Kasih Sayang Ibu yang Mensejahterakan

Bagaimanakah kuasa ibu? Sulit dijawab, tetapi para bhakti sudah mencintainya. Para bhakti akan tahu kalau telah di beri kuasa Ibu, sebagai ibu yang memiliki sifat kasih sayang, menuntun, dan mengarahkan yang baik, memiliki sifat memberi dan melindungi.

Berikut diceritakan kisah Sang Bhagawan dan murid-muridnya: Pada waktu itu Sang Bhagawan memimpin sebuah perkumpulan besar dalam perjalanan menuju selatan, tiba-tiba mereka menjumpai setumpuk miang manusia di pinggir jalan. Sang Bhagawan berpaling menghampirinya dan bersikap anjali penuh hormat.

Murid-muridnya dengan bersikap anjali kemudian bertanya kepada Sang Bhagawan (Beliau adalah seorang Guru Agung dan Beliau dihormati dan dicintai seluruh umat). Apakah sebabnya kini Beliau menghormati setumpuk miang kering? Sang Bhagawan berkata kepada ananda atau siswanya: "Meskipun engkau siswaku yang utama dan telah cukup lama menjadi anggota seperguruan, engkau masih belum mencapai pengertian yang jauh. Anggota miang itu mungkin adalah milik para leluhur pada kehidupan yang lampau, mereka mungkin adalah orang tuaku dalam kehidupan yang lalu, itulah sekarang aku bersujud." Sang Bhagawan melanjutkan pembicaraannya pada muridnya:

"Tulang-tulang yang kita lihat ini dapatlah dibagi menjadi dua kelompok. Yang satu adalah miang lelaki yang berat dan putih warnanya, kelompok lain adalah tulang-tulang perempuan yang ringan dan warnanya hitam."

Ananda berkata kepada Sang Bhagawan, "Duhai Sang Bhagawan sewaktu para lelaki masih hidup di dunia mereka menghiasi badan dan jubah pengikat pinggang, sepatu dan pakaian-pakaian indah lainnya sehingga mereka nampak perkasa. Ketika perempuan masih hidup, mereka menggenakan minyak wangi, bedak dan wangi-wangian yang menarik untuk menghiasi tubuh mereka, sehingga dengan jelas menampakan kewanitaannya. Namun tatkala para lelaki dan wanita itu meninggal semua yang tertinggal hanyalah tulang-tulang saja. Bagaimana seseorang dapat membedakannya? Ajarilah kami membedakannya."

Sang Bhagawan menjawab, "Ananda, ketika para lelaki ada di dunia mereka memasuki rumah ibadah, mendengarkan penjelasan-penjelasan tentang kasih sayang dan menghormati dengan menyebut-nyebut nama Tuhan secara berulang-ulang (japa), tatkala mereka meninggal dunia tulang-tulang menjadi berat dan putih warnanya. Sedangkan wanita dalam dunia mempunyai kebijaksanaan dan penuh dengan emosi, mereka melahirkan dan membesarkan anak-anak, merasakannya sebagai kewajiban. Setiap anak bergantung pada air susu ibunya yang telah berubah oleh karena penyiksaan (penyedotan) dari badan ibu saat sang anak mengambil susu untuk makanannya, ibu menjadi letih dan menderita dan karenanya tulang-tulangnya menjadi hitam dan ringan."

Ketika ananda mendengar kata-kata ini terasa kepedihan dalam hatinya, seolah-olah tertusuk pedang dan karenanya ia menangis. Ia menanyakan pada Sang Bhagawan bagaimana caranya seorang anak dapat membalas kasih dan kebaikan ibunya.

Sang Bhagawan mengatakan kepada ananda, "Dengarlah baik-baik, dan akan kujelaskan hal ini dengan terinci. Janin tumbuh dalam kandungan selama sepuluh bulan perhitungan candra sangkala (280 hari), alangkah menderitanya ibu selama janin berada disitu. Pada bulan pertama kehamilannya hidup janin tidaklah menentu seperti titik embun pada daun yang kemungkinan tidak akan bertahan dari pagi hingga sore, tetapi akan menguap pada tengah hari. Pada bulan kedua, janin menjadi kental seperti susu kental. Pada bulan ketiga, ia seperti darah yang mengental. Pada bulan keempat janin mulai terwujud sedikit seperti manusia. Pada bulan kelima dalam kandungan kelima anggota badan anak (dua kaki, dua tangan dan kepala) mulai terbentuk.

