Inovasi Pembelajaran Agama Hindu [2]

(Selanjutnya)

Dalam kemajuan informasi, teknologi, dan pengetahuan di masa global ini, tentu terkait dinamika pendidikan agama Hindu diharapkan dapat bersifat adaptif dan dinamis pula. Tidak bisa dalam pengelolaan pendidikan agama Hindu termasuk dalam strategi pembelajaran agama Hindu menjadi konyol dan bersifat pasif. Dalam mengimbangi kemajuan kekinian tersebut, sudah saatnya pengelolaan pendidikan agama Hindu selalu berinovasi, selalu berkembang, dan selalu mengikuti perkembangan kemajuan informasi, teknologi, dan kemajuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Sama halnya dengan arus kemajuan teknologi dewasa ini, ada beragam teknologi maju yang muncul, seperti: tape recorder, radio, alfalink, hand phon computer, internet, face book, slidefilm, over head projektor, LCD, CD, DVD, camera, flash di calculator, faximile, laptop, dan sebagainya, adalah selain media teknologi yang bersifat general atau untuk kepentingan public, tetapi juga sebagai media pembelajaran bagi pemelajar.

Semua jenis media canggih tersebut tentu sangat tepat pula diterapkan dan digunakan dalam upaya untuk inovasi pembelajaran agama Hindu. Disadari bahwa agama Hindu tidak anti terhadap kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan selama ini. Tanpa kehadiran teknologi yang sekaligus sebagai media pendidikan agama Hindu pula, maka dinamika pendidikan, pembelajaran, dan pengajaran agama Hindu diyakini tidak mengalami perkembangn dan kemajuan yang signifikan di era kekinian. Maka dari itu, para pengajar agama Hindu tentu juga lebih proaktif dalam memilih dan menerapkan media pembelajaran agama Hindu Bagi peserta didik. Tidak lantas media yang digunakan dalam pembelajaran agama Hindu, tetapi sebaliknya lantas menjadikan peserta didik menjadi manja belajar, malas belajar, perestai belajarnya tidak baik dan sejenisnya, hal yang demikian tidak diharapkan dalam pembelajaran agama Hindu dewasa ini dan kedepannya.

Menurut Gagne (dalam Martinis Yamin, 2009:109-116) yang mengelompokkan belajar kedalam lima macam belajar: 1). Belajar Responden yakni terjadinya perubahan prilaku diakibatkan dari perpasangan suatu stimulus tak terkondisi dengan suatu stimulus terkondisi. 2) belajar Operant yakni sebagai akibat dari reinforcement merupakan bentuk belajar yang banyak diterapkan dalam memodifikasi prilaku yang merupakan perwujudan dari makna belajar yang sesungguhnya. 3) Belajar Observasional yakni belajar dengan mengamati orang lain memperlakukan apa yang dipelajarinya. 4) Belajar Kontiguitas yakni pemasangan kejadian-kejadian sederhana, dalam bentuk apa saja, dapat menghasilkan belajar. Suatu Stimulus dan suatu respon dapat menghasikan suatu perubhan dalam perilaku. 5) Belajar Kognitif yakni belajar melalui pendekatan proses dengan mempergunakan "Reasoning", "Insight", atau berfikir.

Belajar kognitif, siswa diajak berfikir induktif dan deduktif. Kelima model pembelajaran di atas adalah sangat tepat dan relevan digunakan oleh para guru agama Hindu dalam pembelajaran agama Hindu bagi pemelajar. Intinya bahwa model pembelajaran di atas mengetengahkan tentang perlunya upaya pembelajaran berupa: 1) Stimulus atau rangsangan belajar, 2) Penguatan belajar, 3) belajar dengan mengamati, 4) belajar dari kejadian-kejadian sederhana, dan 5) Belajar dengan berfikir induktif dan berfikir deduktif.

Menurut Bennet (dalam Isjoni, 2009:60) memperkenalkan cara pembelajaran koopratif denga kerja kelompok dengan ciri-ciri yakni: 1) Positive interdependence, 2) Interaktion face to face, 3) Adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam anggota kelompok, 4) Membutuhkan keluwesan, 5) meningkatkan ketrampilan bekerja sama dalam memecahkan masalah (proses kelompok). Bentuk-bentuk pembelajaran kooperatif antara lain : 1) student team achievement division (STAD), 2) Jigsaw, 3)Teams-Games-Tournament (TGT), 4) Group Investigation (GI), 5) Rotating Trio Exchange, dan 6) Group Resume.

