Jadilah Kupu-Kupu yang Indah

Realitas bukanlah sesuatu yang dapat diketahui oleh akal-budi, karena akal-budi adalah hasil dari yang dikenal, dari masa lampau;
karenanya akal-budi itu haruslah memahami dirinya dan fungsinya, kebenarannya; dan baru sesudah itulah mungkin bagi yang tak dikenal itu mewujud
~ Jiddhu Krishnamurti

Kesadaran-ragawi dan Pola-pandang Kasat-indria

Kesadaran-ragawi merupakan bentuk kesadaran mendasar saat kita terjaga. Ia merupakan salah-satu basis dari keterjagaan kita. Dalam keadaan jaga, kita mengadakan interaksi dengan dunia luar menggunakan kesepuluh indria berinteraksi secara pasif menggunakan kelima indria-sensorik (panca-jnanendriya), dan secara aktif menggunakan kelima indria-motorik (panca-karmendriya). Oleh karenanya, dalam kondisi jaga, kerja dari kesepuluh indria (dasendriya) menjadi penting sekali arti dan perannya.

Saking begitu besarnya peran kesepuluh indria ini, tak sedikit dari kita menyangka bahwa hanya merekalah yang bekerja dalam kondisi jaga. Akibatnya, penekanan pada kerja indriawi dan penghargaan terhadap apa-apa yang bisa dihasilkanya menjadi begitu berlebih-lebihan. Banyak diantara kita yang menjadi beranggapan keliru bahwa, 'bukan kerja indriawi, bukanlah kerja'. Pada kebanyakan dari kita, kekeliruan ini bahkan telah berimplikasi lebih jauh lagi dengan melahirkan anggapan keliru lain bahwa, 'sesuatu hanya bisa dianggap nyata dan benar kalau ia bisa dibuktikan melalui persepsi indriawi'. Padahal sebetulnya tidak demikian. Nah.... menganut dengan ketat anggapan seperti inilah yang kita sebut dengan berpola-pandang kasat-indria.

Dalam praktek kehidupan sehari-hari, dimana mau-tak-mau kita harus berlandaskan kesadaran-ragawi, maka terjebak di dalam pola ini nyaris tak terhindari. Dan sekali kita terjebak di dalamnya, seluruh kehidupan ini akan terpolakan olehnya; kita dibuatnya menjadi para penganut pola-pandang kasat-indria, pola-pandang sakala. Kalau sudah begini kejadiannya, maka akan amat sulit bagi kita untuk keluar darinya. Dibutuhkan suatu perombakan besar yang boleh jadi terasa sangat menyakitkan dan tidak mengenakkan sehingga tak tertahankan untuk bisa keluar dari cengkramannya.

Tiga Jenis Kerja, Tiga Jenis Enerji

Padahal, bila kita mau mencermati sedikit lebih ke dalam, akan tampak jelas bagi kita kalau kerja bagi kita bukanlah semata-mata kerja indriawi. Di balik kerja-indriawi atau kerja-fisikal, ada kerja-mental; dan di balik kerja-mental, ada kerja-rokhani atau kerja-spiritual. Tanpa perhatian yang adalah kerja-mental terhadapnya, walaupun seseorang berceloteh di hadapan Anda, Anda bisa tidak mendengarkannya bukan? Ketika pikiran Anda tiba-tiba terbang entah kemana untuk beberapa saat, Anda bisa melewatkan beberapa adegan film yang Anda tonton bukan?

Dalam kondisi jaga dan pada setiap aktivitas, kita melakukan juga ketiga jenis kerja ini pada tataran masing-masing fisikal, mental dan spiritual dalam porsi dan intensitas yang berbeda-beda. Ini umumnya tidak kita disadari.

Dalam keadaan tidur saja, walaupun secara fisikal kita tidak aktif, tataran mental dan spiritual kita boleh jadi sedemikian aktifnya. Inilah yang melahirkan beraneka-ragam mimpi. Jangan sangka kalau kita sama sekali tidak aktif kalau kita sedang tertidur lelap tanpa mimpi. Justru saat inilah, saat tataran fisikal dan mental sepenuhnya beristirahatlah, tataran spiritual bekerja secara amat intens; membenahi yang patut dibenahi, menyehatkan yang patut disehatkan. Makanya, manakala Anda terbangun setelah mengalami tidur lelap. Anda merasa segar, merasa bugar, merasa jernih.