Pada bulan keenam kehamilan anak mulai mengembangkan inti keenam alat indranya, yaitu mata, telinga, hidung, lidah, badan dan pikiran). Selama bulan ketujuh, tiga ratus enam puluh empat ribu pori-pori rambutnya juga telah sempurna. Dalam bulan kedelapan kehamilan, kecerdasan dan kesembilan lubang terbentuk. Pada bulan kesembilan, janin telah belajar menyerap berbagai zat makanan, misalnya janin dapat menyerap sari buah-buahan, akar tanaman tertentu dan kelima macam padi-padian.

Bagian dalam tubuh adalah organ yang padat untuk fungsi menyimpan, dan ia tergantung ke arah bawah, sedangkan bagian dalam yang hampa berguna untuk mengolah dan ia melingkar ke arah atas. Ini disamakan dengan ketiga gunung yang terbit dari permukaan bumi. Kita boleh menyebut gunung ini gunung semeru, gunung karma dan gunung darah. Gunung-gunung analogi ini bersatu dan membentuk satu gugusan dengan puncak-puncak ke atas dan lembah-lembah ke bawah. Begitu pula pembekuan darah ibu dari organ-organ dalamnya membentuk zat tinggal yang menjadi makanan anak selama bulan kesepuluh kehamilan, badan janin disempurnakan dan siap untuk dilahirkan.

Bila anak itu sangat berbakti, dia akan lahir dengan telapak tangannya disatukan ke badannya sebagai tanda menghormat, kelahiran itu akan aman dan baik. Ibunya tak akan terluka oleh kelahiran itu dan tidak akan menderita kesakitan. Tetapi bila anak itu sangat pemberontak sifatnya, hingga melakukan kelima perbuatan jahat, maka dia akan merusak kandungan ibunya, jantung, hati dan tulang-tulang ibunya. Kelima perbuatan jahat adalah: membunuh ibu, membunuh orang suci, memecah belah sangha, dan melukai seorang bhagawan.

Kelahiran itu akan seperti sayatan seribu pisau atau seperti seribu pedang tajam menikam jantungnya. Itulah kesakitan-kesakitan yang terjadi dalam kelahiran anak nakal dan yang pembangkang.

Sepuluh Jenis Kebaikan Ibu Pada Anaknya
Untuk lebih jelasnya, ada 10 (sepuluh) jenis kebaikan yang diperbuat oleh seorang ibu kepada anaknya. (1) Kebaikan di dalam memberikan perlindungan dan penjagaan selama anak dalam kandungan. Sebab-sebab dan kondisi dari banyak kalpa yang terkumpul tumbuh menjadi berat, sehingga dalam hidup ini anak berakhir dalam kandungan ibunya. Dengan berlalunya bulan, kelima organ penting berkembang. Badan ibu menjadi seberat gunung. Baju-baju ibu yang cantik tidak dapat dipakai lagi.

(2) Kebaikan dalam menanggung derita selama kehamilan. Kehamilan berlangsung selama sepuluh bulan penanggalan candra sangkala. Doa puncaknya ialah kesulitan dengan semakin dekatnya kelahiran. Sementara itu, setiap pagi ibu merasa sangat sakit. Dan sepanjang hari merasa mengantuk dan lamban. Ketakutannya dan kegelisahannya sukar dilukiskan. Kesedihan dan air mata memenuhi dadanya.

(3) Kebaikan untuk melupakan semua kesakitan begitu anak telah lahir. Pada saat ibu akan melahirkan anak, kelima organ tubuh terbuka lebar, menyebabkan mereka sangat letih dalam badan maupun pikiran, tetapi mendengar anaknya terlahir sehat dia dipenuhi dengan kegembiraan yang melimpah. Tetapi sesudah kegembiraan, kesedihan datang kembali dan rasa sakit kembali mengaduk-ngaduk bagian dalam tubuhnya.

