Kautilya Artha Sastra

Sejarah tradisi politik India setua Veda dan politik sudah dikenal sejak awal Smrti dan Purana sebagai Dandaniti yang isinya merupakan kristalisasi tradisi Arthasastra dan Dharmasastra. Walaupun terdapat refrensi tentang naskah-naskah politik sebelum abad keempat SM, interpretasi yang paling populer, benar-benar ilmiah, dan paling kuasa atas trasisi itu ialah Kautilya Arthasastra. Karya tulis ini merupakan saripati kebijaksanaan politik Arya sebagaimana dijelaskan dan diuraikan oleh Brhaspati, Brhadvaja, Vatavyadhi, dll. diterangi oleh keunggulan Kautilya.

Dengan penemuan Kautilya Arthasastra oleh Dr. R. Shamasastri pada pada tahun 1905 dan penerbitannya pada tahun 1914, banyak minat timbul dalam sejarah pemikiran politik India Kuno. Disamping itu, banyak kesalahan yang tampak tentang pertimbangan politik yang didasarkan atas prasangka dan versi-versi kehidupan politik India yang merugikan, disisihkan atau masih dalam proses disisihkan. Sejumlah sarjana seperti Dr. Ganapathu Sastri, Jolly, Dr. Winternitz, dan Meyers telah melaksanakan pengabdian yang tak ternilai dalam penyebaran pengetahuan politik India Kuno yang benar.

Ada pertentangan yang tajam tentang penulis Arthasastra. Beberapa versi menyatakan bahwa nama Kautilya adalah nama samaran atau simbol suatu tradisi politik atau suatu istilah yang menyatakan kearifan politik yang halus dari seseorang diplomat agung yang telah menguraikan, melihat tipu daya, kecurangan untuk digunakan melawan musuh, penghinaan dan melupakan implikasi etika sebagai konsekuensinya. Penyusun Arthasastra secara populer dianggap penasihat Chandragupta Maurya yang hidup sezaman dengan raja itu. Namun, ada cabang pemikir yang meragukan tradisi ini karena Megnothenes, duta Yunani di Kraton Chandragupta, tidak menyebut nama penyusun dan judul karya tulis yang besar itu. Walaupun terdapat perbedaan-perbedaan pendapat, banyak bukti yang mendukung keaslian Kautilya dan Arthasastranya sebab dalam naskah itu sendiri.

Ia dinyatakan sebagai penyelamat dan penasihat Chandragupta. Kamandaka, penulis ilmu politik lain yang termasyur yang hadir dalam panggung India beberapa abad setelah Kautilya mengukuhkan teori yang sama. Begitu juga Dandin dalam Dasakumaracaritanya menyampaikan bahwa seorang yang bernama Visnugupta menyusun sebuah uraian polotik yang terdiri atas enam ribu suara untuk kepentingan penguasa Maunpun dalam administrasi negara.

Arthasastra digambarkan oleh Bana sebagai ilmu dan seni diplomasi. Penulis Pancatantra menjelaskan penulis Arthasastra adalah seorang Brahman yang bernama Canakya. Menurut pendapat Ganapatri Sastri andal, penulis Arthasastra dikatakan sebagai Kautilya sebab ia dari Kautilya Gotra dan karena dilahirkan sebagai Chanaka, maka ia dipanggil Chanakya sebagai Vishnugupta. Kautilya adalah penasihat Chandragupta dan tinggal di istana seperti Aristoteles di istana Iskandar.

Arthasastra mulai dengan penghormatan pada Sukra dan Brhaspati serta sebuah ringkasan dan komentar atas semua pengetahuan politik yang dikenal pada zaman Kautilya. Arthasastra merupakan tuntunan untuk raja-raja dalam mendapatkan dan mempertahanakan dunia ini. Kautilya mengatakan bahwa dalam terangnya sastra seseorang tidak hanya dapat melangkah pada kebenaran, usaha-usaha ekonomi, dan estetika, serta mempertahankannya, namun juga menindas tindakan-tindakan yang tidak benar, tidak ekonomis, dan yang tidak menggunakan estetika. Ia menyusun naskah itu atas dasar kitab suci dan pengetahuan senjata di samping pengetahuan bisnis yang didapat dari Raja Nanda.

Arthasastra mengandung tiga puluh dua bagian. Ia memiliki lima belas Adhikarana dengan seratus lima puluh bab. Sastra itu merupakan suatu gambaran pendekatan ilmiah pada masalah politik yang memuaskan segala kebutuhan dan kriteria dari suatu pengetahuan yang tepat. Di dalamya terdapat pernyataan pandangan prima Facie, Purwapaksa dan jawaban, Uttarapaksa dan simpulan Ekananta. Pada penentuan simpulan, dimanfaatkan semua langkah yang berbeda-beda yang tersangkut untuk mencapainya.

