Keadilan

Keadilan mengandung pengertian bahwa setiap orang memiliki hak yang sama, terutama dalam hal kesempatan berusaha, pendidikan, hukum, hidup layak dan lain sebagainya. Keadilan semestinya sebagai panglima dalam kehidupan. Hal ini akan dapat terwujud, apabila keadilan dilaksanakan tanpa harus membedakan klasifikasi dan status sosial. Keadilan sepatutnya dilaksanakan terbebas dari ruang, waktu dan keadaan. Apabila kita maknai keadilan sebagai panglima kehidupan, sungguh hidup ini akan indah sekali, karena penegakan hak asasi manusia benar-benar terwujud. Namun, apabila kita coba membuat perbandingan dengan kondisi riil di masyarakat, jelas kata ini menjadi kata yang amat mahal, mengingat masih ada banyak problema di mana keadilan digugat karena sering tidak berpihak pada kebenaran.

Jika saat ini, di dalam kehidupan kita, terlebih pada saat bangsa Indonesia mengalami keterpurukan sebagai imflikasi dari krisis multidimensional, maka kehidupan masyarakat pun akan ikut larut dalam keterpurukan ini. Ujung-ujungnya masalah sosial kemanusiaan terutama masalah etika dan moral pun akan mulai menunjukkan kegoyahan. Kegoyahan mental ini dapat kita lihat dari begitu banyaknya persoalan yang belum dapat diatasi, khususnya segala persoalan yang berkaitan langsung dengan keadilan, baik keadilan dalam memperoleh kesempatan berusaha, hukum, pendidikan atau persamaan hak.

Dapatlah kita menarik benang merahnya, bahwasanya keadilan memegang peranan penting dalam usaha mengatur kehidupan ini untuk sampai pada tujuan yang telah dicita-citakan yaitu masyarakat yang makmur berkeadilan. Keadilan, berasal dari kata "adil" yang berarti sama rata, setara, sederajat, tidak berpihak, berpihak pada kebenaran atau tidak berat sebelah. Intinya, keadilan mengandung makna bahwa sesungguh nya kita berhak memiliki persamaan dalam usaha dan kesempatan untuk hidup.

Kadang kala kita merasa, bahwa untuk memperoleh keadilan dalam kondisi yang benar-benar adil sungguh sulit, namun tidak merupakan sebuah pemustahilan apabila keadilan dapat dijalankan dengan baik tanpa dinodai oleh kepentingan-kepentingan sepihak. Keadilan dapat dilaksanakan mulai dari diri pribadi masing-masing, keluarga, masyarakat, sampai kepada aparatur negara dan penegak keadilan itu sendiri, seperti hakim, jaksa atau polisi yang lain sebagainya.

Sesungguhnya, aparatur negara dan penegak keadilan, dapat melaksanakan keadilan ini tanpa harus memilih dan memilah klasifikasi dan status sosial orang. Dalam hal ini konsepsi Yama Brata dan Surya Brata dalam ajaran Astha Brata dapat menjadi pedoman bagi para aparat dan bagi para pemimpin. Bagaimana seorang pemimpin harus bisa memberi keadilan kepada rakyatnya tanpa membedakan status sosial. Semuanya harus diberikan keadilan, apakah ia seorang pedagang sayur, petani, nelayan atau pun seorang pejabat, pengusaha dan bangsawan.

Bagaikan sinar matahari yang tak pernah memilih tempat untuk bersinar. Semua disinari, tidak terkecuali kotoran, atau bagaikan Yama yang tidak pilih kasih untuk memberikan keadilan. Dalam epos besar Mahabharata, kita juga banyak menemukan pelajaran tentang bagaimana keadilan harus dijalankan. Dewi Kunti adalahan sosok seorang ibu yang bijak, karena mampu berlaku adil kepada semua anak-anaknya, termasuk terhadap anak tirinya, Nakula dan Sahadewa (Putra Dewi madri). Dewi Drupadi juga adalah figur istri yang adil kepada kelima suaminya meskipun sungguh-sungguh ia telah mencintai Arjuna.

