Japamala: Bagaimana Menggunakan dan Apa Maknanya

Kini banyak orang yang membawa japamala atau yang di agama lain populer dengan sebutan tasbih. Benda yang melingkar itu lebih sering terlihat dikalungkan di leher. Bukan hanya di kalangan para sulinggih dan pemangku, umat Hindu yang masih berstatus walaka juga banyak membawanya. Tak ada larangan atau sebaliknya tak ada keharusan memakai japamala. Benda ini sudah umum dijual di berbagai toko aksesoris yang menyediakan lambang-lambang dan simbol Hindu.

Tapi apakah japamala itu? Sebuah kalung yang berisi 108 biji untuk japamala yang berukuran normal. Orang lebih sering menyebutnya genitri lantaran biji yang dipakai dalam japamala itu lebih banyak berupa buah genitri. Padahal japamala bisa dibuat dari berbagai bahan dan dalam berbagai sastra bahan itu menentukan khasiat dari perlengkapan suci ini.

Dalam buku Tantrasara disebutkan, japamala yang terbuat dari kerang punya khasiat lebih tinggi dari buah genitri. Yang terbuat dari batu hitam mengkilat yang merupakan simbol dari warna Wisnu atau lazim disebut salagrama kha-siatnya lebih tinggi dari batu hitam tadi. Demikian pula yang dibuat dari batu kristal apalagi mutiara maka khasiatnya jauh lebih tinggi lagi. Tidak selalu yang biji-bijian mahal berkhasiat lebih tinggi karena ada disebutkan japamala yang dibuat dari daun alang-alang (kusa), buah tulasi dan buah rudraksa kha-batu-batuan itu.

Jenis biji yang dipakai dalam japamala selain punya khasiat yang berbeda juga punya maksud yang berbeda pula. Para penyembah Wisnu lebih banyak menggunakan japamala dari pohon atau buah tulasi, tetapi penyembah Ganesha akan berburu japamala dari gading gajah. Akan halnya penyembah Siwa sebagaimana umumnya umat Hindu di Bali yang menjadi penganut Siwa Sidhanta lebih banyak memakai buah genitri atau kayu cendana maupun buah rudraksa.

Japamala dari pohon kusa dianggap sebagai penghancur segala dosa. Nampaknya ini berkaitan pula dengan penggunaan karowista yang terbuat dari daun alang-alang yang juga bertujuan hampir sama dalam setiap ritual yang menyangkut "pembersihan" dalam upacara yang melibatkan seseorang. Satu hal yang jelas disebutkan dalam Tantrasana dan juga lersaji dalam Kalika Purana, japamala ini tidak boleh terbuat dari bahan campuran dalam satu untaian kalung. Jadi kalau kita nemukan ada japamala terbuat dari buah genitri atau kayu dana yang diselingi kristal atau mutiara, maka itu lebih be-i aksesoris dibandingkan peralatan suci dalam melakukan al japa. Pemakainya semata-mata mencari unsur keindahan an sesuatu yang berkhasiat.

Demikian pula benang yang mengikat biji-bijian itu, semuanya punya perlambang. Di dalam kitab Sanatkumara dijelaskan benang dari kapas (katun) yang dipakai mengikat biji-iji japamala itu semuanya punya arti tersendiri. Jika memakai benang putih maka japamala itu lebih bertujuan untuk memohon kedamaian. Benang berwarna merah untuk menarik perhatian orang lain, benang hitam untuk memudahkan mendapat rejeki (kekayaan). Tentu saja semuanya ini tidak kelihatan dan yang terjual sekarang ini malah lebih banyak memakai plastik. Barangkali untuk lebih mudah memasukkan ke dalam biji-bijian yang lubangnya kecil itu. Nah, pada salah satu ujung dari biji-biji japamala itu diletakkan biji yang besar dan diberi ornamen sebagai pertanda awal dan akhir. Ini disebut "bija meru".

Bagaimana kita melakukan japamala? Bisa bersila (padmasana) bisa dengan asana (sikap duduk) yang lain seperti bersimpuh, duduk di kursi dan sebagainya. Peganglah japamala di tangan kanan dan letakkan di atas jari tengah, jari manis dan kelingking. Mulailah melakukan japa (dalam pengertian menghitung) dengan cara mendorong satu persatu biji japamala dengan ibu jari. Ingat di dalam Hindu, biji tasbih itu didorong, bukan ditarik satu persatu sebagaimana konon di agama lain.

Jari telunjuk tidak difungsikan sama sekali. Bahkan dihindari menyentuh biji-biji japamala. Jari telunjuk dianggap mewakili ahamkara (ego seseorang). Jika sampai pada hitungan ke 108 yang ditandai dengan "bija meru" dan ingin kembali melakukan japa, jangan dilewatkan "bija meru" itu tetapi dibalik kembali japamalanya.

