Kelahiran dan Kematian

Kelahiran dan kematian merupakan dua kata yang berkorelasi dalam tatanan agama Hindu, namun batasan yang tidak jelas membentuknya .menjadi dua proses yang nyaris tanpa jeda dan spasi, karena dalam agama Hindu mengisyaratkan bahwa apa yang pernah terlahirkan pasti akan menemui kematian, begitu pula sebaliknya apa yang sudah "mati" maka akan terlahir kembali (Samsara) mengikuti hukum semesta (Rta) selama pisau pemutus siklus ini belum mampu memotong dua proses ritual semesta ini. Seperti halnya di dalam Bhagawad Gita II. 27 menyebutkan;

Jatasya hi druvo mrtyur,
Dhruvam janma mrtasya ca,
Na tvam soritutn arhasi,
Tasmad apariharye'rthe

Artinya:
Karena pada apa yang lahir, kematian adalah pasti dan pasti pula kelahiran pada yang mati. Oleh karena itu pada apa yang tidak dapat dielakkan, engkau seharusnya tidak bersedih hati.

Apabila kita renungkan hidup ini Demang sangat ironis, karena manusia tidak pernah meminta untuk dilahirkan tetapi begitu ia lahir, manusia belajar untuk mencintai dan menikmati hidup yang penuh suka duka namun pada akhirnya manusia harus dihadapkan pada suatu kenyataan hidup yaitu kematian, suka atau tidak suka harus dijalani sebagaimana kelahiran itu sendiri dalam artian bagaimanapun suksesnya manusia itu selama menjalani kehidupannya pada akhirnya akan ditentukan oleh kesuksesannya didalam menghadapi kematiannya sendirr. Dalam bukunya "Maut Batas Kebudayaan dan Agama" Sidi Gazalba menyatakan : "Pertanyaan tentang kematian adalah pertanyaan yang muncul dari kesangsian, kesangsian lahir dari ketidakpastian, ketidakpastian menimbulkan kegelisahan pada akhirnya membawa manusia pada kecemasan dan ketakutan, ketakutan bagaimanapun juga merupakan penyakit rohani manusia yang menyiksa". Penyakit rohani inilah yang hendak dijawab dan dijernihkan oleh agama Hindu guna menghilangkan pesimisme manusia dalam melakoni kehidupan.

Satu hal yang bisa kita tangkap dalam ajaran Hindu bahawasanya ada dua asas didalam diri manusia yaitu asas roh (Atman) dan asas materi namun tetap merupakan satu kesatuan, roh bersifat abadi dan badan merupakan eksistensi kemanusiaan itu sendiri yang dengan demikian kematian hanyalah keberpisahan dari kedua asas diatas dimana atman merupakan kualitas rohani yang pada saat datangnya kematian bersifat abadi sedangkah badan sebagai kualitas kebendaan yang pada saat datangnya kematian akan mengalami proses peleburan (Lina), hal ini tersirat dalam Bhagavad Gita yaitu :

Antavanta ime deha,
Nityasyo'kpih saririnah,
Anasino'prameyassya,
Tasmad yudhyasva bharata

Artinya:
Badan wadag dari jiwa yang abadi, tak terhancurkan dan takterbatas ini, dipahami sebagai badan wadag yang fana. Oleh karena itu berperanglah O, Bharata. (BG, IL 18).

Namun apabila kita mengikuti rumusan yang digariskan dalam Bhagavad Gita bahwasanya "Apa yang ada akan selalu ada, dan yang tiada tidak akan pernah ada" (BG, 11.16) maka badan atau asas materi itu akan tetap "ADA" seperti halnya jiwa itu sendiri, yang pada saat kematian menjemput, secara empiris badan merupakan substansi yang hancur dan menjadi substansi yang baru, contohnya ketika manusia mati rubuhnya kembali pada asasnya yang semula yaitu Panca Mahabuta (tanah, air, api, udara dan ether) yang menjadi makanan tumbuhan h1ngga,binatang yang pada akhirnya -menjadi santapan manusia, dengan demikian ia membentuk tubuh yang baru sesuai dengan kualitasnya, hal ini sesuai pula dengan Teori evolusi dalam teks-teks Siwatattwai Sedangkan jiwa yang abadi akan mengalami proses migrasi kedalam wadahnya yang baru, proses keberpindahan inilah yang disebut Punarbhawa atau kelahiran kembali sesuai dengan guna dan karmanya dalam kehidupan terdahulu, hal ini sekaligus menjadi teori tentang kehidupan setelah kematian menurut Hindu yang sekaligus membedakannya dengan agama-agama semit. Proses penerimaan ajaran Punarbhawa ini mengalami perjalanan yang sangat panjang dari kitab Veda Samhita hingga akhirnya ditegaskan dalam Upanisad, salah satunya Sweta swatara upanisad yang menyebutkan;

