Jaga Keseimbangan Alam Melalui "Usaba Kaulu"

Tradisi ritual yang diwariskan leluhur, hingga kini tetap lestari di sejumlah desa di Bali. Demikian halnya di Desa Adat Asak, Pertima, Karangasem. Salah satu desa tua di Karangasem ini memiliki tradisi yang tetap terjaga dan dilestarikan yaitu Usaba Kaulu. Seperti saat Usaba Kaulu, Kamis (14/1) lalu, teruna adat setempat menggelar tradisi ritual pacaruan agung dengan sarana caru berupa seekor sapi. Pelaksanaan ritual itu selain unik, juga cukup menegangkan. Pasalnya, setelah diupacarai, sapi itu dilepas kemudian dikejar lalu ditebas selumh sinoman teruna adat. Di sepanjang jalan desa adat, berdiri batang pohon pisang terbalik, lengkap dengan hiasan reringgitan, lamak memanjang dan banten pajegan.

Bendesa Adat Asak Jero Dukuh Ketut Suta menyampaikan, ritual ini mumi dilaksanakan sepenuhnya oleh teruna adat. Persiapan ritual sudah dilakukan sejak dua minggu sebelum acara puncak dengan mempersiapkan sarana caru berupa sapi jantan. Sapi itu lantas diserahkan kepada panyarikan teruna dan ditempatkan di areal Pura Patokan Truna dan setiap hari dimandikan di Beji Yeh Inem. Setiap malam, sapi itu dijaga oleh sinoman teruna (makemit). Tiba saat puncak ritual, pinanggal ping 6 Sasih Kaulu nuju Beteng, sapi yang dijadikan sarana caru ini dihias memakai wastra putih kuning. Di dahi matorek pamor lambang Suastika. Sebelum puncak ritual berlangsung, sapi itu diupacarai. Demikian juga selumh sinoman teruna adat melakukan persembahyangan. "Sebelum puncak ritual panyarikan teruna mengumumkan aturan main nyepegin sapi. Kalau nyepegin di depan banjar adat, teruna dikenakan denda Rp 250 ribu. Kalau sudah di palemahan desa adat denda Rp 150 ribu," kata bendesa.

Sapi ini lantas diarak mengelilingi Pura Patokan berbentuk palinggih kecil di areal Banjar Adat Kanginan. Palinggih ini dilambangkan sebagai lingga Dewa Siwa. "Tebasan pertama diberikan kesempatan kepada teruna yang paling kelih, sebagai tanda mingetin sapi," kata Wayan Segara, Prajuru Baga Parhyangan Desa Asak Asak. Setelah itu, barulah sapi itu dilepas keluar Pura Patokan. Seluruh sinoman teruna berupaya menebasnya agar jatuh. Sapi dalam keadaan terluka terus dikejar keliling desa. Darah yang tercecer di areal desa adat itulah dimaksudkan sebagai pertanda pacaruan agung telah dilaksanakan. Di mana pun nantinya sapi itu mati, dipercaya akan membawa kesuburan dan berkah. Pada proses ini, teruna adat paling dilarang menebas bagian ekor dan kepala sapi. Karena kalau ekor sapi terpotong, maka sapi itu dinilai sudah cacat. Teruna adat yang berani melakukannya akan dikenakan sanksi ganti rugi seharga sapi itu.

Pada pelaksanaannya kali ini, sapi sudah "menyerah" masih di areal desa, tepat di depan rumah warga di sebelah barat pusat desa. Di tempat itu juga sapi ini dipotong-potong dan dibawa ke Pura Patokan. Prosesi selesai, warga setempat mulai melaksanakan persembahyangan di sejumlah pura setempat. Bendesa Asak menambahkan, prosesi selanjutnya akan dilanjutkan keesokan harinya. Warga setempat menyebutnya dengan istilah wewayonan, di mana seluruh sinoman teruna adat, deha dan perangkat desa adat mengolah daging sapi itu menjadi sarana upacara dan sisanya untuk magibung bersama.

Tradisi ini dilaksanakan dengan tujuan nyomia bhuta kala agar tercipta keseimbangan alam di Desa Adat Asak pada khususnya dan jagat Bali pada umumnya. Arah lari sapi ini pun mempunyai makna tersendiri. Bila lari ke arah timur, pertanda kesuburan dan kemakmuran, selatan tanda kebijaksanaan, timur cahaya terang terhindar dari segala bahaya dan ke arah barat pertanda buruk, berupa kegelapan.

Source: Bagiarta l Majalah Bali Post Edisi 124 l 1 -7 Februari