengetahui derajat kemurnian sesuatu sama artinya dengan mengukur 'derajat ketidak-murnian'-nya. Dimana, sejauh tujuannya adalah memurnikan, maka mesti diketahui derajat keridak-murnian atau derajat kecemarannya, bahan-bahan yang telah mencemarinya, mengotorinya, yang menyebabkannya tidak murni lagi, dan mencari tahu cara memurnikannya kembali.

Memurnikan adalah mengembalikannya kepada kondisi murninya atau kepada hakekatnya. Bukan dengan menambahkan substansi baru yang murni, agar ia menjadi murni. Kalaupun tampak ada substansi lain yang perlu ditambahkan di dalam suatu proses pemurnian, maka substansi pemurni itu lebih merupakan substansi penghilang atau pemusnah kekotoran, polutan, dan bahan-bahan pencemar lainnya. Itulah yang dimaksudkan dengan substansi 'pemurnian' yang tidak sama dengan substansi dari yang dimurnikan itu. Air keras menghilangkan bahan-bahan yang bukan emas, yang ikut tercampur di dalam emas, yang merusak kemurnian emas.

Hakekat Manusia bukan Bayi Manusia

Pada hakekatnya manusia itu murni. Namun dalam 'perjalanannya' manusia menjadi tidak murni lagi. Akan tetapi, murni disini tidak sama artinya dengan saat manusia masih bayi. Kita tahu kalau bayi manusia bukanlah hakekat manusia. Bayi manusia adalah kondisi fisiko-mental manusia pada awal kehadirannya di bumi ini untuk kurun kehidupannya ini.

Jadi bayi manusiapun tidak murni; kendati masih relatif lebih murni dibanding kita-kita ini, karena belum ditambahi dengan kekotoran-kekotoran, polutan-polutan, dan kecemaran-kecemaran-kecemaran lainnya di dalam kelahirannya ini. Oleh karenanya, memurnikan diri tidak berarti kembali menjadi bayi-baik secara mental-psikologis, apalagi secara fisikal-biologis. Di alam spasio-temporal ini, kendati sains dan teknologi sudah sebegini maju dan canggihnya, kembali ke masa lalu masih merupakan konsepsi khayali, suatu idealisme, sebuah hipotesa-idealistik.

Kalau bayi manusia adalah murni, maka semua bayi semestinya sama dan sebangun, balikan persis sama dalam segala aspeknya; tidak ada hitam atau putih, tidak ada laki-laki maupun perempuan, tidak ada cacat sejak lahir dan sebagainya bukan? Jadi berhati-hatilah memaknai istilah 'pada hakekat-nya' ini.

Tak perlu menanyakan "Apa hakekat Manusia?"

Lalu, apa hakekat dari manusia itu sendiri, hakekat dari kita-kita ini, yang adalah murni itu? Mungkin saja muncul pertanyaan seperti itu di benak kita bukan? Namun, kita tak bermaksud berspekulasi disini. Sudah banyak ajaran agama dan para filsuf atau pemikir lainnya yang memberi berbagai pernyataannya tentang itu, yang bisa kita percayai begitu saja atau telan mentah-mentah sebagai dogma. Bagi kita, saya kira, lebih baik dan lebih bermanfaat untuk membiarkannya saja sebagai pertanyaan sebelum kita benar-benar kembali pada hakekat kemurnian kita itu, kembali menjadi 'manusia-sejati'. Sesudah itu, sebutan apapun yang suka kita berikan kepadanya, bagaimanapun cara kita memaparkannya, itu terserah kita. Sebelum itu benar-benar terjadi, apapun yang kita katakan tentang hakekat itu hanyalah khayalan, cenderung mengecoh, bersifat ilusif dan menyesatkan.

Karena kemungkinan itu selalu ada, karena apapun mungkin kembali kepada hakekatnya, maka yang jauh lebih penting buat kita justru mempertanyakan 'seperti apakah kemurnian yang dimaksud', dan 'bagaimana itu bisa terjadi atau bagaimana kita bisa kembali kepada kondisi itu' bukan?

Proses Pemurnian adalah Proses Kembali Kepada Hakekat

Nah.... apabila kita memang sepakat akan hal ini, maka akan sangat mengena kalau merenungkan kembali, proses penyulingan air. Perenungan ini memberi kita gambaran yang sangat analog dengan proses pemurnian diri yang kita pertanyakan itu.

Air kotor, yang keruh, berbau busuk atau tidak sedap, mengandung beraneka bahan yang berbahaya bagi kesehatan, perlu dibersihkan, dalam arti dijernihkan dan disuci-hamakan, namun bukan berarti dimurnikan melainkan dijadikan layak minum sebelum diminum.

Kita tahu kalau air sejernih apapun belum tentu murni. Untuk diminum , kendati tubuh ini memang butuh air bersih, namun kita justru tidak butuh air murni. Air murni lebih dibutuhkan di laboratorium, ketimbang bagi rubuh ini. Bagi tubuh, air murni tidak diperlukan; yang dibutuhkan! adalah air bersih yang bebas bahan-bahan beracun, bebas kuman-kuman penyakit, cukup bernutrisi dan ber-enerji, pendeknya yang bermanfaat dan menyehatkan tubuh bukan?

