Jiwa dan Wija

Upacara besar seperti Karya Ekadasa Rudra, Panca Balikrama, ataupun Bhatara Turun Kabeh yang diselenggarakan di Pura Agung Besakih terangkai dengan upacara di "Bale Paselang", disebut "Bhatara Tedun ke Paselang". Bale Paselang disebut juga "Smara Bhawana" karena di sini terjadi proses penciptaan seisi jagat.

Ada sebuah teks khusus yang dibaca oleh dua orang sulinggih disini, yaitu teks pajajiwan. Teks ini memuat dialog tentang penciptaan jagat : isi bhumi, laut, gunung, gedong, perahu ataupun lumbung. Maka upacara ini pun menjadi sangat penting karena disamping proses penciptaan itu, dilakukan pula penyucian jagat, menghilangkan segala papa pataka yang menyebabkan manusia menjadi sengsara dan menderita.

Salah satu bagian dari dialog itu adalah sbb : ( + ) Paran dera karya (-) manira makarya lumbung. ( + ) Apa isining lumbung. (-) Isining lumbung padi, ketan, injin, sarwa wija. ( + ) syapa kang adruwe ? (-) Druwe nira sang apaselang. Yan tan apaselang tan prasiddha karya. (+) Apa yang Anda buat ? ( - ) Saya membuat lumbung. (+) Apa isi lumbung itu? (-) Isi lumbung adalah padi, ketan, beras hitam dan biji-bijian (sarwa wija) (+) Siapa yang memiliki ? (-) Milik ia yang berupacara. Bila tidak melakukan penciptaan maka upacara itu tidak berhasil).

Cukilan teks pajajiwan ini telah menegaskan betapa pentingnya isi lumbung itu bagi kehidupan manusia, bagi kelangsungan hidup manusia. Pajajiwan berasal dari kata jiwa, artinya "hidup", sementara isi lumbung itu adalah sarwa wija, biji-biji amretabagi manusia.

Namun demikian biji-biji itu tetap bersih dan suci, sehingga ia benar-benar bagaikan manikan, permata yang cemerlang. Maka dialog di atas dilanjutkan sbb : (+) Ih sapasira angampuh-ampuh ingkene ? (-) Manira bibi, iringan nira Bhatara Smara, mwang Bhatari Ratih. Olih ira saking Smara Bhawana. (+) Paran I dera ampuh-ampuhan? (-) Manira angampuhang lara roga wighna mala papa patakanira sang pinaselang. Yan tan angampuhang kang mala, papa pataka, lara rogha wighna nira sang apaselang, tan siddha ikang karya. ((+) Ih siapa yang menampi biji-bijian disini ? (-) Saya ibu, saya pengiring Bhatara Smara dan Bhatari Ratih. Saya datang dari Smara Bhawana (+) mengapa menampi biji-biji itu? (-) Saya meniup dan melepaskan derita, sakit, bahaya, kotoran, kenestapaan dia yang melakukan upacara paselang ini. Kalau tidak demikian upacara ini tidak mencapai hasil).

Ada makna penyucian disini, sesuatu yang didambakan oleh setiap orang yang melakukan upacara. Tetapi juga biji (wija) yang telah tersucikan itu diharapkan memberikan kerahayuan. Biji-biji kesucian itu tumbuh dan mekar di hati setiap orang. Dan biji-biji yang ditanam tumbuh dan mekar dan memberikan
kesejahteraan.

Majajiwan atau mapaselang memang bermakna bagaimana jiwa kita menjadi tersucikan, dan bagaimana kita memiliki jiwa yang besar, seperti wija-wija kecil vane senantiasa tumbuh menjadi besar.

Sumber: Ki Nirdon l Warta Hindu Dharma NO. 459 April 2005