Indrakila dan Indrajala

Indrakila itulah gunung tempat sang Arjuna bertapa. Oleh karena itu Indrakila disebut juga Indra Giri atau Indra Parwata. Di gunung ini pula Sang Arjuna mendapatkan berbagai godaan yang sesungguhnya merupakan perbuatan yang dilakukan oleh Hyang Indra sendiri.

Adalah Niwatakawaca seorang daitya vang ingin menghancurkan Indraloka. Sang detya merasa yakin akan kekuatan dirinya, karena ia telah mendapat anugerah Siwa : tidak akan terbunuh oleh Dewa, Yaksa dan Raksasa. Hanya saja ia harus berhati-hati dengan seseorang yang disebut "manusa sakti". Mengetahui hal itu Indra merasa sangat khawatir, maka Indra harus mencari seorang manusa sakti untuk menghadapi Niwatakawaca.

Maka Hyang Indra menyiapkan para penggoda untuk menguji keteguhan tapa sang Arjuna. Kalau sang Arjuna tidak dapat digoda, pertanda ia teguh dalam mencapai tujuan, boleh jadi ia adalah seorang manusa sakti. Inilah perangkap Indra atau Indrajala yang pertama dilepaskan kepada sang Arjuna.

Ada tujuh bidadari yang disiapkan untuk menggoda sang Arjuna, dua diantaranya yang telah termasyur kecantikannya yaitu Dewi Tilottama dan Dewi Supraba. Mereka itulah yang diutus oleh Hyang Indra, "hai ananda, aku ingin memanfaatkan kecantikan parasmu untuk menggoda sang Arjuna. Dua orang istrinya sudah dikenal kecantikannya yaitu sang Subhadra dan Ulupui. Ananda tidak akan dikalahkan, bahkan kecantikanmu sepuluh kali dibandingkan dengan mereka. Namun jika keharuman bunga Angsana tidak berhasil menyongsong curah hujan gerimis, kalau pancaran sinar bulan tidak lagi menggugah pesona, dan kalau bunga Gadung yang mekar dan harum tidak lagi menawan hati, maka sia-sialah kecantikanmu, dan berarti Hyang Kama telah ditolaknya".

Ketika bertemu sang Arjuna yang tengah bertapa di sebuah goa gunung Indrakila, sesunggunya para Bidadari itu tengah dilanda asmara kepada sang Arjuna. Mereka melihat sang Arjuna bagaikan arca emas atau bagaikan bulan purnama. Berbagai cara bidadari itu menggoda sang Arjuna, namun sang Arjuna tidak bergeming dan tidak tergoda. Panca Indra sang Arjuna tidak lagi ingin menikmati kesenangan duniawi, dapat mendengar, dapat melihat, namun tidak terpengaruh. (Pancendryawedi tumon wisayanya nguni; wruh mangrengo wruh umulat juga tan wikalpa) Akhirnya para bidadari itu merasa putus asa, mereka kembali menyembah ke hadapan Hyang Indra. Para penghuni Indraloka sangat gembira dan mereka bersyukur, sekaligus memuji sang Arjuna yang sedang bertapa di dalam goa gunung Indrakila.

Itulah sebuah contoh bagaimana Indra melepaskan Indrajala. Dalam ajaran Siwa dijelaskan bahwa kelima elemen benda kasar yang disebut sebagai Panca Maha Bhuta (pertiwi, apah, teja, bayu, akasa) dan lima unsur yang lebih halus disebut Panca Tan Matra (gandha, rasa, rupa, sparsa, sabda) yang menjadi obyek indria manusia disebut juga Wisaya, adalah bagaikan sebuah perangkap (jala) dimana manusia sulit melepaskan diri tanpa melaksanakan tapa brata. Arjuna telah berhasil melaksanakan tapa brata di gunung Indrakila, dan ia terbebas dari Indra jala atau perangkap tersebut, dan akhirnya ia mendapat anugerah Siwa.

Oleh: Ki Nirdon
Source: Warta Hindu Dharma NO. 526 Oktober 2010