(4) Kebaikan dari memakan bagian yang pahit bagi dirinya dan menyimpan bagian yang manis untuk anaknya. Kebaikan kedua orang tua sangat besar dan dalam. Penjagaan dan pengabdiannya tidak pernah berhenti. Tidak beristirahat, ibu senantiasa menyimpan yang manis untuk anaknya, dan menelan yang pahit untuk dirinya. Cintanya amat besar dan emosinya sukar tertahankan. Kebaikannya adalah mendalam dan begitu juga kasihnya. Hanya menginginkan anak mendapat cukup makanan. Ibu yang kasih tidak berbicara kelaparannya sendiri.

(5) Kebaikan untuk memindahkan anak ketempat yang kering dan dirinya ketempat yang basah. Ibu rela berada di tempat yang basah agar dengan demikian anaknya dapat berada di tempat yang kering. Dengan payudaranya, memuaskan rasa lapar dan haus sang anak. Menutupi dengan kainnya, melindungi anak dari angin dan dingin. Dalam kebaikannya, kepala ibu jarang lega di atas bantal. Dan bahkan ia melakukannya dengan gembira selama anaknya dapat merasa senang. Ibu yang baik tidak mencari penghiburan bagi dirinya sendiri.

(6) Kebaikan menyusui anak pada payudara dan memberi makan serta memelihara anak. Ibu yang baik adalah begaikan bumi yang basah. Ayah yang tegas laksana langit yang mengasihi. Yang satu melindunginya dari atas, yang lain menunjang dari bawah. Kebaikan orang tua adalah sedemikian rupa sehingga mereka tidak membenci atau marah terhadap anaknya dan tetap menyukainya, meskipun anaknya lahir lumpuh. Sesudah ibu mengandung anak dalam kandungannya dan melahirkannya, orang tua bersama-sama memelihara dan melindunginya sampai akhir hayatnya.

(7) Kebaikan dari membersihkan yang kotor. Mula-mula ibu mempunyai wajah yang cantik dan tubuh yang indah. Semangatnya kuat dan bergelora, alis matanya seperti daun hijau yang segar, dan warna kulitnya bagaikan mawar merah jambu. Tetapi kebaikan ibu begitu mendalam sehingga ia melepas wajah cantik, sekali mencuci kotor merusak badannya. Ibu yang baik bertindak hanya demi untuk kepentingan putra-putrinya, dan rela menerima kecantikannya yang memudar.

(8) Kebaikan selalu memikirkan anak bila dia berjalan jauh. Kematian dari orang yang dicintai sukar terlukiskan penderitaannya, tetapi berpisah dari yang dikasihi juga menyakitkan. Bila anak berjalan jauh, ibu merasa khawatir di kampungnya. Dari pagi hingga malam, hatinya selalu bersama anaknya, dan air mata jatuh dari matanya, demikian dalam cinta seorang ibu pada anaknya. Sedikit demi sedikit hatinya hancur.

(9) Kebaikan karena kasih sayang yang dalam dan pengabdian. Alangkah besarnya kebaikan orang tua dan gejolak emosinya. Kebaikannya mendalam dan sukar membalasnya Dengan rela mereka menderita untuk kepentingan anaknya. Bila anaknya bekerja berat, orang tua-pun merasa tidak senang. Bila mereka mendengar bahwa dia berjalan jauh, mereka kahwatir bahwa pada waktu malam sang anak berbaring kedinginan, bahkan kesakitan sebentar yang diderita putra-putrinya, akan menyebabkan orang tua lama bersusah hati.

(10) Kebaikan dari rasa welas asih yang dalam dan simpati. Kebaikan orang tua adalah besar dan penting. Perhatiannya yang lemah lembut tidak pernah berhenti, dari saat mereka bangun tiap pagi, pikiran mereka adalah pada anaknya. Apakah anak-anak dekat atau jauh, orang tuanya selalu memikirkan mereka. Sekalipun seorang ibu hidup untuk seratus tahun, dia akan selalu mengkhawatirkan anaknya yang berumur delapan puluh tahun."

Source: Nyoman Mider Adnyana, SH l Majalah Raditya Edisi 224 l 2016