Dalam kaitan dengan pembelajaran agama Hindu, maka model pembelajaran di atas bisa diterapkan dengan memilih salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif tersebut. Intinya adalah: 1). Pembelajaran aktivitas dan interaksi, 2). Pembelajaran dengan siswa aktif dan saling membantu, 3). Pembelajaran kelompok dengan mengerjakanmateri ajar lewat LKS untuk menguasai materi ajar, 4) perpaduan pembelajaran kelompok yang kooperatif yang berbasis konstruktivisme dan prinsip pembelajaran demokrasi, 5). Pembelajaran dengan kelompok yang diberikan tugas (pertanyaan) untuk dikerjakan bersama-sama, 6). Model pembelajaran kelompok peserta didik yang memiliki kecerdasan sama dan diberikan tugas kelompok, yang selanjutnya ditugasi untuk mempresentasikan tugasnya. Model pembelajaran agama ini juga sangat baik untuk diterapkan dalam model pembelajaran agama Hindu dan tergantung kemampuan para gurunya untuk mengimplementasikan model pembelajaran ini.

Menurut Suyatno (2009:37-115) yang telah memperkenalkan aneka model pembelajaran yang inovatif yaitu: 1) Metode Pembelajaran Kuantum yaitu mengutamakan percepatan belajar dengan cara partisipatori peserta didik dalam melihat poteni diri dalam potensi penguasaan diri. 2) Metode Pembelajaran Partisipatori yaitu keterlibatan siswa secara penuh. 3) Metode Pembelajaran Kolaboratif yaitu menekankan pada pembangunan makna oleh siswa dari proses sosial yang bertumpu pada konteks belajar. 4) Metode Pembelajaran Kooperatif yakni menekankan belajar dalam kelompok heterogen saling membantu satu sama lain, bekerjasama menyelesaikan masalah, dan menyatukan pendapat untuk memperoleh keberhasilan yang optimal baik kelompok maupun individual. 5) Metode Pembelajaran Sadapan ringkas yakni perubahan paradigma dari pengajaran ke pembelajaran yang membutuhkan orang-orang yang berani menguji, memperbaiki, bahkan mengubah sistem dengan menyesuaikan realitas yang ada dan berkembang selama ini di masyarakat. 6) Aneka model Pembelajaran Inovatif seperti: a) model exampel non exampel, b) Picture and Pictur, c) Numbered heads togather, d) Cooperatif Script, e) Team siswa kelompok prestasi, f) Pembelajaran berdasarkan masalah (Problem based introduction), g) Mind Mapping, h) Make a Match (Mencari Pasangan), i) Think Fair and Share, j) Debat, k) Role Playing, 1) Group Investigation, m) Betukar Pasangan, n) Demonstration dan sebagainya.

Menurut Mc Master (dalam M.Taufiq Amir, 2009:21) telah memperkenalkan model pembelajaran dengan basis masalah atau problem based learning. Kemudian oleh Howard Barrow dan Kelson mengemikakan bahwa problem base learning (TBL) adalah kurikuium dan proses pembelajaran. Dalam kurikulumnya dirancang masalah-masalah yang dituntut mahasiswa mendapatkan pengetahuan yang penting, membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah dan memiliki strategi belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti diperlukan dalan karier dan kehidupan.

Kemudian oleh Duth juga merumuskan bahwa PBL merupakan metode instruksional yang menantang mahasiswa agar "belajar untuk belajar" bekerjasama dengan kelompok untuk mencari solusi bagi masalah yang nyata. Masalah ini digunakan untuk mengaitkan rasa keingintahuan serta kemampuan analisis mahasiswa untuk berfikir kritiss dan analitis, dan untuk mencari serta menggunakan sumber pembelajaran yang sesuai. Terkait dengan pembelajaran agama Hindu, maka guru dapat menerapkan model ini dengan cara memberikan model masalah yang terjadi dalam masyarakat untuk dipecahkan oleh peserta didik. Tentu model masalahnya dapat disesuaikan dengan kondisi sosial yang ada atau juga guru memberikan model masalah dengan pertanyaan atau masalah urgent untuk dapat dipecahkan oleh siswa.

