Jnyana, Karma dan Bhakti Bagaikan Gula Batu

Tuntunan beragama Hindu yang disebut Jnyana, Karma dan Bhakti, sering menjadi ajang beda pendapat di kalangan umat Hindu sendiri. Ketiga ajaran untuk menuntun umat yang beragama Hindu dalam melakukan kahidupan-nya beragama. Kalau berbeda itu tidak dipertentangkkan, justru baik karena saling memperkaya wawasan beragama Hindu itu sendiri. Tetapi ada juga hal itu dipertentangkan. Seperti upacara yadnya, hanyalah jalan bhakti dan karma tidak ada jnyana-nya.

Swami Satya Narayana menyatakan bahwa Jnyana, Karma dan Bhakti itu bukan hal yang terpisah-pisah secara mutlak dan kaku demikian. Jnyana, Karma dan Bhakti itu adalah ibarat gula batu. Bentuk, berat dan rasanya memang beda. Tetapi semuanya itu ada dalam satu benda yang disebut gula batu itu. Demikian juga dalam mengamalkan ajaran agama Hindu, hendaknya atas dasar tiga hal, yaitu Jnyana, Karma dan Bhakti. Tidaklah mungkin melaksanakan ajaran Hindu dengan baik tanpa dasar atau tuntunan yang tertera dalam sastra suci yang disebut Jnyana itu.

Memang di kalangan umat beragama Hindu sering pelaksanaan agama dalam tradisi, langsung saja diikuti tanpa memeriksa apa masih relevan tidak tradisi tersebut. Karena menurut Bhagawad Gita XII. 12, tradisi atau Abhyasa itu harus dianalisa terlebih duhulu dengan Jnyana. Penafsiran dikotomi antara Jnyana, Karma dan Bhakti seyogianya direnungkan dalam-dalam oleh para pemimpin terutama cendekiawan Hindu sendiri secara dalam. Jnyana itu adalah ilmu pengetahuan suci atau sastra suci Hindu yang dikembangkan dari Weda sabda Tuhan. Karena itu, Sarasamuscaya 181 menyatakan: Kawarah Sang Hyang Aji Agama Ngara Nia, Anung Tumesakening Warah Sang Hyang Agama. Artinya: agama adalah apa yang dinyatakan oleh pustaka suci, yang menerangkan secara mendalam tentang ajaran agama itu. Penjelasan ini diperkuat lagi oleh Wrehaspati Tattwa 26 sbb: Kawarah Sang Hyang Aji Kau-papati De Sang Pandita Guru Agama Ngarania. Artinya: apa yang dinyatakan oleh pustaka suci dan itulah yang diajarkan oleh beliau Pandita Guru, itulah agama namanya.

Setiap orang tentunya boleh berpendapat, tetapi kalau menyangkut ajaran agama Hindu, wajib pendapatnya itu merujuk Jnyana atau ilmunya yang terdapat dalam pustaka suci. Apa lagi, beliau yang sudah berstatus Pandita Dwijati. Dalam Lontar Wrehaspati Tattwa 3 menyatakan: Ling Bhatara Apan Kojar Nika Sang Hyang Sastra Ya Tininut Nika Sang Pandita Yan Magawe Punia Bhakti. Artinya: karena apa yang dinyatakan oleh sastra suci itulah yan wajib diikuti oleh beliau Sang Pandita kalau mau melakukan punia bhakti.

Kalau Jnyana saja yang tercantum dalam pustaka suci itu tidak diwujudkan dengan Karma, tentunya agama Hindu itu akan khayalan yang tersembunyi dalam pustaka. Karena itu, Karma-lah yang mewujudkan Jnyana. Karma yang berdasarkan Jnyana itu tujuannya adalah Bhakti pada Tuhan untuk mendapatkan karunia Tuhan yang sudah melimpah itu, seperti dinyatakan dalam Rgveda X. 36.14 bahwa Tuhan melimpahkan Savita dan Dirgha Ayu dari semua penjuru bumi pada semua ciptaan-Nya. Cuma untuk mendapatkan pencerahan (Savita) dan kebahabgaain berlanjut (Dirgha Ayu) bagaikan menggapai sinar matahari.

