Kebangkitan dari Ranah Weda

Ranah Weda ialah universum di mana manusia Hindu menjelajah semesta raya ini. Cahaya Weda yang memendar menyinari semesta alam ini menjadi tuntunan subha karma untuk menyirnakan asubha karma. Bila tujuan hidup sesungguhnya adalah moksartham jagadhita ya ca iti dharma (hidup bahagia di dunia maya ini dan di sunya nirbana kelak), maka sesungguhnya kebangkitan imanen dalam ranah weda merupakan esensinya. Dimana esensi kehidupan manusia ialah doktrin subha karma dalam arti hidup dengan segala tingkah laku baik dan mulia sesuai ajaran dharma. Kalau begitu, kalau tidak mampu usahlah ikut-ikut berpikir tentang darsana, tentang samkhya, yoga, mimamsa, vaisesika, nyaya, dan Vedanta yang rumit itu apalagi berupaya merenungkan kebenaran brahman atman aikyam. Biarlah para sujana bijak bestari mendebatkannya sambil berupaya melepaskan diri dari ikatan duniawi. Bagi orang kebanyakan cukuplah tekun dengan jalan subha karma.

Oleh karena itu, kebangkitan yang direflesikan dari ranah Weda, cukuplah melaksanakan subha karma dengan baik dan sungguh-sungguh menyirnakan asubha karma dari niat yang menggoda. Kebangkitan dari ranah Weda akan nyata bila momentum pencerahan (enlightens) terjadi pada diri sendiri, bahwa sesungguhnya hanya jalan subha karma itulah sesungguhnya menjadi jalan menyatunya brahman dengan atman yang disangga tubuh dengan elemen panca maha bhuta ini. Seperti Sang Lubdhaka, seorang pria lagi papa sangat, begitu mendapat “kebangkitan” pada malam siwarartri, lempang jalannya tiada hambatan menjejak sunya nirbhana.

Jalan subha karma ini kalau dirumuskan secara sederhana berarti segala tingkah laku yang baik dan mulia, lagi selaras dengan ajaran dharma. Jikalau bentuk-bentuk subha karma itu digolongkan sesuai yang terpancar dari ajara Weda, pertama-tama dan utama ialah yang disebut Tri Kaya Parisudha (tiga perbuatan yang dibersihkan).

Tri Kaya Parisduha itu, mencakup berpikir bersih nan suci (manacika), berkata benar (wacika), dan berbuat baik lagi jujur (kayika). Sirkumstansi dari awal tri ning tri itu, menyublimasi pikiran yang bersih nan suci akan mengarahkan berkata benar dan buat baik lagi jujur. Tidak hanya itu saja, dari ketiganya kemudia mengembang mekar sepuluh macam pengendalian diri. Tiga macam berdasarkan pikira (manacika), mencakup tiadanya keinginan untuk menginginkan sesuatu yang tidak pantas, tidak berpikiran buruk terhadap mahluk lain, dan berupaya menghindari terjadinya hukum karmaphala. Empat macam berdasarkan perkataan (wacika), yaitu tidak suka mencaci maki, tidak berkata kasar  terhadap mahluk lain, tidak menfitnah, dan tidak ingkar pada janji atau ucapan. Tiga macam lagi berdasarkan perbuatan (kayika), meliputi tidak menyiksa atau membunuh mahluk lain (ahimsa), tidak mendapatkan harta benda dengan berbuat curang, tidak melakukan perbuatan zinah (mamitra).

Bentuk subha karma lainnya disebut catur paramitha, yaitu empat bentuk budhi yang luhur yang menuntun manusia ke arah kemuliaan. Bentuknya yang pertama disebut maitri, yaitu lemah lembut, maksudnya, sifat lemah lembut itu diupayakan untuk kebahagiaan segala mahluk.

Kedua, disebut karuna, yaitu rasa belas kasihan atau kasih sayang. Sifat rasa belas kasihan atau kasih sayang itu merupakan bagian bentuk budi luhur yang bertujuan untuk menyirnakan penderitaan segala mahluk. Ketiga, disebut mudita, yaitu sifat dan sikap menyenangkan orang lain. Bila semua orang lain bersikap tulus menyenangkan orang lain, maka semua orang diharapkan terhindar dari kesusahan. Betapun beratnya penderitaan yang melanda, terakhir, disebut upeksa, yang berarti sifat dan sikap suka menghargai orang lain.