Selanjutnya juga ada model pembelajaran yang lainnya yakni menurut Udin Saefudin Sa'ud (2008:140) dinyatakan bahwa model pembelajaran teacher centred yaitu model belajar mengajar yang menekankan konsep-konsep dapat ditransfer dari pendidik ke siswa. Model pembelajaran student centred yaitu model pembelajaran yang menekankan pada belajar siswalah yang membangun pengetahuan sendiri. Selain itu juga diperkenalkan model pembelajaran lainnya, antara lain: 1) Model pembelajaran Kompetensi yaitu pemberdayaan diarahkan umtuk mendorong pencapaian kopetensi dan prilaku khusus supaya setiap individu mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar. 2) Oleh Sanjaya (dalam Sa'ud, ibid:164) bahwa Pembelajaran Kontekstual (Contextual and Learning) yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.

Dinyatakan juga oleh Elaine Jhonson bahwa prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual, minimal ada tiga prinsip utama yang sering digunakan, yaitu: saling ketergantungan (interdepence), difrensias (differetiation) dan pengorganisasian (selfforganisation). Jadi dari kedua model pembelajaran di atas, maka terkait dengan pembelajaran agama Hindu tentu dirasakan sangat relevan juga untuk diimplementasikan dalam memajukan pembelajaran dalam pendidikan agama Hindu. Antara pembelajaran Kontekstual dan pembelajaran kompetensi adalah sama-sama memberikan kontribusi positif bagi peserta didik untuk meningkatkan prestasi belajar agama Hindu. Hal ini patut juga diterapkan oleh para pengajar untuk memotipasi semangat belajar siswanya.

Selain itu menurut jerome Bruner, David Ausubel, dan robert Gagne juga mengemukakan tentang Teori pembelajaran Kongnitif (dalam Mark K. Smith, dkk, 2009:121-127) menurut Jerome Bruner bahwa 1) enactive, dimana seseorang belajar tentang dunia mealui aksi-aksi terhadap objek, 2) iconic, di mana pembelajaran terjadi malaluia penggunaan model-model dan gambar-gambar, dan 3) Symbolic, yang menggambarkan kapasitas berfikir dalam istilah-istilah yang abstrak. Menurut David Ausubel adalah penekannya pada ahakikat aktif pembelajaran respsi (reception learning) sebermakna mungkin.

Sedangkan menurut Robert Gagne bahwa pembelajaran aalah seperti sebuah proses membangun yang memanfaatkan sebuah hirarki keterampilan yang meningkatkan kompleksitasnya, dengan lima katagori pembelajaran yang utama: 1) informasi verbal, 2) keterampilan intelektual, 3) strategi kognittif, 4) keterampilan motoris, dan 5) sikap. Menyimak teori pembelajaran kognitif dari para pakar di atas, dapat ditegaskan bahwa teori pembelajaran kognitif tersebut juga sebagai pilihan penting dalam pembelajaran agam Hindu, mengingat bahwa pembelajaran agama Hindu juga mengutamakan bagian kongnitif peseta didik menjadi meningkat dan prestasi agama belajar agama Hindu sesuai tujuan pendidikan agama Hindu. Para guru mesti cermat dalam belajar agama Hindu sesuai tujuan pendidikan agama Hindu. Para guru mesti cermat dalam menerapkan modal pembelajran agama Hindu yang relevan, tepat, efektif, dan adaptif.

Penutup

Pembelajaran agama Hindu dalam era kekinian sangat diperlukan untuk diinovasi secara gradual dan adaptif. Hal ini menurut kalangan kependidilkan agama Hindu untuk selalu berinovasi dan menciptakan kondisi akademik agama Hindu yapg kondusif, berprestasi, berkompetisi, dan siap pakai para tamatannya. Model pembelajaran yang telah diperkenalkan oleh para pakar pendidikan di tingkat nasional maupun internasional, patut ditiru, dikembangkan, dan diterapkan untuk memajukan pembelajaran agama Hindu dalam berbagai jenjang lembaga pendidikan di tanah air. Harapannya semoga hasil pembelajran agama Hindu bagi para pembelajar Hindu semakin mantap dan semakin berprestasi.

Oleh: Prof. Drs. I Ketut Subagiasta, M. Si
Source: Warta Hindu Dharma NO. 528 Desember 2010