Kata, Sastra dan Saraswati

Melaui kata, pikiran, direalisasikan orang dan kemudian dikomunikasikan. Maka terjadilah tindakan dan akhirnya terjadilah sesuatu, sesuatu yang baik, sesuatu yang buruk, sesuatu yang diam, sesuatu yang bergerak.

"Gulingkan!" kata mandor itu pada buruh itu. Maka batu yang besar itu pun digulingkan dari atas bukit itu ke bawah. Batu-batu itu pun menggelinding kej urang melanda semak-semak yang dilalui. Akhirnya dia jatuh gemuruh dan tergeletak membisu. Semua kejadian itu akibat ulah pikiran mandor itu melalui kata-katanya yang dapat membangkitkan tindakan buruh itu berbuat. Maka tampaklah realitas pikir yang abstrak dalam wujud batu membisu di jurang yang nyata. Angan yang abstrak ditransformasikan dalam kata yang dimengerti orang lain. Melalui katalah orang mengikatkan manusia satu dengan yang lain, melalui kata orang mendaptkan suka dan duka, melalui kata tindakan terjadi:

Wasita nimittanta menemu laksi,
Wasita nimittanta manemu dukka,
Wasita nimittanta pati kapangguh,
Wasita nimittanta manemu mitra
, (Nitisara V.3)

Kata-kata menyebabkan engkau menemukan kebahagiaan,
Kata-kata menyebabkan mendapat duka,
Kata-kata menyebabkan engkau menemui ajal
Kata-kata menyebabkan engkau memperoleh teman,
Kata-kata merupakan simbol ide

Hilangnya sepatah kata berarti hilangnya sekeping ide dan bertambahnya kata bertambah pula ide. Dengan demikian kata adalah wujud alam pikiran manusia. Padanya termuatlah tenaga pikiran yang dapat menggetarkan tenaga alam untuk digunakan pada sasaran tertentu. Kata adalah suara.

Tuhan pun menyampaikan firman-Nya melalui sabda, suara. Tuhan mengejewantahkan dalam simbol Um dan Um adalah Brahman. Kita baca dalam Upanisad :
Aum, ity etad aksaram idam sanvam,
tasyoparyanam, bhutam
, bhavad
bhawisyad iti sarvam aumkara eva
, yac cayat
trikalatitam tad apy aumkara eva (Mandukya Upanisad 1)

Aum sukukata ini adalah semua ini. Keterangannya tentang ini adalah demikian:
Semuanya, masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang ini semuanya adalah suku kata aum.
Dan apa pun pula yang lain di luar tiga waktu itu, tiada lain hanya suku kata aum saja.

Apabila Brahman adalah pikirannya pikiran, hidupnya hidup maka suarnya suara adalah Brahma juga. Brahmalah segala ini. Adalah suatu anugrah yang Maha Kuasa bahwa manusia mengerti makna, mengerti ide dalam kata. Dengan demikian ide seseorang dapat dikomunikasikan melalui kata sehingga, terjadilah pertemuan ide dengan ide. Pertemuan ini akan melahirkan sesuatu yang dahsyat, karena gabungan ide itu lebih hebat dan lebih kuat dari suatu ide yang cerai berai.

Oleh karena subyeknya individu-individu maka pembangun kata adalah individu-individu itu. Dalam susunan dan hubungan yang berstruktur kata membangun bahasa. Maka bahasa menggambarkan identitas hasil pikiran pemiliknya. Dari bahasa kita kenal kebudayaan suatu bangsa. Semua apa yang diketahui, semua yang dirasa oleh manusia dianyatakan pula dengan kata dalam bahasa. Bahasa merupakan simpanan ilmu, simpanan rasa manusia. Simpanan ilmu dan simpanan rasa suatu bangsa kita ketahui melalui bahasa.

Dengan uraian ini ternyata peranan kata dalam bahasa luar biasa hebatnya dalam dunia manusia. Adalah suatu kenyataan bahwa daya pikir manusia luar biasa hebatnya bila dibandingkan dengan binatang. Daya pikir ini menimbulkan berbagai kreatif manusia dalam ilmu pengetahuan, bidang seni budaya. Kreativitas demikian rupa-rupanya sudah muncul sejak manusia muncul di bumi ini, yang makin lama berkembang makin maju.

