Kancut Bali di Kaki Nusa Damai

W. S. Rendra Hidup dikuasai kehendak manusia, tanpa menyimak jalannya alam. Kekuasaan kemauan manusia, yang dilembagakan dengan kuat, tidak mengacuhkan naluri ginjal, hati, empedu, sungai, dan hutan. Di Bali: pantai, gunung, tempat tidur dan pura, telah dicemarkan

Sepenggal bait sajak Rendra berjudul “Pulau Bali” mencubit hati menjadi refleksi bersama bahwa masyarakat Bali harus peka terhadap ancaman, tantangan, hambatan, gangguan. Kritik Rendra dalam sajaknya bagaikan secangkir racun yang patut di jadikan tirta amerta di balik pesona nusa Bali. Mata uang asing mengalir ke pulau Bali, pariwisata benar-benar menjadi nafasnya Bali namun bukan jiwanya.

Di kaki pulau Bali, laut dan tepi pantai mempunyai nilai keindahan dalam menyejukkan pikiran dan memberikan cahaya kedamaian. Sebagaimana terungkap dalam kidung Rasmi Sancaya Dang Hyang Nirartha tampak berkeinginan “mengumpulkan” (sancaya) “keindahan” (rasmi). Keindahan itu lalu dicari di laut, ditepi pantai, di bukit-bukit batu karang yang putih dibentur ombak putih. Dalam kidung Rasmi Sancaya bait 2 dan 3 disebutkan “Marman ing kanirgati antuk ni'ng wigunakikuk muda brantajnana anut paran ing hati bhramiteng pasir mahasa amrih-mrih rasmin ing kalangwan anut silut ing pasir asepi prapti dungus ing parung”. Saya selalu menuruti kehendak hati, berkeliling di pantai, menyusup di sana mendambakan nikmatnya keindahan, saya menuruti belokan pantai yang sepi kemudian tiba di mulut gua-gua batu karang.

Kancut Bali di nusa damai menjadi pusat spiritual dan religi di Bali. Spiritualitas merujuk pada tindakan individual berbasiskan kesadaran diri menuju perkembangan dan realisasi diri yang bebas dan utuh. Spiritualitas di lain pihak, bersifat pribadi, dan lebih memperhatikan sesuatu di kedalaman diri, bahkan menuju pada hubungan dengan realitas trans manusia dan realitas ketuhanan. Spiritualitas adalah refleksi diri pemberdayaan diri transformasi diri dan realisasi diri. Latihan spiritual yang mendekati pengertian ini adalah penyangkalan diri (asketisme) dan disiplin rohani. Dalam tradisi Hindu, ini merujuk pada konsep-konsep tapa (pengasingan diri), brata (pengekangan diri dari objek-objek duniawi), yoga (hubungan spiritual), dan samadhi (kesadaran transendental). Dalam kain kancut Bali terdapat keindahan laut yang disuratkan dalam Rasmi Sancaya dikaitkan dengan kehadiran seorang pandita. Bukit kapur yang putih dan kukuh memang bagaikan seorang pandita, seorang yang tengah melakukan yoga. Keindahan dan kesucian laut dan gunung, laut yang senantiasa bergerak (cala), sementara bukit atau gunung yang tidak bergerak (acala), bersatunya laut dan gunung adalah bersatunya lingga dan yoni sebagai simbul sthana Hyang Siwa.

Nusa Damai dengan keindahan laut disertai dengan terbitnya matahari dapat mempengaruhi pikiran dalam melakukan prakek yoga, di samping itu pula terdapat energi yang luar biasa pada laut dan sinar matahari tersebut yang di olah melalui praktekyoga sandi kala yakni galang kangin merupakan samgama kosmis dalam wujud waktu. Waktu sandi kala galang kangin “fajar menyingsing” disebut Brahma muhurta “waktu brahman; waktu spiritual” yang penuh berkah. Atas pandangan tersebut maka para suci Hindu menyambut kehadiran waktu suci ini dengan gairah doa pagi yang disebut nyurya sewana memuja Siwa dalam manifestasinya sebagai Dewa Surya atau Siwa Raditya “Sang penganugerah energi. Rgveda (VIII. 6. 28) disebutkan: Upahvare girinam samgatha ca na nadinam, dhiya vipro ajayata (di tempat yang hening, digunung-gunung dan pada pertemuan sungai sungai di sanalah para maha Rsi mendapakan pikiran yang jemih dan suci.

Pesona alam mempengaruhi kebudayaan masyarakat Bali, dan tak ragukan lagi modal budaya Bali sangat kuat dan mengakar, ini juga menjadi kekuasan Bali dengan masyarakatnya yang santun, ramah, bakti dan relegius. Kebudayaan menjadi daya tarik utama dalam kemajuan pariwisata dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat Bali. Namun menjadi renungan bersama sebagaimana yang diujarkan Ida Bagus Mantra “bukan berarti kebudayaan untuk pariwisata, tetapi sebaliknya pariwisata untuk kebudayaan, bali menjadi pariwisata budaya bukan budaya pariwisata”.

Kancut Bali dikaki pulau Bali terdapat pola kehidupan yang menyatu anatar agama, adat, seni, tradisi dan alam, dibutuhkan jati diri yang kuat dalam perkembangan kebudayaan ke arah komersialisasi. Sangat jelas tampak sekarang ini seni dan agama terbelah menjadi dua yaitu pola keseneian untuk pariwisata dan pola kesenian untuk kehidupan masyarakat. Jalan tengah harus diambil kemajuan pariwisata dimana dengan unsur pendukung agama, seni, adat harus mensejahterakan masyarakat di kaki nusa damai (jagadhita).

Kita menyadari bahwa perubahan itu abadi, kedatangan pariwisata telah mempengaruhi juga pola dan gaya hidup masyarakat Bali. Musti di cari jalan, disisi lain memang kita harus melayani dan memberikan yang terbaik untuk pariwsata, di dimensi lain berusaha mengendalikan bahkan menghindar dari desakralisasi kebudayaan. Karakter masyarakat yang toleran, terbuka memang sudah terbukti dengan adanya pengaruh dari Cina, India, Timur tengah, negara barat dan hingga kini mengalir dengan derasnya. Untuk itu jati diri masyarakat Bali menjadi ide sentral di kaki nusa damai. Jati diri itu masyakata Bali terletak pada agama, adat, seni dan budayanya yang adi luhung yang mempermulia hidup masyarakat Bali. Dan akhirnya kancut Bali di kaki nusa damai, jangan sampai kehilangan jati dirinya yaitu kebudayaan Bali, di dalamnya bersemayam tradisi yang dijiwai dengan Hindu dan menjadi kesatuan dengan indahnya alam Bali. Sekali lagi sabda Ida Bagus Mantra “kita tidak ingin generasi muda Bali menjadi warga dunia kelas dua dan tidak menjadi pembawa obor kebudayaan yang hidup dari bangsanya.

Oleh: I Nyoman Dayuh
Source: Majalah Wartam Edisi 47/Januari 2019