Kala dan Bala

Merayakan Hari Galungan pertama-tama mengajak kita mengingat apa yang disebut sebagai Kala Tiga. Memang sejak hari Minggu sampai hari Selasa pada Wuku Dungulan tercantum hari Kala (bagian dari Astawara), sehingga sejak hari Minggu tersebut dikatakan Sang Kala Tiga turun yaitu Kala Dungulan, Kala Amangkurat dan Kala Galungan. Semua ini mengingatkan kita betapa kita diajak untuk merenungkan kebesaran Sang Pencipta atau Hyang Siwa, yang dinyatakan memiliki putra Kala. Dalam berbagai literatur Hyang Siwa juga disebut sebagai Maha Kala.

Renungan tentang Kala dan juga Bhuta menjadi sangat penting dalam agama Hindu. Bhuta artinya unsur yang membangun jagat raya (Panca Maha Bhuta) dan Kala berarti waktu atau energi. Bahwa tak seorang pun dapat menghindarkan dirinya dari cengkraman Sang Kala, teristimewa Kala Mretyu (Waktu Kematian) menyadarkan kita betapa sesungguhnya kecilnya manusia itu dihadapan Sang Pencipta. Untuk itu ketika Galungan riba kita diharapkan menyucikan pikiran, dalam pelaksanaan yoga. Maka sesungguhnya Galungan adalah pelaksanaan yoga.

Lontar Sundarigama menyuratkan hal tersebut, terlebih lagi ketika Tilem Kesanga jatuh pada Wuku Dungulan yang disebut sebagai Galungan Naramangsa. Dalam teks tersebut ditegaskan bahwa pada saat seperti itu, ketika bulan mati di langit, ketika Matahari tepat berada di atas khatulistiwa, ketika Wuku Dungulan tiba disebut sebagai Kala Rahu. Rahu di sini berarti gelap, yaitu kegelapan yang menyelimuti jagat raya. Maka umat pada saat seperti itu diharapkan meningkatkan kewaspadaan dengan tidak merayakan Galungan dengan kemeriahan, tetapi Galungan secara "Nyepen", karena memang Galungan jatuh berdekatan dengan Hari Raya Nyepi (sehari setelah Tilem Kesanga). Sementara pada saat Tilem Kesanga diutamakan pelaksanaan Bhuta Yajna, dengan melaksanakan upacara kepada Bhuta dan Kala.

Ada hal yang ditegaskan dalam teks tersebut, bahwa bila Galungan pada saat itu dirayakan dengan kemeriahan maka mereka yang merayakan Galungan seperti itu akan dihancurkan oleh apa yang disebut sebagai Bala Kadabah, yang berwujud sebagai Kala Maya (yan tan anut ring pawarah bhatari dalem, yan ya murug, mogha ta sira kapereg denira bala kadabah, matemahan sira kala maya). Bala artinya kekuatan, sedangkan maya berarti bayangan atau ilusi.

Jadi yang tersirat di sini ialah ketika posisi jagat raya sedemikian rupa, seperti misalnya ketika Tilem Kesanga, yaitu ketika matahari dan bulan berada tepat di atas khatulistiwa (yang juga disebut sebagai Wiswayana) adalah hari yang harus dilewati dengan penuh kewaspadaan, karena manusia dalam posisi dikuasai oleh energi tertentu, termasuk diselimuti oleh ilusi. Saat seperti itu disebut sebagai Sandhya. Seperti itu pula halnya ketika Sandhya kala, saat matahari hendak terbenam, saat yang dipilih oleh umat Hindu untuk melaksanakan Bhuta Yadnya.

Bhuta dan Kala, ruang dan waktu tertentu memang sangat diperhatikan oleh umat Hindu, dan menjadi muara peradabannya. Kala memang memiliki Bala atau kekuatan yang tak dapat dihadapi oleh siapapun juga, kecuali oleh dia yang melaksanakan yoga.

Source: Ki Nirdon l Warta Hindu Dharma NO.457 Pebruari