Dengan ditemukannya tulisan maka kepesatan kemajuan pengetahuan manusia melaju dengan cepat, karena dengan demikian semua angan dalam kata dapat digambarkan dalam huruf. Huruflah akhirnya menjadi lambang angan manusia yang bisu namun penult arti. Huruf menyampaikan berbagai berita dari masa ke masa, dengan tiada mengidahkan akan keberadaan si pemberita lagi. Dengan ditemukannya huruf maka berbagai angan-angan manusia dari berbagai bangsa, berbagai jaman dapat disimpan dengan aman dan orang dapat mengambilnya lagi bila dikehendaki.

Veda, kitab suci agama Hindu pada mulanya adalah sabda yang dibisikkan Tuhan ke dalam hati para Maharsi. Sabda ini asalnya adalah dari sabdanya sabda. Sabda ini dipercayakan mengingatnya kepada sisyanya yang terpilih. Dari satu generasi ke generasi sabda ini hidup dalam simpanan hati suci para Maharsi itu. Maka suatu kerika sabda suci Veda itu ditulis orang maka tulisan itupun adalah suci, karena ia adalah wujud hati suci.

Dengan inspirasi Veda, berbagai karya tulis menyusul muncul: Brahman, Aranyaka, Upanisad, Itihasa, Purana dsb. Semuanya bernafaskan nafas Veda. Ramayana dan Mahabharata dua Itihasa karya tulis termasyur di dunia, mempengaruhi berjuta-juta hati di seluruh dunia, Sudah sejak jaman dahulu ia dibicarakan or¬ang, ditulis dan dikarang kembali, disalin, dan digubah ke dalam berbagai bahasa.

Di Indonesia kita kenal kekawin Ramayana yang selalu mengilhami orang dalam karya seni sastra dan seni budaya lainnya. Demikian pula Mahabharata karya Vyasa telah digubah dalam berbagai gubahan baru dalam berbagai parwa dan kekawin seperti Bharatayuddha, Arjuna Wiwaha dan lain-lainnya. Seperi halnya Ramayana, maka Mahabharata yang merupakan Vyasawacana mengilhami orang untuk berkarya dalam berbagai bidang seni. Demikianlah kita kenal isi kedua epos besar itu ditranspormasikan dalam bentuk pahatan berupa relief atau pun patung-patung dan berbagai karya tari dan musik. Semuanya menambat hati orang pada ide dalam wujud amanat untuk meningkatkan kualitas martabat manusia ini. Demikian pula ide-ide yang bersifat filosofis dan ethika terjalin rapi dalam efos ini.

Dalam bab III sampai dengan bab XI Bhismaparwa tersisip Bhagawad gita dan amanat pembinaan moral terhimpun dalam sarasamucaya. Di Bali karya-karya tersebut bukan karya bisu yang mati namun karya hidup gairah pada hati setiap pencipta sastra. Jawa kuna dan mungkin pula pada setiap orang awam yang kena sentuhan secara langsung maupun tidak langsung.Walupun karya-karya tulis itu telah lahir pada masa silam yang sudah jauh dari kita sekarang, namun berkathidupnyapada pencinta itu yang di komunikasikan dari suatu generasi ke generasi berikutnya, ia tidak hilang tanpa arti.

Hal itu dapat terjadi berkat adanya tradisi mebebasan yang amat di minati oleh sastrawan-sastrawan Bali. Dengan adanya tradisi ini maka makna dan pesan sastra itu mengalir dan hidup terus melalui masa panjang. Makna kata-kata. Kawi masih tetap diketahui karena kamusnya adalah kamus hidup. Besar kemungkinannya karya-karya tulis itu tidak dikenal orang atau lenyap di telan jaman bila tidak ada tradisi mabebasan itu.

Sistem hidup beragama di Bali mendukung terpeliharanya tradisi yang baik itu dan menunjang kegairahan hidup beragama. Mencintai sastra bagi orang Bali mau tidak mau akan berarti pula mencintai ajaran agama.Seorang pencinta sastra yang bernaf askan agama Hindu adalah juga seorang pencinta ajaran yang bernafaskan filsafat Hindu. Seorang adikawia adalah juga seorang filsafat terkemuka.