Analogis Proses Permunian-diri

Analog dengan proses penyulingan air, ada beberapa tahapan yang mesti dilalui oleh mereka yang hendak memurnikan-dirinya kembali, yang berhasrat kembali kepada hakekatnya. Dari air kotor dan tercemar, setidak-tidaknya kita bisa melihat empat tahapan proses guna menjadikannya air murni kembali dan bermanfaat bagi umat manusia, yaitu :


• Pengendapan dan Penyaringan
• Pemanasan dan Penguapan
• Pengembunan dan Pencairan, dan
• Pewadahan dan Pengemasan

Seluruh proses ini, terutama tahap pertama, kedua dan ketiga sangat dianjurkan dan bahkan harus dilakukan di 'laboratorium manusia' dalam berbagai sebutan - seperti: ashram atau pasraman, padepokan, pesantren, biara, atau yang lainnya-dibawah bimbingan dan pengawasan seorang 'akhli' - Guru. Dalam fase ini, yang menjalani pemurnian-diri sangat butuh pengawasan langsung dari Guru-nya, disamping karena sangat rentan untuk menjadi lebih keruh dan lebih kotor lagi kalau berbaur dengan orang banyak, juga belum mengetahui betul kekotoran-kekotoran dan bahan-bahan pencemar apa saja yang telah mengotori dan mencemarinya selama ini dan bagaimana pengendapkan, menyaring, memanaskan dan menguapkannya, mengembunkan dan mencairkannya. Di 'laboratorium' dan dibawah bimbingan dan pengawasan Guru-nyalah mereka melangsungkan berbagai laku-spiritual terkait.

Sebetulnya,  sebelum  tahap pertama dilangsungkan di 'laboratorium' itu, ada tahapan pendahuluan berupa seleksi bahan-baku. Sebab bila tidak, tahap pertama bisa memakan waktu sedemikian lama. Air yang sudah sedemikian tercemarnya oleh zat-zat kimia tertentu misalnya, butuh penanganan-penanganan khusus terlebih dahulu, sebelum benar-benar dijadikan bahan-balu. Sebab bila tidak, disamping memakan waktu, ia juga bisa mencemari yang lainnya, yang tidak setercemar itu. Namun tahap itu tidak dilangsungkan di dalam 'laboratorium', dan bisa dilangsungkan di luar lingkungan. Makanya ia tidak kita masukkan dalam pentahapan ini.

Tahap Pengendapan dan Penyaringan boleh jadi tidak begitu membahayakan orang banyak, kalau dilang-sungkan di luar. Hasilnyapun boleh jadi bermanfaat oleh masyarakat luar, mengingat kejernihannya, kendati masih belum 'layak minum'. Namun, bagi yang bersangkutan, berbaur dengan orang banyak tetap menganggu berlangsungnya tahapan proses itu betapa mestinya, disamping sangat mudah keruh dan tercemar kembali. Makanya, tahapan ini sangat dianjurkan untuk dilangsungkan di laboratorium' saja.

Sedangkan, tahap Pemanasan dan Penguapan harus dilangsungkan di dalam. Sebab bukan saja bisa mencelakakan banyak orang, ia juga bisa mencelakakan siswa yang bersangkutan. Bayangkan saja air mendidih kalau tersenggol dan tumpah, menumpahi tubuh kita ini. Berbahaya bukan?

Kendati sudah mulai mendingin, uap yang dihasilkan sangat mudah tertiup angin kesana-kesini dan jadi buyar sebelum menghasilkan 'air murni' seperti yang diharapkan, kalau ia dilangsungkan di luar, di tempat terbuka. Jadi, tahapan ini harus dilangsungkan di tempat khusus itu.

Nah -- walau tahap Pengembunan dan Pencairan bisa dilangsungkan di dua lingkungan - di dalam maupun diluar - adalah sangat baik untuk dilangsungkan di dalam saja. Disamping karena pengembunan dilangsungkan atas pengaruh kekuatan spiritual Guru, ketika uap menjadi bintik-bintik air murni ia perlu dijaga dan diarahkan ke tempat penampungan atau wadah tertentu supaya tidak tercecer kemana-mana dan kehilangan manfaatnya sesuai tujuan semula. Disini pula dilangsungkan inisiasi akhir air kotor telah menjadi air murni.

Sebetulnya, tahap keempat - Pewadahan dan Pengemasan - ini sudah bukan lagi merupakan tahapan penyulingan. Ia serupa dengan tahap pendahuluan, tahap seleksi bahan-baku itu, yang didalamnya ada proses penyisihan bagi yang belum dan tidak pantas untuk dijadikan bahan-baku.

Seperti telah disinggung sebe-lumnya, tahap ini diperlukan supaya 'air murni' - yang tiada ternilai itu - tidak tercecer kemana-mana dan kehilangan manfaatnya sesuai tujuan semula. Menampungnya dalam suatu wadah, memudahkan siapapun untuk mengambil dan memanfaatkannya. Mengemasnya dalam suatu kemasan tertentu, bukan dimaksudkan untuk membeda-kannya dengan yang menggunakan kemasan lain, melainkan justru untuk menghindari prasangka-prasangka atau sentimen-sentimen tertentu dari khalayak, disamping untuk mendekat¬kannya dengan selera atau cita-rasa masyarakat setempat serta jamannya. Jadi, Pewadahan dan Pengemasan dilakukan di masyarakat luar dan bagi kebaikan mereka. Begitulah singkatnya -- Semua inilah yang dimaksud dengan proses kembali kepada hakekat murni manusia, yang tiada lain dari kembali kepada-Nya.

Source: Anatta Gotama l Warta Hindu Dharma NO. 505 Januari 2009