Jalan Panjang Bernama Yoga

APA gerangan yang dilakukan oleh seorang pertapa yang khusyuk bersila berjam-jam memejam mata, mengatur ke luar masuk nafas, tidak bergeming seakan ia berusaha hilang di dalam dirinya?

Entahlah! Hanya ia yang tahu. Atau, barangkali ia tidak tahu apa sejatinya yang sedang ia lakukan. Karena kebanyakan pertapa dituntun secara mistis oleh satu atau beberapa ajaran yang sangat memikat pikirannya. Ia terpikat barangkali karena ajaran itu dengan satu dan lain cara menjanjikan sesuatu yang berbeda dengan keseharian manusia biasa. Banyaklah janji ajaran. Termasuk janji manis di kehidupan ini, dan janji indah di ”kehidupan” sesudah mati. Banyaklah pertapa yang terobsesi oleh janji-janji itu. Salah satu janji yang paling memikat banyak pertapa konon adalah Cintamani. Nanti kita lanjutkan pembicaraan tentang Cintamani ini. kita lanjutkan dulu pembicaraan tentang pertapa dan perilakunya.

Apa gerangan yang ingin ”dibuka” oleh seorang pertapa ketika ia dengan sarana yoga khusyuk melafalkan bija mantra HANG KSAH sambil terus membayangkan sekuntum bunga Padma berkelopak dua yang ia percayai ada di simpul energi di pertengahan kedua alis matanya?

Entahlah! Kita hanya bisa menduga-duga. Barangkali ia sedang berupaya membuka pintu rahasia salah satu simpul energi yang ada di kedua alisnya itu. Dan dugaan kita ini pun terbatas pada apa yang kita dapatkan dari membaca shastra. Kita diberitahu bahwa di sana ada pintu yang akan mengantarkan ke pintu-pintu lainnya sebelum sampai ke Cintamani yang dijanjikan itu.

TERNYATA sedang melakukan perjalanan panjang dan sulit menuju suatu ”keadaan” yang mereka sendiri belum ketahui bagaimana keadaan di sana itu. Perjalanan panjang meletihkan itu mereka lakukan dengan cara diam dan duduk. Keberangkatan-diam mereka itu berbekal keyakinan sangat kuat, bahwa di sana mereka akan menemukan Cintamani yang dijanjikan. Karena apa gerangan mereka begitu yakin dengan janji sebuah ajaran?

Karena mereka benar-benar mendengarkan apa kata shastra tentang Cintamani itu. Kurang lebih lebih kurang seperti inilah yang mereka dengar. Bila alam semesta raya ini disebut misteri, maka ada yang lebih misteri lagi, yaitu Pikiran. Bila misteri Pikiran berhasil ditemukan, maka akan jelaslah a-b-c-d alam semesta beserta isinya. Misteri pikiran itu dalam shastra disebut Cintamani, yang sederhananya berarti ”permata pikiran”. Bukan sekadar permata, tapi Pikiran adalah permata ajaib apabila Pikiran berhasil dikembalikan ke jati dirinya.

Konon dengan Cintamani para pertapa tidak hanya akan menemukan misteri penciptaan alam semesta di dalam yoganya, tapi juga akan menemukan Shiwa. Menemukan Shiwa berarti menjadi Shiwa. Menjadi Shiwa berarti berbagi pengalaman dengan Shiwa. Orang konon akan bisa berbagi pengalaman dengan Shiwa bila ia memiliki sifat-sifat yang identik dengan sifat-sifat Shiwa. Cintamani itulah salah satu sifat Shiwa.

Bersama Cintamani dalam diri, dijanjikan bahwa segala yang ditunggu-tunggu akan datang; yang dicari akan didapatkan; yang benar-benar dipikirkan akan terjadi; yang sungguh-sungguh diucapkan akan terbukti; yang dibayang-bayangkan akan menjadi nyata; yang diminta akan diberi.

Siapa yang tidak terpikat hatinya dengan permata ajaib itu? Caranya pun diajarkan oleh shastra, justru dengan membalikkan Pikiran: dari pikiran yang berpikir menjadi Pikiran yang dipikirkan.

Bhagawan Wrehaspati yang mengajarkan Wrehaspati-Tattwa tidak hanya menyatakan bahwa Cintamani itu adalah permata ajaib, tapi adalah Bathara yang amat susah untuk dicapai. Ia adalah Sang Hyang Manon, ia yang sejatinnya ”melihat” dan sekarang ia ingin dilihat oleh para pertapa itu. Bhagawan Wrehaspati tidak mengajarkan agar orang menjadi pesimis ketika menyatakan bahwa Cintamani sangat sulit dicapai. Sebaliknya, ia membesarkan hati pembaca kitabnya dengan menyatakan bahwa benih Cintamani ada pada setiap orang yang masih hidup. Itulah Pikiran.

Tapi apa sesungguhnya Pikiran itu? Pertanyaan tentang a-b-c-d-nya Pikiran akhirnya sama saja dengan pertanyaan tentang alam semesta. Keduanya sama-sama merupakan pertanyaan besar. Keduanya sama-sama tidak akan ditemukan jawabannya bila hanya bermodalkan ketekunan bershastra. Jawabannya konon akan ditemukan bila berhasil menempuh jalan panjang yang sulit yang bernama Yoga. Ketekunan dan anugerah, barangkali itulah dua kata kuncinya.

Jadi, kembali ke pertanyaan awal: apa yang membuat para pertapa terobsesi dengan Cintamani? Itulah, barangkali, sebuah janji sakral dari Shastra yang pasti tidak berbohong. Lalu apa hubungan Cintamani dalam shastra dengan Kintamani dalam kabut Batur? Entahlah!

Oleh: IBM. Dharma Palguna
Source: Balipost Minggu, 23 Mei 2010