Jnana Yadnya, Jalan Spiritual Para Pemikir?

Setiap makhluk hadir di du-nia kehidupan dengan kualitas iguna) yang berbeda-beda. Perbedaan-perbedaan itu hadir berdasarkan kualitas kenangan masa lalu {karma) masing-masing. Tugas utama masing-masing makhluk itu bukanlah untuk memertajam perbedaan itu, tapi sebaliknya, yaitu saling melengkapi demi kemenduniaan bersama.

Dalam kemenduniaan bersama itu, manusia memiliki kualitas yang dapat dikatakan melebihi makhluk-makhluk lainnya, yaitu idep 'pikiran'. Dengan idep manusia mampu mengenang dan memroyeksikan kenangan itu kembali menjadi buah pengetahuan (jnana).

Akan tetapi, di satu sisi, kenyataannya tidaklah seideal itu. Kualitas yang lebih tinggi memberi ruang hadirnya dominasi. Ternyata, prinsip dominasi inilah yang memberi peluang bagi setiap makhluk untuk mempertahankan kemenduniaannya masing-masing. Kualitas-kualitas itu justru membenamkan para makhluk itu ke dalam lumpur hisap kekuasaan dan hegemoni. Seringkali, setiap makhluk, untuk menuai kesejahteraan hidupnya, harus saling meniadakan. Tentu saja, manusialah yang menempati urutan teratas dalam pertarungan kehidupan dengan prinsip peniadaan itu, jelas, dengan pemanfaatan kualitas idepnya secara maksimum. Begitu halnya dalam lingkaran rantai makanan, seberapapun perkasanya makhluk lain, manusia selalu memiliki cara mendominasi sebelum menyerah pada Hang Ibu Pertiwi atau Dewa Agni.

Di sisi yang lain, dengan kualitas idepnya, manusia sudah pasti mampu menjadi manggala seluruh makhluk hidup lainnya dalam berkehidupan. Kemampuannya berpikir dan memahami seharusnya dapat mengantarkannya menjadi subjek tanpa mengobjekkan makhluk-makhluk lainnya. Pensubjekan terhadap diri yang mampu berpikir bukan berarti pengobjekan terhadap yang lain. Jika mengakui hadirnya subjek-subjek lain di dunia, di situlah terjadi pengorbanan diri-yadnya-sebagai makhluk berpikir dan memahami untuk memimpin makhluk-makhluk lain dengan beragam kualitasnya.

Keikhlasan mengorbankan diri untuk memerjuangkan segala ideal bersama menunjukkan kualitas manusia sesungguhnya dalam realitas yang abadi. Keikhlasan berkorban itulah yang disebut spiritualitas. Masyarakat Hindu tentu selalu mengenang kisah pengorbanan diri Sri Rama sebagai wujud bakti tulus kepada orang tuanya, kisah Sutasoma yang mengorbankan badan kasarnya. Tetapi penting diingat, kisah-kisah pengorbanan itu juga tidak akan sampai pada khalayak tanpa pengorbanan Walmiki dan Tantular dalam bentuk pemikiran sehingga cerita-cerita itu mendunia secara abadi.

Begitu halnya dalam epos Mahabharata diceritakan bahwa pekerjaan berpikir dan mengambil keputusan lebih banyak diamanahkan kepada Yudistira. Pemahaman Yudistira terhadap kitab suci Weda mewahyukan padanya pengetahuan mumpuni (Jnana) sehingga ia mampu membuahkan pemikiran yang matang, sistematis, dan sistemik. Oleh karena itu, Yudisthira lebih banyak "mengorbankan" pemikirannya. Pengorbanan dalam bentuk pemikiran inilah yang seringkali disebut dengan istilah Jnana Yadnya. Sedangkan saudara-saudaranya yang lain yang sebenarnya juga merupakan para pemikir cerdas, demi tujuan bersama, harus memercayakan segala tugas berpikir kepada Yudisthira walaupun dengan konsekuensi Panca Pandawa harus memperoleh pengalaman pahit yang dimulai sejak permainan dadu.

Dengan kualitas pemikiran yang matang itu pula, pada akhirnya Yudistira mampu memimpin adik-adiknya menuju kemenangan se-telah mencapai klimaks dalam perang Mahabharata. Kendati demikian, benarkah pemahaman matang Yudistira yang selalu mengunggulkan Jnana Yadnya dapat serta merta membawanya pada kemenangan tanpa mengandalkan kualitas-kualitas mumpuni lainnya? Tentu saja tidak! Segala gagasan yang hadir dari pemikiran tidak akan terlak-sana tanpa Angga 'badan', Kriya 'keterampilan', Artha 'modal', dan Yoga 'hubungan dengan Tuhan'. Yudisthira tidak akan pernah berhasil tanpa Bhima, Arjuna, Nakula, dan Sahadewa, yang tentu saja dengan bimbingan dari la Yang Mahatahu (Krishna, dalam konteks Mahabharata). Seluruh tubuh kehidupan itu saling "mengorbankan diri" demi keberlangsungan kehidupan itu sendiri.

Metode berkehidupan dengan mengandalkan kerjasama antarkualitas (guna) seperti Panca Pandawa tersebut memberi analogi bagaimana seharusnya manusia saling bekerjasama dalam berkehidupan. Tentu saja, pemimpin di dalam kerjasama itu tentulah ia yang memiliki pemikiran yang cemerlang (Jnana) untuk keluar dari labirin kehidupan bersama-sama. Jnana Yadnya inilah jalan pengorbanan tulus ikhlas para pemikir, para peneliti, filsuf, para guru, yang tentu saja harus memiliki minat belajar yang besar dan tekad mengetahui yang kuat sepanjang hayat. Jelas, yang dibutuhkan paling awal adalah niat untuk berkorban secara tulus ikhlas demi kehidupan bersama, bukan niat mendominasi itu. Jika ada ketulusikhlasan, di situlah ada spiritualitas.

Ia yang hendak melakukan jnana yadnya harus senantiasa belajar atau melakukan penelitian. Dari situ, pengetahuan dapat mengejawantah menjadi pemahaman. Pemahaman itulah yang diterjemahkan ke dalam gagasan-gagasan baru. Segala gagasan baru yang timbul melalui pemahaman itulah dikorbankan oleh para pemikir, yang boleh jadi sebagai jalan spiritualnya. Lalu, tongkat estafet harus segera dilanjutkan, segala gagasan muncul harus ada aplikasi yang dilaksanakan oleh mereka yang memilih metode-metode seperti angga yadnya (pengorbanan diri bagi mereka yang bertubuh kuat), kriya yadnya (pengorbanan diri bagi mereka yang kreatif), artha yadnya (pengorbanan diri bagi mereka yang bermodal finansial besar), dan yoga yadnya (pengorbanan diri bagi mereka yang sudah tua, yang sudah tidak mampu lagi membantu pekerjaan, dengan jalan mendoakan segala aktivitas berjalan dengan baik).

Pengorbanan secara ikhlas dari setiap manusia dengan mengandalkan guna masing-masing itulah yang memutar dunia sehingga hadirlah amerta, kehidupan. Seperti dalam kisah pemutaran gunung Mandara Giri, para dewa dan raksasa harus bekerja bersama-sama dalam memutar gunung untuk mengaduk samudera sampai amerta itu benar-benar menyembul. Dengan demikian, kesejahteraan dan kebahagiaan dunia (jagadhita) dapat dicapai bersama-sama. Sekali lagi, semuanya harus diinisiasi oleh pemikiran dan pemikirnya.

Oleh: Sindhu Gitananda
Source: Wartam, Edsisi 22, Desember 2017