Kartika "Amerta" Masa

Sekitar bulan Oktober kita memasuki bulan Kartika, yang oleh masyarakat luas dikenal sebagai "sasih Kapat", bulan yang ke-empat. Bulan ketika bunga-bunga bermekaran, ketika bau harum diterbangkan angin dan meliputi alam. Kartika mendapat perhatian istimewa para "pendamba keindahan", para kawi yang suka angdon lango, menikmati keindahan. Karena kartika adalah bulan penuh keindahan (kalangwan), bulan yang dihiasi riris (hujan gerimis) dan suara guntur yang lemah di kejauhan.

Sebuah kidung Wargasari mengawali bait-baitnya dengan lukisan bulan Kartika : Purwakaning angripta rum, ning wana ukir kahadang labuh, kartika panedenging sari, angayon tangguli ketur, angring-ring jangga mure. Sebuah kidung yang populer tetapi juga disucikan, bahwa seorang penyair mengawali menulis "keindahan" hutan dan gunung, ketika hujan gerimis, ketika bunga-bunga bermekaran, ketika masa Kartika.

Bukan hanya para kawi, pujangga atau penyair yang ingin menikmati bulan ini tetapi juga para raja : Raja yang menganggap bulan Asuji paling sesuai untuk berperang, meneruskan bahwa pada bulan Kartika ia akan berlibur di pantai atau pegunungan (yan ring Kartika masa ramya masa ninghulun ameng-ameng ring pasir-wukir).

DEWI KEINDAHAN

Mpu Tanakung menyatakan bulan Kartika sebagai "amreta-masa" masa yang memberi "kehidupan" masa yang memberi vitalitas hidup. Sebuah karya Mpu Tanakung pengarang yang juga menulis "konvensi sastra Kakawin" diberi judul Bhasa Amreta-masa sebuah kakawin liris yang terangkai dengan enam kakawin liris (bhasa) karya Mpu Tanakung menguraikan tentang keindahan masa kartika, terlebih lagi ketika bulan sempurna di langit. Tapi Mpu Tanakung menjadikan keindahan masa Karita tersebut sebagai "pendukung" jelmaan hatinya yang merindukan kekasihnya, Dewi Keindahan.

Setelah Mpu Tanakung melukiskan "kehancuran" hati seorang pujangga yang merindukan kekasihnya selanjutkan disuratkannya "Ketika purnama di masa Kartika yang guruhnya lemah terdengar di kejauhan, ketika sinar bulan menyirami bunga-bunga asoka dengan sinarnya yang cemerlang, ketika burung-burung kuwong bersuara indah dan merasuk hati dengan suara tuhu-tuhu, ketika itu aku teringat dengan kecantikan dan kejelitaan diriMu, Oh Dewi".

Memang sungguh indah lukisan Mpu Tanakung tersebut, tetapi uraian Mpu Monaguna dianggap cukup orisinil. Setelah mengumpamakan ombak-ombak yang dengan tak henti-hentinya terpecah pada batu-batu karang pada bulan Kartika yang tak ada habis-habisnya, ia lalu menyamakan burung-burung yang melayang-layang di atas permukaan air dengan laru-laru (laron) yang keluar dari tanah setelah hujan pertama. Mpu Monaguna pengarang kakawin Sumanasantaka itu juga menulis bahwa seorang raja muda yang menuju swayambara adalah ibarat bulan Kartika yang tampil, air mata para wanita yang tergiur mengaguminya bagaikan kabut lembut pada bulan Kartika, pandangan mata mereka bagaikan kilat-kilat dikejauhan setelah hujan reda, sedangkan keluh kesah mereka yang lirih bagaikan gemuruh yang lemah dikejauhan.

Demikianlah bulan Kartika adalah bulan yang dinanti-nantikan oleh para pendamba keindahan, untuk menikmati keindahan, untuk menulis keindahan. Maka merekapun lalu mengembara di seputar pantai dan gunung, di seputar pasir wukir atau sagara-giri. Dang Hyang Nirartha pengarang kakawin Anyang Nirartha (berarti pengembaraan Nirartha) menulis dan menangkap masa Kartika ) yang indah itu dengan kalimat-kalimat berikut:

Angde kung panalangsa ing limut inaryaken ing anila karya rangkeban/ byaktangembang uranjrah ing heni sahing-sahing ngamirah awor lawan herbuk/ kembang ning asana nedcng karirisan bhramara pejah i tanggaling kapat/ lunggah ning gadung asemi marga nika wahu lumung atuduh ing karang liman// (Sungguh indah riak-riak mendung yang digerakkan angin bagaikan selimut/ bagaikan bunga yang ditaburkan di atas pasir si siput merah/ bunga angsana sedang mekar tertimpa hujan gerimis namun si kumbang mati ketika paruh terang di bulan Kartika/pohon gadung baru tumbuh di perjalanan, ia tumbuh di atas balu karang).

