Keberagaman Perekat Persatuan

Keberagaman bangsa Indonesia yang terbentuk sejak dahulu kala dipengaruhi oleh berbagai latar belakang. Belasan ribu pulau, ribuan suku bangsa dengan ribuan bahasa dan adat istiadat, beragam agama dan kepercayaan, tumbuh dan berkembang dengan subur.

Sebagian bangsa ini menjadikan keberagaman tersebut sebagai sebuah anugerah dan mengelolanya dengan sangat baik menjadi sebuah mozaik yang indah. Namun, sebagian lainnya menganggap keberagaman tersebut sebagai sesuatu yang harus ditiadakan karena menjadi penghalang bagi keseragaman yang diinginkan dan diimpikannya.

Mereka memimpikan bahwa suatu saat bangsa ini haruslah menjadi sebuah komunitas yang seragam. Berbagai perbedaan harus dienyahkan dari Bumi Pertiwi tercinta. Yang berbeda berarti musuh yang harus diperangi. Hal tersebut tampak dalam beberapa kasus kekerasan yang terjadi dengan mengatasnamakan suku atau agama.

Dikhawatirkan, jika hal ini terus berlanjut dan berulang, bangsa ini akan pecah berkeping seperti yang sudah terjadi di belahan dunia lain. Ancaman terjadi konflik dan perpecahan sebagai akibat masih suburnya intoleransi terhadap keberagaman, termasuk yang berbeda keyakinan dan kepercayaan, berpotensi menjadi salah satu batu sandungan dalam mempertahankan tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Untuk itu, upaya memelihara dan mempertahankan keutuhan NKRI menjadi tugas dan kewajiban seluruh komponen bangsa, termasuk umat Hindu. Sebagai salah satu upaya mencegah perpecahan tersebut, dalam menyambut perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1938 yang jatuh pada Rabu, 9 Maret 2016, Parisada Hindu Dharma Indonesia sebagai Majelis Tertinggi Agama Hindu di Indonesia mengetengahkan ”Keberagaman Perekat Persatuan” sebagai tema nasional.

Tema tersebut sangat relevan dengan kondisi bangsa kita. Terlebih dalam satu tahun terakhir, kita masih dihadapkan pada berbagai permasalahan yang diakibatkan oleh belum ada penerimaan secara tulus terhadap keberagaman tersebut. Seperti tampak pada peristiwa di Tolikara, Papua, dan Aceh Singkil, Nangroe Aceh Darussalam beberapa waktu lalu.

Melalui momentum perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1938 ini, kita diingatkan kembali kepada sasanti bangsa Indonesia yang saat ini sudah ditetapkan sebagai salah satu konsensus nasional yakni Bhinneka Tunggal Ika. Sasanti ini dicetuskan dan diwariskan oleh seorang mahakawya (pujangga besar) bangsa ini, yang hidup pada akhir zaman Majapahit, yakni Mpu Tantular melalui karyanya Kakawin Sutasoma.

Salah satu sloka dalam Kakawin Sutasoma selengkapnya berbunyi: Rwaneka dhatu winuwus wara Buddha Wiswa, Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa . Terjemahan bebasnya: Konon disebutkan ada dua yaitu Buddha dan Siwa, Namun, keduanya tak dapat dibagi atau dipisahkan, Karena baik ajaran Buddha maupun ajaran Siwa adalah tunggal, Berbeda itu tetapi satu itu tak ada kebenaran yang mendua.

Sasanti ini mengajarkan kepada seluruh bangsa Indonesia, bahkan seluruh umat manusia, bahwa segala perbedaan yang ada hendaknya tidaklah untuk memisahkan antara satu dengan yang lainnya, apalagi menjadikan kita terpecah belah. Keberagaman yang kita warisi, yang sesungguhnya sudah menjadi kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, hendaknya tetap dipelihara dan ditumbuhkembangkan serta dikelola dengan sebaik-baiknya.

Berbagai perbedaan yang membentuk keberagaman bangsa Indonesia akan berfungsi sebagai perekat antarsesama anak bangsa manakala kita mampu mengelola dengan saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada. Pelestarian dan pengejawantahan sasanti Bhineka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari menjadi satu kesatuan dengan upaya memantapkan pengamalan Pancasila demi menjaga keutuhan NKRI dengan landasan konstitusional Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Keberagaman adalah urusan Tuhan Yang Maha Kuasa. Bersatu menjadi urusan kita bersama. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Selamat Nyepi Tahun Baru Saka 1938.

Oleh : I Ketut Parwata, Sekretaris Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia l www.koran-sindo.com