Keadilan tidak pernah memilih tempat dan waktu untuk ia memberi keadilan kepada manusia. Keadilan semestinya dilaksanakan terbebas dari ruang, waktu, dan keadaan. Ia dapat dilaksanakan setiap saat dan di setiap tempat. Dan perlu diingat, bahwa keadilan juga tidak hanya berhak dimiliki oleh manusia semata, tetapi juga oleh seluruh alam semesta beserta isinya, termasuk di dalamnya tumbuh-tumbuhan dan binatang. Dari sikap adil kita kepada seluruh mahluk hidup inilah lahir keharmonisan yang menuntun kita pada kerahayuan. Tri Hita Karana adalah formula dari bentuk keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, dengan sesama dan dengan alam serta lingkungannya. Keharmonisan ini juga mengandung makna bahwa keadilan telah terimplementasi di dalamnya.

Jadi, perlakukanlah semuanya sebagai sahabat-sahabat kita. Sebait sloka seperti dijelaskan dalam kitab Yajur Veda XXXVI. 18, menyebutkan:

Mitrasya ma caksusa sarvani bhutani samiksantam,
Mitrasya caksusa sarvani bhutani samikse,
Mitrasya saksusa samisamahe

Artinya:

Semoga semua umat manusia dan mahluk hidup meperlakukan hamba dengan ramah dan bersahabat. Secara timbal balik, semoga hamba juga memperlakukan mereka dengan bersahabat. Semoga kami semuanya sling berkelakuan sebagai seorang sahabat.

Apa yang ingin dicapai dari dilaksanakannya keadilan secara baik adalah keadaan kehidupan yang aman, tenang, tentram, damai dan bahagia. Masing-masing orang merasa mempunyai kesamaan hak untuk hidup layak, memperoleh pendidikan, atau adil dimata hukum. Sesungguhnya ini semua telah dinyatakan dalam UUD 1945 pasal 33 tentang keadilan untuk berusaha secara ekonomi. Juga pasal 31 tentang keadilan mendapatkan pendidikan. Demikian juga pasal 27 tentang keadilan mendapatkan perlakukan hukum yang sama. Jika kondisi benar-benar dapat dijalankan, dipastikan dapat tercipta masyarakat madani atau sosial society.

Sebuah kemustahilan akan terciptanya masyarakat yang makmur berkeadilan apabila keadilan itu sendiri telah kehilangan maknanya. Keadilan handaknya menjadi penglima di dalam kehidupan ini. Dewasa ini kita melihat betapa keadilan sudah sangat abstrak maknanya. Hal ini dapat kita lihat dari masih banyaknya kasus-kasus kriminal yang jarang disentuh hukum, masih adanya oknum pejabat yang juga sering bebas dari jeratan hukum. Semua ini akhirnya menimbulkan ekses pada pola atau struktur berpikir masyarakat, bahwa hukum dan keadilan belum sepenuhnya mampu menyelesaikan persoalan yang timbul di dalam masyarakat, maka akumulasi dari pola ini adalah lahirnya pengadilan jalanan, seperti para perampok, pencopet dan penodong yang dihabisi massa hingga tewas bahkan tragisnya kadang-kadang sampai dibakar hidup-hidup. Tindakan-tindakan ini jelas tidak mencerminkan bangsa kita yang beradab dan berketuhanan. Jadi betapa keadilan itu begitu vital sebagai pengatur kehidupan ini, jika dijalankan dengan seadil-adilnya.

Namun demikian, pada perkem-bangan dewasa ini, patut juga kita memberikan isapan jempol kepada penegak hukum, karena setitik harapan masyarakat, mengenai diseretnya para pelaku kejahatan, terutama para koruptor dengan tidak pandang bulu, dari tingkat pusat sampai pada tingkat daerah, sepanjang hal itu dilakuan secara sungguh-sungguh, konsisten dan konskwen, serta dilandasi oleh rasa tanggung jawab, maka secara bertahap bisa memulihkan kepercayaan masya¬rakat kepada pemerintah, terutama terhadap penegak hukum.

Source : Made Awanita l Warta Hindu Dharma NO. 507-508, Maret - April 2009