Keagungan Siva dalam Purana-Purana

Pustaka suci Purana banyaknya berjumlah delapan belas buah yang lazim dinamai Asta Dasa Purana atau Mahapurana. Adapun bagiannya antara lain : Brahma Purana, Padma Puranam Visnu Purana, Siva Purana atau Vayu Purana, Bhagavata Purana, Narada Purana, Markandeya Purana, Agni Purana, Bhavisya Purana, Brahmavaivarta Purana, Linga Purana, Varaha Purana, Skanda Purana, Vamana Purana, Kurma Purana, Matsya Purana, Garuda Purana, dan Brahmanda Purana. Dari kedelapan belas Purana, tersebut, ada beberapa Purana yang isinya menguraikan tentang Deva Siva, di antaranya : Padma Purana, Siva Purana atau Vayu Purana, Brahmavaivarta Purana, Skanda Purana, Vamana Purana, Kurma Purana, dan Brahmanda Purana.

Bagaimana keagungan tentang Siva sesuai beberapa pustaka suci Purana di atas, maka sekilas diuraikan berikut ini. Dalam Padma Purana dijelaskan mengenai Deva Siva bersama Devi Parvati yang tinggal di puncak gunung Kailasa tepatnya di tengah hutan Nandakakarana. Bertempat disanalah Deva Siva bersama Devi Parvati melakukan perjalanan suci (tirtha yatra) dengan mengunjungi antara satu hutan dengan hutan yang lainnya. Ketika itu Deva Siva bersama Devi Parvati telah mampu menciptakan keindahan dan segala ciptaan-Nya termasuk juga keagungan Beliau saat menghadirkan seorang devi yang sangat cantik bernama Asokasundari yang dikodratkan oleh Beliau untuk bertemu dan kawin dengan raja Nahusa dari keturunan Candra yang berada di wilayah Nandanakarana.

Kemudian Siva Purana atau Vayu Purana juga ada diuraikan bagaimana keagungan Deva Siva ketika bersama ketiga deva yang lainnya dalam tri murti yakni Deva Brahma, Deva Visnu, dan Deva Siva sendiri. Dalam sumber ini dijelaskan bahwa bermula dari keingintahuan dari Deva Visnu tentang apa yang terjadi dan apa yang dilakukan oleh Deva Brahma. Dari rasa ingin tahu tersebut, maka akhirnya Deva Visnu secara perlahan-lahan untuk memasuki perut Deva Brahma, begitu sebaliknya Deva Brahma pun akhirnya bergantian untuk memasuhi perut Deva Visnu untuk membuktikan tentang keindahan alam yang ada di tengah perutnya masing-masing. Dalam perutnya itu dijumpai pohon teratai yang indah dan mengagumkan. Namun apa yang terjadi akhirnya Deva Brahma tidak bisa keluar sama sekali dari perut Deva Visnu. Akhirnya Deva Brahma punya akal yang jitu dengan mengecilkan badannya dengan cara menduduki bunga teratai yang ada di tengah perut Deva Visnu, yang akhirnya bisa keluar melalui pusar-Nya dengan selamat, saat itulah akhirnya Deva Brahma dinamai Padmayoni.

Setelah perbincangan antara Deva Visnu dengan Dewa Brahma begitu suci dan seriusnya, maka hadirlah Deva Siva di antara perbincangan kedua deva itu. Saat itu baik Deva Visnu dan Deva Brahma akhirnya menyembah Deva Siva serta dengan keagungan-Nya akhirnya memberikan anugerah berupa kerahayuan serta telah memaafkan kehilafan yang dilakukan oleh Deva Visnu dan Deva Brahma yang selanjutnya telah berjanji untuk berbhakti dan hormat kepada Deva Siva.

Dalam pustaka suci Brahmavaivarta Purana juga ada dijelaskan bahwa keagungan Deva Siva untuk memberikan anugerah kepada seorang Pertapa (tapasya) yang tiada lain adalah seorang asura yang bernama Vrka. Memang Deva Siva adalah deva yang maha pemurah dan dapat memberikan anugerah kepada para pemuja-Nya tanpa syarat yang berat dan menyulitkan. Demikian juga dalam pustaka ini dijelaskan bahwa asura itu telah diberikan anugerah berupa kekuatan yang maha dahsyat yakni tatkala tangan dari asura itu bilamana diletakkan di atas kepala seseorang, maka orang itu akan hancur menjadi abu. Dibalik itu.

Deva Siva tidak mengetahui bahwa asura tersebut memiliki niat jahat kepada Deva Siva. Kesaktian yang diterima sebagai anugerah dari Deva Siva, maka asura Vrka ingin mengujinya kepada Deva Siva sendiri. Saat itulah Deva Siva Merasa kewalahan yang lari terbirit-birit untuk mohon perlindungan kepada Deva Visnu menyuruh Asura Vrka untuk mencobanya menaruh tangannya di kepalanya sendiri. Hal itu dilakukan oleh Asura Vrka, maka saat itulah Asura Vrka menjadi hancur terbakar menjadi abu. Begitulah perilakunya yang jahat yang diterima sendiri pahalanya.

Sedangkan dalam Skanda Purana ada dijelaskan bahwa ada tiga dasar yang tidak dipisahkan yakni sattwa (kebaikan), rajas (nafsu), dan tamas (kegelapan). Semua ciptaan (krti atau prakrti) di dunia memiliki ketiga sifat tersebut. Dari tiga sifat itu, maka Tuhan Yang Maha Esa (Deva Siva) memberikan kekuatan (sakti) kepada setiap ciptaan itu. Pada saat peleburan (pralina) oleh Dewa Siva itu, maka ketiga sifat dasar (tri guna) dan kekuatan (sakti) menjadi satu kekuatan yang maha dahsyat yakni paramatman.

