Jadikanlah Tuhan Bagaikan Ibu dan Ayah Membangun Dunia Satu Keluarga

Tvam eva maata ca pitaa tvam eva. Tvam eva bandhus'ca sakha tvam eva, Tvam eva sar-vam mama deva-deva
(Guru Stotra.14)

Maksudnya : Tuhan Yang Maha Esa bagaikan ibu dan ayah kami, sahabat kami dan keluarga kami. Tuhan Yang Maha Esa sesungguhnya men¬ganugerahkan ilmu pengeta¬huan dan juga sebagai keka¬yaan. Tuhan adalah segala-galanya. Tuhan adalah Devata tertinggi dari segala Devata.

Hakikat beragama adalah sraddha bhakti atau meyakini dan bhakti pada Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan adalah sumber dari segala sumber. Maha Sempurna, Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Karya dan seterusnya. Tujuan beragama untuk membangun nilai-nilai kemanusiaan. Karena dengan bangkitnya nilai kemanusiaan dalam diri itu, maka manusia akan memperlakukan sesamanya dengan pendekatan kemanusiaan. Kata "manusia" berasal dari bahasa Sansekerta dari kata "manu" artinya bijaksana. Dalam bentuk genetif kata "manu" menjadi "manusia" artinya memiliki kebijaksanaan ini artinya manusia baru dapat disebut manusia yang sebenarnya apabila dia mampu senantiasa berbuat bijaksana.

Membangun sikap hidup yang manusiawi itulah tujuan memuja Tuhan dalam kehidupan beragama. Kalau terjadi sebaliknya, itu bukanlah salahnya agama. Manusialah yang salah memahami dan mengimplementasikan keyakinannya dalam memuja Tuhan. Pustaka suci Bhagawad Gita VII.21. menyatakan bahwa semua bentuk dan sistem kepercayaan pada Tuhan yang dipeluk oleh penganut agama, dengan bentuk apapun keyakinan yang tak berubah itu sesungguhnya Tuhanlah yang menciptakan dan mengajarkan.

Kalau saja semua manusia yakin bahwa semua manusia dan semua sistem keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa itu ciptaan Tuhan maka upaya membangun kehidupan yang dinamis dan harmonis berdasarkan Ketuhanan itu akan dapat dicapai. Dalam Pustaka Hitopadesa 1.64. dinyatakan: Ayam nijah paro ceti ganana laghu cetasam. Tu vasudhaiva kutumbakam. Maksudnya: Orang yang berpandangan rendah menyatakan ada orang kita dan ada orang asing. Orang yang berprilaku mulia menyatakan: Semua orang di seluruh dunia adalah keluarganya. Untuk membangun sikap hidup bahwa semua yang ada di alam ini ciptaan Tuhan dibutuhkan upaya untuk menanamkan nilai-nilai Ketuhanan itu untuk membangun dunia satu keluarga.

Dalam ajaran Agama Hindu seperti yang dinyatakan dalam pustaka Guru Stora 14 yang dikutip di atas. Dengan melantunkan Guru Stotra tersebut seseorang cepat atau lambat akan tumbuh tahap demi tahap sikap hidupnya bahwa semua umat manusia penghuni bumi ini adalah satu saudara.

Adanya lembaga-lembaga yang bersifat internasional seperti PBB dengan berbagai lembaga kelengkapannya itu adalah lembaga yang dapat difungsikan untuk menanamkan bahwa semua manusia di dunia ini adalah bersaudara dalam satu keluarga dunia. Membangun sikap hidup untuk memandang "dunia satu keluarga" memang tidak mudah. Berbagai kendala akan menghadangnya. Apa lagi adanya sementara pihak yang menganggap sistem keyakinan yang berbeda dengan sistem keyakinan yang dianutnya bukan berasal dari Tuhan.

Apa lagi mereka menganggap yang berbeda itu sah saja untuk dilenyapkan bahkan sah untuk dihancurkan bahkan dibunuh. Pihak yang seperti itulah sebagai kendala besar dalam membangun "dunia satu keluarga". Tetapi bagi mereka yang berhasil membangun sikap hidup "dunia satu keluarga" dalam dirinya akan dapat merasakan adanya rasa damai dan bahagia dalam kehidupan yang beraneka ragam ini. Setiap perbedaan akan dipandang sebagai suatu keanekaragaman yang bernilai. Karena keanekaragaman itu kalau dimanajemen dengan benar, baik dan tepat akan menjadi keanekaragaman yang saling lengkap melengkapi. Keanekaragaman itu kalau salah cara memandangnya bisa menjadi perbedaan yang antagonistis. Apalagi dengan sikap eksklusif dengan sikap yang menganggap setiap yang berbeda dengan dirinya adalah berstatus lebih rendah. Karena dianggap lebih rendah maka harus dijauhi.

Sikap seperti itu masih banyak dianut oleh berbagai pihak. Bahkan ada mereka yang seagama pun masih ada sikap yang merendahkan sesamanya meskipun mereka menganut agama yang sama. Sikap hidup yang eksklusif inilah yang perlu diedukasi dan disublimasi dari sikap hidup eksklusif menjadi sikap hidup yang integratif. Dengan meyakini bahwa Tuhan bagaikan ibu dan ayah tertinggi seperti teks Guru Stotra 14 yang dikutip di atas, keyakinan tersebut pelan-pelan akan dapat menumbuhkan sikap yang integratif.

Setiap orang penghuni bumi ini tentunya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jadikan kekurangan orang lain untuk menjadi inspirasi melihat kekurangan diri. Karena kekurangan itu pasti ada juga pada diri kita, cuma bentuknya mungkin berbeda. Jangan justru kekurangan orang lain disandingkan dengan kelebihan diri kita. Dengan demikian, kita tidak egois. Karena egois itu menumbuhkan sikap eksklusivisme. Sikap ini membuat orang jadi sombong dan orang sombong umumnya akan dijauhi orang banyak.

Membangun dunia satu ke-luarga ini sesungguhnya suatu gagasan untuk menumbuhkan sikap positif yang akan dapat memberikan orang rasa kebersamaan di manapun mereka berada. Rasa kebersamaan itu adalah kebutuhan sosiologis setiap orang sebagai makhluk sosial. Dalam kehidupan beragama Hindu untuk memenuhi kebutuhan sosiologis itu dilakukan dengan upacara yadnya. Kata "upacara" dalam bahasa Sansekerta artinya "mendekat". Tentunya rasa dekat dengan Tuhan rasa dekat yang tertinggi nilainya karena dapat memenuhi kebutuhan filosofi. Rasa dekat dengan Tuhan itu melalui sraddha dan bhakti itu sebagai kekuatan tersuci dalam diri manusia.

Sebelum hal itu dicapai didahului dengan adanya rasa dekat dengan isi alam dan sesama manusia melalui asih dan punia. Karena dalam upacara yadnya itu dilakukan bersama-sama dengan sesama dan juga dengan menggunakan sarana isi alam lainnya. Bahkan asih dan punia itulah wujud bhakti pada Tuhan yang lebih nyata. Dengan asih punia dan bhakti itu manusia dapat mewujudkan "dunia satu keluarga" secara lebih nyata. Di mana semua umat manusia penghuni bumi ini meyakini Tuhan sebagai ayah dan ibu tersuci dengan semua ciptaan-Nya sebagai satu keluarga.

Source: I Ketut Wiana l Koran Bali Post, Minggu Paing, 20 September 2015