Fakta-fakta dibicarakan dengan refrensi tempat, prosedur, keragaman, simpulan, perbedaan Viparayaya, Vakyasesha, Anumata, Vyakyana, Nirwachana, Nirdharshana, dan Anagatavekshana. Selain itu juga terdapat refrensi untuk bagian-bagian yang mendahuluinya. Demikian pula pada alternatif-alternatif, Vikalpa, Samucchaya, dan Uhya. Di samping itu, juga ditelaah kata-kata dalam konotasi yang berbeda-beda, arthapatri, implikasi, dan aplikasi Atidesa. Penulis juga menggunakan istilah teknisnya sendiri. Svasamjna dengan tujuan untuk menjelaskan fenomena politik yang rumit dan sulit.

Kautilya mendasarkan Arthasastranya tidak hanya pada naskah politik yang dapat diperoleh pada zamannya, namun juga pada pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh atas observasi sendiri dan studi fenomena politik serta lembaga-lembaga. Seperti halnya Aristoteles, ia memperbaiki pengetahuan teorinya dengan pengalaman praktik tentang bentuk-bentuk dan praktik pemerintahan pada zamannya.

Sarvasastranyupakarmanya Prayogmupalabhya Ca

Arthasastra mulai dengan telaah tentang tujuan masyarakat untuk menerangkan posisi Trayi, Anvikshiki, Varta dan Danda dalam kerangka keberadaan manusia. Hal itu dilakukan karena merupakan sumber semua ilmu pengetahuan dan sarana yang mudah untuk kesempurnaan tindakan-tindakan yang besar selain sumber suatu kehidupan yang saleh. Pembedaan dibuat antara antara disiplin alamiah dan disiplin buatan, dharma dan adharma, maya serta tenaga yang bermanfaat dan yang tak bermanfaat. Vamasrama diterangkan dengan panjang lebar sebagai landasan tertib sosial dan kewajiban-kewajiban umum yang berlaku untuk semua orang, seperti tidak melakukan kekerasan, kejujuran, kesucian, bebas dari kebengisan, toleransi dan suka mengampuni, serta penetapan kewajiban seseorang ke surga dan kebahagiaan tak terbatas.

Anantya seorang Swami yang terdidik baik, disiplin dan mengabdi pada pemerintahan yang baik untuk rakyatnya akan menikmati dunia bebas pertentangan. Begitu juga Kautilya dalam Arthasastra menggambarkan hidup seorang rajarshi dan pentingnya pengendalian indra di dalan negara. Kulifikasi anggota dewan, pendeta, dan materi-materi yang mendukung raja dan ketulusan hati juga ditekankan dan metode untuk menetapkan watak serta sifat materi-materi ditelaah melalui agen sistem spionase yang hebat. Kemudian menyusul tugas-tugas raja dan abdi-abdi negara juga deskripsi panjang lebar tentang departemen yang bermacam-macam yang masing-masing di bawah seorang Adhyaksa yang mengatur personelnya. Interpretasi hukum perdata, prosedur perjanjian dan kontrak yang resmi, cara pemecahan dan mengadili perselisihan-perselisihan menurut hukum membentuk isi beberapa bab Arthasastra.

Hukum pidana, Kantaka Sodhana dijelaskan kemudian dan batasan-batasan untuk melindungi rakyat terhadap tukang, pedagang, pegawai-pegawai administrasai, dan malapetaka nasional yang disebabkan oleh adanya kelompok internal, salah urus, dan ancaman luar. Demikian juga bebearapa Adhikarana disajikan untuk penjelasan tentang perang dan damai, kebijaksanaan, sifat bahaya luar kerja, penyerangan dan musuh-musuh besar, serta perang dan strategi. Di atas semua itu diuraikan tentang sarana untuk menghancurkan musuh dan memperluas wilayah yang sifatnya nyata dan rahasia.

Kautilya menganggap bahwa Dandaniti merupakan sumber semua Purusartha. Oleh karena itu, hanya dalam negara yang merdeka dan diatur dengan administrasi yang baik keamanan akan hak milik dan kehidupan, material dan keberadaan Varnasrama sebagai pendukung Dharma dapat diwujudkan dalam kenyataan. Dandadhara mendukung alam dharma, Artha, kama dan moksa. Sepanjang pendukung itu dapat mendukung semuanya, maka akan memakmurkan dan memberikan hidup bersemangat. Bila lemah dan tatanan unsur kedaulatan, maka sadhana duniawi dan surgawi ini menghancurkan dan melumpuhkan kehidupan.