Terjadinya proses penyatuan dan pemisahan dari semua ciptaan ini berada di nyasa. Beliau yakni Linga yang tidak memiliki sifat apa-apa yang dinamai nirguna. Oleh karena Linga itu merupakan perwujudan yang tertinggi, maka nyasa itu sebagai tempat suci dan dimuliakan maupun sebagai nyasa pemujaan kepada Deva Siwa dalam bentuk Linga yang yang maha agung. Jadi dalam sumber ini dinyatakan bahwa Linga tersebut nyasa Deva Siva yang maha agung. Selain Beliau memiliki kekuatan yang maha agung, juga sebagai maha pengasih, maha penyayang, maha pelindung, maha pemberi, serta Deva Siva merupakan-mewujudkan diri-Nya dalam bentuk Linga yang tanpa berpribadi. Itulah sebabnya dihormati dan dipuja di tempat-tempat suci dalam bentuk Linga sebagaimana halnya pada saat hari suci Sivaratri puja.

Pada bagian juga dalam pustaka suci Vamana Purana ada dijelaskan bahwa Deva Siva melakukan tapasya untuk melepaskan segala dosanya. Tempat-tempat suci yang dipilih adalah sunyai Yamuna, sungai Sarasvati, dan sungai Gangga. Pada tempat suci itulah Beliau melakukan penyucian. Selanjutnya Beliau bertemu Deva Visnu dan memberikan petunjuk agar Deva Siva segera datang ke daerah Varanasi yang juga dinamai kota Kashi atau kota Siva. Bertempat di kota Varanasi yang juga dinamai kota Kashi atau kota Siva.

Bertempat di kota Varanasi itulah akhirnya melepaskan semua dosanya, tepatnya di campuhan (sanggam) sungai Vara dan sungai Asi. Kota ini adalah salah satu kota suci Hindu di Bharatiya atau di Jambhu Dvipa. Oleh karena getaran kesuciannya itu, dikisahkan bahwa Deva Siva berhasil melepaskan segala kekotorannya (dosa) terutama dosanya pada brahmana yang telah dibunuhnya (brahmanahatya). Adapun nama air suci (tirtha) yang dipakai untuk menyucian itu adalah bersama tirtha dasasvmedha.

Air suci tersebut diletakkan atau disiratkan di kepalanya, yang akhirnya segala dosanya menjadi terlepas, maka air suci tersebut dinamai Tirtha Kapala Mocana. Demikian Deva Siva melakukan pemujaan dan penyucian diri di kota Varanasi yang saat kini lebih dikenal sebagai kota Siva oleh umat Hindu di Bharatiya.

Dalam pustaka suci Karma Purana dijelaskan mengenai perbincangan antara Deva Brahma, Deva Visnu, dan Deva Siva. Pada saat perbincangan itu adalah membicarakan tentang penciptaan di dunia ini. Deva Visnu menyatakan bahwa Deva Brahma terlahir dari perut-Nya melalui pusarnya dengan sarana teratai. Perbincangan Deva Brahma dengan Deva Visnu berlangsung dengan damai. Keduanya menyatakan diri sebagai Hyang Maha Kuasa dan sama-sama memiliki kekuatan sebagai Brahman. Untuk itu Deva Visnu mengingatkan kepada Deva Brahma agar tidak lupa memuliakan dan memuja Deva Siva.

Dibalik itu akhirnya muncullah Deva Siva di antara Deva Brahma dan Deva Visnu. Deva Siva dengan kekuatan mata ketiganya yang maha suci dan maha cahya yang terletak di bagian tengah dahinya dengan membawa senjata trisula dan saat itu Deva Siva mendekati Deva Brahma yang akhirnya dengan kemuliaan Deva Brahma, maka akhirnya Deva Siva memberikan anugerah kepada Deva Brahma berupa mata ketiga juga, sehingga kesaktian Deva Brahma tidak menyalahi kesaktian dari pada Deva Siva.

Demikianlah makna pemujaan suci kepada Deva Siva yang sesungguhnya Beliau adalah sebagai Tuhan Yang Maha Pemberi kepada setiap pemujanya. Sedangkan dalam pustaka suci Brahmanda Purana dijelaskan pula mengenai keagungan Deva Siva. Bagaimana keagungan Beliau itu? Dalam sumber ini dijelaskan bahwa tenggorokan Deva Siva berwarna biru. Mengapa hal ini sampai terjadi. Devi Parvati mengisahkan bahwa para dewa dan raksasa suatu waktu bersama-sama mengaduk lautan susu untuk mencari tirtha amrtha, minuman surgawi pemberi kehidupan, yang hanya dapat diperoleh dengan mengaduk lautan susu itu (samudra manthana).

Dalam proses pengadukan lautan susu untuk mencari tirtha amrtha tersebut, maka pada awalnya yang keluar adalah racun yakni racun kalakula. Saat itu akhirnya Deva Siva meminum racun yang ada di lautan itu. Oleh karena Deva Siva meminum racun itu, maka menjadi biru tenggorokan Deva Siva. Apa yang menjadi keagungan dari Deva Siva sesuai sumber ini adalah Beliau dengan tulus menyelamatkan para dewa dan asura untuk mencari tirtha amrtha dengan anugerah suci keselamatan bagi semuanya. Demikian paparan kecil ini mengenai keagungan Deva Siva sesuai sumber suci purana-purana.

Source: I Ketut Subagiasta l Warta Hindu Dharma NO. 484 Mei 2007