Jihad Melawan Egoisme

Pada saat MUI menyerukan umat Islam di Indonesia agar berjihad membantu saudara-saudaranya umat muslim Afganistan melawan Amerika, saya diberondong dengan berbagai pertanyaan oleh seorang pemuda Hindu. Dia menanyakan, apakah di Hindu ada ajaran tentang solidaritas terhadap sesama umat Hindu, model "ukhuwah Islamiah" bagi umat Muslim? Pertanyaan senada juga disampaikan oleh pemuda lain pada saat FPI menyerukan jihad ke Ambon untuk membela umat Islam. Sepengetahuan saya, dalam ajaran Hindu tidak ada semangat eksklusif yang mengarahkan agar kita merasa berbeda, apalagi merasa lebih unggul, lebih istimewa, dibandingkan dengan umat agama lain. Semangat yang perlu dibina adalah semangat satu kemanusiaan dalam artian kita semua bersaudara (vasudaiwa kutum bhakam). Bukan karena seagama kita menjadi bersaudara, bukan juga karena berbeda agama kita menjadi musuh!.

Selanjutnya dengan dahi mengkerut, dia menanyakan, "Apakah di Hindu juga dikenal Jihad? Saya tidak menjawab ya atau tidak, sebelum memberitahukan makna kata Jihad tersebut. Secara umum, jihad diartikan sebagai segala bentuk usaha maksimal untuk menerapkan ajaran agama (Islam) serta memberantas kejahatan dan kezaliman, baik terhadap diri sendiri maupun dalam masyarakat. Dalam Ensiklopedi Hukum Islam dan Ensiklopedi Islam, serta Leksikon Islam, secara khusus disebutkan, bahwa jihad mengandung makna "perang", Lebih lanjut, Imam Syafi'i mehdefinisfkan jihad sebagai upaya untuk memerangi kaum kafir dalam rangka menegakkan islam.

Yang menjadi permasalahan berikutnya, siapa sesungguhnya orang-orang kafir itu? Apakah setiap orang yang bukan muslim, itu yang dinamakan kefir? Jika ya, mengapa mereka harus diperangi? Kitab suci Al-Qur'an (Surah al Kafirun, 109:6) telah memberikan petunjuk, "Bagimu agamamu dan bagiku agamaku!" Itu berarti, tidak ada paksaan untuk masuk Islam. Dalam Al Qur'an juga dinyatakan, "Bisa saja Tuhan menjadikan seluruh umat manusia hanya memeluk satu agama saja, namun ternyata Dia tidak menakdirkan demikian" (Q.S. 10:99). Mengapa sampai Allah menurunkan wahyu seperti itu? Jika kita memang meyakini bahwa Tuhan itu satu, dalam artian Tuhan yang dipuja oleh umat Muslim, juga adalah Ia yang dimuliakan oleh umat agama lain, maka Ia memang tetap konsisten dengan wahyu-wahyu sebelumnya yang bersifat universal, bukan lokal.

Dalam Gita, Tuhan bersabda, "Jalan manapun yang ditempuh manusia ke arah-Ku, semuanya Kuterima. Dari mana pun mereka menuju jalan-Ku (Bhg. IV:11). Dia juga bersabda: "Apapun bentuk kepercayaan yang ingin dipeluk oleh penganut agama, Aku perlakukan mereka sama, supaya tetap teguh dan sejahtera" (Bhg. VII:21). Wahyu-wahyu tersebut mengisyaratkan bahwa umat manusia memiliki kebebasan untuk memeluk agama sesuai dengan keyakinannya. Jika ada orang memaksa orang lain untuk masuk pada agama tertentu, sesungguhnya dia telah menghalangi amanat Tuhan. Orang-orang inilah yang selayaknya disebut orang tidak beriman atau orang kafir.

