Inovasi Pembelajaran Agama Hindu

Kemajuan dalam dunia pendidikan di era global patut dicermati oleh para pendidik secara konfrehensif. Termasuk juga kemajuan pendidikan pada umumnya di negara Republik Indonesia tercinta. Kalangan kependidikan tidak boleh merasa merasa puas dan merasa bangga terlebih dahulu di era kekinian. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan oleh adanya dinamika pendidikan dari berbagai sisi secara kontinyu dan berlangsung instan dan refflek. Hal inilah sebagai alasan, mengapa kalangan kependidikan dituntut tanggap, jeli, adaptif, dan inovatif dalam hal ini pendidikan pada umumnya dan pendidikan agama Hindu pada khususnya.

Alasan ini ditekankan kepada para praktisi kependidikan, dengan maksud bahwa para guru agama Hindu juga diwajibkan untuk selalu proaktif dan dalam hal pembaruan pendidikan agama Hundu. Salah satu pembaruan (inovasi) yang wajib diimplementasikan dalam dinamika pendidikan agama Hindu adalah hal inovasi pembelajaran agama Hindu.

Dalam paparan singkat ini dicoba dijelaskan tentang materi agama Hindu, baik materi teoritis secara singkat maupun materi praktis yang wajib menjadi bahan inovasi dalam pembelajaran agama Hindu. Selanjutnya bagi kalangan kependidikan di era kekinian untuk sedapat mungkin dapat menerapkan materi teorritis dan praktis mengenai pembelajaran agama Hindu secara inovatif. Hal ini dimaksudkan untuk dapat terwujudkan hassil pembelajaran yang positif dan berkualitas bagi para pembelajar, terutama para pelajar atau kader Hindu yang bermutu, terpenuhinya harapan untuk mewujudkan tujuan pembelajaran yang bermutu tersebut, sudah tentu diperlukan adanya upaya-upaya yang besifat inovatif dan kondusif.

Situasi pembelajaran selama ini yang masih dirasakan berpusat pada pendidik (Centered teacher), untuk selanjutnya diharapkan adanya pembaruan dari paradigma lama ke paradigma baru, dengan pembelajan yang berpusat pada pelajar (centred learner). kalangan pendidik diharapkan membuat terobosan baru bahwa semangat belajar siswa tidak selalu di dorong-dorong hanya oleh para guru saja, tetapi sebaliknya dengan upaya inovatif yang diterapkan oleh guru, pada akhirnya para pelajar mampu dan mau bangkit dengan sendirinya untuk belajar secara baik dan bersemangat megenai materi agama Hindu.

Berbagai pendekatan, cara, model, strategi, metode, upaya, usaha, jalan, motivasi, dan sebagainya yang dilakukan oleh pendidik terhadap terdidik untuk membangkitkan semangat dan gairah belajar ke arah yang lebih baik, sangat perlu ditempuh secara rutin tanpa mengenal menyerah. Begitu sebaliknya dengan upaya variasi dalam membangkitkan semangat belajar pembelajaran siswa, diharapkan dapat menumbuhkan dan dinamika pengetahuan terdidik ke arah yang lebih berkualitas.

Terjadinya sinergi antara semangat mengajar oleh guru (pendidik) dan semangat belajar oleh siswa (terdidik), diharapkan dapat memberikan hasil (out put) yang maksimal dan pembelajaran agama Hindu. Apa saja yang menjadi komponen inovasi pembelajaran agama Hindu dalam dunia kependidikan agama Hindu di Indonesia belakangan ini, maka dalam paparan singkat ini mencoba disajikan untuk dijadikan bahan diskusi dan kajian bersama oleh para guru agama Hindu dan komponen kependidikan agama Hindu.

Materi Agama Hindu
Apa saja materi agama Hindu yang wajib dijadikan materi pembelajaran bagi para siswa atau pelajar di berbagai jenjang pendidikan fomal? Untuk menjawab pertanyaan ini bisa saja dijawab secara sederhana, adalah materi agama Hindu yang bersumber pada kurikulum agama Hindu. Masihkah ada sumber materi agama Hindu selain yang ada dalam kurikulum formal tersebut? Yang pasti mengenai materi agama Hindu untuk pembelajaran para siswa dapat dilihat dari kondisi formal atau tidak formal. Secara formal adalah materi agama Hindu yang termuat dalam kurikulum pendidikan agama Hindu. Sedangkan secara informal juga ada materi agama Hindu yang diajarkan oleh para orang tua dalam lingkungan keluarga. Selanjutnya materi agama Hindu yang diperoleh oleh pelajar diluar formal dan informal, maka juga dapat diperoleh materi agama Hindu dalam lingkungan masyarakat sekitarnya, dimanakah para pelajar tersebut berdomisili yang juga merupakan sebagai sumber materi agama Hindu secara non formal.