Menggunakan japamala dengan cara mendorong biji-bijinya. Selama ini banyak pemakai japamala dengan menarik biji-biji itu dan karena kebiasaan berlanjut maka hal itu dianggap biasa saja. Sebaiknya mulai mempelajari teknik mendorong karena itu yang dianjurkan.

Juga sudah disebutkan hindari jari telunjuk menyentuh biji-biji japamala pada saat kita melakukan japa. Jari telunjuk adalah simbol ahamkara (ego). Kita tahu dan bisa melihat bagaimana orang menuding pasti umumnya memakai telunjuk. Para sulinggih pun jika melakukan rerajahan, misalnya ngarga (memohon) bija dan sebagainya memakai jari tengah, bukan telunjuk.

Nah, pertanyaan sekarang adalah untuk apa kita melakukan japa? Secara umum japa artinya mengulang dan berjapa artinya mengulang-ulang. Apa yang diulang? Tak lain adalah mantram-mantram suci yang bisa menentramkan jiwa kita, nama-nama Tuhan yang selalu diulang sehingga Tuhan menjadi semakin dekat dan bahkan ada di dalam hati kita. Adapun menurut Sadguru Sant Keshavadas dalam bukunya "Gayatri: The High-est Meditation", japa itu terdiri dari kata "ja" dan "pa". "Ja" dimaksudkan sebagai menghancurkan kelahiran dan kematian. "Pa" dimaksudkan menghancurkan segala dosa. Jadi japa adalah penghancuran semua dosa dan meniadakan lingkaran kelahiran kematian serta membebaskan jiwa dari keterikatannya.

Ada dua cara untuk berjapa. Yang satu secara wacika (vacika) yang artinya secara terucapkan, yang satunya lagi secara manasika atau yang ada di dalam pikiran. Manacika yang dimaksud mengucapkan dan mengulang-ulang mantram suci atau nama Tuhan hanya di dalam pikiran saja. Cara wacika dibagi dua lagi. Pertama diucapkan dengan gerakan bibir tetapi suara tidak keluar, hanya bisa didengar sendiri. Orang lain meski berada dekat dengan kita tak bisa mendengar. Ini disebut upamsu. Yang kedua adalah gerakan bibir disertai suara, bisa didengar pula oleh orang yang ada di sekitar kita.

Dengan cara manasika, juga ada dua jenis. Yang satu adalah pengulangan pikiran seolah-olah hal itu diucapkan padahal hanya dalam pikiran, satunya lagi sejalan dengan pergerakan napas yang disebut ajapa-japa. Proses ini sudah ke arah melakukan meditasi. Japa dengan metode manasika inilah yang dianggap sebagai hal yang utama, lebih utama dari wacika. Hal seperti ini juga berlaku dalam hal mengucapkan mantram-mantram Weda, "mengucapkan lewat pikiran tanpa suara" itu lebih utama dari yang lain. Tentu hal ini hanya bisa drasakan oleh mereka yang sudah tingkat spiritualnya tinggi. Kalau tidak malah bisa jadi ejekan, "diam saja memuja jangan-jangan tak tahu apa mantramnya".

Meski pun japa dengan metode manasika sering pula disebut sebagai japa-mental karena tak ada suara pun yang terdengar, ini adalah japa yang paling sulit. Bahkan disebut, karena sulitnya setiap orang yang ingin tetap dalam praktek berjapa, haruslah memulainya dengan japa wacika, mengucapkan setiap mantram atau nama Tuhan yang berulang-ulang. Jika itu sudah dikuasai secara rutin dan berkesinambungan, bisa ditingkatkan dengan cara melatih upamsu, "mengucapkan lewat bibir" tetapi tak ada suara yang didengar orang lain. Hanya mereka yang disebut-sebut punya pikiran yang sudah damai yang mampu dan memenuhi syarat untuk berjapa secara manasika. Bagaimana berjapa secara manasika jika pikiran masih keruh, mudah terombang-ambing oleh keadaan sekeliling.

Pentingnya melakukan ritual japa (disebut juga japa-yajna) tersirat di dalam Linga Purana. Di situ disebutkan Siwa bersabda kepada shakti-Nya, Dewi Parwati, sebagai berikut: "Dewi, di dalam setiap yadnya yang lain berbagai bentuk cacat akan terjadi melalui pikiran, kata, dan perbuatan. Tetapi di dalam japa yadnya hal seperti itu tak akan terjadi. Karena itulah japa yadnya adalah yang paling agung di antara semuanya." Merujuk ke sloka ini Sadguru Sant Keshavadas memberi komentar: "Hantu, dedemit, setan tidak bisa mendekati orang yang sedang mengulang-ulang mantra suci. Japa menghancurkan karma, japa membawa kebahagiaan dan membebaskan seseorang dari ikatan."

Marilah kita pergunakan japamala sebagaimana seharusnya, bukan hanya dikalungkan sebagai aksesoris sehingga kelihatan keren, tetapi gunakan di mana ada kesempatan untuk berjapa yadnya.

Source: Ida Pandita Mpu Jaya Premananda l Majalah Raditya Edisi 220 l 2015