Berdasarkan sasarannya, jihad dapat digolongkan menjadi dua jenis, , yaitu jihad fi sabilillah (berjuang di jalan Allah) dan jihad alan nafsi (berjihad melawan nafsu pribadi). Dengan demikian, berdasarkan sasarannya jihad dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu : jihad melawan musuh yang kelihatan nyata (orang-orang kafir), jihad melawan setan, dan jihad melawan hawa nafsu. Jihad terhadap orang-orang kafir semestinya diartikan sebagai perlawanan terhadap orang-orang jahat (adharma). Semangat ini akan mudah tergelincir, manakala kebenaran diklaim hanya ada pada agama tertentu saja, yang berikutnya menjadi hanya ada pada umat agama itu saja. Munculnya solidaritas keumatan, mereduksi solidaritas kemanusiaan dan kebenaran, tidak akan membuat dunia menjadi damai. Akibat lebih lanjut, visi agama untuk kedamaian umat manusia tidak akan pernah terwujud". Agama diturunkan untuk kedamaian semua umat manusia, bukan untuk golongan tertentu saja.

Sesungguhnya, di antara ketiga sasaran jihad tersebut yang paling besar, dan itu yang harus dilakukan oleh semua orang, .adalah jihad melawan nafsu pribadi. Sang Budha bersabda, "Mengalahkan diri sendiri itu lebih baik daripada mengalahkan orang lain" (Dhannapada 104). Jika seseorang belurn mampu mengendalikan hawa nafsunya sendiri jangan harap ia bisa tetap berjalan di jalan Tuhan. Bisa jadi, ia akan tampil sebagai orang munafik yang menurut kitab suci Al Qur'an jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan orang-orang kafir. Orang-orang munafik tidak akan membesarkan dan memuliakan agamanya, tetapi justru akan menggerogoti agamanya dari dalam.

Orang-orang munafik akan terbiasa menyebut nama Tuhan, tetapi bersamaan itu pula dia akan menyiksa dan membunuh anak-anak Tuhan. Jika kesalahannya terbongkar, maka dengan cepat mereka mengatakan entah setan ; mana yang telah merasuk ke dalam dirinya. Mereka tidak pernah mau mengakui kesalahannya, dan setan justru dijadikan kambing hitam. Mereka lupa, setan tidak ada di luar, tetapi justru ada di dalam diri. Kekawin Ramayana menegaskan tidak ada musuh yang lebih kuat dibandingkan musuh yang ada di dalam hati {tan hana satru menglewihaning hana geleng ri ati). Atas dasar itu, perang yang seharusnya dilakukan oleh semua orang tidaklah mengarah ke luar, tetapi justru mengarah ke dalam diri. Itulah yajna terbesar!

Perdamaian dunia tidak akan pernah terwujud jika senjata dipakai andalan. Senjata tidak akan mampu menciptakan perdamaian, dia hanya bisa menebar bibit dendam. Perdamaian tidak bisa diciptakan, tetapi hanya mampu dibina. Dunia akan damai, jika setiap orang memperlakukan dan mengasihi orang lain seperti mengasihi dirinya sendiri. Dalam Dhammika Sutta disebutkan, "Janganlah merusak atau menyebabkan kerusakan terhadap bentuk kehidupan. Berjanjilah kepada dirimu sendiri untuk tidak menyakiti makhluk apa pun".

Dalam kaitan dengan ajaran agama dan ajaran spiritual lainnya, orang akan menilai ajaran itu tidak dari C" isi ajarannya. Sebuah pohon dinilai dari buahnya. Baik buruknya sebuah ajaran dilihat dari tingkah laku para pengikutnya. Karena itu, setiap orang yang memuliakan agamanya, sebagai ajaran yang cinta damai, harus mampu berjihad 'alan nafsi untuk memerangi nafsunya sendiri. Jika nafsunya telah mampu dikalahkannya, maka perdamaian, jihad 'alan nafsi merupakan swadharma bagi semua orang yang menyebut dirinya manusia beradab dan beragama. Semoga pikiran baik datang dari segala penjuru.

Source: I Wayan Suja l Warta Hindu Dharma NO. 449 Juli 2004