Meskipun mata hari tidak pernah absen bersinar ke bumi, tetapi kalau ada mendung tebal di langit maka sinar matahari itu akan terhalang* sampai pada kita di bumi ini. Demikian jugalah halnya dengan Savita dan Dirgha Ayu dari Tuhan itu. Kalau ada mendung Rajah Tamah seperti keserakahan, kemalasan, kebodohan, dll. itu menutupi hati manusia maka karunia Tuhan itu tidak dapat diraih. Karena itu, padukanlan secara proporsional Jnyana, Karma dan Bhakti itu untuk meraih Savita dan Dirgha Ayu dari Tuhan yang melimpah itu.

Ada yang menganggap kalau beragama dengan banten saja itu bentuk beragama dengan Karma dan Bhakti Marga. Padahal, proses membuat banten tidak mungkin tanpa Jnyana. Karena, setiap bentuk banten ada ilmu atau Jyananya. Tanpa Jnyana tentunya banten itu akan menjadi bentuk yang ngawur. Memisah-misahkan bahkan mengdikoto-mikan Jnyana, Karma dan Bhakti dalam melaksanakan ajaran agama Hindu, sesuatu yang tidak perlu dilanjutkan demi membangun kualitas beragama Hindu yang baik. Pahamilah landasan sastra atau Jnyana-nya dalam melakukan Karma sebagai bentuk pengamalan beragama Hindu itu, tetapi puncaknya sebagai wujud Bhakti kita pada Tuhan. Misalnya ada umat yang menghaturkan banten canang tanpa po-rosan. Padahal inti canang menurut sastranya seperti Lontar Prembon Bebanten, semestinya ada porosan sebagai inti banten canang tersebut. Di samping itu, seyogianya umat paham apa makna dari sarana yang ada dalam canang tersebut. Dasar pengetahuan membuat canang itulah tergolong Jnyana. Terus, canang dibuat itulah Karma. Canang sebagai sarana persembahan itulah Bhakti. Dengan demikian, dalam canang itu sudah menyatu Jnyana, Karma dan Bhakti.

Berbagai pengamalan ajaran beragama Hindu dilakukan tanpa memahami apa makna hal itu dilakukan. Hal itu tentunya akan menimbulkan berbagai kegiatan beragama Hindu menjadi sia-sia saja dan hanya bersifat formalistas belaka. Beragama Hindu berdasarkan tradisi atau kebiasaan itu baik, tetapi hendaknya dilakukan dengan memahami latar belakang sastra Hindu yang menjadi sumber tradisi tersebut. Dengan demikian, proses memadukan Jnyana, Karma dan Bhakti akan menjadi semakin berkualitas. Dengan demikian, beragama itu tidak akan dirasakan menjadi beban yang memberatkan umat. Justru proses beragama Hindu dengan memahami latar belakang Ssas-tra Hindu yang menjadi latar belakang tradisi itu, akan membawa umat menjadi semakin senang, damai dan bahagia menjalankan ajaran agama Hindu tersebut.

Tanpa memahami latar belakang sastra suci (Jnyana) yang melatarbelakangi suatu kegiatan beraagama Hindu (Karma) maka Bahkti itu tidak akan membawa pahala mulia kegiatan beragama Hindu tersebut. Misalnya saja adanya Pura Melanting di setiap hulu pasar tradisional di Bah, untuk menguatkan moral dan mental mereka para pekerja di pasar seperti pedagang, pembeli dan semua pihak yang bekerja di pasar. Misalnya, pedagang jangan menipu pembeli. Pedagang, produsen dan konsumen di pasar itu bekerja atas dasar kejujuran dan professional, itulah sastra atau Jnyananya. Tidak ada kecurangan di pasar. Tetapi kadang ada oknum pedagang yang sembahyang sangat khusuk di Pura Melanting, tetapi setelah berdagang menjual barang-barang dengan menipu pembeli, seperti memalsu barang-barang dagangan, memalsu harga-harganya. Padahal Mahawa Dharmasastra DK.286 dan 287 menyatakan bahwa pedagang tidak boleh memalsu barang dan menipu pembeli. Kalau Jnyana, Karma dan Bhakti tidak menyatu, itulah yang menimbulkan beragama seperti lalat atau Maksika Nyaya.

Source: Ketut Wiana l Koran Bali Post, Minggu Kliwon 9 Agustus 2015