Kerja-mental sebetulnya jauh lebih berat dari kerja-fisikal. Ia menguras lebih banyak enerji yang lebih berkwalitas. Kalau kerja-fisikal hanya bisa membuat orang penat, kelelahan, perasa kehabisan tenaga-kasar, maka Kerja-mental yang berlebih bisa membuat orang menjadi stress, bingung hingga gila. Kalau kerja-fisikal butuh tenaga atau enerji-kasar, maka kerja-mental membutuhkan enerji-halus, membutuhkan enerji dengan kwalitas yang lebih tinggi. Bekerja di kebun selama satu jam boleh jadi kita belum merasa lelah; namun, jangankan satu jam, lima belas menit saja kita marah-marah karena bawahan kita tidak menyelesaikan kewajibannya betapa mestinya, kita sudah merasa sangat lelah. Marah, sedih, cemas, takut, waswas, khawatir dan bentuk-bentuk mental negatif sejenis menguras banyak enerji-mental Anda.

Dalam sebuah pertandingan olah-raga yang adalah adu fisik misalnya, kita mengenal istilah "kalah sebelum bertanding" atau "menang sebelum bertanding" bukan? Kenapa bisa demikian? Inilah membuktikan keunggulan kerja dan enerji-mental ketimbang kerja dan enerji-fisikal. Dan jauh mengungguli kerja dan enerji-fisikal, adalah kerja dan enerji-spiritual.

Yang berbasis pada Kerja dan Enerji-spiritual

Mereka yang menganut pola-pandang kasat-indria, hanya akan menghargai kerja-fisikal. Jangankan kerja-spiritual, kerja-mental saja mereka akan sulit menghargainya. Akibatnya, sebentuk kerja-spiritual yang padahal hanya biasa-biasa saja secara spiritual bisa dianggapnya suatu keajaiban, untuk kemudian mmtakhyulkannya. Nyaris segala bentuk-bentuk pentakhyulan bermula disini; mengakar dan berkembang dengan suburnya di kalangan mereka yang menganut pola-pandang keliru ini. Masalah niskala berbasis pada kerja dan enerji-spiritual. Fenomena niskala boleh jadi disangka atau dianggap sebagai sebentuk keajaiban, sebagai sesuatu yang luar-biasa terutama oleh mereka yang menganut pola-pandang kasat-indria padahal sebetulnya itu hal biasa. Siapapun yang telah memahami dan menguasai kerja dan enerji-spiritual akan bisa melakukannya. Anda boleh saja menganggap orang yang menguasainya sebagai 'sakti'; akan tetapi sebetulnya hanya seperti itu. Tidak lebih dan tidak kurang.

Mungkin persoalannya hanyalah, 'bagaimana memberdayakan enerji-spiritual ini bagi kebaikan sebanyak-banyaknya orang?'. Kalau untuk terampil di dalam olah tubuh kita perlu berlatih, tentu demikian juga untuk terampil di dalam olah-rokhani ini. Walaupun bakat memegang peran penting disini, keterampilan itu tetap masih bisa dilatih. Kalau yang memang berbakat hanya butuh waktu singkat untuk berlatih, maka kita yang kurang berbakat butuh waktu yang lebih lama. Yang pasti adalah, setiap orang terbekali ketiga jenis enerji ini. Tak ada takhyul disini. Mau diberdayakan atau tidak, itu terserah kita; dan kalau ia telah berdaya, mau dimanfaatkan untuk kebajikan atau kebatilan, secara altruistis atau egoistis, itupun terserah kita.

Lepaskan Kungkungan itu!