Kita merasa bersyukur dengan adanya warisan nenek moyang yang berupa tradisi mabebasan tersrbut. Agaknya tradisi mabebasan itu perlu kita bina terus dalam wajahnya yang lebih manis menurut masa kini. Kegiatan yang dirintis ini, dengan nama Temu Sastra Purnama Jagatnatha ini, kiranya dimaksudkan seperti itu.

Bila sastra adalah kata keindahan yang mengingatkan angan manusia, maka ilmu adalah kata yang mengikat apa yang diketahui. Dengan kata yang di gambarkan dengan huruf-huruf, maka berbagai pengetahuan manusia dari jaman silam telah dapat di himpun dalam simpanan huruf yang bisu itu. Dari hari ke hari pengetahuan bertambah-tambah pula yang dapat meringankan hidup manusia dan menuntunnya dalam menemukan jalan benar dalam mengayuh perahu kehidupan. Karena sentral yang terpenting dalam segala hal adalah manusia itu sendiri maka akan apa akibat ilmu pengetahuan itu tergantung pada manusian itu sendiri.

Kepala yadvadapah syuh, swadrtau va yatha payuah,
Asra Asrayasthana dosena wrttahina tatha srutam. (Sarasamuccaya, 356)
Seperti halnya dalam periuk dari tengkorak, Seperti halnya susu dalam kantong kulit,
Demikianlah pelajaran yang baik berubah menjadi dosa pada orang yang rendah budinya,Dosa itu terjadi karena tempat.

Semuanya berasal dari brahman. Brahmanlah suaranya suara. Brahman di panggil Tuhan oleh orang beragama, seorang bakta, pencinta kata, pencunta ilmu pengetahuan memanggilnya Saraswati. Para penyair memujanya sebagai Vagiswara, penguasa kata.

Sang Hyang Vagiswarendah lihati satata bhaktingkivi jong dhatredewi/
pinrih ring citta munggiving sarasija ri dalem twos lanenastawangku/
Nityawehang waranugraha kaluputa ring duhka sangsara wighna/
laivantastu ivruheng sastra sakalaguna ning janma tapwan hanezveh/ (Wrettasancaya, 1).

Om Sang Hyang Wagiswara (Saraswati ) lihatlah sembah bakti hamba yang tak putusnya kehadapan Mu, Dewi Pencipta Alam/
Engkau yang senantiasa hamba inginkan supaya berada di dalam padma hati hamba, akan hamba puja selalu/
Agar senantiasa memberi anugrah sehingga hamba luput dari duka sengsara dan bencana/
Semoga hamba dapat memahami sastra serta segala penuntun tindakan manusia denga tapa kesulitan//

Seperti halnya tumpek landep, tumpek wariga, tumpek uye, tumpek wayang, yang merupakan tonggak-tonggak waktu yang mengingatkan orang mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai penguasa kekuatan senjata, pemberi kemakmuran berupa hasil pertanian, perternakan dan penganugrah rasa seni, maka pada hari saraswati kita memujaNya sebagai penguasa ilmu pengetahuan. Ia bertempat di ujung lidah, arcanya adalah aksara, warnanya adalah semua warna. Ia di puja agar orang kasaraswaten, mendapatkan penerangan bathin dan memperoleh ilmu untuk menerangi gelap dalam hidup serta mendapat bimbingan supaya luput dari duhka, sangsara, dan wighna. Ini berarti bahwa segala ilmu itu harus dipakai untuk kerahayuan hidup, bukan untuk menghancurkan, bukan untuk merusak.

Betapa mulia dan hebatnya anugerahNya berupa angan yang ditranspormasikan dalam kata, kemudian dalam gambar aksara, dan betapa pula hebatnya Ia Yang Maha Kuasa, sumber segala yang ada, tak mampu kita melukisnya kita amat lemah di hadapanNya kita pasrah menyerahkan diri sebulat-bulatnya, mengaku akan segalanya setulus-tulisnya karena tiada sesuatu tersembunyi bagiNya.
Om namah sarasvateye, Om

Oleh: I Gede Surata
Source: Warta Hindu Dharma NO. 539 Nopember 2011