Setelah yang empat itu, berikutnya ada yang disebut panca yama bratha yang dimaksudkan sebagai lima macam pengendalian diri dalam intersepsi helai kesempurnaan rohaniah dan kesucian bathiniah. Bagian pertama dari panca yama bratha disebut ahimsa, yaitu tidak menyiksa apalagi membunuh mahluk lain dengan sewenang-wenang. Kedua brahmacari, yaitu mengendalikan diri dari nafsu birahi dengan tidak melakukan hubungan persetubuhan selama menuntut ilmu. Ketiga disebut satya, yaitu memegang teguh kesetiaan dan kejujuran yang menyenangkan orang lain. Keempat disebut awyawahara, yaitu senantiasa mengusahakan kedamaian dengan ketulusan hati. Kelima disebut asteya, yaitu tidak mencuri atau menggelapkan harta benda orang lain.

Selain panca yama bratha, masih kontekstif dengan adagium lima macam pengendalian diri ada yang disebut panca nyama bratha sebagai salah satu bentuk doktrin subha karma. Panca nyama bratha berwujud lima macam pengendalian diri dalam strata mentalitas diri dalam strata mentalitas untuk mencapai kesempurnaan dan kesucian batin. Bentuk pengendalian diri pertama dalam panca nyama bratha disebut akrodha, tidak marah. Kedua, guru susrusa yang artinya hormat, taat, dan tekun melaksanakan ajaran dan nasihat guru. Ketiga, sauca yang artinya bersih, murni, dan suci sehingga bermakna kesuciaan dan kemurnian lahir batin. Keempat, aharalaghawa yang artinya mengendalikan nafsu mengomsumsi makanan secara berlebihan. Terakhir, yang kelima disebut apramada yang artinya taat melakukan segala kewajiban sesuai swadharma dan dalam mengamalkan ajaran suci tanpa takabur.

Formulaik imanensi tiga-empat-lima-lima tersebut di atas, memungkinkan terjadinya kebangkitan yang terpancar dari ranah Weda. Ranah universum “kebenaran” yang berlaku dimana saja dan kapan saja. Manacika (berpikir benar), wacika (berkata benar), dan kayika (berbuat benar) merupakan trikotomi dasar yang senantiasa harus dipegang keseimbangan diri berjalan di jalan lurus menuju moksartham jagadhita ya ca iti dharma. Orang yang berpikir, berkata, dan buat benar itu tentu saja akan senantiasa memili sifat lemah lembut (maitri), rasa welas asih dan penyayang (karuna), sehingga menimbulkan kesan senantiasa menyenangkan orang lain (mudita), dan akhirnya akan memunculkan sifat dan sikap menghargai orang lain (upeksa).

Kausa tri kaya parisudha yang melahirkan budi baik catur paramita tersebut, pertama-tama ditingkahi oleh tingkah laku ahimsa, yaitu tidak menyiksa apalagi membunuh mahluk lain dengan sewenang-wenang. Kemudian dipertahankan dengan mengendalian naluri dasar nafsu birahi yang sungguh sulit dihindarkan dengan jalan tidak melakukan persetubuhan selama menuntut ilmu (brahmacari). Keduanya memerlukan sifat satya, yaitu kesetiaan dan kejujuran. Dengan itu, sifat awyawahara (kedamaian dan ketulusan hati) terbangun dengan sendirinya yang kemudian berdampak pada perilaku tidak mencuri atau menggelakpkan “harta benda” milik orang lain.

Rumitasi kebangkitan dari ranah Weda, sesungguhnya diluruskan oleh keteguhan hati yang dirumuskan ke dalam panca nyama bratha berupa kewajiban dasar untuk senantiasa tidak marah (akroda), menghormati ajaran dan nasihat guru (guru susrusa), menjaga kesucian diri lahir batin (sauca), memilih makanan yang baik (aharalaghawa), dan mengamalkan ajaran suci dalam meniti swadharma (profesi) baik lahiriah maupun bathiniah tanpa menyombongkan diri (apramada). Dengan demikian, kebangkitan dari ranah Weda didasari oleh kontestasi pribadi berbudi luhur. Oleh karena itu, etika dasar seperti diuraikan dalam tri kaya parisudha yang melahirkan perbuatan mulia catur paramitha dengan doktrin panca yama bratha dan panca nyama bratha merupakan pancaran suci kebangkitan dari ranah Weda.

Oleh: Jelantik Sutanegara Pidada
Source: Majalah Wartam, Edisi 27, Mei 2017