Adalah fakta bahwa, di dalam kehidupan kita sehari-hari di dalam bekerja, di dalam mengadakan interaksi dengan lingkungan alam dan lingkungan sosial kita, di dalam setiap aktivitas dan pengalaman hidup kita kita butuh fungsi dan kerja dari organ-organ indria yang memadai. Dalam banyak hal, di dalam' hidup ini, kita tergantung pada kinerjanya. Sehingga dapat dimengerti kalau kebanyakan dari kita beranggapan bahwa tak ada pola hidup yang lain lagi kecuali itu, kecuali menganut pola-pandang kasat-indria itu. Akan tetapi tunggu dulu; benarkah demikian? Persoalan ini benar-benar harus kita teliti di dalam diri kita sendiri.

Sebagai alat di dalam beraktivitas baik secara aktif maupun pasif mereka memang memegang peran yang sangat penting. Namun fakta ini semestinya tetap tidak mengharuskan siapapun untuk menganut, untuk kemudian selalu menggunakan pola-pandang kasat-indria. Disamping keterbatasan-keterbatasan yang melekat pada mereka, banyak hal-hal di dalam kehidupan ini yang memang tidak kasat-indria bukan? Disamping memunculkan bentuk-bentuk pentakhyulan seperti telah dibicarakan sebelumnya pola-pandang kasat-indria juga cenderung senantiasa mengantarkan siapapun pada kekeliruan demi kekeliruan, salah-pandang demi salah-paniiang.

Fakta ini dapat kita rasakan langsung. Kalau berdasarkan pola-pandang ini kemudian kita menarik suatu kesimpulan atau menimba pengetahuan dan pengertian, dapat dipastikan kalau kesimpulan, pengetahuan dan pengertian kita itu menjadi cenderung salah, keliru Bagi pendamba kesujatian, fakta ini sangatlah penting artinya. Seorang pendamba kesujatian mau-tak-mau mesti mampu melepas, meninggalkan pola-pandang ini. Bukan saja ia tak layak dipercaya, namun ia malah menghabat dan menghalanginya untuk bisa menemukan kesujatian.

Jadilah Kupu-kupu yang indah!

Sejak ribuan tahun silam, umat manusia telah menemukan apa yang kita kenal sebagai laku tapa-brata guna melemahkan dominasi bentuk kesadaran-ragawi dan pola-pandang kasat-indria ini. Laku baku tapa-brata memungkinkan manusia terlepas dari kungkungannya, untuk beranjak lebih jauh lagi. Tapa-brata mengentaskannya. Di dalam tatanan kultural-religius Hindu di Bali, mereka yang telah terlepas dari kungkungannya sehingga 'lahir untuk pertamakalinya' di alam kesadaran yang tak lagi didominasi oleh pola-pandang itu, di alam kesadaran niskala, disebut para ekajati. Secara umum, mereka dikenal melalui sebutan para pemangku atau pinandita. Para ekajati ini boleh jadi masih hidup berumah-tangga, mencari nafkah untuk keluarga dan dirinya sendiri, mempekerjakan kesepuluh indrianya dan tampak hidup seperti sebelumnya, namun mereka sudah tidak lagi terkungkung di dalam pola-pandang kasat-indria dan kesadaran-ragawi.

Ibarat telur kupu-kupu, pengeraman (tapa-brata) telah menetaskannya, telah mengeluarkannya dari kungkungan cangkang kesadaran-ragawi dan pola-pandang kasat-indrianya itu, telah membangunkannya (mewinten) dari tidur dan mimpi-mimpi panjangnya di dalam telur kehidupan duniawi. Ulat yang baik, tidak akan berhenti hanya sebatas menjadi ulat saja. Cepat atau lambat ulat (ekajati) ini akan mencari dan menemukan saat dan tempat yang tepat (guru, nabe) untuk ngepompong (yoga-samadhi) sekian lama, sebelum ia 'terlahir lagi untuk keduakalinya' menjadi kupu-kupu yang indah (dwijati), yang tidak lagi makan dedaunan atau buah-buahan, melainkan hanya mengisap sari-sari bunga dan nektar.

Semoga Cahaya Agung-Nya senantiasa meneragi setiap gerak dan langkah kita. Semoga kedamaian dan kebahagiaan menghuni kalbu semua insani.

Source: Anatta Gotama l Warta Hindu Dharma NO. 483 April 2007