Sthulani suksmani bahuni caiwa,
Rupani dehi swa-gunair vrnoti kriyagunair
atma-gunais ca tesam samyoga
hetur aparo'pidrstah

Artinya :
Atman yang berinkarnasi sesuai dengan sifat dan karmanya, memilih sebagai tubuhnya wujud yang kasar atau halus. Dia menjadi tampak berkeadaan berbeda dari satu inkarnasi ke inkarnasi berikutnya. (Swetaswatara V.12).

Dengan menyadari proses punarbhawa, setiap manusia hendaknya mensyukuri hidupnya karena lahir menjadi manusia sangatlah utama dan sulit diperoleh hingga jangan sampai lahir, kembali pada kehidupan yang lebih rendah dan mulai mempersiapkan hidupnya sekarang untuk kemajuan spiritual dan mengakhiri proses samsara dengan mengembalikan sang diri menuju asalnya.

Iking tang janma wwang, ksanika-swabhawa ta ya, tan pahi lawan kedapning kilat, durlabha tova matangnyan pongakena ya ri kagawayanning , dharmasadhana, sakarananging manasanang sangsara, swargaphala kunang

Artinya:
Kelahiran menjadi manusia, pendek dan cepat keadaannya itu, tak ubahnya dengan gerlapan kilat, dan amat sukar pula diperoleh; oleh karenanya itu, gunakanlah sebaik-baiknya kesempatan menjadi manusia ini untuk melakukan penunaian Dharma, yang menyebabkan musnahnya proses lahir dan mati, sehingga berhasil mencapai sorga. (Sarasamuccaya, 8).

Dharma adalah sesuatu yang harus dipegang teguh guna penyelam^ an manusia itu karena dharma merupakan kebenaran sejati, kasih sayang, keadilan, kewajiban yang bersifat utuh dan kekal (Sanatana) guna menyagga alam semesta, dengan pelaksanaan dharma manusia akan dikembalikan menuju kesejatiannya, adapun rincian dari Dharma dalam Wrhaspati Tattwa disebutkan;

Sila ngaraning mangraksacara rahayu, yajna ngaraning manghanaken homa, tapa ngaraning umatindrianya, tan wineh ring. wisayanya, dana ngaraning weweh, prawrajya ngaraning wiku, anasaka bhiksu ngaraning diksita, yoga ngaraning magawe samadhi nahan pratyeka ning dharma ngaranya

Artinya:
Sila artinya melakukan perbuatan yang baik. Yadnya artinya melaksanakan pemujaan api. Tapa artinya mengendalikan indriya, tidak diberikan pada obyeknya. Dana artinya memberi Prawrajya artinya menjadi biku yang melakukan tapa brata (anasaka?). Bhiksu artinya seorang yang di-diksita. Yoga berarti melaku-kan meditasi.- itulah perincian Dharma. (Wrhaspati tattwa, 22).

Demikianlah proses kelahiran dan kematian dalam ajaran agama Hindu, dengan demikian manusia hendaknya bersyukur dengan mengisi hidupnya pada sesuatu yang lebih baik dan tetap berpegang teguh pada Dharma hingga berhentilah proses samsara atau paling tidak dilahirkan pada tataran kehidupan yang lebih tinggi.

Source: I.B. Wika Krishna, S.Ag l Warta Hindu Dharma NO. 449 Juli 2004