Jalan Menuju Mahardika

Mahardika atau merdeka mungkin hanya representasi dari ekspresi kata, bukan fakta. Maknawinya bisa sangat luas, bahkan selalu bersifat lake atau kurang. Juga tentu saja relatif. Yang pasti, merdeka adalah sesuatu yang diperjuangkan, bukan terberi, tidak juga hadiah gratis. Pesan heroik dari sebuah bangsa yang merdeka, entah berjuang dengan kekerasan maupun nirkekerasan ala Mahatma Gandhi di India, sama saja. Ada perjuangan di dalamnya. Merdeka berarti berjuang, kemerdekaan adalah perjuangan.

Untuk membebaskan dirinya dari bayang-bayang Arjuna, plus “ditolak” Drona, Ekalawya berjuang siang malam. Bahkan sedikit ekstrim, Drona dijadikan patung hidup. Ada kekaguman sekaligus “kebencian” untuk membebaskan dirinya. Ujung pembebasan Ekalawya bukan kemahirannya melebihi Arjuna, anak emas Drona, tetapi saat mempersembahkan ibu jari kanannya sebagai daksina, persembahan termulia. Jauh sebelumnya, Bhima membebaskan dirinya dari kematian yang dirancang Drona ketika pergi ke tengah samudra. Sekali lagi, ujung pembebasan bukan ketika ia memperoleh tirtha kamandalu dari Dewa Ruci, tetapi saat tersenyum bangga mempersembahkan tirtha itu kepada Drona.

Tentu masih banyak lagi inspirasi dari cerita tentang menjadi manusia merdeka. Masalahnya, menjadi manusia merdeka itu bukan di akhir, tetapi saat proses memperjuangkannya. Spartacus dalam legenda Yunani mengajerkan tentang perjuangan menjadi manusia sejati saat semua orang menertawakan bahwa ia akan mati kalau berani melawan raja. Tapi Spartacus bergeming. Yang penting melawan karena melawan adalah simbol perjuangan. Mati atau hidup adalah kompesasi dari kualitas perlawanan. Itu warisan kepada generasi yang malas dan penganut instanisme. Seperti Spartacus, Krisna menjamin sorga bagi Arjuna jika ia mati dalam peperangan. Kemerdekaan tidak didapat oleh prajurit desersi.

Ajaran kemerdekaan atau memerdekakan diri dalam Hindu tentu saja banyak. Selain cerita, juga banyak dalil. Ajaran catur purusartha yang berkelindan dengan catur asrama gamblang menguraikan hal ini. Intinya sama. Manusia berjuang melewati semua fase kehidupan, ujungnya Moksa dicapai dengan jalan Bhiksuka. Karena itu, belajar atau mengajarkan kedua ajaran itu tidak bisa melompat-lompat, tetapi holistik namun komprehensif. Artinya meski seolah berjalan sendiri, bagian yang lainnya ikut melengkapi. Selayaknya menjalankan raja marga, namun ajaran bhakti, karma, dan jnana ikut di dalamnya sebagai bagian tak terpisahkan.

Nikmat kemerdekaan ada pada proses-proses perjuangan. Jalan pembebasan dalam Hindu justru adalah karma itu sendiri. Manusia bekerja untuk membebaskan sekaligus memerdekakan dirinya dari keterikatan. Untuk menuju sorga, apalagi moksa, manusia harus berkarma membebaskan diri dari kemelakatan dan tresna. Seperti Yudhistira yang harus melewati Bharata Yudha sebelum menemukan sorga. Manusia tidak bisa memilih menjadi Bhisma untuk menentukan hari baik kematiannya.

Dalam beryadnya, jujur adalah alat memerdekakan diri. Ketika memiliki sesuatu yang berharga, lalu berani mempersembahkan kepada Tuhan, mungkin itu nilai yadnya. Misalnya, ayam putih uang begitu disayangi, rela dijadikan caru, bukan sebaliknya, membeli ayam putih untuk menggantikan ayam putih milik sendiri di rumah. Manusia menjadi merdeka saat tidak ada kemelekatan. Sayangnya, kemelekatan itu tampil dalam banyak wujud yang tdak bisa dihindari: status sosial, jabatan, kedudukan, harta, keturunan, dslb.

Apa contohnya? Seseorang perempuan menangis meraung-raung karena gagal membawa gebogan ke pura. Pupus sudah angannya menempatkan gebogan yang dipenuhi buah impor, minuman kaleng, dan kue mahal di antara jejeran gebogan di asagan pura. Usut punya usut ia yang biasa-biasa saja itu, begitu bermuram durja karena jengah ingin tampil wah, lalu kredit membeli dulang meprada mahal. Ia lebih menangisi dulang yang belum lunas itu ketimbang kegagalannya mempersembahkan niatnya ke pura. Meski tak adil dan terlalu simplitis, ia tentu saja masuk golongan manusia tidak merdeka.

Jika begitu, banyak sekali manusia Hindu yang belum merdeka jika mengikuti contoh di atas. Tapi Hindu selalu membuka jalan lapang untuk memerdekakan diri dengan beragam cara. Tak ada jalan absolute, apalagi satu-satunya jalan. Ibarat hidangan prasmanam, kita boleh memili dan menikmati makanan terenak. Mau makan hanya dengan nasi putih dan tempe sedikit sambal, boleh. Atau makan semua menu, bisa. Tetapi ruang makan itu akan nikmat saat tak ada saling klai kebenaran, kecuali complain sambal kepedasan.

Bukankah Tuhan itu sahasra namam dan sahasra rupam?

Oleh: I Nyoman Yoga Segara (Antropolog IHDN Denpasar)
Source: Majalah Wartam, Edisi 30, Agustus 2017