Materi agama Hindu secara formal tentu selalu mengacu pada sumber kurikulum agama Hindu. Materi formal tersebut menjadi acuan wajib untuk dijadikan sumber pembelajaran bagi para pelajar. Secara umum juga dapat diketengahkan bahwa materi agama Hindu sesuai tiga kerangka agama Hindu mencakup materi filsafat Hindu, etika Hindu, dan Ritual Hindu.

Pada bagian lain tidak hanya itu materi agama Hindu, maka ada juga materi agama Hindu berupa kepemimpinan materi Hindu (Nitisastra), materi ekonomi Hindu (Arthasastra), materi politik Hindu (Rajanitisasta), cerita-cerita kepahlawanan atau sejarah Hindu (Itihasa), ketatabahasaan (Wyakarana), nyanyian Hindu (Dharmagita), tatalagu Hindu (Chanda), materi pustaka suci Hindu (Veda), doa-doa pujaan (Rgveda), lagu-lagu pujaan (Samaveda), pustaka tentang persembahan (Yajurveda), dan pustaka tentang ilmu gaib dalam Hindu (Atharvaveda). Selain itu juga ada materi tentang perbintangan (Jyotisa), materi filsafat hindu (Darsana), materi sumber hukum Hindu (Manawadharmasastra), materi sastra Hindu kuna (Purana), materi tentang keyakinan dalam Hindu (Sraddha), materi tentang jenis persembahan dan berbhakti (Yajna), materi siakap pengendalian diri (Yoga), dan sebagainya.

Masih banyak materi agama Hindu yang dijadikan sebagai sumber pembelajaran agama Hindu. Kemudian dalam penerapannya terhadap peserta didik atau pemelajar, tentu diperlukan upaya inovatif yang tersegar untuk diterapkan kepada segenap terpelajar, guna mencapai hasil belajar yang bermutu dan si pemelajar menjadi kader Hindu yang siap, trampiLberprestasi, dan bertanggung jawab terhadap kondisi dirinya di masanya.

Model Inovasi Pembelajaran Agama Hindu
Mengenai model inovasi pembelajaran agama Hindu yang telah diterapkan oleh para guru agama Hindu sesungguhnya sudah banyak ada inovasi pembelajaran. Model pembelajaran yang paling sering diterapkan adalah model pembelajaran kelompok. Ada pula model pembelajaran kelas dan model pembelajaran cara belajar siswa aktif yang sering disingkat CBSA.

Selain itu dalam pembelajaran agama Hindu juga sangat sering diterapkan model pembelajaran diskusi, model pembelajaran tanya jawab, model penugasan, model pembelajaran bermain peran atau sosio drama, model pembelajaran masatua Bali, model pembelajaran bertirtha yatra, model pembelajaran darmawisata, model pembelajaran ceramah, model pembelajaran pekerjaan rumah (PR), model pembelajaran simulasi, model pembelajaran ngayah atau kerja bakti, model pembelajaran cerdas tangkas, model pembelajaran utsawa dharma gita, model pembelajaran dharma sadhana, model pembelajaran berdebat atau dharma witarka, model pembelajaran dharma wacana, model pembelajaran menjawab cepat-cepatan, model pembelajaran praktek majejahitan, dan sebagainya.

Masih banyak lagi model penbelajaran agama Hindu yang dapat diterapkan untuk memacu semangat belajar para pemelajar atau para siswa-siswi di berbagai jenjang pendidikan, baik pada masa pendidikan usia dini (PAUD), prasekolah (anak TK), pada jenjang pendidikan dasar (SD), pendidikan menengah (SMP dan SMA/ SMK), dan pada jenjang pendidikan tinggi agama Hindu di Indonesia. Intinya bahwa para guru agama Hindu, para tenaga kependidikan Hindu, para dosen agama Hindu, serta para pengelola kependidikan agama Hindu di berbagai jenjang, agar selalu adaptif dan selalu mengadakan inovasi atau upaya pembaharuan mengenai pembelajaran agama Hindu bagi siswa-siswinya, sehingga cara belajar peserta didik tidak bersifat monoton atau terkesan membosankan bagi pemelajar.

Sesungguhnya banyak cara pembelajaran yang bisa ditempuh oleh para pendidik untuk memotipasi, mendorong menumbuhkan, membangkitkan dan meningkatkan semangat belajar, gairah belajar, serta prestsi belajar para peserta didik. Dalam hal ini bahwa para giri atau para pengajar selalu dituntut keterbukaan dalam wawasan ide-ide, gagasan, upaya, penerapan, sumber pembelajaran, serta materi-materi yang bersifat dinamis, inovatif dan positif untuk dapat di implementasikan kepada para pemelajar, agar prestasi belajarnya menjadi lebih baik dan para pemelajar dapat berkompetisi secara positif dan sehat dapat sistem pembelajaran di era kekinian. (Selanjutnya)

Oleh: Prof. Drs. I Ketut Subagiasta, M. Si
Source: Warta Hindu Dharma NO. 519 Maret 2010