Angde bhrantanikang manah sapihan lulut inuratan ing smaranglare/ Kangen rehkw apasah kalawan i sang wwang araras atemah gring ing paran/ tan polih racaneng karang kun asamun lepiting jurang ika ndadak lutur/ kady arcs tanah ingwang epu karaget sawang awcdi kalandeseng kuku//. (Membuat hancurnya perasaanku karena terputus "cinta" terkena rasa asmara yang menyakiti/ rindu hatiku karena berpisah denganMu, Dikau yang cantik menawan yang menyebabkan aku sakit kemanapun aku pergi/ aku tidak berhasil menulis di dalam lontar, lontarku menjadi kosong tak sebaris katapun berhasil kusunatkan/ bagaikan sedih kalam tulisku, bagaikan kesedihanMu ketika dipeluk//)

Ah sang tan sah i citta ning ngwang alango kawckan i rarasing karasikan/ ndak was-was ing asoka padapa tengahta malaris anglih pinangkwaken/sang munggwing kctering pater tinilar ing sasih keter rengih ta ri jinem/ lungha kun kita kari soka sahajaning isi ri tulising pudak lengeng// (AH, Dikau senantiasa ada di hatiku ketika mengarang Dikau yang merupakan puncak keindahan/ Dikau terlihat di daun muda pohon padapa dengan pinggang yang langsing yang begitu indah untuk dipangku/ Dikau berada di dalam suara guruh bagaikan tengah menangis sedih, menangisi terhempasnya bunga pandan harum yang indah//.

Ada yang tersirat di balik kata-kata indah tersebut, kata-kata yang mengandung jeritan hati yang tak tertahankan, jeritan "asmara" seorang mahakawi yang merindukan seorang dewi Keindahan.

PELAKSANAAN YOGA

Pada awalnya karya-karya seperti Anyang Nirartha ini diabaikan oleh para peneliti karena memang tidak mudah memahami "makna" yang ada di balik bait-bait kakawin ilu. Malah ada peneliti yang menyatakan karya tersebut sebagai karya sastra erotik dalam pengertian umum, lalu karya sastra yang tidak bermutu.

Tetapi setelah para peneliti memahami konsep kepengarahan para kawi dengan lebih baik, maka mereka mengetahui bahwa karya-karya seperti itu (termasuk kakawin Pnjaning Smara karya Mpu Tanakung) menjadi begitu penting bagi usaha memahami konsep kepengarahan Jawa Kuno. "Agama" sang Kawi Tertuang secara mendalam dalam karya-karya tersebut.

Menulis sebuah karya sastra sesungguhnya merupakan suatu latihan yoga. Sebagaimana diketahui tujuan akhir dari pelaksanaan yoga atau cita-cita seorang yogi adalah mempersatukan diri dan menyelami Yang mutlak dalam keadaannya yang transenden lalu menemukan identifikasi total dan kebebasan final.

Bagi seorang kwi tujuan itu dapat dicapai lewat jalan keindahan. Baginya, yang ingin meraih dan manunggal dengan-Nya, Tuhan itu berwujud Dewa/Dewi Keindahan. Selaku Yang Mutlak ia hadir dimana-mana dalam keadaan-Nya sebagai suksma tetapi para kawi menemukan dimana saja keindahan terdpat.

Bagi seorang kawi kemanunggalan dengan dewa keindahan merupakan baik jalan maupun tujuan. Jalan menuju terciptanya sebuah karya yang indah, kakawinnya. Yoga yang biasanya diungkapkan dalam bait-bait permulaan menjadikan sang kawi mampu mengeluarkan tunas-tunas keindahan (alung lango), karena ia dipersatukan dengan dewa yang merupakan keindahan itu sendiri. Tapi dilain pihak yoga juga merupakan tujuan, karena asal ia tekun melakukannya ia akan mencapai pembebasan terakhir (moksa) dalam persatuan itu.

Demikianlah para kawi memberi makna pada masa Kartika, masa yang sangat baik baginya untuk melakukan yoga literer, yoga-sastra, menulis kawi sastra sekaligus menyatukan diri dengan Dewi Keindahan. Bagi Masyarakat luas masa ini juha dipakai untuk menunjukkan rasa bhkati ke hadapan Tuhan, dengan sarana bunga yang harum di ujung cakupan kedua tangan. Maka upacara-upacara keagamaan pun diselenggarakan pada bulan ini, terlebih ketika bulan sempurna di langit.

Source: Warta Hindu Dharma NO. 514 Oktober 2009