Kebangkitan Millenian Hindu, 'Harapan dan Impian'

Setiap peradaban selalu menampilkan cerita tersendiri, baik itu cerita suka maupun cerita duka. Setiap peradaban selalu mempunya peristiwa yang mampu memberi isyarat dan pesan-pesan bagi generasi yang hidup dan bertumbuh didalamnya.

Bila peradaban itu diibaratkan seperti mahluk hidup yang bernyawa, maka ia harus tunduk pada hukum alam yang berlaku yaitu mengalami kelahiran, kehidupan lalu sirna ditelan jaman. Setiap generasi selalu mengalami siklus kehidupan yang silih benganti, entah itu di mulai pada jaman perang, kemudian memasuki jaman kegelapan atau secara perlahan-lahan mulai menyongsong jaman keemasan.

Generasi yang lahir di era post modern ini sering disebut dengan generasi Millenium atau lebih popular dikenal sebagai generasi Millenian, sebuah generasi yang telah menembus ruang dan waktu peradaban manusia karena generasi ini telah didominasi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Bagi generasi Millenian ini memandang dunia ini seolah-olah tanpa batas untuk bisa memberi kenikmatan duniawi tanpa ada filter sama sekali. Tidak ada lagi jarak yang bisa menjadi penghalang mereka untuk berkomunikasi dan bertukar informasi antar sesame mereka. Generasi ini bebas berselancar di dunia maya kapanpun mereka mau.

Salahkah bila kita berharap akan terjadi kebangkita Hindu pada generasi Millenian kita, apakah harapan itu hanya sebuah impian belaka yang sangat sulit untuk bisa diwujudkan. Untuk bisa menjawab semua pertanyaan itu, maka harus kita mulai dengan mengadakan pembenahan pada keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat. Kita harus mulai menanam ‘bibit-bibit emas’ pada keluarga, kita jaga dan sirami dengan air ‘kasih sayang’ serta kita pupuk dengan pupuk ‘tanggungjawab’ agar perkembangan ‘bibit-bibit emas’ itu menjadi lebih kuat dan sehat, sehingga pada saat yang tepat kita akan bisa memanen hasilnya dan menjadikan generasi Millenian ini menyongsong jaman keemasan bagi kebangkita Hindu.

Kata kuncinya terletak pada perenan keluarga. Keluarga adalah tempat pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga menjadi factor penentu yang utama dalam proses pembentukan karakter anak. Menurut seorang pakar dalam bidang pendidikan anak John Locke dengan teori Tabula Rasa-nya mengatakan bahwa anaka-anak ketiak dilahirkan adalah seperti kertas putih bersih yang belum berisi apa-apa, yang bisa ditulisi apa saja oleh orang-orang dewasa yang ada pada lingkungannya. Artinya lingkungan inilah yang akan menentukan corak dari kehidupan anak-anak itu sendiri. Sedangkan pandangan pakar lain Schopen Houwer dengan teori Navitisme-nya menegaskan bahwa anak-anak sejak dilahirkan telah memiliki kemampuan-kemampuan khusus berupa bakat dan minat yang dibawanya dari sejak lahir. Agar anak-anak bisa berkembang secara alamiah dan bisa mencapai perkembangan yang optimal, maka apa yang telah dibawanya sejak lahir, harus didukung dan dibiarkan berkembang sesuai potensi yang mereka miliki. Orang tuas tidak boleh memaksakan kehendak kepada anak-anaknya dalam hal perkembangannya.

Kedua pandangan pakar di atas dipadukan oleh William Stern yang terkenal dengan teori Konvergensi. Teori ini mengatakan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh dua factor. Manusia sejak dilahirkan memang sudah membawa bakat-bakat khusus yang disebut talenta, tapi bakat itu tidak akan berkembang dengan sendirinya jika tidak didukung oleh lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembangnya bakat anak itu sendiri. Jadi orang tua sangat penting memperhatikan kedua factor tersebut dalam hal mengembangkan pontensi yang dimiliki oleh anak itu sendiri.

Dalam konsep Hindu, manusia lahir masih membawa karma-karma yang terdahulu. Bekas-bekas perbuatan ini masih melekat pada diri anak sesuai dengan kelahirannya terdahulu. Inilah dalam ajaran Hindu disebut dengan Sancita Karma Phala yaitu hasil dari perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih yang menentukan kehidupan kita sekarang. Bila karma kita pada kehidupan yang terdahulu baik, maka kehidupan kita sekarang akan baik pula (senang, sejahtera, bahagia). Sebaliknya bila perbuatan kita terdahulu buruk maka kehidupan kita yang sekarang inipun akan buruk (selalu menderita, susah, dan sengsara).

Sesungguhnya lahir, hidup, mati, jodoh, jabatan, kepaada siapa akan berteman dan kepada siapa akan bermusuhan semua sudah diatur dengan tertib. Walaupun nasib atau takdir telah ditetapkan bukanlah berarti kita harus menyerah dan putus asa. Manusia yang diumpamakan sebagai actor bisa merubah nasibnya meskipun tidak bisa merubahnya secara radikal. Peranan si actor sangat menentukan berhasil atau tidaknya pertunjukkan itu. Si actor yang patuh dengan petunjuk sutradara serta melakukan actingnya dengan sungguh-sungguh, cerita itu akan menjadi hidup dan pertunjukkan akan berhasil. Keberhasilan ini akan menyebabkan si actor dipercaya memegang peranan yang lebih penting lagi dalam drama kehidupan yang akan datang. Namun sebaliknya bila gagal si actor tidak akan dipercaya memegang peranan penting.

Peranan orang tua sebagai orang yang amat dekat dengan anak hendaknya mampu memberikan contoh yang kondusif bagi perkembangan mentalnya. Sebagai contoh orang tua yang melaran anaknya untuk minum-minuman yang beralkohol atau orang tua yang mau menjelaskan kepada anaknya tentang bahaya merokok sebaiknya juga jangn merokok. Anak-anak itu perlu contoh dan panutan dari orang-orang terdekatnya. Pertengkaran yang terjadi dalam keluarga kalau memungkinkan jangan langsung dilihat oleh anak karena jiwa anak ini masih amat rentan terpengaruh dan bisa terekam dalam memori bawah sadarnya. Sehingga peranan orang tua sangat menentukan untuk menyiapkan dan menciptakan generasi-generasi emas ini, kalau tidak maka kebangkitan Hindu pada generasi Millenian ini hanya tinggal harapan dan impian.

Oleh: I Made Rudita l Dosen STIKOM Bali
Source: Majalah Wartam, Edisi 27, Mei 2017