Hilangnya kekuasaan raja akan menimbulkan suasana lesunya semangat orang, lemahnya dan hancurnya jasmani dan rohani, suatu kenyataan fenomena negara. Kekuasaan, Nyaya, yang dimanfaatkan dengan benar dan bijaksana akan mengembangkan kebajikan dan menjadikan hidup yang berdasarkan Dharma dapat diwujudkan. Sesuai dengan itu, Kautilya mengemukakan bahwa pemulihan kuasa raja adalah untuk mempertahankan varnasram Dharma, Artha, Kama karena semua ini merupakan basis kebudayaan dan peradaban.

Kemunduran, stragnasi, dan kemajuan adalah tahap-tahap yang ditentukan oleh alam dan evolusi kenegaraan dan raja hendaknya berusaha melindungi apa yang dijelaskan terakhir dalam urutan perhitungan Ksaya Sthana Vriddhinam Chottarottara Lipseta. Kedaulatan dikelilingi oleh gangguan-gangguan in-ternal dan eksternal dalam menyatukan negara. Gangguan internal Abyantara Kopah disebabkan oleh Mantri, Purohita, Senapati, dan Yuvaraja.

Gangguan juga timbul karena Sangga serikat kerja dan persekutuan juga Atma dosa. Suami harus selalu waspada karena halangan memperoleh keberhasilan adalah asmara, kemarahan, sifat pemalu, keangkuhan, nafsu untuk menghadapi dunia lain, kepercayaan akan arah sehari-hari yang berdasarkan peredaran bulan matahari. Seperti halnya intensitas keinginan dan asmara memancing rakyatnya dan siasat politik yang bodoh merangsang timbulnya musuh dari luar, maka suami harus dengan seksama menghindar dari sifat-sifat kehidupan keraksaan ini.

Kamadirushsektah Svah Prakirtih Apanoyobhayah Tadubhaya Masuri Vrittih

Kautilya mengatakan "barang siapa tidak mengendalikan indranya akan cepat binasa meskipun ia menguasai seluruh dunia yang dikelilingi oleh empat arah mata angin". Menurut Kautilya, rintangan yang paling besar untuk mengembangkan dan konsolidasi negara ialah semangat-semangat kelompok dan perselisihan yang dipicu oleh persekutuan-persekutuan dan mentri-menntrinya. Kautilya memusuhi republik yang tidak mampu menjadi peme-rintahan yang kuat dan karena lemah republik selalu mengundang tendensi perpecahan dan serangan dari luar. Ia berujar "hasil yang diperoleh dari sebuah Sangga lebih diminati daripada suatu analisis dari kemauan baik atau bantuan militer. Apa-apa yang disatukan dalam suatu perserikatan dapat diperlakukan dengan bijaksana pemberian bantuan dan perdamaian sebab semua itu tak terkalahkan dengan serdadu dan perpecahan".

Dengan siasat memecah belah Ekaraja dapat mempersatukan Wilayahnya. Kautilya hormat pada otonomi republik yang kuat dan memperlakukan republik-republik yang bergabung dengan persamaan, sementara ia menyetujui pandangan yang lain apakah dibantu dengan bantuan militer atau diisolasi. Sebaliknya, yang tidak mampu hidup diperlemah atau dilenyapkan dengan siasat perpecahan internal. Kautilya mengingatkan Swami terhadap tragedi yang pernah terjadi seperti Dandikya, Bhoja, Karala, Videha, Ajabindu, Sauvira, Ravana, Duryodana, Vatapi, Maihaya, dan Talajanga. Semua ini adalah penguasa-penguasa negara republik yang ada sebelum zaman Kautilya.

Tanini memberitahukan Trigattras, Dandaka, tanaki, Yaudeha, Madra, Vriji, Andhaka Vrishari dan Sangha-Sangha yang lain, yang beberapa diantaranya ialah Ayudha Jivin yang dinyatakan Kautilya dalam Arthasastra sebagai Sastropajivin yang berlawanan dengan Rajasabdopajivin yang penguasanya memakai gelar Rajan Stavat yang identik dengan Vrhisni memiliki undang-Undang Bhaujya dan pengusasnya disebut Bhoja, Kautilya juga menerangkan Sangha-Sangha yang lain seperti panehala, Kuru, Sauvira, Mauhaya, Kohatriya, dan Sreni yang agaknya singkat dari Arga Seni yang mendapat perhatian Iskandar. Tiap-tiap republik ini mempunyai Laksana dan Anaka yang merupakan lambang yang dipakai oleh penguasa-penguasa yang dipilih dan ditinggalkannya ketika mereka keluar dari tempatnya bertugas.

Oleh: M.V Krishna Rao
Source: Warta Hindu Dharma NO. 528 Desember 2010